MILLY

MILLY
bab 72. apa aku sanggup meninggalkan mu sendirian di sini?


__ADS_3

"Bertahan lah!" ucap Dean lagi. Dean meraba urat nadi di pergelangan tangan Milly.


"Hahhhh ... syukurlah," ucap Dean lega, saat mengetahui nadi Milly masih berdetak.


"Gimana Mas. Mbak Milly masih hidupkan?" tanya Wati. Ia juga tak kalah khawatirnya dengan Dean.


"Masih, tapi kita harus cepat ke rumah sakit. Kamu tolong jaga Milly baik-baik," perintah Dean.


Dean langsung menuju kemudi dan melajukan mobilnya. Dean terus memperhatikan Milly dari kaca mobil. Di hatinya Dean juga berharap agar Milly baik-baik saja.


Dean kembali berkendara dengan cepat.


Kecemasan di hatinya membuat Dean memacu mobilnya dengan sangat kencang.


"Hati-hati Mas! Jangan terlalu ngebut, Mbak Milly lagi hamil," tegur Wati.


Jauh di dalam lubuk hatinya, Wati sendiri juga merasa takut.


Saat Dean mendahului mobil di depannya, Dari arah berlawanan datang mobil dengan kecepatan yang juga lumayan cepat. Beruntung Dean bisa menghindarinya. Kalau tidak sudah dipastikan mereka mengalami kecelakaan. Wati bahkan sampai menutup matanya karna ketakutan.


Dean memperlambat mobilnya. Beruntung di depan sana rumah sakit sudah kelihatan.


Dean langsung turun, begitu mobil diparkirkan. Tanpa meminta bantuan petugas rumah sakit, Dean langsung menggendong Milly.


"Biar aku bantu, Mas," ucap Wati.


"Tidak perlu, saya kuat mengangkat Milly sendiri," tolak Dean.


Ia langsung menggendong Milly menuju ke UGD. Disusul Wati di belakangnya.


Tidak berapa lama, mobil pak Adrian juga datang. Pak Adrian dan bu Vania berjalan dengan cepat menyusul Dean.

__ADS_1


Sesampainya di UGD, Milly langsung mendapat penanganan.


Semua orang yang ada di sana khawatir menunggu Milly. Apalagi, tadi di tangan Milly terdapat obat yang digenggamnya. Dokter mencurigai obat itu berbahaya dan berdosis tinggi. Dan sekarang obat itu sedang diperiksa juga.


"Semoga Milly belum meminumnya," ucap Dean dalam hatinya. Harap-harap cemas Dean menunggu hasil pemeriksaan dokter.


Dean berdiri di dekat Milly. Kemudian pundaknya disentuh oleh seseorang dari belakang. Dean langsung menoleh. Ternyata bu Vania yang datang. Bersama bu Vania, juga ada pak Adrian. Pandangan Dean dan pak Adrian bertemu.


Dean memandang pak Adrian dengan penuh amarah dan benci. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia langsung menghadiahi wajah pak Adrian dengan tinjunya dua kali.


"Haaaa ... Dean, kendalikan dirimu! Ini di rumah sakit," teriak bu Vania.


Bu Vania langsung mendekati pak Adrian. Pak Adrian memegangi wajahnya yang terasa panas. Ia tidak terima dan mau membalas meninju Dean. Beruntung bu Vania dapat menahannya. Sedangkan Dean masih menantang pak Adrian, sehingga Wati sedikit kewalahan menenangkannya.


Bu Vania berada di posisi yang serba salah. Ia sangat tau kalau Dean khawatir. Tapi ia juga tidak mungkin membiarkan Dean melampiaskan amarahnya pada sang suami.


"Silahkan semuanya tunggu di luar, kalian mengganggu pasien dan juga dokter yang sedang bekerja," usir petugas rumah sakit.


"Jika terjadi sesuatu pada Milly, saya tidak akan membiarkan mu lolos," ancam Dean pada pak Adrian saat mereka sudah di luar. Pak Adrian ingin menjawab, tapi lagi-lagi bu Vania menghentikannya.


