MILLY

MILLY
bab 71. aku mohon bertahanlah.


__ADS_3

"Mas, sini!" teriak bu Vania. Ia sedang memeriksa di kamar Milly. Di atas nakas ia menemukan selembar kertas yang ternyata surat yang ditulis oleh Milly.


"Kenapa Sayang."


Bu Vania memberikan surat itu pada pak Adrian. Pak Adrian pun membacanya. setelah itu pak Adrian langsung memeriksa lemari pakaian.


"Gimana, Mas?"


"Kosong," ucap pak Adrian. Ia panik, ternyata Milly sudah pergi dari rumah ini.


"Mas, Apa mungkin Milly pindah ke kontrakan lain ya Mas?"


"Semoga saja, Tapi apa mungkin ia punya uang? Soalnya ia juga meninggalkan ATM yang aku beri."


"Mas, kamu juga memberinya ATM. Kamu tidak memberi tau aku, Mas."


"Sayang, please, jangan bahas itu sekarang ya. Mas akan jelaskan nanti. Mas minta maaf," ucap pak Adrian membujuk istrinya. Ia tidak mau ribut sekarang dengan bu Vania. Masalah Milly saja belum selesai. Jangan sampai masalah baru hadir lagi.


"Sepertinya Milly menggunakan uang yang kamu bari setiap bulannya," lanjut pak Adrian lagi.


"Tidak mungkin Mas. Semenjak aku tau kalian berkhianat. Aku tidak lagi memberinya uang. Aku kecewa dengan kalian berdua."


"Astaga, itu artinya ia tidak punya uang. Entah kemana dia pergi."


"Mas, bagaimana ini? Bagaimana kalau Milly benar-benar pergi, ia membawa anak kita Mas. Apa yang akan kita katakan nanti pada mama?" ucap bu Vania cemas.


"Sayang, kamu tenang dulu. Kita akan mencari Milly sampai ketemu. Kita pasti akan menemukannya."


Meski tidak yakin dengan ucapannya sendiri, pak Adrian tetap mencoba menenangkan istrinya. Bu Vania takut Milly benar-benar pergi dan mengingkari janjinya untuk memberikan anak yang dikandungnya pada bu Vania.


Di tengah kekalutannya. Bu Vania teringan akan Dean. Ia akan meminta bantuan Dean untuk mencari Milly, mungkin saja Dean tau tempat-tempat yang mungkin akan dikunjungi Milly. Lagi pula bu Vania berfikir, lebih banyak orang tau dan mencari Milly, maka kemungkinan untuk menemukan Milly juga lebih banyak.


"Sayang, kamu mau menelpon siapa?" tanya pak Adrian saat melihat bu Vania mendekatkan ponselnya ke telinga. Sedangkan dari tadi pak Adrian terus mencoba menelpon Milly. Tapi tetap tidak aktiv.


"Aku mau telpon Dean, Mas."


"Sayang, kamu ngapain nelpon dia malam-malam? Jangan bilang kamu mau minta tolong sama dia untuk mencari Milly. Mas tidak suka, lagi pula dia tidak ada hubungannya dengan kita atau pun Milly. Jadi dia tidak akan tau Milly dimana. Mas yakin akan bisa menemukan Milly tanpa bantuan laki-laki itu," ucap pak Adrian.

__ADS_1


Pak Adrian bahkan mengambil ponsel bu Vania. Lalu mematikan panggilan yang belum tersambung itu.


"Mas, lebih banyak yang mencari Milly itu lebih baik. Dean lebih kenal Milly dari pada kamu. Lagi pula, mulai sekarang berhenti mengatakan dia orang lain. Dean itu adik aku," ucap bu Vania lagi. Ia kesal dengan sikap pak Adrian yang sepertinya sangat tidak suka dengan Dean.


"Adik? Adik bagaimana maksud kamu? Mas tidak mengerti."


"Papa aku dan papa Dean itu orang yang sama. Dia anak laki-laki papa," jelas bu Vania.


"Maksudnya, kenapa Mas tidak tau?"


"Mas, nanti aku akan jelasin. Kalau aku jelasin sekarang, kapan kita akan mencari Milly? Biarkan aku menelpon Dean."


Bu Vania mengambil kembali ponselnya dari pegangan pak Adrian. Ia kembali melakukan panggilan pada nomor Dean. Meski masih kurang suka, akhirnya pak Adrian membiarkan sang istri menelpon Dean. lagi pula apa yang dikatakan istrinya itu ada benarnya juga.


"Kenapa? Apa tidak aktiv?" tanya pak Adrian saat bu Vania berulang kali mencoba menelpon. Bahkan ia sempat berfikir, kalau Dean yang menyembunyikan Milly.


"Aktiv Mas. Tapi tidak diangkat. Sepertinya Dean sudah tidur. Kamu tau sendiri sekarang sudah malam," jelas bu Vania.


