MILLY

MILLY
bab 68. kerumah mama


__ADS_3

Pov Vallen


Aku sangat frustasi karna pertunanganku dengan mas Dean gagal. Entah kenapa mas Dean begitu tega mengingkarinya. Ia menghilang entah kemana. Sebenarnya aku tidak begitu kaget dengan itu. Karna dari awal aku tau dia tidak mencintai ku.


Dia mencintai teman lamanya yang ku tau bernama Milly.


Berbagai cara sudah aku lakukan untuk menyingkirkan perempuan itu. Terakhir kali aku mengetahui dia sudah menikah. Aku sedikit memperoleh angin segar mendapatinya. Tapi ternyata mas Dean tidak juga bisa ku taklukkan.


Sudah berapa bulan semenjak itu, aku pura-pura depresi, aku marah-marah ketika ada orang tua ku di rumah. Semua barang-barang aku lempar. Entah sudah berapa banyak barang yang jadi korban depresi pura-pura ku.


Aku berharap, papaku luluh dan mau mencari mas Dean untuk ku. Tapi ternyata aku salah, ia malah menyuruh mama untuk membawa ku ke psikolog. Beruntung mama menolak karna tidak mau orang menganggapku gila.


Sekarang setelah berapa bulan berlalu. Aku mulai merasa bosan, aku ingin keluar rumah, tapi selalu dilarang oleh mama dan papa. Mereka takut aku mengamuk dan akan membuat masalah di luaran sana.


Pernah sekali aku diam-diam keluar rumah. Kebetulan mama dan papa tidak di rumah. Aku ingin menemui perempuan bernama Milly itu, aku sendiri yang akan mengancamnya. Aku yakin, ia tau keberadaan mas Dean.


Tapi sialnya, ternyata mama dan papa sudah membayar orang untuk menjaga ku di rumah. Mereka sudah memperkirakan aku akan diam-diam keluar. Jadilah rencana ku kembali gagal.


Aku sudah tak tahan lagi, aku berencana mengatakan pada mama yang sejujurnya. Beruntung hari ini papa ke kantor jadi akan aku pergunakan untuk berbicara dengan mama. Aku yakin dia pasti mengerti. Ia sangat sayang dengan anaknya ini.


"Ma ...."


Mama kaget melihatku memeluknya. Aku yakin ia sedikit takut. Karna beberapa kali aku melemparinya dengan benda-benda kecil. Itu membuatnya trauma.


"Bik, cepat ke si--."


Aku cepat menutup mulut mama, aku yakin ia memanggil bibik karna takut menghadapi aku sendirian. Ia fikir aku akan mengamuk lagi.


"Mmmmm ...." mama berontak. Aku menariknya ke kamar lalu menutup pinta.


"Sayang, kamu mau ngapain, ini mama, kamu tidak akan apa-apain mama kan," ucap mama saat sudah di kamar.

__ADS_1


Sebenarnya lucu melihat mama seperti itu. Tapi kasihan juga, mama sangat menyayangiku.


"Gak Ma. Aku mau ngomong sesuatu sama Mama. Aku mohon mama percaya sama aku."


Aku mencoba membujuk mama. Terlihat mama juga mulai tenang.


"Kamu mau bicara apa?"


"Sebelumnya aku mau minta maaf sama Mama. Karna waktu itu aku pernah melempar Mama. Aku melakukan itu, agar Mama dan papa yakin. Aku ini depresi. Tapi sebenarnya aku cuma pura-pura Ma. Sekarang aku bosan. Makanya aku jujur sama Mama. Mama harus percaya. Sedikitpun aku tidak depresi. Aku melakukan itu agar Mama dan papa mau memcari mas Dean."


Lega rasanya setelah jujur pada mama. Aku menunggu reaksi mama, entah apa yang di fikirkan mama saat ini. Ia hanya mempelototkan matanya.


Bught


"Auh sakit, Mama apa-apaan sih, kenapa pake mukul segala," protesku karna mama memekul lenganku dengan sisir.


"Sakit gak? itu balasan karna kamu sudah sengaja melempar mama waktu itu. Kenapa dari awal kamu tidak jujur saja sama mama. Jadi mama tidak perlu khawatir. Mama juga bisa bantu kamu."


