
"Jadi, karna adanya pembuluh darah yang pecah, membuat pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang. Pasokan darah ke otak yang berkurang dapat mengganggu kerja otak, sehingga pasien kehilangan kesadaran. Untuk kasus ibunya Anda, melihat kondisi pasien, ini akan berlangsung lama atau bisa di katakan, pasien mengalami koma,"
Air mata Milly kembali jatuh, saat mengingat kembali perkataan dokter. Kini Milly harus menghadapi ini sendirian, dalam kondisinya yang tengah berbadan dua. Rasanya Milly ingin menyerah saja, jika tidak memikirkan ibu dan juga anak yang ada di dalam kandungannya.
***
Sudah satu minggu, lamanya Milly menunggui ibunya di rumah sakit, selama itu pula ia tidak pernah bertemu Dean, Milly berfikir Dean benar-benar sudah pergi dari kehidupannya.
Pintu ruangan tempat ibu Milly di rawat, di ketuk seseorang, Milly bergegas membukanya.
"Assalamualaikum, Mil."
"Waalaikum salam, Rara."
Milly dan Rara pun saling berpelukan, kedua sahabat ibu saling melepas rindu, karna selama Milly menemani ibunya, Milly juga tidak masuk kerja. Mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel.
"Bagaimana keadaan ibumu, Mil? Maaf ya, aku baru sempat ke sini. Soalnya anak aku, lagi kurang sehat."
"Gak apa-apa, keadaan ibu masih seperti ini, Ra. Belum ada kemajuan," ucap Milly sedih.
"Terus, sekarang gimana kabar anak kamu?"
"Udah baikan, sekarang ada ayahnya di rumah. Makanya aku bisa ke sini," ucap Rara.
Cukup lama dua orang sahabat itu berbincang, mulai dari sakitnya ibu Milly, tempat mereka bekerja dan yang lainnya.
Rasanya Milly ingin menceritakan tentang hubungannya dengan pak Adrian dan juga Dean. Tapi ia takut akan resikonya, jika sampai Rara keceplosan.
Rara baru saja pulang sekitar tiga menit yang lalu. Pintu ruangan kembali terbuka, Milly fikir Rara yang kembali karna ada barang yang ketinggalan. Setelah orangnya masuk, Milly kaget, melihat siapa yang datang.
"Kamu ...."
"Hai Milly, kok kamu kaget gitu, lihat aku yang datang, emangnya kamu inginnya siapa yang datang."
"Mau ngapain kamu ke sini?"
__ADS_1
"Loh, aku ke sini kan mau besuk ibu kamu, kok kayak nya kamu gak suka banget. Aku udah capek-capek ke sini, tadinya aku fikir kamu ada di kamar biasa, udah aku cari-cari kok gak ada. Ternyata kamu ada di ruangan VIP, banyak juga ya, uang kamu," kata Vallen sambil tersenyum mengejek.
"Apa maksud kamu? Kamu tidak perlu tau soal uang aku."
"Kok marah sih, kan itu cuma fikiran ku saja. Atau jangan-jangan kamu di bayarin seseorang ya," ucap Vallen lagi, sambil mengerdipkan matanya.
"Jangan bilang kamu meminta mas Dean membayar semua ini, kamu pasti memanfaatkannya kan, jujur kamu," lanjut Vallen marah.
"Bukan urusan kamu. Kenapa kamu kesini?"
"Kan tadi aku sudah bilang, sebagai teman yang baik, aku mau jengukin ibu kamu yang lagi sakit."
"Tidak perlu basa-basi, saya tidak pernah merasa punya teman seperti kamu. Mau apa kamu ke sini? Saya yakin kamu ke sini karna ada niat lain. Belum cukup kamu mempermalukan saya, sampai saya di usir dari kosan."
"Kenapa kamu marah-marah sama saya? Yang ngusir kamu kan warga. Saya cuma ngasih tau mereka. Jika kamu hamil."
"Pergilah, saya mohon, tidak perlu menunjukkan muka lagi di hadapan saya, saya tidak tau, apa salah saya sama kamu? sampai kamu tega berbuat seperti itu."
"Kamu kok gitu sih, Mil. Aku baik loh, mau jengukin ibu kamu, sekalian mau bawain kamu buah, biar bayi yang ada di perutmu sehat." Vallen bicara sambil menyodorkan bingkisan berisi buah pada Milly.