"Terus sekarang bagaimana?"


"Belum diangkat juga. Bagaimana kalau kita ke apartementnya saja. Sekalian kita bisa mencari Milly di jalan," usul bu Vania.


"Jangan mulai lagi Mas. Dia itu adik aku. Itu apartement aku yang di titipkan papa pada Dean."


Pak Adrian tak lagi bertanya. Ia terdiam, ternyata selama ini sudah banyak hal yang tidak diketahuinya.


***


"Mungkin Dia tidak ada di dalam," ucap pak Adrian saat mereka berada di pintu apartement Dean. Sudah dari tadi mereka menekan bell, tapi belum ada tanda-tanda akan dibukakan.


"Tunggu saja sebentar lagi, Mas," ucap bu Vania.


Tidak berapa lama, ponsel bu Vania berbunyi. Ternyata panggilan dari Dean. Bu Vania pun bergegas mengangkatnya.


"Dean, Mbak di apartement kamu. Kamu dimana?"


"Apartement? Ngapain?"

__ADS_1


Dean bergegas bangun dari tempat tidur. Ia membuka segera membuka pintu. Ia kaget ternyata bu Vania datang bersama pak Adrian.


Mendapati pintu apartement Dean terbuka. Pak Adrian langsung menyelonong masuk. Ia memeriksa seluruh ruangan apartement. Ia curiga Dean menyembunyikan Milly.


"Mas, kamu apa-apaan ha? Kenapa kamu memeriksa apartement Dean?" tanya bu Vania marah. Ia merasa tidak enak hati pada Dean.


bughtt.


Dean yang memang sudah lama kesal dengan pak Adrian langsung meninjunya. Ia tidak terima pak Adrian seenaknya saja di rumahnya sendiri.


"Dean sudah! kamu juga Mas, kenapa seenaknya saja memeriksa tempat orang? Kita kesini mau minta tolong Dean mencari Milly. Bukan untuk mencurigai Dean," ucap bu Vania marah.


"Apa maksudnya mencari Milly?" tanya Dean pada bu Vania.


Bu Vania menjelaskan pada Dean apa yang terjadi. Terlihat jelas kecemasan dan amarah di wajah Dean. Dean juga sangat kaget mendapati kabar kalau ibunya Milly meninggal. Ia sangat yakin Milly sedang terpuruk. Dean tau betul Milly sangat menyayangi ibunya.


"Suami macam apa, yang tidak tau kemana istrinya pergi. Sudah jelas istrinya sedang terpuruk, tapi membiarkannya sendirian. Kalua tidak bisa menjaganya, lepaskan saja!" sindir pak Adrian. Bahkan ia hampir saja kembali meninju pak Adrian. Beruntung bu Vania menahannya.


Sesaat semuanya diam, semuanya seolah sibuk denga fikiran masing-masing.


"Ketempat mana saja Mbak sudah mencari Milly?" tanya Dean.


Bu Vania pun menceritakan kemana saja ia dan suaminya tadi mencari Milly.


Dean mengambil ponselnya. Ia menelpon Wati. Bersyukur Wati mengangkatnya. Dean pun menanyakan sesuatu pada Wati.


Dean bergegas meraih kunci mobil, setelah mendapatkan jawaban dari Wati. Kemudian ia langsung meninggalkan apartement.


Bu Vania pun menarik tangan pak Adrian untuk mengikuti Dean.


Dean memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, setelah ia menjemput Wati terlebih dahulu. Bahkan bu Vania yang mengikuti dari belakang merasa takut melihat cara Dean berkendara. Bersyukur jalan cukup lengang, karna hari sudah malam. Pak Adrian pun cukup kesulitan mengikuti mobil Dean.


Dean memarkirkan mobilnya asal saja. Ia langsung mengikuti langkah Wati. Meski hari hujan, tapi tidak menyurutkan langkah Dean


Dibawah penerangan lampu yang minim, Dean melihat seorang Wanita duduk sambil memeluk batu nissan di tempat yang ditunjukan Wati. Wanita itu bahkan mengabaikan tubuhnya yang sudah kuyup oleh air hujan. Dean sangat yakin itu adalah Milly.


Dean berlari kesana. Saat Dean akan membalikkan tubuh Milly. Ia merasakan tubuh Milly begitu dingin dan kaku. Tanpa menunggu lama Dean langsung mengangkat tubuh Milly. Ia menggendong Milly ke mobil. Wati bergegas berlari ke mobil untuk membukakan pintu.

__ADS_1


"Milly, aku mohon bertahanlah, kamu akan baik-baik saja. Kamu jangan takut, ada aku di sini," ucap Dean.


Perasaan takut menguasai hati Dean. Sebenarnya ia mengatakan itu untuk menguatkan hatinya sendiri.


__ADS_2