MILLY

MILLY
Bab 64. pemakaman


__ADS_3

Terlihat tubuh ibu Milly seperti kejang.


"Saya tidak tau Mbak. Mbak tunggu di sini. Saya mau panggil dokter dulu."


Wati langsung berlari keluar, sedangkan Milly mulai menangis melihat keadaan ibunya. Bahkan ia lupa jika di sana ada pak Adrian dan bu Vania.


Pak Adrian reflek berjalan ke arah Milly, bu Vania langsung menahan tangan pak Adrian. Sesaat pak Adrian menyesali perbuatan cerobohnya. Ia berbalik menghadap bu Vania. Bu Vania melototkan matanya pada sang suami.


Tidak berapa lama, dokter dan perawat masuk ke ruang Milly.


"Tolong tunggu di luar, dokter akan memeriksa pasien," ucap seorang perawat pada pak Adrian dan bu Vania.


Bu Vania langsung berjalan keluar.


Sedangkan pak Adrian merasa sedikit ragu meninggalkan Milly yang masih menangis.


Melihat suaminya masih berdiri di sana, bu Vania kembali ke dalam lalu menarik tangan suaminya ke luar. Wati juga sudah keluar ruangan. Sedangkan Milly memaksa tetap berada di sana karna ingin mendampingi ibunya.


Bu Vania yang merasa tidak memungkinkan untuk berbicara sekarang pada Milly, memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit.


Bu Vania juga mengajak pak Adrian bersamanya. Meski sedikit keberatan tapi pak Adrian menurut saja. Ia tak mau membuat masalah lagi dengan sang istri.


****


Semenjak pertunangannya dengan Dean batal. Hari-hari Vallen mulai berubah. Setiap hari ia akan marah-marah. Ia akan melempar apa saja yang ada dihadapannya.


Tante Sarah, mamanya Vallen, menjadi sangat khawatir dengan kondisi anaknya.


"Pa, gimana ini? Makin hari, Vallen makin tidak bisa di kendalikan. Papa harus lakukan sesuatu," kata mama Vallen pada suaminya.


"Apa lagi yang harus papa lakukan? papa sudah bicara baik-baik, tapi dia tidak mau mendengarkan. Papa sudah menyarankan untuk membawanya ke psikolog, tapi Mama melarangnya. Sekarang papa tidak tau harus bagaimana lagi. Itu lah akibatnya jika setiap kemauan anak selalu dituruti. Sekali saja kemauannya tidak dapat ia akan seperti ini," ucap papa Vallen panjang lebar.


Papa Vallen bukannya tidak peduli dengan kondisi putrinya. Ia sudah menyuruh istrinya mengajak Vallen ke psikolog, tapi istrinya melarang karna takut nanti ada yang lihat dan mengatakan anaknya gila.


Padahal orang yang datang ke psikolog tidaklah melulu karna gila. Pernah juga papanya Vallen mengajak psikolog kerumah. Malah diusir sama mamanya Vallen. Mulai saat itu papanya Vallen tidak tau lagi harus berbuat apa.


"Papa kok ngomong gitu sih. Itu kan karna mama menyayangi Vallen. Apa salahnya mama menuruti keinginan anak. Apalagi kita mampu memberikannya. Jika tidak mampu itu baru salah."

__ADS_1


"Terserah Mama sajalah. Nikmati saja buah dari rasa sayang Mama yang berlebihan itu."


Kalau sudah begini, mama Vallen malas berbicara lagi pada suaminya. Bukannya mendapat solusi, yang ada ia menjadi emosi.


Padahal sebenarnya ia mau suaminya mencari Dean dan membawanya untuk Vallen. Bisa dipastikan Vallen akan kembali bahagia.


Mama Vallen masuk ke dalam kamarnya kemudian kembali keluar setelah mengambil tas. Ia berjalan keluar melewati sang suami yang sedang duduk di ruangan tengah.


"Mama mau kemana?"


"Mama mau keluar, mama mau minta pertanggung jawaban dari jeng Santy. Lagi pula mama malas bicara sama papa, papa selalu nyalahin mama."


Papa Vallen hanya gelenga-geleng kepala menanggapi perkataan sang istri. Ia membiarkan istrinya pergi tanpa bertanya lagi.


***


"Pa ... Dean datang. Tapi sekarang Dean datang sendirian saja. Insyaallah nanti Dean akan ajak Mbak Vallen ke sini. Dean udah ketemu sama dia Pa. Dia sama seperti Papa. Dia juga mirip seperti Papa. Dean seolah melihat Papa lagi, saat ada didekatnya."


Dean mulai menaburi bunga yang dibawanya tadi di atas makam sang papa.


Ia juga menghadiahi sang papa dengan surat Al fatiha. Setelah selesai berdoa, Dean berniat untuk pergi. Langkahnya terhenti saat melihat mamanya berjalan ke arahnya.


Dean gegas menghindar agar tidak terlihat oleh mamanya. Sebenarnya ia juga rindu dengan mamanya. Tapi sekarang bukanlah saat yang tepat untuk bertemu.


