
Besok harinya, Milly merasakan kondisi tubuhnya sudah jauh membaik. Sedangkan ibunya masih belum juga sadar. Milly berusaha untuk kuat, meski hatinya hancur melihat kondisi sang ibu, di tambah dengan fikiran Milly yang kacau di tinggal Dean.
Milly berencana untuk pulang kerumah sebentar, mengambil baju ganti untuknya, dan juga beberapa keperluan ibunya. Milly juga telah meminta izin pada bu Vania untuk tidak bekerja.
"Wati, aku mau pulang sebentar, mau ambil baju ganti. Aku minta tolong sama kamu untuk jagain ibu, ya. Nanti setelah aku kembali, kamu tidak perlu lagi menunggui ibu, kamu bisa pulang ke kerumah."
"Baik, Mbak," ucap Wati.
Hari sudah siang, saat Milly sampai di kosnya. Milly sudah menyimpan beberapa bajunya dan juga baju sang ibu ke dalam tas. Milly bermaksud untuk membaringkan tubuhnya sebentar di kasur, tapi tiba-tiba saja dari luar, terdengar rame orang memanggil namanya. Dan menyuruhnya keluar.
"Milly, keluar."
"Keluar kamu, Milly."
"Cepat pergi dari sini."
"Usir Milly."
Milly menajamkan pendengarannya. Dan suara-suara itu makin jelas dan rame saja.
Milly mengintip di jendela, ada banyak orang di luar sana. Mereka di dominasi oleh ibu-ibu. Sebagian ada yang di kenal Milly. Sebagian lain tidak. Ada juga beberapa orang bapak-bapak di sana.
Milly merasa sedikit takut, tapi ia harus keluar menghadapi mereka. Karena mereka terus saja menggedor pintu. Dan Milly juga ingin tau, apa yang sebenarnya terjadi?
Saat Milly membuka pintu, beberapa orang langsung melemparinya.
"Akhhh ... " Milly berteriak karna beberapa tomat busuk mendarat di mukanya.
"Pergi kamu dari sini."
"Tampang baik, tapi tarnyata perbuatannya kotor."
"Di sini tempat orang-orang bersih, bukan untuk manusia kotor seperti mu."
Dan banyak lagi kata-kata yang keluar dari mulut orang-orang itu.
Mereka terus melempari Milly, meskipun Milly sudah minta ampun. Akhirnya Milly menangis saja menerima perlakuan seperti itu. Untuk kembali ke dalam rumah tidak bisa. Karna beberapa orang berdiri di pintu menghalanginya.
__ADS_1
"Sudah ... sudah, ada apa ni? Kenapa main hakim sendiri. Kita bisa bicarakan baik-baik."
Seseorang datang menghentikan itu, ternyata orang itu adalah ketua RT. Beliau datang, karna ada salah seorang warga yang mengadu.
"Ada apa ini, tolong jelaskan baik-baik." Ucap pak RT lagi.
Orang-orang kembali berebut berbicara, sehingga pak RT kembali menenangkan mereka.
"Jika semuanya berbicara, saya tidak bisa mendengar dengan jelas. Sekarang coba salah satu diantara kalian berbicara untuk mewakili."
"Saya Pak, saya yang akan berbicara."
Seorang wanita cantik dan juga modil maju ke arah pak RT dan Milly berada. Milly kaget melihat wanita itu. Sedangkan pak RT menatapnya heran.
"Kamu siapa? Saya belum pernah melihatmu. Apa kamu bukan warga saya."
"Nama saya Vallen pak RT, saya memang bukan warga sini. Saya kenal dengan Milly. Saya hanya ingin menyelamatkan warna sini dari marabahaya. Karna saya sangat peduli."
"Baiklah, jelaskan apa yang terjadi? Kenapa kamu mengajak warga di sini berbuat keributan."
"Saya kesini ingin mengatakan bahwa Milly sekarang sedang hamil, sedangkan dia belum menikah. Saya juga pernah memergokinya pulang pagi-pagi di antar seorang laki-laki."
