MILLY

MILLY
bab 92. pakaian adat minangkabau


__ADS_3

"Pagi, Milly."


"Pa ... gi. Ihh Dean, kamu lagi ngapain?" tanya Milly. Ia baru saja akan turun ke lantai satu. Di tangga paling bawa, Dean sudah menunggunya.


"Mau lihat bidadari, kalau pagi ada sayapnya atau tidak?"


"Ishhh, tunggu saja di sana, biar aku bikin kan teh. Atau kamu mau minum yang lain?" tanya Milly. Ia mengabaikan gombalan Dean.


"Tidak usah, sudah disiapkan bik Nah. Aku mau mengajakmu untuk duduk di luar."


"Kenapa tidak di sini saja? Kita bisa minum sama mama kamu juga," tolak Milly.


"Ada yang ingin aku katakan. Lagi pula, mama sudah minum di kamar. Aku sudah bilang sama mama."


"Ya sudah, biar aku ambil tehnya dulu. Kamu duluan aja ke belakang," kata Milly. Ia langsung melangkah ke dapur. Tapi Dean bergegas menghentikan langkahnya.


"Ehh ... ehh ... tidak usah. Udah siap di belakang."


Milly menganggukkan kepalanya. Ia berjalan duluan, karna dipinta oleh Dean.


Benar saja, sesampainya di taman belakang. Minuman dan beberapa kue sudah terhidang.


Milly langsung duduk, setelah Dean menarik kursi untuknya. Dean pun duduk di kursi satu lagi, berhadapan dengan Milly.


"Apa ini?" tanya Milly, saat Dean menyodorkan sebuah paper bag padanya.


"Untuk kamu, buka lah!" kata Dean.


Milly kembali memandang Dean, Dean pun menganggukkan kepalanya. Seolah memberi isyarat agar Milly segera membukanya. Setelah itu pandangan Milly beralih pada paper bag yang berada dihadapannya.


Dengan sedikit ragu Milly meraih paper bag itu. Ia mengeluarkan kotak yang cukup besar dari dalamnya.


"Setelah ini kita akan pergi fitting baju pernikahan. Pakailah baju itu," kata Dean menjelaskan.


"Kenapa repot-repot? Aku masih punya baju."


"Tidak apa-apa. Kemarin aku kebetulan lewat. Dan aku melihat baju itu. Sepertinya akan sangat cantik jika kamu yang memakainya. Lagi pula aku sangat suka direpotkan," kata Dean sambil tersenyum.


"Terima kasih. Lain kali tidak perlu. Baju aku masih banyak," kata Milly. Ia merasa tidak enak jika Dean terus-terusan menghabiskan uang untuknya.


Selesai memberikan hadiah untuk Milly, mereka melanjutkan sarapan, sambil membincangkan tentang pernikahan mereka.


Dean meminta Milly untuk memilih konsep pernikahan. Tapi Milly menyerahkan semuanya pada Dean. Milly bukannya tidak punya keinginan, hanya saja, ia tau diri, semua nya Dean yang tanggung, ia bahkan tak mengeluarkan uang sepersen pun.


Milly sempat mengatakan jika tak perlu diadakan resepsi besar-besaran, tapi mama Dean menolak dengan alasan, Dean adalah anak satu-satunya. Banyak rekan bisnis yang harus diundang. Mama Dean meminta Milly untuk tidak mencemaskan apa pun, mereka yang akan menanggung semuanya.


"Mil, aku mau minta pendapat kamu. Untuk kali ini jangan bilang terserah."


Milly menatap Dean, kali ini ia yakin Dean akan mengatakan sesuatu yang serius.

__ADS_1


"Apa?"


"Kamu sudah tau kan, bahwa mbak Vania adalah kakak ku."


Dean menjeda perkataannya, ia ingin melihat reaksi Milly dulu.


Sedangkan Milly mengangguk, sampai di sini, ia sudah cukup tau arah pembicaraan Dean. Tapi ia tetap menunggu Dean melanjutkan perkataannya.


"Bagaimana pendapatmu jika aku mengundangnya?" Hati-hati Dean bertanya, ia tidak ingin merusak mood Milly.


"Kenapa tidak? Bu Vania adalah kakak kamu.


Tentu Dia harus datang di acara pernikahan adiknya."


"Bagaimana dengan suaminya?"


"Aku bisa mengatakan pada mbak Vania, untuk tidak mengajak suaminya jika kamu tidak nyaman," lanjut Dean lagi. Ia mengatakan itu karna Milly masih diam saja.


