MILLY

MILLY
bab 15. aku akan mencium mu


__ADS_3

Tidak berapa lama Milly kembali keluar.


"Ternyata ibu masih tidur."


"Tidak apa-apa. Nanti aku bisa ke sini lagi, boleh kan," kata Dean.


"Boleh saja," jawab Milly.


"Ya sudah, aku pulang dulu ya, Mil. Tadi janji mau nganterin mama arisan."


"Iya. Ngomong-ngomong gimana kabar tante Santy?" Tanya Milly.


"Mama alhamdulillah baik. Hanya saja sekarang sering kesepian semenjak papa meninggal."


"Turut berduka cita ya, Dean, aku gak tau kalau papa kamu sudah meninggal."


"Makasi, Mil, gak apa-apa."


"Titip salam juga sama tante Santy."


"Oke. ntar aku sampein sama mama. Trus aku nanti bilangnya dari siapa, Mil?" Tanya Dean.


"Ishhh ... ya dari aku lah. Kan tadi aku yang bilang," kata Milly sambil memonyongkan bibirnya. Dia sebenarnya tau kemana arah pembicaraan Dean. Hanya saja dia pura-pura tidak tau.


"Iya. kirain ...."


"Kirain apa? Jangan aneh-aneh ya," kata Milly lagi. Sambil melotot ke arah Dean.


"Sekarang udah mulai galak ya, Mil. Hehehe," Dean tertawa melihat Milly yang melotot.


"Kapan-kapan main ke rumah aku ya. Nanti bisa ketemu mama. kamu mau kan. Aku yakin mama akan sangat senang."


Milly pun menganggukkan kepalanya.


"Baik lah, aku pulang dulu. Jangan lupa ponselnya di aktivin. Kalau ada apa-apa telpon aku aja,"


"Mmmmm"


"Asaalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Dean lalu meninggalkan rumah Milly. Ia harus cepat sampai di rumah.


***Di Villa


Pak Adrian baru bangun dari tidurnya. Badan nya terasa malas untuk beranjak dari kasur.


Dia melirik ke samping tempat tidur. Tak di temuinya Milly di sana. Mungkin saja Milly di dapur atau di ruang tengah, fikir pak Adrian.


Pak Adrian mengambil ponselnya yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ternyata di sampingnya terdapat secarik kertas.

__ADS_1


"MAAF, SAYA TIDAK MEMBANGUNKAN BAPAK, TIDUR BAPAK SANGAT PULAS. SAYA JADI GAK TEGA. SAYA SUDAH PULANG BERSAMA PAK DADANG.SARAPAN SUDAH SAYA SIAPKAN DI MEJA MAKAN. SEMOGA SESUAI DENGAN SELERA BAPAK"


"Bapak lagi ... bapak lagi....


Coba saja kamu masih di sini saya pasti akan mencium mu" pak Adrian bicara sendirian.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Perut pak Adrian sudah terasa lapar. Dia pun memutuskan untuk membersihkan dirinya ke kamar mandi. Setelah itu baru dia akan makan.


Pak Adrian menyibak selimut nya.


Tak sengaja matanya tertuju pada bercak merah yang terdapat di alas kasur berwarna putih.


Seketika senyum mengembang di bibirnya. Bayangan kejadian tadi malam kembali muncul di benak pak Adrian.


"Sepertinya saya akan kembali merindukan mu, saya sudah menyukai mu saat pertama bertemu."


Pak Adrian kembali membaringkan tubuhnya. Dia menciumi bekas tidur Milly, karena menemukan aroma tubuh Milly yang tertinggal di sana.


Dring ... dringg ... dring....


Pak Adrian mengambil ponselnya yang berbunyi. Di sana tertera nama kontak My Honey, yang tak lain adalah bu Vania.


"Hallo sayang"


"Hallo Mas, kamu di mana"


"Aku masih di Villa sayang, ada apa?"


"Mas baru bangun sayang. Bentar lagi juga pulang."


"Tumben Mas bangun siang, enak banget tidur nya ya, Mas."


"Bukan gitu sayang, kamu cemburu ya."


