
Pak Adrian menciumi Milly dengan lembut. Cukup lama ia melakulannya. Kemudian ia menuntun Milly ke tempat tidur. Milly sempat menolak. Tapi akhirnya ia hanya bisa pasrah.
"Jangan terus menolak, bukankah saya berhak akan dirimu. Lagi pula, saya tidak akan menyakiti mu. Saya hanya merindukan mu," ucap pak Adrian dengan suara berat, yang akhirnya membuat Milly mengikuti kemauannya.
***
"Tarima kasih, Milly. Tidur saja dulu sebentar. Saya masih ingin memeluk mu, nanti selesai magrib baru kita pulang," ucap Pak Adrian.
Tidak lama Milly mendengar dengkuran halus dari mulut pak Adrian. Milly memandangi wajah ganteng itu yang begitu tenang tidurnya.
Milly membayangkan betapa bahagia nya dia, Jika pernikahan ini seperti pernikahan pada umumnya. Mempunyai suami yang tampan dan juga mapan. Serta selalu memperlakukannya dengan baik.
Tapi Milly cepat cepat menghapus bayangan itu. Dia sadar ada hati bu Vania yang harus di jaganya. Orang yang telah sangat membantunya dalam melunasi hutang ayahnya.
Milly berusaha memejamkan matanya. Tapi matanya tidak mau tertidur. Dia meraih ponselnya yang kebetulan terletak di samping tempat tidur.
Meski dengan sedikit kesusahan, karena posisinya dalam pelukan Pak Adrian. Akhirnya ponsel itu dapat di raihnya.
Milly mencoba membuka aplikasi di ponselnya, tetapi tak ada yang menarik perhatian Milly. Milly pun iseng memfoto pak Adrian yang tidur dengan sangat lelap.
Milly melihat jam ternyata sudah pukul 17.50 menit. Itu tandanya tidak lama lagi akan tiba waktunya magrib. Dengan hati hati Milly melepaskan tangan pak Adrian yang memeluknya.
Ia segera membersihkan diri di kamar mandi, berganti pakaian dengan pakaian yang baru di belinya tadi, kemudian menunaikan sholat maghrib.
***
"Mas, bangun, sudah maghrib, kita harus pulang sekarang. Nanti terlalu malam nyampe di rumah." Milly membangunkan Pak Adrian sambil menggoyang goyangkan badannya.
"Mmmm ... baiklah, kamu sudah mandi."
"Sudah"
"Kenapa tidak menunggu saya," kata pak Adrian yang membuat Milly kembali melototkan mata padanya.
"Jangan melihat saya seperti itu. Atau saya tidak akan membiarkan mu pulang malam ini," kata pak Adrian lagi.
Milly diam saja, tak mau mendebatnya lagi. Dia merasa makin ke sini pak Adrian semakin aneh saja.
"Bantu saya berdiri, saya mau ke kamar mandi."
"Jangan manja, kakinya masih sehatkan? Jadi pasti bisa berdiri sendiri. Kenapa bersikap yang aneh-aneh dan merepotkan orang lain," kata Milly kesal.
__ADS_1
"Mmmm ... baiklah saya akan tidur lagi. Besok saja, baru pulang.
Lagi pula apa salahnya manja dengan istri sendiri."
Milly dengan terpaksa langsung mengulurkan tangannya pada pak Adrian. Dia tak lagi mengatakan apa pun.
Sesuai dugaan Milly sebelumnya. Pak Adrian malah menarik Milly, sehingga tubuh Milly jatuh menimpa pak Adrian.
Pak Adrian ingin memciumnya lagi. Tapi Milly bergegas duduk.
"Cepatlah. Saya tidak akan pernah mau ikut dengan Mas lagi, jika terus begini," ucap Milly yang di sambut pak Adrian dengan senyuman.
"Apa itu artinya kamu akan selalu menemani saja, jika saya memintanya," tanya pak Adrian lagi. Yang membuat Milly serba salah karna terjebak oleh ucapannya sendiri.
"Tunggu sebentar, saya akan mandi dulu. Setelah itu kita langsung pulang," ucap pak Adrian lagi setelah tadi Milly mengiyakan perkataannya.
***
Hari sudah malam saat mereka sampai di depan kos Milly. Tadi mereka sempat berhenti dulu untuk makan.
