
Aku terus mencoba menghubungi ponsel mas Adrian. Tapi tidak sekalipun diangkatnya. Sedangkan perutku terasa sangat sakit.
Pertamanya aku berfikir, ini karna aku belum makan. Tapi makin lama, rasanya makin sakit saja. Sepertinya berbeda dari sakit perut biasa. Bahkan aku juga makin sering ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Aku mencoba untuk tidur, agar sakitnya hilang. Tapi bukannya hilang, sakitnya makin sering terjadi.
Aku kembali mencoba menelpon mas Adrian, tapi tetap tak ada jawabannya.
Aku yakin saat ini, ia sedang bersama bu Vania. Itu membuat ku makin kecewa.
Aku menangis, aku teringat ibuku yang baru saja meninggal. Andai saja ibu masih ada, pasti aku tidak akan sesedih ini. Saat ini benar-benar merasa sendiri.
Padahal tadi sebelum pergi, mas Adrian berjanji akan memesankan makanan dan akan kembali lagi ke sini untuk menemani ku. Tapi apa? Bahkan hari sudah magrib, belum ada tanda-tanda dia akan datang.
Aku kacau, rasa rindu pada sang ibu, rasa kecewa pada mas Andrian, dan rasa sakit di perut ku membuatku seperti kehilangan akal.
Padahal kalau mau, aku bisa memesan makanan sendiri lewat aplikasi belanja online. Tapi karna terlanjur kecewa aku urung melakukannya.
Aku teringat akan kehamilanku yang sudah memasuki bulan ke delapan. Aku berfikir mungkin perutku sakit karna kehamilanku ini. Aku pun mencari tahu di google, ternyata menurut google itu biasa terjadi pada wanita hamil apalagi saat mendekati waktu persalinan.
Sekali lagi aku coba menelpon mas Adrian, ternyata hasilnya masih sama. Aku langsung mengemasi baju-baju kedalam tas. Aku memutuskan untuk pergi dari sini dan juga dari kehidupan pernikahan yang menurutku tidak normal ini.
Rasa kecewa, membuatku egois. Aku tidak ingin memberikan anak ini pada mereka. Terserah nantinya akan bagaimana, yang penting aku pergi dari sini.
Aku lelah mengalah, apalagi pengorbananku rasanya sia-sia. Aku berkorban untuk ibu, agar bisa selalu bersamanya. Tapi kenyataannya aku tetap tidak bisa hidup bersama ibu.
Sebelum pergi aku meletakkan semua pemberian mas Adrian di atas meja. Kartu ATM, sertifikat rumah dan juga sebuah surat yang aku tulis sendiri di atas selembar kertas.
"Aku akan membawa anak ini kemana pun aku pergi. Tolong jangan pernah mencari ku."
Setelah menulis itu. Aku langsung pergi, aku memesan taxi online. Tujuan pertamaku adalah pemakaman ibu.
Dijalan aku melihat orang berjualan obat dipinggir jalan. Entah dorongan dari mana, aku minta pada sopir taxi untuk berhenti sebentar.
__ADS_1
"Mau beli apa Mbak?" tanya bapak penjual obat itu. Aku melihat-lihat sebentar. Aku tertarik pada obat yang berbentuk obat pil itu.
"Ini obat untuk membunuh tikus Mbak. Sangat ampuh. Termakan sedikit aja langsung KO," kata bapak itu antusias.
Tanpa pikir panjang aku langsung membelinya. Kemudian langsung kembali ke taxi dan melanjutkan perjalan ke pemakaman ibu.
"Mbak, beneran alamatnya disini," kata supir taxi itu.
"Beneran, Pak."
"Mau ngapain malam-malam kesini?" tanya bapak itu lagi. Ia terus memperhatikan Milly dari kaca depan mobil.
Memang hari sudah malam, dan hujan juga sudah mulai turun. Aku tidak tau entah apa yang dipikirkan bapak itu tentang aku.
"Sudah sampai Mbak," kata bapak itu lagi.
Ia segera turun dan berjalan kebelakang mobil untuk menurunkan tas berisi kain yang lumayan besar dari bagasi.
Brummm.
Aku kaget, ternyata aku salah. Bapak itu langsung pergi dan mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Dalam sekejap saja taxi itu hilang dari pandanganku.
Aku tidak mempedulikan taxi itu lagi. Aku juga sudah mengikhlaskan uangku yang berlebih.
