
"Mama mau ngomong apa?"
"Apa rencana kamu setelah ini?"
"Setelah masa iddah Milly selesai. Dean akan menikahinya, Ma," jawab Dean mantap.
"Berapa lama lagi masa iddahnya?"
"Sebulan lagi, Ma."
Mama Dean mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tampak sedang berpikir.
Dean diam saja, dia menunggu apa yang akan dikatakan mama selanjutnya.
"Sebulan itu, waktu yang tidak lama, Nak. Itu artinya kalian sudah harus memulai mempersiapkannya dari sekarang, ada banyak yang akan dipersiapkan nantinya," saran mamanya Dean.
Dean setuju dengan saran sang mama. Ia harus berbicara serius dengan Milly besok. Dia juga mempertimbangkan apa yang dicemaskan sang mama.
"Mulailah menyiapkannya dari sekarang. Tapi kalian harus hati-hati, mama takut Vallen dan mamanya akan mengacau semuanya. Mereka pasti tidak akan membiarkan kalian bahagia. Mama tau mereka sangat licik dan nekat."
Setelah membahas beberapa hal dengan Dean. Mama Dean pamit ke kamarnya. Hari sudah malam, dan matanya juga sudah mengantuk.
***
Pagi harinya, Milly sudah bangun. Selesai mandi dan merapikan kamarnya, Milly turun ke bawah. Ia menuju ke dapur saat melihat ada bik Nah di sana.
"Pagi, Bik," sapa Milly.
"Pagi juga, Mbak Milly. Wah pagi-pagi udah cantik aja," kata bik Nah.
Milly memang sudah kenal sama bik Nah, saat kemaren Dean membawanya ke sini.
"Ah Bik Nah bisa aja. Ini dipotong-potong juga, kan, Bik?" tanya Milly sambil mengambil pisau dan kentang yang sudah dibersihkan bik Nah dari kulitnya.
"Ehh, gak usah. Biar bibik aja. Mbak Milly duduk aja. Atau mau bibik bikin kan teh?" tanya bik Nah. Ia mengambil pisau dan kentang tadi dari tangan Milly.
"Gak usah, Bik. Biar nanti Milly bikin sendiri. Biar aja Milly yang potong kentangnya," kata Milly lagi. Ia mencoba meminta pisau dan kentang itu lagi dari bik Nah. Tapi bik Nah tetap gak mau memberikan.
"Sekalian bikin teh buat aku, ya, Mil."
Milly dan bik Nah serentak melihat pada sumber suara. Terlihat Dean berdiri di sana. Penampilannya masih berantakan, khas orang bangun tidur.
"Biar, bibik aja yang bikin. Mas Dean dan Mbak Milly tunggu aja di sana," kata bik Nah lagi.
"Gak usah, Bik. Biar Milly aja, katanya mau sekalian belajar."
"Belajar?" tanya bik Nah heran.
"Iya, Bik, belajar. Belajar jadi istri yang baik," kata Dean.
Milly melotot kan matanya pada Dean. Sedangkan bik Nah tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ia merasa senang, melihat dua orang itu. Dean yang selalu menjahili Milly. Sedangkan Milly selalu marah tapi juga tersipu malu saat digoda Dean.
"Ya sudah, aku mau sholat dulu. Nanti selesai sholat, tehnya harus sudah siap ya, Mil," kata Dean lagi.
Pantas saja, Dean masih kusut, ternyata ia juga belum sholat.
"Wah, ada apa nih, pagi-pagi di dapur udah rame?"
Tiba-tiba mama Dean datang dari kamarnya. Ia juga sudah sholat dan mandi.
__ADS_1
Memang seperti itulah kebiasaannya. Dulu sebelum Dean minggat, setiap pagi, ia akan memasak untuk sarapan. Tapi selama tidak ada Dean, ia tidak pernah melakukan itu lagi. Meski pagi-pagi udah rapi. Ia lebih memilih menyibukkan diri di kamar. Biasanya baca Alquran dan juga membaca buku. Nik Nah akan mengantarkan teh dan sarapan ke kamar. Barulah siang hari mama Dean akan keluar untuk sekedar duduk di ruangan keluarga.
"Milly, kok udah di dapur aja? Loh, Dean, kamu juga ngapain di dapur pagi-pagi? Mana masih kusut gitu," kata mama Dean heran.
"Mau minta tolong bikinin teh, Ma."
"Hallah, alasan aja kamu. Ngintilin Milly ya?"
"Bukan Ma. Tadi aku mau berwudhu, Ma. Mau sholat. Sekalian aja minta tolong bikin teh."
"Kan bisa di paviliun."
"Airnya mati, Ma," kata Dean jujur.
Tadi Dean emang bermaksud seperti itu, tapi saat melihat Milly di dapur, jadinya dia mampir dulu dan menjahili Milly
"Ya sudah, nanti diperbaiki. Sekarang kamu sholat dulu sana," usir mamanya.
Dean langsung pergi. Sedangkan Milly membuat teh untuk Dean dan juga mamanya Dean. Dia mengantarkan pada mama Dean yang duduk di ruangan keluarga.
Milly sempat berbincang sebentar dengan mama Dean, setelah itu, ia kembali lagi ke dapur untuk membantu bik Nah. Meski sudah ditolak Milly tetap memaksa. Akhirnya bik Nah membiarkannya.
****
"Wah, harum banget. Jadi laper," ucap mama Dean. Ia menghampiri Milly dan bik Nah yang sedang menata sarapan di meja.
Di meja sudah ada sop ayam dan juga beberapa masakan lainnya.
"Mbak Milly yang masak," kata bik Nah.
"Gak kok Tante, Milly cuma bantu-bantu sedikit," kata Milly.