Milly tersenyum, ia beruntung, Dean begitu memikirkan perasaannya.


"Tidak perlu, kenapa mereka tidak boleh datang? Mereka keluargamu, artinya mereka akan jadi keluarga ku juga."


"Kamu yakin?"


"Iya."


"Pernikahan aku saja?"


"Heiis, tidak. Pernikahan kita dong. Sekarang dah pintar bercanda ya Mil. Awas kamu, ya."


"Kan belajar sama kamu."


"Oh ya, kapan? Jangan ngarang ya, Mil."


"Ntar beneran hilang ingatan loh, Dean."


"Jangan dong, ntar aku lupa sama kamu. Kan kamu juga yang sedih."


"Tau ahh."


"Hiss ngambek, tapi aku suka," kata Dean sambil terus memandang Milly.


Jadilah pagi itu mereka sarapan sambil bercanda, mereka juga membicarakan beberapa hal berhubungan dengan pernikahan mereka.


****


Sesuai rencana Dean, hari ini mereka pergi fitting baju pernikahan. Butik ini pilihan mamanya Dean. Pemiliknya juga kenalan sang mama. Butik ini juga sudah jadi langganan sang mama untuk membeli baju.


"Ada apa? Kenapa kamu terus saja memandang ku?" tanya Milly saat mereka di atas mobil.

__ADS_1


Jujur saja, Milly gugup karna mulai dari rumah tadi, Dean terus saja memperhatikannya.


"Kamu sangat cantik dengan baju itu. Aku suka," kata Dean.


Dean tidak menyangka baju pilihannya begitu pas dan cocok dangan Milly. Dean benar-benar pangling, apalagi selama ini, Milly tidak pernah berpakaian seperti itu.


Dress polos panjang warna maroon dengan lengan yang juga panjang. Dress simpel yang sangat pas di badan Milly.


Meski Dress itu simple tapi sangat mewah karna bahannya yang mahal. Apalagi di leher Milly melingkar kalung berlian simpel yang makin membuat tampilannya terlihat mahal.


"Jangan menengok terus. Fokuslah menyetir," kata Milly.


"Kenapa? Haiii ... sepertinya ada yang merona," kata Dean menggoda Milly. Ia tau Milly salah tingkah. Tapi itu membuatnya senang.


Dean membukakan pintu mobil saat mereka sudah sampai di parkiran butik.


Dean membantu Milly turun, setelah itu ia menggenggam tangan Milly saat berjalan ke dalam butik. Milly sempat menolak, tapi Dean tidak mau melepaskannya.


Dari dalam sebuah mobil yang terparkir di sebelah bangunan butik. Seseorang terus saja memperhatikan Dean dan Milly. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari tangan mereka yang bertautan. Orang itu turun dari mobil saat memastikan Dean dan Milly telah memasuki butik.


***


Baru saja Dean dan Milly memasuki butik, ia sudah disambut oleh Tante Rindy. Tante Rindy adalah pemilik butik. Ia sudah tau kalau Dean dan Milly akan datang. Karna sudah dikasih tau sama mamanya Dean. Dean juga sudah kenal dengan tante Rindy, karna pernah beberapa kali menemani sang mama berbelanja.


"Selamat datang Dean."


Tante Rindy langsung menyalami Dean. Setelah itu, ia beralih memandang Milly.


"Ini--."


"Milly," potong Dean.


"Ya, Milly. Wah, kamu pintar ya Dean. Calonnya cantik sekali."


Milly tersenyum pada tante Rindy. Ia mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan tante Rindy.


"Ayo ikut tante. Tante udah siapkan beberapa contoh desain, sesuai dengan tema yang dikatakan oleh jeng Santy," ajak tante Rindy. Ia juga meminta karyawannya untuk membawakan minuman dan beberapa kue untuk tamunya.


"Ini untuk pernikahan, kebaya modern simpel dengan bawahan kain songket yang dipesan langsung dari sumatra barat. Untuk resepsinya, sesuai permintaan mas Dean,


Akan menggunakan pakaian adat minangkabau," kata tante Risty menjelaskan.


Milly memandang Dean, berbagai pertanyaan hadir dalam pikirannya. Kenapa Dean bisa memilih itu?


"Apa kamu suka?"


Milly mengangguk, sudut matanya mulai menghangat, tapi ia coba tahan untuk tidak menetes.


Dean menggenggam tangan Milly. Sedangkan Milly merasa terharu, sekali lagi, Dean membuatnya merasa beruntung.

__ADS_1


__ADS_2