Bagaimana pun, Milly masih ingat, bagaimana Vallen memprovokasi warga untuk mengusirnya. Dan ternyata benar, jika Vallen yang memberi tau kehamilannya. Tapi yang jadi pertanyaan Milly, dari siapa Vallen tau semua itu.
"Jangan munafik kamu, saya tau, sekarang gak ada lagi yang bisa kamu minta-minta untuk membelikan kamu ini itu. Iya kan? Karna mas Dean sudah tau kebusukan mu."
"Saya tidak pernah minta-minta pada siapa pun," ucap Milly penuh penekanan.
"Haha...Terus apa namanya, jika tidak minta-minta. Setiap pagi kamu minta mas Dean untuk membelikanmu sarapan, kamu juga yang selalu menelpon minta tolong ini itu padanya. Bukankah sudah saya ingatkan. Jangan pernah ganggu mas Dean lagi. Tapi apa? Kamu masih saja tidak mendengar. Jadi inilah akibatnya jika melawan Vallen," ucap Vallen denga sombongnya.
"Saya mohon, pergilah! Sebelum kesabaran saya habis. Semua yang kamu ucapkan itu tidak benar."
"Terus, mas Dean gitu, yang ngejar-ngejar kamu. Milly ... Milly, saya fikir kamu perempuan baik-baik, ternyata ... ah, sudahlah. Kamu fikir aja sendiri. Ngomong-ngomong katanya sudah punya suami, tapi kok, saya tidak pernah melihat suamimu, atau jangan-jangan ...."
Plakkk...
"Aaauuuu." Vallen memegang pipinya yang sakit, karna tamparan Milly. Karna emosi Milly menamparnya sekuat tenaga.
__ADS_1
"Kurang ajar, kamu ya, berani kamu menampar saya. Sini kamu."
Vallen mendekat ke arah Milly, ia tidak terima di tampar oleh Milly. Ia akan balas menampar Milly.
Saat Vallen akan menampar Milly, seseorang yang baru saja masuk, langsung menahan tangannya.
"Lepas! lepaskan tangan saya! jangan kurang ajar kamu ya, berani-beraninya kamu menyentuh saya. Saya bilang lepaskan, saya harus menghajar perempuan ini, karna sudah berani menampar saya."
Bukannya melepaskan, orang itu malah makin menguatkan pegangan tangannya. Sehingga membuat Vallen kesakitan.
"Akhhh ... Kenapa kamu menyakiti saya? Lepaskan! Akkhh ...." Vallen meringis karna kesakitan. Ia menatap marah pada orang itu dan Milly.
"Kurang ajar, Lepaskan!" teriak Vallen.
Teriakan Vallen ternyata mengundang perhatian banyak orang. Orang-orang datang melihat ke ruangan Milly. Tidak berapa lama, pihak keamaman datang ke sana menanyakan apa yang terjadi.
"Ada apa ini? Kenapa membuat keributan di sini? ini Rumah Sakit, kalian akan mengganggu kenyamanan pasien lain," ucap petugas keamanan itu.
"Tolong bawa perempuan ini keluar, dia mengganggu pasien yang ada di sini," ucap orang itu sambil menghempaskan tangan Vallen dari pegangannya.
"Jangan asal menuduh, perempuan rendahan ini yang memulai duluan."
Plakk.
Milly kembali menampar pipi Vallen.
Vallen pun marah dan ingin membalasnya, tapi petugas keamanan itu langsung membawanya keluar.
Vallen yang tidak terima di perlakukan seperti itu, meneriakkan kata-kata kasar pada Milly. Sehingga, makin mengundang perhatian orang banyak.
"Pergi lah Nona. Jangan membuat keributan di sini. Perbuatan Anda akan mengganggu kenyamanan pasien lain," ucap petugas itu pada Vallen, setelah mereka sampai di luar Rumah Sakit.
Vallen tidak berkata apa-apa lagi. Dia merasa malu, karna di perlakukan seperti itu, dalam hatinya ia bertekat akan membalas perbuatan Milly.
vallen pergi setelah mobilnya datang, ia akan pulang dan mendiskusikan dengan sang mama, apa yang akan mereka lakukan untuk membalas Milly.
__ADS_1