MILLY

MILLY
bab 49. saya merindukan mu


__ADS_3

"Den ... Den Dean di panggil oleh nyonya. Katanya di suruh makan, nyonya dah bikin ikan bakar kesukaan Aden. Di tunggu sama nyonya di meja makan," panggil bik Nah sambil berdiri di depan kamar Dean.


"Iya Bik, bilangin mama, tunggu sebentar. Dean mau mandi dulu," jawab Dean dari dalam kamar.


"Baik, Den."


Bik Nah pun berlalu pergi, lalu kembali ke bawah, menyampaikan pesan Dean pada sang nyonya.


***


Langkah Dean berhenti, saat melihat Vallen juga ada di meja makan bersama mamanya. Ia ingin kembali ke kamar, sangat malas rasanya untuk bertemu Vallen, tapi sang mama sudah terlebih dahulu memanggilnya.


"Tuh Dean ... sini Nak. Kita makan sama-sama. Mama udah bikinin ikan bakar sama sambal kesukaan kamu. Oh ya, tadi Vallen juga ikut bantuin mama masak," ucap mama Dean yang di balas Vallen dengan senyuman.


Dean duduk di samping mamanya. Mama Dean memberi isyarat pada Vallen untuk mengambilkan nasi untuk Dean. Kemudian Vallen pun melakukannya.


"Silahkan di makan, Mas," ucap Vallen sambil meletakkan piring berisi nasi dan lauknya di hadapan Dean.


Dean, tidak menjawab, ia langsung memakannya.


"Gimana Dean, enak gak?"


"Enak, Ma," jawab Dean singkat.


"Ya sudah, makan yang banyak. Mama senang deh, makan sama-sama kayak gini, gak sabar rasanya nunggu kalian nikah."


Ukhuukk ... Ukhukk.


Dean langsung terbatuk mendengar perkataan mamanya.


"Dean, hati-hati makannya, Nak. Vallen, tolong ambilin air buat Dean, ya."


Vallen pun mengambilkan air dan memberikannya pada Dean, Dean pun langsung meminumnya.


Kemudian mereka melanjutkan makan sambil berbincang-bincang. Lebih tepatnya, Vallen dan mama Dean yang banyak bicara, sedangkan Dean hanya sesekali menjawab jika di tanya.


Selesai makan, mereka berkumpul di ruangan keluarga.


"Dean, mama ingin bicarakan tentang pernikahan kamu sama Vallen, kamu setuju gak kalau pernikahannya kita percepat."


"Terserah Mama aja," jawab Dean tak semangat.


Sedangkan Vallen merasa senang, karna Dean, sudah tidak menolak lagi.


"Kalau bulan depan gimana? Kamu mau gak?" Tanya mama Dean lagi. Ia terlihat sangat bersemangat membahas tentang pernikahan.


"Terserah Mama aja."


"Kalau Vallen gimana sayang, mau gak?"


"Vallen sih ikut aja Tante, Vallen percayakan aja sama Tante."


"Baiklah, nanti mama akan telpon mama Vallen untuk bicarakan ini. Lebih cepat lebih baik."


"Dean ke kamar dulu ya, Ma."

__ADS_1


"Kok ke kamar sih, Nak. Kasihan loh si Vallen, temanin dia dulu. Dia yang paling cemas loh, saat kamu gak ada kabar. Mungkin kamu bisa cerita-cerita sama dia, atau kalian mau diskusiin tentang pernikahan kalian," usul mama Dean.


"Tapi Dean capek, Ma."


"Gak apa-apa, Tan. Biarin aja mas Dean istirahat. Mungkin mas Dean memang capek. Bicaranya bisa besok aja," ucap Vallen lembut, ia ingin menarik simpati Dean.


"Makasi ya Vallen. Kamu memang pengertian. Dean pasti beruntung bisa menikahi wanita sebaik kamu," puji mama Dean.


Sedangkan yang di puji senyum-senyum sendiri sambil melirik Dean. Tapi sayang, Dean sepertinya tidak tertarik untuk meliriknya.


Dean pun langsung meninggalkan Vallen dan mamanya.


****


Milly terbangun karna mendengar ponsel yang berbunyi. Ia memaksakan membuka matanya yang terasa sangat susah untuk di buka. Milly kaget karna ternyata ia tertidur di sofa, dan ternyata pak Adrian juga tertidur di lantai dengan badan yang bersandar pada sofa tempat Milly tidur.


Milly mengambil ponselnya di saku, ternyata tidak ada panggilan atau pesan yang masuk.


Ddrttt ... ddrttt ... drttt.


Ponsel kembali berbunyi, ternyata ponsel pak Adrian yang berbunyi. Tapi yang punya ponsel tidak juga terbangun. Mau tak mau Milly harus membangunkan pak Adrian karna ponselnya terus saja berbunyi.