Sekarang aku dan mama menyusun cara untuk menemukan mas Dean. Tapi mama punya tujuan lain, ia ternyata dendam pada mama Dean, kata mama ia sudah tidak berteman lagi dengan tante Santy.


Biar saja, aku akan menemukan mas Dean, aku dan mama akan menghancurkan mas Dean karna sudah mempermalukan kami.


Jika aku tidak bisa memiliki mas Dean. Itu artinya tidak ada juga satu orang pun yang bisa hidup bahagia bersama mas Dean.


Pov off


****


Kemarin bu Vania memutuskan untuk pulang ke rumah mamanya. Mamanya memang sudah tau tentang Dean. Dean juga sudah bertemu dengan sang mama. Bahkan Dean sersimpuh meminta maaf di kaki mamanya Vania, ia meminta maaf atas nama mama dan papanya.


Mama Vania yang semulanya tidak menerima, akhirnya luluh juga oleh sikap Dean. Itu jugalah yang membuat bu Vania mau menerima Dean.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Ma."


"Waalaikum salam, Sayang. Kamu ke sini sama siapa? Adrian mana? kenapa berapa bulan ini setiap kamu kesini, dia tidak ikut, rumah tangga kalian baik-baik saja kan?"


Sebenarnya sudah sering mama bu Vania menanyakan itu, biasanya ia akan beralasan kalau pak Adrian sibuk atau keluar kota. Tapi kali ini ia ingin menceritakan pada mamanya tentang keadaan rumah tangganya saat ini. Ia juga ingin meminta pendapat sang mama.


"Ma, sebenarnya Vania ingin membicarakan sesuatu dengan Mama. Tapi Mama harus mendengarkan penjelasan Vania dulu, Vania melakukannya karna suatu alasan."


Bu Vania mulai menceritakan kejadiannya. Mulai dari mertuanya yang sering menuntut cucu dan akan mencarikan madu untuknya. Sampai hubungannya dengan pak Adrian saat ini.


Mama Vania sangat kaget mendengar itu. Berulang kali ia menarik nafas panjang. Tapi ia tetap mencob untuk tidak menghakimi sang anak. Bagaimana pun anaknya pasti melakukan itu setelah melalui berbagai pertimbangan.


"Jadi begitu, Ma. Sekarang Vania bingung harus bersikap gimana pada mas Adrian."


Mama Vania sekarang mengerti, jika rumah tangga sang anak sedang ada masalah. Ia berjanji akan membantu, bagaimana pun ia tidak ingin sang anak merasakan apa yang dirasakannya dulu. Dan sekarang ia menyesal karna keputusannya sendiri.


"Mama bukannya membela salah satu diantara kalian, tapi mama ingin yang terbaik untuk rumah tangga anak mama. Kamu jangan terlalu keras pada Adrian.


Bagaimana pun, ia laki-laki. Ibaratnya kucing, meski dia tidak suka ikan asin, tapi karna di paksa mencoba. Akhirnya ia akan mengulang memakannya, karna sudah tau rasanya.


Jadi menurut mama, tetap fokus pada rencana awal kamu. Yang terjadi biarlah. Bersabarlah sebentar lagi. Setelah itu, kamu bisa memintanya menceraikan perempuan itu. Dan meminta perempuan itu pergi jauh dari keluarga kalian."


Bu Vania mencoba mencerna perkataan sang mama. Ia berfikir apa yang dikatakan mamanya itu tidaklah salah. Ia akan mencoba untuk memaafkan suaminya.


setelah itu, bu Vania pergi ke kamar, ia menghidupkan kembali ponselnya yang sengaja dimatikannya dari tadi.


Ia tersenyum, ada banyak panggilan masuk dari suaminya. Beberapa pesan juga masuk di ponselnya. Semuanya menanyakan keberadaannya. Sang suami juga mencemaskannya. Itu artinya kalau pak Adrian masih sangat peduli dan mencintainya.


"Sayang kamu dimana? Kamu baik-baik sajakan. Mas harap kamu tidak sedang bersama pria itu. Mas tidak suka. Mas tidak rela dia bersamamu. Mas mencintaimu."


Pesan terakhir yang dibaca bu Vania mampu membuatnya senyum-senyum sendiri. Seketika ia merindukan sang suami.

__ADS_1


__ADS_2