"Tenang-tenang. Semuanya tenang dulu. Apa buktinya jika apa yang kamu katakan itu benar. Jangan sampai kamu memfitnah seseorang. Karna itu dosanya besar," ucap pak RT bijak.
Vallen pun mengeluarkan bukti foto yang ia ambil saat memergoki Milly pulang di antar pak Adrian. Ia juga membawa surat keterangan kehamilan Milly dari rumah sakit. Tadi sebelum menemui warga, ia ke Rumah Sakit untuk meminta itu. Pada Dokter ia bilang jika ia adalah saudaranya Milly.
Pak RT mengambil bukti itu dan membacanya.
"Milly coba katakan, apakah yang di katakan wanita ini benar/ salah? Biar masalahnya jadi jelas."
Milly tidak mampu menjawab. Ia hanya bisa menangis. Terduduk di lantai sambil memangku ke dua lututnya. Sedangkan tubuhnya sudah kotor oleh tomat busuk.
Ia seperti seorang penjahat yang sedang di adili.
"Jika diam saja, berarti itu benar, Pak. Usir saja sekarang," teriak seseorang.
"Iya, usir saja."
__ADS_1
"Bukti sudah jelas, usir saja biar tempat kita tidak mendapat masalah."
Kembali orang-orang mengeluarkan pendapatnya.
"Baiklah. Saya akan bertanya sekali lagi. Apakah yang di tuduhkan orang-orang ini benar atau salah. Jika kamu diam saja, saya akan menganggap jika itu benar," ucap pak RT lagi.
Milly terus saja menangis, sedangkan Vallen tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah, karna kamu tidak menjawab. Saya simpulkan bahwa kamu membenarkan tuduhan itu," ucap pak RT.
"Dan untuk warga, jangan ada lagi yang main hakim sendiri, sekarang karna berita ini sudah terbukti, saya meminta beberapa perwakilan untuk menentukan langkah selanjutnya."
Beberapa perwakilan warga maju ke tempat pak Rt dan Milly. Ada lima orang warga yang mewakili. Sedangkan Milly hanya bisa menangis mendengarkan diskusi warga.
Setelah menempuh diskusi yang tidak begitu alot, karna semua perwakilan menginginkan Milly pergi. Akhirnya pak RT menyampaikan hasilnya.
"Baiklah, kami telah berdiskusi dan Milly juga ikut mendengarnya. Demi kebaikan semuanya, atas kesepakatan bersama, maka di putuskan saudari Milly harus pergi dari sini sekarang juga."
Warga yang mendengar itu, langsung bertepuk tangan, sedangkan Vallen pergi dari sana, dengan senyum yang mengembang.
"Saya mohon, Pak. Jangan usir saya sekarang. Sekarang ibu saya sedang sakit. Sedangkan saya tidak punya saudara, biarkan saya di sini, sampai ibu saya sembuh. Setelah itu saya akan pergi," mohon Milly dengan air mata yang terus mengalir.
"Usir ... usir ... usir," teriak warga. Bahkan ada beberapa warga yang mulai menarik Milly.
"Stop, hentikan ini semua, atau saya akan laporkan ini pada pihak berwajib."
Seseorang datang menghampiri Milly.
"Hhuuuuu ... " warga menyoraki pria itu.
"Tenang ... tenang, saya harap semuanya tenang dulu," ucap pak RT menenangkan warga.
"Baiklah, Anda siapa? Apa urusan Anda ke sini? tanya pak RT pada pria itu.
Pria itu membuka kaca mata hitamnya. Dengan gagahnya ia berjalan ke arah Milly. Lalu menuntun Milly untuk berdiri. Ia merangkul tubuh Milly.
"Saya suaminya Milly. Saya yang akan membawa istri saya pergi dari sini. Jadi kalian semua tidak perlu repot-repot mengusirnya. Lagi pula lingkungan ini tidak baik untuk kesehatan istri dan calon anak saya."
__ADS_1
Warga terdiam mendengar itu. Ada yang percaya ada juga yang tidak. Tapi mereka belum mau pergi dari sana, karna masih penasaran.
"Ayo, Milly. Kita pergi dari sini," ucap pria itu lagi.