
Setibanya di Villa, bu Vania langsung menuju dapur. Sudah lama ia tidak memasak di sana. Di bukanya jendela dapur. Terlihatlah di seberang sana pemandangan hijau yang sangat memanjakan mata.
Di perjalan tadi bu Vania sudah membeli berbagaj jenis makanan yang akan di masaknya di Villa.
Sedangkan pak Adrian bergegas menuju kamar. Ia memeriksa kamar. Jangan sampai ada hal yang membuat bu Vania curiga. Bersyukur tadi ia cepat mengirim pesan pada pak Toto untuk segera membersihkan dan menyingkarkan pakaian Milly yang tertinggal di lemari.
Setelah memastikan semuanya aman pak Adrian menyusul bu Vania ke dapur.
"Masak apa Sayang. Mas bantu ya, atau kali ini biar Mas aja yang masak. Mas akan membuatkan makanan istimewa buat kamu."
"Gak usah Mas. Mas itu laki-laki, mana mungkin bisa masak. Biar aku aja, Mas duduk manja aja, sampai masakannya selesai," ucap bu Vania, sambil menuntun pak Adrian untuk duduk di kursi meja makan.
Pak Adrian menunggui bu Vania yang sangat menikmati acara memasaknya. Sesekali terdengar senandung kecil keluar dari mulutnya.
Merasa bosan, pak Adrian memutuskan untuk menunggu sambil menonton TV.
"Sayang, Mas nunggunya di sana aja ya, sekalian mau lihat berita di TV."
"Iya, Mas, gak apa-apa. Lagi pula makanannya masih lama matang."
Pak Adrian duduk di sofa sambil menonton TV. Sudah sering ia mengganti chanel TV, tapi tidak satupun yang menarik perhatiannya. Entah kenapa rasanya sangat bosan berada di Villa.
Kemudian, pak Adrian membaringkan badan di sofa. Ia mencoba memejamkan mata. Seketika wajah cantik Milly terlintas di ingatannya. Senyum mengembang di bibir pak Adrian, kemudian ia mngambil ponsel untuk mengirimi Milly pesan.
"Hai Milly Sayang. Lagi ngapain, Mas kangen," pak Adrian iseng memanggil Milly dengan kata sayang dan bilang kangen. Kemudian ia juga mengirim gambar love yang banyak. Pak Adrian membayangkan ekspresi Milly saat membaca pesan itu.
"Apaan sih, Mas? Kayak bocah." Balasan dari Milly.
"Hahahaha ... hahaha ...."
Pak Adrian tertawa membayangkan wajah Milly yang memerah dan juga cemberut.
"Kenapa Mas? Kok kamu tertawa sendirian," sahut bu Vania dari dapur.
"Hah ... ini sayang, acaranya lucu."
Pak Adrian gelagapan menjawab.
Sedangkan bu Vania merasa heran, karna di TV sedang menayangkan berita kecelakaan. Dan itu sama sekali tidak lucu.
Bu Vania masih berfikir positif, mungkin suaminya sedang menonton di ponsel. Ia pun melanjutkan aktivitas memasak.
Sedangkan pak Adrian melanjutkan keisengannya mengirim pesan pada Milly. Kini ia tidak lagi merasa bosan.
"Mas,"ucap bu Vania dengan keras. Pak Adrian pun kaget, sehingga ponsel yang sedang di pegangnya terlepas.
"Eh ... Sayang, ada apa? Kenapa kamu berteriak?"
"Kamu yang kenapa, Mas? Daritadi aku panggil tapi gak dengar. Malah asyik senyum-senyum sendiri sambil lihat ponsel. Lagi lihat apa sih, Mas. Kayaknya asyik banget."
Bu Vania mulai cemberut, karna merasa di cuekin sama suaminya.
__ADS_1
"Oh ini, aku lagi lihat vidio-vidio lucu, soalnya aku dah lapar banget, tapi, kamunya belum selesai masak. Makanya aku nonton aja, biar rasa laparnya teralihkan."
Bu Vania mengerutkan keningnya. Entah mengapa ia merasa alasan suaminya itu tidak masuk akal.
"Oh ya. Tadi kamu mau ngapain manggil Mas?" Ucap pak Adrian mengalihkan pembicaraan.
"Itu, makanannya udah masak. Mas mau makan sekarang atau nanti?"
"Sekarang aja Sayang, Mas udah lapar banget nih. Ayok."
Pak Adrian langsung merangkul bu Vania menuju meja makan. Pak Adrian dan Bu Vania mengambil makanan masing-masing. Berbeda saat bersama Milly, Milly akan mengambilkan makanan untuk pak Adrian terlebih dahulu. Lagi-lagi pak Adrian mengingat Milly.
Sepanjang makan, pak Adrian terus saja memuji-muji masakan istrinya. Itu dilakukan pak Adrian, karna istrinya kelihatan cemberut karna hal tadi. Sesekali ia juga menyuapi sang istri.
Tak mau membuat bu Vania makin curiga, pak Adrian tidak lagi mengirimi Milly pesan. Bahkan ia tak menyentuh ponselnya lagi. Ia hanya menghabiskan waktu untuk bersama bu Vania.
Ia memberikan perhatiannya dengan memijit sang istri, memberikan pujian, bahkan menemani sang istri menonton drakor kesukaannya. Meski begitu, tetap saja ia memikirkan Milly. Itu bahkan berlangsung sampai mereka akan tidur.
Bu Vania sangat senang dengan itu, untuk sesaat ia melupakan rasa curiganya.
