MILLY

MILLY
bab 42. apa kamu sudah menikah?


__ADS_3

"Dean, aku ... bisa jelasin, semua tidak seperti yang kamu fikirkan."


"Bukankah dari tadi, aku sudah meminta mu untuk menjelaskannya. Tapi kamu yang tidak mau."


"Ini sangat berat untuk aku, akan sangat sulit untuk menjelaskannya."


"Bukankah jujur itu lebih baik," ucap Dean lagi. Dean, tetap memandang lekat pada mata Milly. Ia ingin melihat kebenarannya di sana.


"Tapi jika aku jujur, aku takut kamu akan menjauhi ku?" Milly berkata sambil terus menghapus air matanya.


"Apa itu artinya kamu juga mencintaiku? Tapi ini tidak adil untuk ku, kamu memberi harapan yang tidak bisa ku miliki."


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Milly. Padahal Dean sangat ingin mendengarnya. Cukup lama Dean menunggu tapi tidak ada juga jawabannya.


"Kenapa diam saja, aku menunggu jawabanmu. Jika tidak, aku menganggap Diam mu ini sebagai jawaban jika kamu juga mencintai ku."


Tetap tak ada jawaban, kini terdengar isakan dari tangisnya Milly.


"Baiklah, aku tidak akan meminta penjelasan lagi, aku akan melupakan dan menerima apa pun itu tentang dirimu, aku juga tidak akan meninggalkan mu. Tapi, sebelum itu, ada satu hal yang ingin aku tanya kan pada mu."


Dean berkata sambil menggenggam ke dua tangan Milly. Mereka saling berhadapan. Di tatapnya lekat mata indah Milly. Ia ingin melihat kejujuran di sana.


Sedangkan Milly, cemas menunggu Dean melanjutkan ucapannya.


"Apa kamu sudah menikah?"


Dean terus menggenggam tangan Milly yang terasa semakin dingin, tubuh Milly bergoncang karna isakannya.


Satu menit ... dua menit ... hingga tiga menit menunggu tak juga ada jawaban.


Hingga akhirnya satu anggukan kepala Milly menjadi jawabannya.


Satu anggukan yang mampu meruntuhkan langit impian Dean yang begitu tinggi. Dengan perlahan Dean melepaskan tangan Milly yang di genggamnya dengan erat.


"Oke ... sekarang semuanya sudah jelas. Terima kasih kamu sudah mau jujur. Sekarang aku akan mengantarkanmu ke kamar."


Ketika Dean, akan berdiri, Milly menahan tangannya. Sehinga Dean kembali duduk.


Milly menangis sambil memegang tangan Dean. Dean tau ada sesuatu yang membebani Milly, yang tak sanggup untuk di ceritakannya. Tapi Dean tidak mau untuk mencari tau lagi. Dia takut akan berharap lagi.


Dean mendekat ke arah Milly kemudian menarik Milly ke pangkuannya.

__ADS_1


Seperti sedang melepas beban berat yang di pikulnya. Milly menangis sejadi-jadinya di pangkuan Dean. Kemudian Dean memeluk Milly erat.


"Sudah, jangan seperti ini. Apa pun itu, kamu pasti kuat," ucap Dean, sambil melepas pelukannya.


Kemudian Dean berdiri, dan membantu Milly untuk duduk di kursi roda. Lalu mengantarkan milly kembali ke kamarnya.


****


Milly menatap kepergian Dean, setelah tubuh Dean, benar-benar hilang dari pandangan Milly. Tangis Milly langsung pecah.


Wati yang melihat itu merasa sangat sedih, ia yakin sesuatu terjadi dengan Milly dan Dean.


Di parkiran Rumah Sakit, seseorang yang dari tadi mengikuti Dean, bergegas meninggalkan Rumah sakit, sesaat setelah Dean pergi dari sana.


Kali ini dia sangat bahagia, karna telah mengetahui rahasia Milly. Dan yang paling membuatnya bahagia adalah dia yakin setelah ini Dean tidak akan lagi mendekati Milly. Itu artinya rencananya untuk menikah dengan Dean akan segera terwujud.


Vallen meminta pada sopir yang mengantarnya untuk langsung ke rumah mamanya Dean. Rasanya Vallen sudah tak sabar untuk membagi kabar penting itu dengan mamanya Dean. Diatas mobil, di sepanjang jalan, menuju rumah Dean, Vallen terus saja tersenyum. Bahkan sesekali senandung kecil juga keluar dari bibirnya.


Tok ... tok ... tok


Dari dalam rumah bik Nah datang untuk membuka pintu. Melihat kedatangan Vallen ia langsung mempersilahkan masuk dan mengatakan jika sang majikan ada di ruang keluarga.


"Hai Tante ... gimana kabar tante hari ini?" ucap Vallen sambil memeluk mamanya Dean.


"Alhamdulillah baik, kelihatannya kamu hari ini sangat bahagia."


Mama Dean senang sekaligus heran melihat Vallen yang terlihat begitu bahagia.