"Mas ... Mas ... bangun Mas, ponsel Mas bunyi terus dari tadi," ucap Milly sambil menggoyangkan pundak pak Adrian.


"Mmmmm."


"Bangun, Mas. Ponselnya bunyi terus, angkat dulu, mana tau penting," ucap Milly lagi.


Pak Adrian kemudian mengambil ponselnya, Milly dapat melihat di layar ponsel. Jika yang menelpon adalah bu Vania.


Milly berdiri, ia ingin pergi dari sana, ia tidak mau mendengarkan obrolan pak Adrian dan sang istri pertama, tapi pak Adrian malah menahan tangannya. Sehingga Milly terpaksa kembali duduk.


"Hallo Mas, aku mau ngabarin Mas, sepertinya aku di sini nambah dua hari lagi, Mas. Soalnya aku mau sekalian cek lokasi untuk pembangunan cabang baru, gak apa-apa kan, Mas."


"Gak apa-apa, Sayang, tapi kamu jangan terlalu capek kerjanya," jawab pak Adrian sambil curi-curi pandang ke arah Milly.


"Gak kok, Mas. Kamu tenang aja. Tapi aku mau minta tolong boleh gak, Mas?"


"Boleh dong Sayang, emangnya mau minta tolong apa?"


"Mas besok tolong ke kantor aku ya. Soalnya kemarin, aku kan buka lowongan kerja, jadi hari ini ada jadwal wawancara, jadi Mas tolong gantiin aku ya,"


"Emangnya untuk posisi apa?"


"Untuk gantiin posisi Milly, Mas."


"Kenapa? Kamu memecat dia."


Milly langsung melihat pak Adrian, saat mendengar kata memecat. Milly deg-degan, apa mungkin dia yang sedang di bicarakan bu Vania dan pak Adrian.


"Bukan gitu, Mas. Aku fikir lebih baik sekarang Milly fokus dulu untuk kesehatan dia dan juga menjaga ibunya. Nanti jika semuanya sudah membaik, dia bisa bekerja lagi. Tapi mungkin aku akan pindahin dia ke kantor lain."


"Ya sudah, terserah kamu saja. Mas yakin kamu tau mana yang terbaik, besok pagi Mas akan ke kantor dulu, baru siangnya ke kantor kamu."


"Ya, Mas. Untuk Milly, biar aku aja yang telpon untuk jelasin. Sekarang aku mau istirahat dulu ya, Mas. Love you Mas. Bye."

__ADS_1


"Love you too, Sayang. Bye."


Pak Adrian meletakkan ponselnya di sofa. Ia belum juga melepaskan pegangannya dari tangan Milly.


"Lepasin, Mas."


"Kamu mau kemana?"


"Gak kemana-mana."


"Terus, kenapa tadi mau pergi?"


"Masak saya mau nguping obrolan Mas sama bu Vania. Kan gak sopan."


"Gak sopan atau karna kamu cemburu."


"Jangan mulai lagi, anehnya, Mas."


"Aneh kenapa? Kalau kamu cemburu, bilang aja. Saya senang loh, kalau kamu cemburu. Itu tandanya kamu cinta pada saya," ucap pak Adrian menggoda Milly.


"Terserah Mas saja lah, saya malas berdebat."


"Ya sudah, jangan cemberut gitu, saya gak suka. Padahal saya beneran berharap kamu cemburu loh," ucap pak Adrian lagi, sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Aneh."


"Aneh, tapi kamu suka kan," ucap pak Adrian lagi. Kali ini sambil mencolek hidung Milly.


"Apaan sih, Mas. Kayak anak kecil aja."


"Mmmm .... Baiklah, ada yang mau saya bilang sama kamu."


Pak Adrian pun menceritakan apa yang di katakan istrinya tadi pada Milly.


"Nanti pas Vania nelpon, jangan bilang kalau kamu sudah tau dari saya. Kamu ikuti saja kemauannya. Lagi pula Vania betul. Itu untuk kebaikan kamu. Soal uang kamu tidak perlu cemas. Saya yang akan bertanggung jawab."


Milly hanya mengganggukkan kepalanya.


"Satu lagi, dari kemarin saya mau bertanya, kenapa ibumu bisa masuk rumah sakit dan koma. Saya dengar dari Vania katanya kamu di culik. Itu gimana ceritanya sih, Mil."


Milly pun menceritakan semuanya tentang kejadiaan itu.


kemudian pak Adrian memeluk Milly.


"Maafkan saya, Mil. Saya belum bisa menjaga kamu. Saya janji mulai saat ini saya tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kamu dan juga ibumu."


"Jangan berjanji, Mas."


"Kenapa?"


"Saya takut berharap," ucap Milly lagi.


"Berharaplah, saya akan mengabulkan harapanmu. Saya mencintaimu," ucap pak Adrian lagi, ia kembali memeluk Milly. Kali ini ia mencium kening Milly.


"Saya merindukan mu."

__ADS_1


__ADS_2