MILLY

MILLY
bab 27. calon istri


__ADS_3

Dean baru akan memasuki lift untuk menuju ke ruangan nya. Kebetulan ruangan Dean terletak di lantai tiga.


Tiba-tiba seorang rekan kerja Dean menghampirinya.


"Pagi, Pak Dean, aku salut banget loh sama Pak Dean. Diam-diam ternyata dah mau nikah aja. Pantes saja Bapak gak tertarik sama cewek-cewek di kantor ini. Padahal banyak yang cantik. Ternyata dah punya calon ya, Pak," kata Jeff rekan kerja yang juga temannya Dean.


"Nikah? kamu ngomong apa sih, Jeff. Saya gak ngerti. Kamu dah sarapan belom, kalau belom sarapan gih sana. Pagi-pagi dah ngawur aja," jawab Dean.


Dean benar-benar bingung kenapa Jeff bilang ia akan menikah.


"Gak usah malu, Pak. Kami semua senang kok mendengar kabar pernikahan Bapak. Meskipun banyak juga yang patah hati. Termasuk si Dina yang langsung menangis karna saking sedihnya."


"Semua orang, maksud kamu?"


"Iya, Semua orang yang ada di kantor. Gak usah kaget gitu, Pak. Ya sudah, saya pergi dulu,Pak. Oh ya, jangan lupa undangan nya. Jangan sampai Bapak nikahnya diam-diam juga," ucap Jeff lagi. Kemudian ia langsung meninggalkan Dean.


Dean gelen-geleng kepala menanggapi ucapan Jeff. Entah dari mana Jeff mendapat kabar seperti itu.


Kemudian Dean teringat saat dia menjemput Milly ke Rumah Sakit. Dean berfikir, mungkin ada salah satu orang kantor nya yang melihat itu.


Sehingga ia menduga Milly adalah pacar Dean.


Lalu mengambil kesimpulan jika Dean akan menikah. Dan menyebarkan beritanya di kantor, tanpa bertanya dulu kebenaran beritanya. Maklum saja, orang-orang zaman sekarang memang mudah percaya dengan apa yang di dengarnya.


Dean hanya bisa tersenyum, jika itu benar, pasti dia akan sangat senang. Karna impian terbaiknya saat ini adalah bisa menikah dengan orang yang di cintainya yaitu Milly.


Dean sudah sampai di pintu ruangan kerjanya. Dina, sekretaris Dean datang menghampirinya.


"Maaf, Pak Dean. Ada seseorang yang menunggu Bapak di dalam, saya sudah memintanya untuk menunggu di luar. Tapi dia tidak mau, katanya dia calon istri Bapak. Kalau saya melarangnya masuk. Dia akan memecat saya, saya takut Pak, makanya saya biarkan saja," ucap Dina melaporkan.


Kini Dean bertambah bingung, tidak mungkin orang itu Milly. Karena Milly sedang sakit dan ia baru saja dari tempat Milly. Lalu siapa orang itu?


Dean gegas membuka pintu ruangan dan masuk ke dalam.


Dean sangat terkejut mendapati seorang wanita duduk di kursi kerja Dean.


Melihat kedatangan Dean wanita itu langsung berdiri, dengan senyum yang mengembang di bibirnya, ia langsung menghampiri Dean.


"Pagi, Mas Dean, kok Mas Dean baru nyampe kantor sih, aku udah nunggu dari tadi loh, Mas," ucap wanita itu sambil memegang tangan Dean.


Dean langsung menarik tangannya dari pegangan wanit itu.


"Kamu ngapain di sini, siapa yang izinin kamu masuk ke ruangan saya."

__ADS_1


"Ketemu Mas Dean lah, sekalian aku bawain sarapan untuk Mas Dean. Tadi Tante Santy nelpon aku, dia minta aku nganterin sarapan buat Mas Dean, katanya Mas Dean belum sarapan, makanya aku ke sini."


"Mama yang telpon kamu," tanya Dean lagi.


Vallen pun menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, sekarang lebih baik kita sarapan dulu, kebetulan tadi aku juga belum sarapan. Sengaja biar bisa sarapan bareng sama Mas Dean," ucap Vallen.


"Terus, apa maksud kamu bilang sama orang-orang kantor jika kamu adalah calon istri saya?"


"Apa salah nya sih, Mas. Kalau aku bilang istri Mas Dean baru salah. Lagi pula mamanya Mas Dean juga yang suruh aku bilang begitu," ucap Vallen.


Dean makin tidak mengerti dengan sikap mamanya. Ingin dia menelpon mamanya saat ini. Tapi itu tidak akan ada gunanya. Yang ada hanya perdebatan yang tidak akan ada habisnya.


Vallen kembali memengang tangan Dean dan menariknya untuk duduk di sofa ruangan itu. Terlihat sudah ada rantang makanan di atas mejanya.


