MILLY

MILLY
bab 78. masih Dean yang sama


__ADS_3

"Ke--po."


Milly melotot, ia tidak percaya Dean melakukan itu padanya.


Sedangkan Dean tertawa melihat Milly. Bukan hanya karna berhasil mengerjai Milly. Ia juga teringat ekspresi Milly tadi. Ia bisa menebak apa yang tadi Milly pikirkan. Dan itu sangat lucu bagi Dean.


"Haha ... haha ...."


Milly malu sekalian marah pada Dean. Pipinya terasa panas. Ia yakin saat ini pipinya sudah memerah.


"Auhhh."


Milly mengaduh, tadi ia mau menampar Dean dengan tangannya. Tapi karna terlalu bersemangat, ia lupa kalau ia belum bisa terlalu banyak bergerak. Sehingga luka operasinya terasa sedikit nyeri.


"Milly, ada apa? Apa sangat sakit?" tanya Dean khawatir saat Milly memegang perutnya.


"Tidak, tidak apa-apa? Hanya sedikit nyeri. Tadi aku lupa kalau aku habis operasi," jawab Milly.


"Maaf, gara-gara aku, kamu jadi kesakitan. Apa perlu aku panggilkan perawat?"


"Tidak perlu berlebihan, aku baik-baik saja," kata Milly lagi meyakinkan Dean.


Dean terlihat sangat khawatir.


"Baiklah kalau kamu merasa seperti itu, sekarang istirahatlah. Aku akan menunguimu disini."


Karna masih sedikit malu karna kejadian tadi. Milly pun mencoba untuk menutup matanya. Tapi sudah berapa lama matanya tak juga mau tertidur. Ia pun memutuskan untuk berpura-pura tidur saja.


"Apa sangat susah untuk tidur?"


"Haahh."


Milly kembali membuka matanya.


Ternyata dari tadi Dean memperhatikan Milly. Sehingga ia tau Milly pura-pura tidur.


"Kenapa Wati lama sekali, kemana dia?"


"Hay ... apa karna itu kamu tidak bisa tidur. Kamu pikir aku akan berbuat yang macam-macam."


"Tidak. Aku hanya bertanya. Bahkan aku tidak kepikiran sampai kesitu. Aku percaya kamu tidak akan berbuat seperti itu."


"Baguslah, padahal tadi aku memang sempat berpikir untuk melakukan itu. Tapi melihatmu begitu percaya denganku. Aku akan mengurungkannya," kata Dean.


"Deaaann."


"Bercanda Mil. Istirahatlah!" kata Dean lagi.


****


Saat Milly terbangu, ia merasakan tangannya di pegang oleh seseorang. Setelah dilihat ternyata Dean yang memegang tangan Milly. Ia tertidur di kursi samping tempat tidur Milly. Dengan posisi kepala yang diletakkan di atas tempat tidur.

__ADS_1


Di sofa Milly juga melihat Wati yang telah tertidur dengan lelap. Milly memperkirakan kalau saat ini sudah malam. Hanya saja ia tidak tau tepatnya jam berapa.


Milly merasa sangat haus. Tapi ia keausahan meraih gelas, karna tangannya yang digenggam Dean.


Dengan hati-hati Milly mencoba melepaskan tangannya. Ia takut membangunkan Dean.


"Ahhhh."


Milly kesusahan melakukannya. Tapi ia kembali mencobanya.


"Mil, ada apa?"


"Aduh," kata Milly dalam hatinya.


"Aku mau ambil air minum, tapi tanganku--."


"Kenapa tidak membangunkan aku?"


"Aku tidak mau mengganggu tidurmu."


"Sama aja, Mil. Ini juga menggangguku," kata Dean, sambil menyerahkan gelas yang sudah berisi air pada Milly.


"Maaf, aku merasa sangat kehausan," kata Milly setelah meminum air itu. Ia merasa bersalah. Ia pikir Dean benaran marah.


"Jangan terlalu serius. Aku bercanda. Jangan memaksa melakukan sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan. Aku akan membantumu," kata Dean lagi. Ia kembali meletakkan gelas yang tadi.


Kini keduanya saling diam, Milly salah tingkah karna Dean masih menatapnya dari tempat ia duduk.


"Mil."


"Dean."


Keduanya serentak berbicara, kemudian kembali terdiam setelah saling pandang.


"Kamu mau ngomong apa? Ngomong aja," kata Dean lagi."


"Tidak jadi, tadi kamu juga ingin bicara. Kamu aja duluan."


"Tidak, kamu aja yang duluan," tolak Milly.


"Baiklah, aku mencintaimu," kata Dean.


