
Ternyata Dean benar-benar tidak kembali, sampai hari dimana ia akan bertunangan dengan Vallen. Itu membuat Vallen marah dan terus saja menangis.
Mamanya dan mama Dean sudah menghubungi orang-orang yang di undang untuk mengabarkan bahwa acaranya di batalkan. Mereka harus berbohong, mencari alasan agar orang-orang yang di undang tidak curiga, sehingga mereka bisa terhindar dari rasa malu.
Mama Dean sudah berada di rumah Vallen untuk ikut menenangkan nya. Sedangkan Papa Vallen tidak terlalu menghiraukan mereka. Dari awal dia sudah memperingatkan. Tapi tidak ada yang mendengarkan. Jadi sekarang ia tidak mau lagi ikut campur.
***
Dean pun sudah menerima kabar dari Jeff, jika pertunangannya di batalkan. Tapi bukan berarti itu membuat Dean berfikir untuk pulang. Biarlah ia menjauh dulu. Ia ingin mamanya dan Vallen menyadari kesalahan mereka. Tidak semua yang mereka inginkan harus terjadi. Apalagi sampai harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Selain itu, Jeff juga memberi tau Dean, jika ia sudah mengirimkan informasi, tentang perempuan yang di selidikinya, melalui email.
Jeff memang salalu bisa diandalkan oleh Dean, dan itu tidak perlu diragukan lagi dari dulu.
Dean bergegas membuka laptopnya untuk memeriksa email yang dikirim Jeff.
Di situ tertera nama dan juga tanggal lahir yang sama dengan yang di surat papanya.
Hati Dean makin tak karuan. Dean memejamkan matanya saat membaca nama ayah perempuan itu. Nama itu sama persis dengan nama papanya.
"Pa, Dean sudah menemukannya."
Dean berkata sambil memejamkan matanya.
"Dean berjanji akan mempertemukannya dengan Papa. Sesuai dengan janji Dean dulu, sebelum papa meninggalkan Dean."
Ada yang memanas di sudut mata Dean saat mengucapkan itu. Ia kembali teringat pada saat sebelum papanya meninggal.
Sebelum papanya meninggal, ia ingin bertemu dengan putrinya itu untuk meminta maaf. Penyesalan yang teramat dalam, bisa Dean lihat di mata sang papa.
Sebenarnya rasa rindu juga menggerogoti jiwa papanya. Sayangnya, Dean tidak berhasil menemukan perempuan yang juga merupakan kakaknya itu, sebelum papanya meninggal.
Papanya pun berpesan pada Dean, jika papa meninggal, ia ingin Dean meminta maaf atas nama papa. Ia juga ingin Dean mengajak putrinya itu ke makam, jika putrinya itu telah memaafkan. Dean pun berjanji untuk melakukan itu.
Dean kembali menghubungi Jeff. Ia ingin Jeff mempertemukannya dengan perempuan itu secepatnya. Jeff pun menyanggupi.
****
"Baiklah, terima kasih."
__ADS_1
Mama Vallen mematikan telpon. Senyum terkembang di bibirnya. Tadi orang suruhannya yang menelpon. Mengabarkan jika Milly sudah di usir dari rumah sakit. Ia juga mengatakan kalau Milly dibantu oleh seorang laki-laki dalam membawa ibunya.
Orang itu juga menyebutkan ciri-ciri laki-laki itu. Setelah menanyakan pada Vallen. Vallen yakin yang menolong Milly adalah suami atasannya. Sekaligus juga suami Milly.
Merasa belum berhasil membuat Milly menderita, mereka akan menjalankan rencana mereka selanjutnya.
***
Dean mendapat kabar dari Jeff, bahwa ia sudah membuat janji dengan bu Vania. Jeff berpura-pura menjadi investor yang tertarik untuk menanamkan modal di perusahaan bu Vania. Dan Dean yang akan melakukan pertemuan dengan bu Vania. Dean pun sangat setuju dengan rencana Jeff.
Dean akan memulai kerja sama dengan perusahaan bu Vania. Setelah itu barulah Dean akan bicarakan pada bu Vania siapa dia sebenarnya.
Dan siang ini adalah jadwal Dean untuk bertemu dengan bu Vania. Mereka akan bertemu di kantor bu Vania.