"Loh, Nih Dean mana sih? Kok belum juga ke sini?" tanya mama Dean. Ia.melihat ke arah paviliun tapi sosoknya belum juga kelihatan.
"Biar, bibik panggil dulu," usul bik Nah.
Baru aja bik Nah berdiri, yang di tunggu datang menampakkan dirinya.
Mama Dean menyipitkan matanya saat melihat tampilan Dean. Ia tidak berpakaian kantor. Tapi pakai pakaian casual. Dengan potongan rambut yang sangat klimis. Ia terlihat sangat tampan dan menawan. Mama Dean tersenyum, dari tampilan sang anak, ia sudah bisa menebak, jika Dean hari ini tidak akan ke kantor.
"Pantesan aja, ternyata berdandan," kata mama Dean menggoda sang anak.
"Mana ada, Ma? Dean tadi ngirim laporan kerja dulu pada Jeff. Hari ini Dean mau ngajak Milly keluar. Mama ikut, ya," ajak Dean.
"Bagus itu, gak usah, kalian aja. Mama nanti mau ada urusan," kata mama Dean menolak.
Sedangkan Milly diam saja, lagi pula, Dean belum memberi tau dirinya, kalau mereka akan jalan ke luar.
"Ya sudah, sekarang sarapan dulu. Baru pergi," kata mama Dean lagi.
Dean mengiyakan, sebenarnya tadi, ia mau sekalian ngajak Milly sarapan di luar. Tapi saat melihat sarapan sudah tersedia, Dean mengurungkan niatnya. Dia tidak tega, karna bik Nah sudah masak banyak.
Selesai makan, Milly akan membantu bik Nah mencuci piring. Tapi bik Nah dan mama Dean melarang. Mama Dean memintanya untuk bersiap-siap, karna akan pergi dengan Dean.
***
"Milly pamit, ya, Tante."
"Iya, hati-hati."
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Setelah berpamitan, Milly dan Dean langsung berangkat. Dean belum juga mau mengatakan kemana mereka akan pergi? Meski.Milly terus mendesaknya, Dean hanya menjawab dengan tersenyum.
Sudah cukup lama mereka di jalan. Tiba-tiba Dean menepikan mobilnya. Milly melihat ke sekeliling. Tapi ia tak menemukan tempat yang kemungkinan akan mereka tuju. Di pinggir jalan hanya ada pepohonan kiri dan kanan.
Dean bangkit dan mendekat ke arah Milly. Ia sedikit mencondongkan badannya. Melihat itu, Milly sedikit bergeser ke belakang. Karna sudah mentok, Milly menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Apaan sih, Mil? Aku cuma mau pasangin ini, Loh," kata Dean. Di tangannya memegang penutup mata. Ternyata ia ingin menutup mata Milly.
"Buat apa? Kenapa harus tutup mata segala?" tanya Milly. Ia berusaha untuk tenang. Padahal di hatinya masih deg-degan dan juga merutuki pikirannya sendiri. Ia merasa malu, pasti Dean akan berpikir lain-lain padanya.
"Nurut aja, aku mau nunjukin sesuatu pada kamu," kata Dean. Ia mulai memasang penutup mata itu pada Milly.
"Kenapa harus ditutup? Aku takut loh, Dean," protes Milly.
"Kamu gak percaya sama aku?"
"Percaya, tapi--."
"Ya sudah, jangan takut. Cuma sebentar. Sebentar lagi kita sampai," kata Dean meyakinkan Milly.
Dean kembali melajukan mobilnya. Kali ini satu tangannya menggenggam tangan Milly. Ia hanya melepaskannya sesekali.
Milly tidak bisa protes, karna Dean menggenggamnya dengan erat.
"Oke, sudah sampai. Kamu tunggu sebentar, jangan dibuka dulu," kata Dean.
Setelah itu, Dean turun. Ia memutari mobil untuk membantu Milly turun.
"Dibuka aja, ya," pinta Milly.
Dean melarangnya dan mengatakan mereka sudah mau sampai. Dean terus menggenggam tangan Milly, ia membantu Milly untuk berjalan. Beberapa kali Dean memberi arahan, agar kaki Milly tidak salah berpijak.
Setelah berjalan sebentar, Milly merasakan perubahan udara disekitarnya. Ia merasakan angin yang berhembus menyapu wajahnya.
"Dean kita mau kemana?" tanya Milly.
"Kita sudah sampai," kata Dean.
"Ehh, jangan dibuka dulu," kata Dean lagi. Ia menahan tangan Milly yang akan membuka penutup matanya.
"Nanti kamu hitung dalam hati sampai tiga, setelah itu kamu boleh buka penutupnya," kata Dean.
Dean tidak lagi menggenggam tangan Milly. Ia sudah mengatur posisi berdiri Milly.
"Satu, dua, tiga."
Milly mengerjabkan matanya, setelah ia membuka penutup mata. Setelah itu ia melihat ke depan.
Milly terpaku sekaligus takjub saat melihat pemandangan di depannya. Dan yang tubuhnya jadi kaku adalah saat melihat Dean sudah berjongkok di depannya. Ia membawa satu buket bunga dan sebuah kotak berwarna merah yang sudah terbuka. Di dalamnya, sebuah kalung dengan sebuah liontin kecil yang berkilau, tampak bertahta dengan indahnya.
Milly tidak bisa berkata-kata. Bahkan matanya sudah berair, padahal Dean belum mengatakan apa pun padanya.
"Milly, aku mencintai mu. Menikahlah dengan ku."
Tess.
__ADS_1
Air yang tadi menggenang di mata indah Milly, langsung jatuh saat Dean mengatakan itu.