
Pertunangan Dean dan Vallen, sudah diputuskan, akan dilaksanakan hari minggu depan. Dan seminggu setelahnya, akan digelar acara pernikahan. Semua itu diputuskan tanpa mengikut sertakan Dean.
Segala keperluan acara diurus oleh Vallen, tante Sarah dan juga mamanya Dean. Bahkan untuk pakaian yang akan dipakai Dean pun, ia tidak ikut memilih. Dean tak ubahnya seperti boneka, yang akan menurut saja, apa pun yang akan dipakaikan oleh Vallen dan juga mamanya sendiri.
"Mas, hari ini kita ada janjian untuk fitting baju lamaran, jadi hari ini kamu tidak usah ke kantor, ya?"
"Sepertinya saya tidak bisa, jadi, kamu pergi sendiri saja."
"Tapi, Mas."
"Ya sudah, kalau kamu gak mau, batalin aja pertunangannya."
"Loh kok gitu sih, Mas."
"Kamu tau kan, saya harus ke kantor."
"Tapi, tadi aku udah bilang sama tante Santy, dan tante Santy udah izinin kok. Katanya, kerjaan kantor bisa dikerjakan sama orang kepercayaan, Mas."
"Tidak bisa, bukannya kamu yang bikin janji, jadi kamu saja yang ke sana."
"Tapi kan--."
"Pergi sendiri saja, atau batalkan saja pertunangannya."
Dengan terpaksa Vallen harus mengalah, lebih baik ia pergi sendirian, atau nanti ia akan mengajak mamanya Dean. Dari pada pertunangannya harus dibatalkan. Padahal selangkah lagi ia akan bisa memiliki Dean sepenuhnya.
"Kalau sudah selesai, silahkan keluar dari kamar saya. Saya mau siap-siap ke kantor."
Vallen tidak percaya Dean mengusirnya. Ia sengaja datang pagi-pagi untuk mengabarkan itu pada Dean. Saat mama Dean, mengatakan Dean masih di kamar. Ia langsung pergi ke sana.
Dengan kesal, Vallen melangkah keluar. Dia harus bersabar, nanti setelah menjadi istri Dean, ia yakin Dean akan menurut padanya.
"Jangan pernah masuk kamar saya lagi, tanpa seizin saya."
Langkah Vallen terhenti mendengar perkataan Dean.
Tadi memang Vallen langsung masuk saja. Kebetulan kamar Dean tidak dikunci. Vallen tidak mendapati Dean di dalam kamar.
__ADS_1
Saat ia mendengar suara air di kamar mandi, ia memutuskan untuk menunggu di dalam kamar saja. Bersyukur Dean sudah bakai baju saat keluar dari kamar mandi. Jika tidak, pasti Dean akan sangat marah padanya.
Vallen tidak menjawab perkataan Dean, dia keluar dengan kaki yang di hentak-hentakkan.
*****
Perjalanan ke kantor pagi ini, Dean sengaja memilih jalan yang jauh dan berputar. Jalan itu melewati kosan Milly. Ia sangat ingin melihat Milly, meski hanya dari kejauhan.
Tapi ternyata, di kosan Milly, tidak terlihat tanda-tanda ada orang di sana. Sama seperti hari-hari kemarin, saat Dean lewat di sana.
Dean berfikir mungkin Milly masih di Rumah Sakit. Untuk pergi ke sana Dean tidak punya alasan. Dean memang tidak tau tentang pengusiran Milly dari kosnya.
Dengan hati yang kecewa, Dean berangkat ke kantor. Nanti pulang dari kantor, ia akan lewat sini lagi.
****
Setelah selasai melakukan fitting baju, Vallen langsung pergi ke suatu tempat. Sambil berjalan menuju ruangan yang di tuju, Vallen senyum-senyum sendiri. Ia bermaksud akan memberikan sesuatu pada seseorang di dalam ruangan itu.
Tok ... tok ... tok ....
Sempat nyalinya sedikit menciut, tapi kemudian Vallen kembali bisa menguatkan dirinya.
"Hai, Mil. Wah, ternyata saya datang di waktu yang tidak tepat. Maaf ya, saya mengganggu acara kalian."
Milly dan Pak Adrian saling memandang. Sedangkan Wati yang tadi membukakan pintu, merasa tidak senang dengan kehadiran Vallen. Ia lebih memilih untuk keluar dari ruangan itu.