"Istri mana sih mas, yang gak cemburu suaminya sama wanita lain, apalagi wanita nya cantik dan masih muda. Aku takut loh Mas, nanti kamu benaran suka sama Milly."


"Jangan mikir macam-macam. Ini kan kemauan kamu, kamu kan yang ingin Mas seperti ini."


"Tetap aja Mas, sekarang aku jadi takut kamu akan berpaling dari aku," kata bu Vania. Terdengar dari suaranya kalau dia sedang menangis.


"Jangan menangis, sebentar lagi Mas pulang. Mungkin kamu lagi kangen sama Mas."


"Baiklah. Aku tunggu.


"Iya, love you"


"Love you too"


Tut... Tut...telpon pun di matikan.


Pak Adrian segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya.

__ADS_1


Pak Adrian sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Dia menuju meja makan. Benar saja di sana sudah ada dua piring nasi goreng lengkap dengan telur dan lalapannya.


"Kenapa ada dua, apa dia tidak jadi sarapan?" Tanya pak Adrian dalam hatinya.


Pak Adrian ingin menelpon Milly tapi sayang dia tidak punya nomor Milly. Mau bertanya sama sang istri. Takut nanti istrinya akan curiga.


Akhirnya pak Adrian tetap memakan nasi goreng itu meskipun sudah dingin. Kebetulan perutnya memang sudah lapar. Lagi pula pak Adrian ingin merasakan masakan Milly.


Setelah berpamitan dengan orang yang mengurusi Villanya, pak Adrian langsung meningglkan Villa itu.


****


Bu Vania duduk di kursi depan meja riasnya. Dia menatap wajahnya di cermin. Wajah nya masih sangat cantik di usianya yang sudah menginjak tiga puluh tahun. Wajahnya sangat bersih dan terawat.


Dia memperbaiki riasan di wajahnya. Dia harus tampil sempurna karna sebentar lagi suaminya akan pulang. Dia tidak mau nanti suaminya jatuh cinta sama Milly.


Tit...tit...tit


Terdengar suara klakson mobil di depan gerbang. Satpam pun membukakan pintu pagar. Ternyata mobil pak Adrian yang datang. Bu Vania bergegas ke luar rumah. Menemui sang suami.


"Hai, Mas," kata Bu Vania langsung memeluk erat suaminya.


"Hai sayang, kayak nya ada yang kangen berat nih, padahal cuma di tinggal semalaman," kata pak Adrian, lalu membalas pelukan sang istri.


"Gimana Mas, kamu udah lakuin tugas kamu kan."


"Udah, maaf, ya Sayang. Mas jadi merasa telah berkhianat sama kamu."


"Gak apa-apa mas. Semoga aja setelah ini, Milly langsung hamil. Jadi kamu gak perlu ketemu dia lagi."


"Iya sayang," jawab pak Adrian. Tapi hatinya seolah berkata lain.


"Mas, sudah makan belum, aku udah masak tadi untuk mas."


"Udah sayang, mas tadi udah makan di Villa,"


"Milly yang masak, Mas."


"Seperti nya iya sayang. Soal nya udah ada di meja makan tadi. Karna mas udah lapar, jadi mas makan aja. Milly nya kayak nya udah pulang sama pak Dadang. Pas mas bangun. Dia udah gak ada," kata Pak Adrian sedikit berbohong.


Bu Vania sedikit cemburut, karna itu. Dia sudah masak makanan kesukaan suaminya. Tapi ternyata pak Adrian sudah makan makanan yang di masak Milly.


"Gak usah cemberut, gimana kalau sekarang kita keluar aja. Mungkin kamu mau belanja sesuatu. Biar Mas yang beliin," kata pak Adrian lagi.


"Benaran Mas. Kamu gak capek Mas. Kan kamu baru nyampe rumah."


"Benar! Mas gak capek kok sayang. Buat kamu gak ada kata capek. Apa pun akan mas lakukan buat istri mas tersayang. Ayok, kita berangkat sekarang aja," ajak pak Adrian.


Seketika bu Vania tersenyum. Ia merasa senang mendengar kata-kata suami nya.


Mereka pun langsung keluar. Berjalan bergandengan tangan menuju mobil. Lalu melesat meninggalkan rumah.

__ADS_1


__ADS_2