Sebenarnya Milly meminta di antar sampai jalan depan saja. Tidak usah masuk ke dalam pekarangan kos. Takut nanti penghuni kos lain mikir yang macam-macam.
"Terima kasih sudah menemani saya hari ini. Masuklah, lalu istirahat. Kamu pasti kecapekan." Pak Adrian berkata lalu mencium pucuk kepala Milly.
Pak Adrian pun meninggalkan kos Milly setelah memastikan Milly masuk ke dalam kosnya.
*******
Waktu terus berlalu,hari pun terus berganti. Hubungan Milly dengan Dean semakin dekat dan membaik. Begitu juga dengan kondisi ibunya Milly yang sudah berangsur pulih. Dia sudah bisa bicara lagi, meski barus terbata-bata dan masih kurang jelas.
Wuoeek ... wuoeekk ... wuoeekk
Milly terus saja bolak balik ke toilet kantor. Dia memuntahkan semua isi perutnya. Nasi goreng yang dimakannya saat sarapan tadi. Sekarang sudah keluar semuanya.
Rara yang dari tadi menyaksi kan itu mulai khawatir, apalagi sekarang Milly terlihat sangat pucat.
"Kamu pucat banget, Mil, sepertinya kamu sakit. Lebih baik kamu sekarang pulang aja. Gak usah kerja dulu. Biar aku yang minta izin sama bu Vania. Sekalian aku antar pulang," kata Rara.
"Gak usah, Ra. Sepertinya aku hanya masuk angin. Bentar lagi juga membaik. Lagi pula, aku gak enak sama bu Vania dan teman-teman lain, karna sudah sering izin," jawab Milly.
"Bu Vania juga ngerti kali Mil, aku yakin dia pasti akan mengizinkan mu pulang."
__ADS_1
"Gak us......" belum sempat Milly menyelesaikan ucapannya. Pandangannya sudah gelap. Dan tidak tau lagi apa yang terjadi.
**
Milly terbangun saat mencium bau yang sangat menyengat. Saat dia mengangkat tangannya, ternyata di tangannya sudah terpasang selang infus.
Bu Vania yang melihat Milly sudah bangun, bergegas menghampiri Milly dan langsung memeluknya.
Milly yang kesadarannya belum pulih betul. Kembali di buat bingung oleh sikap bu Vania.
"Makasi, Mil, kamu udah mewujudkan keinginan saya," kata Bu Vania masih memeluk Milly. Suaranya sedikit serak, seperti orang siap menangis.
"Ibu kenapa? Kenapa seperti ini? Emangnya saya kenapa?" Tanya Milly keheranan.
"Kamu hamil Milly, kamu sekarang di rumah sakit. Kamu saat ini sedang mengandung anaknya mas Adrian. Itu artinya saya akan segera memiliki anak."
"Maksud ibu ... saya hamil?" Milly bertanya karna masih tidak percaya akan hal itu.
"Iya, Mil. Kamu sedang hamil," kata bu Vania lagi.
Bu Vania pun menceritakan pada Milly, kejadian di kantor tadi, saat Rara meminta izin untuk membawa Milly yang pingsan kerumah sakit.
Bu Vania menanyakan penyebab Milly pingsan. Rara menceritakan keadaan Milly yang dari tadi muntah-muntah terus.
Merasa curiga dengan keadaan Milly. Bu Vania pun memutuskan membawa Milly ke rumah sakit dengan mobilnya sendiri.
Bu Vania tidak mengizinkan Rara ikut. Karna ia takut, jika apa yang di curigai benar adanya. Bu Vania tidak ingin Rara mengetahui itu.
Sampai akhirnya dokter mengatakan bahwa Milly benar positif hamil.
"Siapa yang sedang hamil?"
Bu Vania dan Milly kaget dan serentak melihat ke arah sumber suara.
Terlihat di sana seseorang sedang berdiri di dekat pintu .
Saking asyiknya Mereka berbicara, sehingga tidak mendengar pintu ruangan di buka.
Orang itu langsung melangkah mendekat ke arah Bu Vania dan Milly.
Milly yang kaget dengan kedatangan pria itu. Merasa jantungnya seolah berdetak tiga kali lipat lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1