"Tante benar, aku memang lagi bahagia. Aku punya kabar penting buat Tante."


"Oh ya. Kabar penting apa? Tante jadi penasaran. Apa sih yang buat kamu bahagia seperti ini."


"Tante tau gak, ternyata si Milly itu sedang hamil."


"Ha ... hamil, hamil sama siapa, bukan Dean kan pelakunya."


Mama Dean sangat kaget mendengar itu.


"Enggak dong, Tan. Kalau mas Dean yang kayak gitu. Mana mungkin sekarang aku bahagia. Udah nangis aku, Tan. Tapi jangan deh. Amit-amit," kata Vallen lagi.


"Terus anak siapa? Katanya dia belum menikah," tanya mama Dean. Dia sangat kepo tentang itu.

__ADS_1


"Katanya sih, udah menikah, Tan. Tapi kok aku kurang yakin ya. Apa jangan-jangan laki-laki yang waktu pagi itu, suaminya ya? Tapi gak mungkin juga sih, kan kata mas Dean, itu suami bos nya."


"Ngomong-ngomong kamu tau dari mana Milly hamil. Jangan sampai kabarnya bohong."


"Gak kok, Tan. Aku dengar sendiri saat mas Dean menanyakan itu, dan Milly itu mengiyakannya."


Vallen pun menceritakan semuanya, berawal dari saat tadi pagi ia datang kerumah Dean, untuk membawakan sarapan. Saat dia baru sampai, ternyata Dean baru aja keluar. Vallen pun mengikuti Dean yang ternyata pergi ke rumah sakit. Sampai akbirnya ia mengetahui semuanya.


"Syukur lah, itu artinya Dean tidak akan lagi memperjuangkan Milly. Sekarang dia pasti mau menikahi kamu."


"Iya. Makasi ya, Tan. Tante udah mendukung aku untuk bisa mendapatkan mas Dean."


"Sama-sama sayang. Tante ikut bahagia. Tidak sabar rasanya untuk melihat kalian menikah. Oh, ya, nanti kamu setelah menikah, jangan tunda-tunda kehamilan ya. Tante udah gak sabar untuk momong cucu."


"Iya. Tante tenang aja. Nanti akan ada Dean junior yang akan memanggil Tante dengan sebutan oma," ucap Vallen.


Kemudian dua wanita beda generasi itu, sibuk membicarakan banyak hal, mulai tentang rencana pernikahan, sampai keinginan-keinginan lainnya.


Sesekali terdengar tawa, menyelingi obrolan mereka.


***


Hari sudah sore, saat Vallen pamit dari rumah mama Dean. Setelah mereka puas bercerita banyak hal. Tadi mereka juga memesan berbagai makanan untuk teman ngobrol. Sekaligus untuk merayakan kebahagiaan mereka.


Di perjalanan, Vallen mendapat ide untuk mencari kebenaran tentang pernikahan Milly. Ia mendatangi kos Milly. Kepada para tetangga kos, Ia berpura-pura menjadi teman Milly yang sudah lama tidak berjumpa. Kemudian menanyakan keberadaan Milly.


"Jadi sekarang Milly lagi di rumah sakit ya Buk?" tanya Vallen pada salah seorang tetangga yang mengatakan jika Milly sedang di rumah sakit.


"Duh, sayang banget, padahal aku mau, ngasih surprise sama dia, soalnya udah lama gak ketemu," ucap Vallen pura-pura kecewa.


"Coba aja datang langsung ke Rumah Sakit. Pasti Milly akan senang," usul ibu-ibu lain, yang kebetulan juga sedang nongkrong di sana.


"Ya, sepertinya itu lebih baik, tapi saya segan, apalagi nanti di sana ada suaminya. Takut ganggu, ngomong-ngomong Milly udah punya suami kan bu. Soalnya udah lama kami gak saling berkabar," ucap Vallen berbohong.


"Belom, dia saja sibuk ngurusin ibunya. Sampai lupa mikirin diri sendiri. Terkadang kami juga kasihan melihatnya," jawab ibu yang tadi.


"Oh begitu ya, saya juga prihatin mendengarnya. Ya sudah, saya pamit dulu ya bu. Nanti ke sini lagi, tapi saya minta tolong jangan ada yang bilang sama Milly, jika saya datang kesini mencarinya. Nanti gak jadi surprise lagi dong," ucap Vallen seramah mungkin.


"Tenang aja, kami gak akan bilang."


Setelah berpamitan dengan ibu-ibu itu, Vallen langsung pulang kerumahnya. Sepertinya, malam nanti ia akan tidur nyenyak. Hari ini banyak hal yang membuatnya bahagia. Dia tak sabar lagi menunggu Milly pulang dari rumah sakit. Ia akan memberi Milly surprise, yang tidak akan pernah di lupakan Milly. Ide itu tercetus saat Vallen pulang dari kos Milly tadi.

__ADS_1


__ADS_2