Ia memilih jalan lain untuk keluar dari area pemakaman agar tidak bertemu dengan sang mama.


Ng mama.


Mama Dean kaget mendapati bunga yang cukup banyak di atas makam suaminya. Mama Dean yakin bunga itu baru saja di taburkan, karna kondisinya masih segar.


Seketika ia teringat dengan Dean. Ia sangat yakin Dean yang datang. Dan ia juga yakin Dean baru saja dari sini.


Ia berdiri, memperhatikan sekitar. Tapi tidak dijumpainya sang anak. Ia bahkan kembali ke parkiran untuk melihat mobil anaknya, mungkin anaknya masih di sana. Tapi sayang Dean sudah pergi dari sana.


Dengan wajah lesu, mama Dean kembali ke makam suaminya.


"Assalamualaikum Pa. Papa apa kabar di sana? Apa tadi Dean ke sini? Dia cerita apa sama Papa?"

__ADS_1


Air mata mama Dean tidak bisa dibendung lagi. Rasa kangennya pada suami dan juga Dean sangat menyiksanya.


"Maafkan mama Pa, mama menyesal telah berbuat seperti itu pada Dean. Mama sangat menyesal. Mungkin saat ini Dean sangat benci sama mama. Sehingga ia memilih pergi, dan mama tidak tau sekarang dia dimana? Hu ... hu ... hu ...."


Satu tangannya menghapus air mata dan satu lagi mengelus-elus nisan sang suami.


"Mama menyesal Pa. Harusnya saat Dean patah hati, mama berusaha menguatkannya. Tapi malah mama sendiri yang membuatnya tambah kecewa. Mungkin perginya Dean adalah bentuk hukuman buat mama. Tapi mama selalu berdoa semoga sebelum mama meninggal mama bisa bertemu Dean lagi, mama mau minta maaf sama dia Pa. Mama berjanji akan mendukung keinginannya Pa. Hu ... hu ...."


Tangisan mama Dean begitu pilu. Siapa saja yang mendengar pasti akan iba. Dan seandainya Dean masih di sana dan mendengarnya, mungkin ia akan mengubah keputusannya. Tapi sayang, ia sudah pergi.


Setelah selesai menceritakan semua kegundahannya. Mama Dean menaburkan bunga segar yang dibawanya. Kemudian ia berdoa dengan khusuk untuk sang suami.


Berulang kali mama Dean memperhatikan sekeliling. Berharap menemukan sang anak, sebelum ia meninggalkan pemakaman. Namun hasilnya masih sama.


ng mama.


Mama Dean kaget mendapati bunga yang cukup banyak di atas makam suaminya. Mama Dean yakin bunga itu baru saja di taburkan, karna kondisinya masih segar.


Seketika ia teringat dengan Dean. Ia sangat yakin Dean yang datang. Dan ia juga yakin Dean baru saja dari sini.


Ia berdiri, memperhatikan sekitar. Tapi tidak dijumpainya sang anak. Ia bahkan kembali ke parkiran untuk melihat mobil anaknya, mungkin anaknya masih di sana. Tapi sayang Dean sudah pergi dari sana.


Dengan wajah lesu, mama Dean kembali ke makam suaminya.


"Assalamualaikum Pa. Papa apa kabar di sana? Apa tadi Dean ke sini? Dia cerita apa sama Papa?"


Air mata mama Dean tidak bisa dibendung lagi. Rasa kangennya pada suami dan juga Dean sangat menyiksanya.


"Maafkan mama Pa, mama menyesal telah berbuat seperti itu pada Dean. Mama sangat menyesal. Mungkin saat ini Dean sangat benci sama mama. Sehingga ia memilih pergi, dan mama tidak tau sekarang dia dimana? Hu ... hu ... hu ...."


Satu tangannya menghapus air mata dan satu lagi mengelus-elus nisan sang suami.


"Mama menyesal Pa. Harusnya saat Dean patah hati, mama berusaha menguatkannya. Tapi malah mama sendiri yang membuatnya tambah kecewa. Mungkin perginya Dean adalah bentuk hukuman buat mama. Tapi mama selalu berdoa semoga sebelum mama meninggal mama bisa bertemu Dean lagi, mama mau minta maaf sama dia Pa. Mama berjanji akan mendukung keinginannya Pa. Hu ... hu ...."


Tangisan mama Dean begitu pilu. Siapa saja yang mendengar pasti akan iba. Dan seandainya Dean masih di sana dan mendengarnya, mungkin ia akan mengubah keputusannya. Tapi sayang, ia sudah pergi.


Setelah selesai menceritakan semua kegundahannya. Mama Dean menaburkan bunga segar yang dibawanya. Kemudian ia berdoa dengan khusuk untuk sang suami.

__ADS_1


Berulang kali mama Dean memperhatikan sekeliling. Berharap menemukan sang anak, sebelum ia meninggalkan pemakaman. Namun hasilnya masih sama.


__ADS_2