Sesampainya di makam ibu, aku langsung menumpahkan tangis yang sudah ku tahan dari tadi. Aku mengadukan kondisiku pada ibu. Dibawah penerangan lampu yang ala kadarnya, dan juga hujan yang sudah deras. Aku memeluk makam ibu.
Aku sudah menggigil karna kedinginan, tapi tidak sedikitpun berniat pergi dari sana.
Tiba-tiba perutku kembali terasa sakit, bahkan lebih sakit dari tadi. Aku sudah tidak tahan dengan sakitnya. Aku menyerah. Tanpa berfikir lagi, aku langsung memakan obat tadi. Baru sedikit ku gigit, tubuhku terasa menggigil hebat. Aku Pun kembali tersungkur ketanah makam ibu.
Tidak lama, tubuhku seperti melayang, aku pikir aku sudah menyusul ibu. Tapi anehnya aku seperti mendengar suara seseorang yang sangat aku rindukan.
Entahlah, aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi, aku tidak bisa melihatnya karena mataku rasa berat dan tidak mau terbuka.
__ADS_1
Aku pasrah, semuanya menjadi benar-benar gelap dan aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi.
Dalam kondisi setengah sadar, aku kembali bisa mendengar suara-suara orang yang sedang berbicara. Terdengar sangat gaduh. Tapi aku masih belum bisa membuka mata, sehingga aku tidak bisa melihat apa yang terjadi dan aku berada di mana.
"Mil, kenapa seperti ini? Maaf, lagi-lagi aku tak bisa menjaga mu. Aku berfikir kamu sudah bahagia dengan pernikahan mu. Makanya aku mencoba untuk mengikhlaskan mu. Tapi apa? Aku tidak tau apa yang terjadi sebenarnya dengan pernikahanmu. Tapi aku menyesal mengikhlaskan kamu pada lelaki tidak bertanggung jawab itu."
Aku seperti mendengar suara laki-laki itu lagi, tapi mataku masih saja tidak bisa dibuka.
"Mil, Apa kamu tidak bahagia? Katakan apa yang harus aku lakukan untuk mu? Mmmm ... entahlah Mil, padahal besok aku akan pergi jauh dari negri ini. Aku melakukan agar aku tidak terus mengharapkan mu. Tapi apa aku sanggup meninggalkan mu sendirian di sini? Setelah kejadian ini, aku tau kamu tidak bahagia. Tapi aku juga sadar kalau kamu adalah milik orang."
Dia berkata lagi, apa aku bermimpi? entahlah. Tapi aku sangat sedih mendengar perkataannya.
"Mil, bertahanlah. Aku yakin kamu dan bayimu kuat. Aku berdoa semoga operasinya berjalan lancar. Memiliki mu atau tidak. Aku tetap mencintaimu sampai kapanpun."
Ya Allah kenapa mataku tidak bisa dibuka. Aku ingin memastikan kalau aku tidak bermimpi.
***
Perut ku terasa perih saat aku bangun. Tapi tidak lagi sakit seperti yang sebelumnya ku rasakan.
Ternyata aku berada di rumah sakit. Dan ternyata bayiku sudah lahir dengan selamat dan parahnya di sana ada orang yang sangat tidak ku harapkan kehadirannya. Beruntung ada Wati yang menemaniku. Aku tidak tau kenapa bisa ada di sini bersama mereka.
Aku pasrah, aku membiarkan mereka mengambil bayiku dan malangnya nasibku. Aku juga diceraikan oleh mas Adrian.
Sekarang mereka sudah pergi, aku sempat tak berhenti menangis. Sampai-sampai Wati kewalahan menenangkan ku. Setelah itu aku tertidur. Mungkin karna lelah atau juga pengaruh obat.
Saat bangun aku sudah sedikit tenang, aku teringat akan suara Dean yang aku dengar waktu itu. Tapi kalau memang waktu itu ada dia, kenapa saat aku bangun dia tidak ada.
Bahkan Wati tidak mengatakan apapun tentang Dean. Jika memang Dean datang, Wati pasti akan bercerita. Aku juga tidak bertanya. Mungkin saja waktu itu aku sedang bermimpi.
Aku pun menghalau pikiran ku tentang Dean. Setelah ini aku akan meninggalkan semua masa laluku. Aku akan pergi dan memulai hidup baru tanpa bayangan masa lalu.
"Mas Dean."
__ADS_1