Saat akan turun dari mobilnya, Dean melihat Vallen dan mamanya keluar dari kantor, tempat ia akan melakukan pertemuan. Mereka berjalan ke arah parkiran, sambil berbicara sesuatu yang serius.
Beruntung Dean sudah mengganti mobilnya, jadi Vallen dan mamanya tidak mengetahui. Ternyata Mobil Dean parkir di samping mobil Vallen. Tadi Dean memang tidak terlalu memperhatikannya.
Setelah memastikan mereka pergi, barulah Dean keluar dari mobilnya. Dean bertanya-tanya apa yang sedang di lakukan Vallen dan ibunya di sini? Apa mereka mencari Milly? Entahlah. Sekarang Dean harus fokus pada bu Vania dulu.
Dean di antar oleh sekretaris bu Vania ke kantornya. Bu Vania sedikit kaget saat melihat Dean.
"Siang juga. Pak ...."
"Dean Bu."
"Yah Pak Dean. Silahkan duduk, Pak. Bukannya Bapak ini temannya Milly, yah."
"Betul, Bu."
"Wah kebetulan sekali ya, Pak."
Dean dan bu Vania pun mulai membahas tentang kerja samanya. Dean pun sangat tertarik untuk menanamkan modalnya di perusahaan Vania.
Setelah berbicara banyak dengan bu Vania. Dean merasa sangat kagum dengan kakaknya itu. Iya sangat kompeten dan juga sangat pintar. Dean seolah melihat papanya dalam diri bu Vania. Mereka sama-sama orang yang suka bekerja keras dan sangat profesional.
"Jadi, kita sudah sepakat ya, Pak. Semoga kedepan semuanya berjalan dengan lancar."
Bu Vania berkata sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Dean.
__ADS_1
"Pak Dean," bu Vania berkata lagi, karna Dean hanya termenung memperhatikannya.
"Pak Dean, Anda baik-baik saja kan, Pak?"
Bu Vania sampai melambaikan tangannya di depan wajah Dean, karna Dean tidak juga menjawabnya.
"Ahh ... iya, maaf ... maaf, saya tadi tidak fokus, karna sedang memikirkan sesuatu. Tadi kita udah sampai dimana, Ya?" tanya Dean lagi. Ia gelagapan, tadi ia terlena memperhatikan bu Vania. Dean baru sadar, jima diperhatikan dari dekat bu Vania sangat mirip dengan papanya.
Bu Vania pun mengulangi lagi perkataannya. Ia sedikit salah tingkah karna dari tadi Dean selalu memperhatikannya.
"Baik lah, sebagai bentuk syukur saya karna kerjasama ini, bagaimana kalau hari ini saya mengajak Bu Vania untuk makan siang bersama? Itu pun jika Bu Vania ada waktu. Tapi saya akan merasa terhormat jika Bu Vania menerima tawaran saya."
Dean benar-benar tidak ingin menunggu lama. Ia harus segera melaksanakan maksudnya.
Bu Vania tampak berfikir sebentar. Ia mengingat jadwal kerja selanjutnya.
"Baiklah, kebetulan saya juga akan makan siang, tapi sepertinya saya tidak bisa lama. Jadi kalau bisa, kita cari tempat makan yang dekat saja."
"Baiklah, saya setuju, silahkan Bu Vania tentukan tempatnya."
Dean sangat senang, selangkah lagi, rencananya akan kembali dijalankan.
***
Dean dan Bu Vania berjalan beriringan memasuki restoran. Dari dalam restoran, seorang pria menatap mereka dengan sangat marah. Ia menghentikan makannya, lalu berjalan dengan penuh emosi ke arah Dean dan bu Vania.
Bughh ... bughh
Dean memegangi wajahnya yang kesakitan, dari sudut bibirnya keluar darah karna saking kuatnya pukulan.
"Akhh ...." Bu Vania sampai berteriak karna kaget.
"Mas Adrian," ucap bu Vania kaget, saat laki-laki itu menghadap.
"Hentikan Mas!" Bu Vania berteriak dan menarik tangan suaminya saat pak Adrian akan kembali meninju Dean.
"Apa-apaan kamu, Mas. Bikin malu aja. Ada masalah apa kamu sama pak Dean?"
"Aku yang harusnya bertanya sama kamu. Apa-apaan kamu jalan berdua sama dia." Pak Adrian berkata sambil menunjuk wajah Dean.
__ADS_1