Padahal tadi ia tidak akan mengatakan itu. Tadi ia ingin kembali meminta Milly untuk istirahat.


Tapi melihat Milly yang ngotot, ia mengerjai Milly. Meski yang ia sampaikan itu benar adanya. Dan sekarang Dean puas melihat Milly yang salah tingkah dan pipinya yang bersemu merah.


Milly terpaku mendapat serangan mendadak begitu dari Dean. Hatinya menghangat di tengah dinginnya malam. Sekarang ia menjadi bingung sendiri.


"Apa?" tanya Dean.


"Tidak apa-apa," jawab Milly cepat.

__ADS_1


"Kan tadi kamu mau bicara," kata Dean lagi. Lagi-lagi Milly salah mengartikan pertanyaan Dean.


"Kenapa masih di sini? Kenapa tidak pulang saja?"


Akhirnya Milly memberanikan diri bicara.


"Astaga Mil, kamu mengusirku?"


"Dean, berhentilah bercanda, aku serius," kata Milly. Ia kembali menampakkan wajah cemberut. Lagi-lagi Dean menjadi gemas melihatnya.


"Aku serius Mil."


"Dean, tidak kah bisa bicara serius?" kata Milly lagi. Wajahnya tambah cemberut saja. Sehingga membuat pipinya yang cuby, karna efek berat badannya yang naik selama hamil, terlihat membulat dan itu sangat menggemaskan di mata Dean.


"Baiklah, aku mau menemanimu, apa kamu keberatan. Atau kehadiranku mengganggu istirahatmu?"


Kali ini Dean berbicara serius. Ia memang sengaja tidak pulang. Karna ingin menemani Milly.


"Tidak. Hanya saja itu akan merepotkan mu. Aku tidak apa-apa, lagi pula ada Wati yang menemaniku di sini."


"Tidak merepotkan. Bukankah dari dulu sudah kubilang, aku senang direpotkan oleh mu. Kamu saja yang tidak mau," ucap Dean.


Milly menghela napas panjang. Ia bisa mengerti, dari kata-kata Dean tadi, tersirat rasa kecewa yang disampaikan secara tidak langsung pada dirinya. Tapi mau bagaimana lagi semua telah terjadi dan kalau bisa memilih Milly juga tidak akan melakukan itu.


"Tapi lebih baik kamu pulang, disini kamu tidak bisa tidur dengan baik."


"Jangan mencemaskan itu, di dekatmu dan memastikan kamu baik-baim saja, itu lebih dari apapun saat ini," ucap Dean yang kembali membuat Milly tersipu malu.


"Mil, jangan memintaku untuk pergi lagi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, apapun alasannya. Jadi, ku mohon biarkan aku menemanimu, tidak hanya hari ini, tapi selamanya," ucap Dean sambil menggenggam tangan Milly.


Milly kembali dibuat tersipu oleh perkataan Dean. Bobong kalau ia tidak senang mendengarkan itu. Hanya saja, Milly terlalu takut untuk berharap lebih.


Muuachh


Deg.


Jantung Milly berdetak sangat kencang. Milly belum bisa menetralkan detak jantungnya, karna perkataan Dean tadi. Sekarang Dean malah mengecup punggung tangannya, yang kembali membuat jantungnya harus berdetak makin cepat lagi.


Dan tanpa diminta Milly, air matanya jatuh begitu saja. Dean yang melihat itu langsung menghapus air mata Milly dengan jarinya.


"Jangan menangis! Aku tidak suka," kata Dean lagi.


"Mil, aku tidak akan menunggu lagi. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Aku masih Dean yang dulu, Mil. Dean yang sama, saat pertama kali kita bertemu di SMP dulu. Dean yang masih sangat mencintai Milly. Tidak ada yang berubah. Aku masih sangat mencintaimu."


Dean mengatakan itu sambil satu tangannya masih berada di pipi Milly. Menghapus air mata Milly yang masih saja menetes. Sedangkan tangan satu lagi menggenggam tangan Milly.


"Tapi akunya yang sudah berubah," jawab Milly di sela tangisnya. Air matanya masih belum mau berhenti.


"Apapun perubahanmu aku tidak peduli, aku menerimanya dengan sepenuh hati. Asalkan saja bukan cintamu yang berubah. Katakan Mil, apa kamu juga masih mencintaiku seperti dulu?"


Milly tidak menyangka Dean akan menanyakan itu saat ini. Jujur saja itu membuat Milly kaget. Ia tidak tau mau menjawab apa. Sedangkan Dean masih menatap Milly, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Sebenarnya Dean juga sangat was-was. Ia harap-harap cemas menunggu jawaban Milly. Apalagi sudah berjeda lama Milly masih saja diam.


__ADS_2