"Ada apa lagi kamu ke sini?"
Bukan Milly yang menjawab, tapi pak Adrian. Pak Adrian tidak suka Vallen terus-terusan mengganggu Milly.
"Maaf, saya tidak ada urusan dengan Anda. Urusan saya dengan Milly," ucap Vallen.
"Urusan Milly urusan saya juga. Bukankah sudah saya peringatkan untuk tidak mengganggu istri saya lagi," kata pak Adrian menantang Vallen.
Milly kaget mendengar pak Adrian yang keceplosan. Sedangkan Vallen juga kaget mendengar penuturan pak Adrian. Tidak disangka ia mendapatkan fakta yang sangat mengejutkan. Dengan senyum penuh arti Vallen melihat ke arah Milly. Milly pun segera mengalihkan pandangannya.
"Ups maaf, saya tidak tau, kalau Bapak ini suaminya Milly. Saya tadi rencananya ke sini mau mengundang Milly. Tapi karna ada suaminya juga, sekalian saya mengundang Bapak dan Milly untuk datang ke acara pertunangan saya hari minggu depan."
__ADS_1
Vallen pun memberikan undangan yang di ambilnya tari dalam tas ke tangan pak Adrian. Meski tidak mengatakan akan bertunangan dengan siapa, Milly sudah tau siapa laki-laki yang akan menjadi tunangan Vallen.
"Ya sudah, saya pergi dulu. Saya harap kalian bisa hadir di acara istimewa saya."
Sebelum keluar, Vallen mendekat ke arah Milly yang duduk disamping ibunya yang masih terbaring koma.
"Selamat ya, Mil. Atas pernikahan kamu. Maaf ya, aku terlambat ngucapinnya," ucap Vallen sambil mengulurkan tangannya. Di bibirnya terkembang, senyum yang seolah mencemooh Milly.
Kemudian ia langsung berjalan keluar.
"Tunggu," kata pak Adrian menghentikan langkah Vallen yang sudah sampai di pintu.
Vallen membalikkan badannya, saat pak Adrian sudah mendekat ke arahnya.
"Ini, silahkan kamu bawa lagi. Tidak perlu repot-repot mengundang Milly. Milly tidak akan datang ke acara kamu. Tidak perlu berurusan lagi dengan Milly. Cukup ini yang terakhir," kata pak Adrian sambil mengembalikan undangan itu pada Vallen.
Dengan senang hati, Vallen mengambil kembali undangannya. Sebenarnya ia yakin Milly tidak akan datang. Ia hanya ingin membuat Milly sakit hati mengetahui jika ia akan bertunangan dengan Dean.
Dan sekarang, ia sudah berhasil melakukannya, tidak hanya itu, siapa sangka kehadirannya kali ini membuatnya mengetahui suatu fakta yang sangat mengejutkan.
****
"Mas, kenapa kamu bilang sama Vallen kalau aku ini istri kamu?" Tanya Milly saat Vallen sudah pergi dari sana.
"Apa ada yang salah? Kamu kan benaran istri saya," jawab pak Adrian dengan entengnya.
Milly menjadi kesal, mendengar jawaban pak Adrian.
"Ya salah lah. Kamu ini kenapa sih, Mas? Kamu tidak mungkin lupa kan, pernikahan kita ini dirahasiakan. Bu Vania akan marah dan menuduh saya yang sengaja membocorkannya. Entah apa yang akan dilakukan Vallen setelah ini. Kamu tidak mengenal Vallen. Dia itu licik, Mas."
"Kamu tenang saja, saya yang akan bertanggung jawab, jika terjadi sesuatu. Kamu jangan khawatir."
"Kamu bisa tenang Mas. Tapi saya tidak. Kamu selalu melakukan sesuatu tanpa memikirkan orang lain. Egois kamu, Mas."
Pak Adrian, tidak terima dengan tuduhan Milly. Dia berpendapat, melakukan itu untuk melindungi Milly. Tapi Milly malah mengatakannya egois. Pak Adrian juga menuduh Milly, kalau sebenarnya Milly marah, karna tidak terima Dean akan tunangan, makanya melemparkan kekesalan pada dirinya.
Tidak mau berdebat terlalu panjang, Milly menyuruh pak Adrian pergi dari sana. Dengan perasaan marah, pak Adrian pun meninggalkan Milly.
__ADS_1