***
Tengah malam, bu Vania terbangun karna ingin buang air kecil. Saat ia duduk, ternyata sang suami tidak ada di sana. Samar-samar terdengar suara TV dari ruangan tengah. Bu Vania berfikir jika suaminya sedang menonton TV. Itu sudah biasa dilakukan pak Adrian di rumah. Jadi bu Vania tidak merasa heran.
Setelah selesai menuntaskan hajatnya. Bu Vania kembali ke tempat tidur, ia harus kembali melanjutkan tidur, agar besok tidak bangun terlambat. Karna besok akan ada meeting, tidak lucu jika nanti dia terlambat atau mengantuk saat meeting.
Saat bu Vania mencoba memejamkan matanya. Samar-samar dari ruangan tengah kembali terdengar suara. Itu bukan suara TV, tapi suara suaminya yang seperti berbicara dengan seseorang. Bu Vania masih bisa membedakan suara suaminya dengan suara TV.
"Kamu tidak usah khawatir, saya bisa mengatasinya."
Bu Vania makin menajamkan pendengarannya. Sekarang ia sudah dekat dengan ruangan tengah. Lampu ruangan tengah yang mati, hanya di terangi oleh cahaya dari TV membuat pak Adrian tidak melihat kedatangan istrinya.
"Jangan bicara seperti itu terus. Saya tidak suka, saya ...."
"Mas, kamu lagi telponan sama siapa?"
"Astaghfirullah."
Kedatangan bu Vania yang tiba-tiba membuat pak Adrian kaget. Dengan cepat ia mematikan telpon.
"Eh Sayang, kok kamu bangun?" Tanya pak Adrian. Ia mencoba setenang mungkin, agar sang istri tidak curiga. Tapi sayang sang istri sudah mencurigainya.
"Kamu lagi telponan sama siapa, Mas."
"Telponan?"
"Iya, jangan mengelak, Mas. Tadi aku dengar kamu telponan dengan seseorang. Siapa dia, Mas?"
"Oh, itu. Pak Edi," jawab pak Adrian asal. Ia tidak menyangka sang istri akan memergokinya.
"Pak Edi?"
__ADS_1
"Iya pak Edi. Dia ngabarin jika ada kendala dalam penanganan proyek baru. Jadi dia ngasih tau mas untuk menyelesaikannya secepatnya besok pagi."
Lagi-lagi pak Adrian harus memutar otak untuk berbohong.
"Ayo sayang. Kita lanjutin tidurnya. Besok pagi-pagi betul kita harus pulang ke rumah. Kamu besok juga ada Meeting kan?"
Pak Adrian langsung merangkul sang istri ke kamar. Setiba di kamar pak Adrian pun langsung pura-pura tidur, agar istrinya tak lagi bertanya.
Sebenarnya bu Vania tidak percaya dengan jawaban suaminya, dari siang tadi ia sudah mulai curiga. Tapi ia memilih untuk menyelidikinya diam-diam. Dia tidak mau bertanya langsung, karna yakin suaminya akan berbohong.
Saat mendengar suaminya mulai mendengkur, bu Vania memulai aksinya dengan mencek ponsel sang suami. Tapi sayang, ternyata ponselnya di kunci. Padahal biasanya tidak pernah begitu.
Bu Vania berusaha memasukkan kode, berupa angka-angka penting yang ada hubungan dengan mereka. Tapi sayang, satu pun tidak ada yang bisa. Mulai dari tanggal lahir pak Adrian, dirinya sendiri, tanggal pernikahan semuanya sudah di coba bu Vania.
Kini kecurigaannya makin bertambah.
Ia pun kembali memutuskan untuk tidur. Besok, baru ia akan kembali menyelidiki.
****
"Sayang, bangun, sudah subuh, ayo sholat dulu. Setelah itu langsung pulang," kata pak Adrian membangunkan istrinya.
Bu Vania bergegas bangun, tapi ia tidak langsung mengerjakan sholat, alasannya takut terlambat sampai di rumah jika harus sholat dulu.
***
"Mas, aku boleh pinjam ponsel kamu gak? Soalnya ponsel aku mati. Aku mau nelpon sebentar," ucap bu Vania, saat di atas mobil ketika mereka di perjalanan pulang.
Diluar dugaan bu Vania, pak Adrian langsung memberikan ponselnya.
"Di kunci, Mas. Kenapa?"
Bu Vania pura-pura bertanya.
"Iya, soalnya Ponsel Mas suka ketinggalan di kantor. Jaga-jaga aja, kan di dalamnya banyak tersimpan file-file penting."
Meski tidak percaya, bu Vania tetap mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Terus kodenya berapa?"
Bu Vania yakin saat ini pasti suaminya akan kesusahan untuk mencari alasan lagi.
"Tanggal lahir kamu, Sayang."
Bu Vania mencoba memasukkan tanggal lahirnya. Dan ternyata benar. Ponsel bisa di buka.
Kening Bu Vania berkerut, padahal kemarin malam sudah berapa kali ia memasukkan angka itu, tapi hasilnya tidak bisa.
"Bisa gak Sayang?"
"Hah ... bisa Mas. Nih udah terbuka," ucap bu Vania sambil memaksakan senyumnya. Kemudian ia langsung menelpon seseorang.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, bu Vania pura-pura tidur. Ia sedang memikirkan apa yang terjadi. Jelas-jelas semalan ia tidak bisa membuka kode dengan tanggal lahirnya. Tapi pagi ini langsung bisa. Apa suaminya sudah menggantinya lagi. Tapi kenapa? Berbagai macam pertanyaan hadir di kepala bu Vania.