"Pulang lah, saya udah sarapan tadi, banyak kerjaan yang harus saya selesaikan hari ini. Jadi saya mohon pergilah," ucap Dean.


"Mas Dean ngusir aku, aku udah capek-capek ke sini tapi malah di usir. Benar-benar tega. Aku gak nyangka Mas Dean sejahat ini," ucap Vallen. Ia berkata sambil pura-pura menangis.


"Terserah aja, kamu mau bilang apa, keluar lah, aku udah meminta baik-baik. Jika tidak aku akan meminta satpam untuk membawa mu keluar."


"Kamu serius ngusir aku, Mas."


"Hallo, tolong ke ruangan saya sekarang."


Vallen tidak percaya Dean akan benar-benar memanggil satpam untuk mengusirnya.


"Kamu keterlaluan, Mas. Aku berniat baik ke sini. Tapi kamu memperlakukan aku seperti penjahat. Aku akan bilangin kamu sama Tante Santy," ucap Vallen.


Dean tidak menanggapinya. Baginya ia harus bersikap tegas pada Vallen. Supaya Vallen mengerti dan tidak lagi berharap padanya.


Sebenarnya Dean tidak mau melakukan itu. Apalagi Vallen adalah anak teman mamanya. Dean mengakui jika Vallen adalah gadis yang cantik dan juga baik. Selain itu dia juga pintar memasak.


Tapi, tetap saja cinta tidak bisa di paksakan. Dean sudah terlanjur menjatuhkan hatinya pada Milly. Bahkan jauh lebih lama dari sebelum ia bertemu Vallen.


Dean ingin agar Vallen juga mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintai nya.


Tidak berapa lama pintu di ketuk dari luar. Ternyata satpam yang tadi di telpon Dean sudah datang.


Melihat itu Vallen langsung meninggalkan ruangan Dean dengan kaki yang di hentak-hentakkan. Bagaimana pun. Vallen tidak ingin malu jika sampai orang-orang di kantor ini mengetahui jika dia di usir Dean.


Padahal tadi dia sudah koar-koar mengatakan bahwa ia akan menikah dengan Dean.

__ADS_1


Setelah Vallen pergi, Dean kembali menyuruh satpam itu kembali ke tempat jaganya. Dean juga memanggil Dina dan menyuruhnya menelpon Dean terlebih dahulu jika ada yang ingin bertemu dengannya.


****


Di kantor perusahaan lain.


Pak Adrian terus saja mondar-mandir do ruangan nya. Milly tidak pernah mengangkat telponnya sampai saat ini.


Sebenarnya tadi pagi, Pak Adrian mau ke tempat Milly dulu sebelum ke kantor. Tapi urung di lakukannya. Karna sang istri mengatakan akan ke tempat Milly.


Meski tidak mengatakan jika akan ke sana sebelum ke kantor. Tetap saja Pak Adrian takut jika nanti kepergok sama istrinya pas ia di rumah milly.


Dengan hati kesal ia berangkat ke katornya. Sedangkan sang istri berangkat di antar pak Dadang.


Entah mengapa pak Adrian merasa sangat merindukan sang istri siri. Terlebih semenjak tau ada calon anaknya di perut Milly. Rasanya ia ingin selalu di dekatnya.


Dring ... dring ... dring


Ponsel yang di genggaman pak Adrian berbunyi. Ternyata sang istri yang menelpon.


"Hallo Sayang, ada apa?"


"Aku mau minta tolong sama kamu, Mas,"


"Minta tolong apa sayang? Bilang aja"


"Begini loh, Mas. Tadi aku udah dari tempat Milly. Ternyata kondisinya masih lemah banget. Aku berniat membawa dia ke rumah sakit lagi. Tapi Milly gak mau.


Jadi, tadi aku nelpon teman aku, kebetulan dia dokter kandungan. Aku mau konsultasikan kondisi Milly.


Terus dia resepin obat dan Vitamin untuk Milly. Tapi aku gak bisa jemput ke sana Mas. Soalnya nanti ada pertemuaan lagi.


Kamu bisa gak Mas ambilin ke sana."


"Bisa sayang, kapan mau diambilnya?"


"Nanti aja, Mas, pas Mas pulang kerja. Sekalian anterin ke rumah Milly. Nanti aku kirimim alamat rumah Milly ya, Mas."


***


"Yes ...."


Pak Adrian bersorak setelah selesai menelpon sang istri. Ternyata hari ini semesta berpihak padanya.

__ADS_1


Tanpa harus cemas sang istri akan curiga. Pak Adrian bisa dengan tenang ke rumah Milly nanti sore. Rasanya tidak sabar akan bertemu dengan sang pujaan hati.


__ADS_2