Tidak berapa lama seorang perawat berjalan kearah mereka. Dean bergegas menemuinya. Disusul oleh Wati, bu Vania dan juga pak Adrian di belakang.


"Keluarga ibu Milly?" tanya perawat itu pada mereka.


"Iya, saya keluarganya," ucap Dean.


"Oh, bapak suaminya ibu Milly?" tanya perawat itu lagi. Dean ragu untuk menjawab. Bagaimana pun ia tidak mungkin mengaku-ngaku sebagai suami Milly.


"Kami keluarganya, Bu. Kami yang bertanggung jawab atas Milly. Bagaimana keadaan Milly?"


Bu Vania yang menjawab pertanyaan perawat itu.

__ADS_1


"Baiklah, dokter telah memeriksa pasien. Sudah dipastikan Ibu Milly sempat meminum obat tadi. Meski belum diketahui obat apa yang diminumnya. Tapi obat itu terindikasi mengandung zat berbahaya yang dapat membahayakan nyawa. Beruntung obat itu baru sedikit termakan dan pasien cepat ditangani. Kalau tidak, mungkin akan membahayakan nyawa pasien.


Hanya saja, obat yang sudah terlanjur masuk ke tubuh pasien, membuat bayi dalam kandungannya dalam bahaya. Jadi dokter menyarankan untuk melakukan operasi cesar secepatnya untuk menyelamatkan sang bayi. Apalagi usia kandungannya sudah memungkinkan si bayi untuk dilahirkan. Dokter meminta persetujuan keluarga."


"Lakukan saja. Pastikan bayi dan ibunya selamat, lakukan yang terbaik," kata Dean langsung saat perawat itu selesai berbicara.


Dean sangat berharap bayi itu bisa diselamatkan. Dean takut jika terjadi sesuatu pada bayi itu, maka Milly akan bertambah terpuruk. Baru saja di tinggal sang ibu. Milly tidak akan mampu menerima kalau harus kehilangan anaknya juga.


Begitu dalam cintanya Dean pada Milly. Meski ia tidak bisa memiliki raga Milly, tapi kebahagian Milly tetaplah nomor satu.


Tak ada penolakan, semuanya setuju dengan perkataan Dean. Surat persetujuan operasi pun ditanda tangani.


Setelah memohon pada perawat itu, mereka pun dibolehkan untuk masuk ketempat Milly. Dengan syarat mereka menjaga prilaku mereka dan masuknya satu-satu. Karna perawat itu takut mereka akan membuat keributan lagi. Dan Dean yang masuk duluan.


"Mil, kenapa seperti ini? Maaf, lagi-lagi aku tak bisa menjaga mu. Aku berfikir kamu sudah bahagia dengan pernikahan mu. Makanya aku mencoba untuk mengiklaskan mu. Tapi apa? Aku tidak tau apa yang terjadi sebenarnya dengan pernikahanmu. Tapi aku menyesal mengiklaskan kamu pada lelaki tidak bertanggung jawab itu," ucap Dean sambil menggenggam erat tangan Milly.


Sedangkan Milly masih menutup matanya. Dean berfikir Milly masih belum sadarkan diri.


"Mil, Apa kamu tidak bahagia? Katakan apa yang harus aku lakukan untuk mu? Mmmm ... entahlah Mil, padahal besok aku akan pergi jauh dari negri ini. Aku melakukankan agar aku tidak terus mengharapkan mu. Tapi apa aku sanggup meninggalkan mu sendirian di sini? Setelah kejadian ini, aku tau kamu tidak bahagia. Tapi aku juga sadar kalau kamu adalah milik orang."


Tanpa terasa air mata menetes di pipi Dean. Dean benar-benar lemah jika berhadapan dengan Milly. Ia bahkan lupa di luar ada bu Vania, Wati dan pak Adrian yang menunggunya untuk bergantian melihat Milly.


Diluar, pak Adrian mulai kesal dan merutuki Dean yang belum juga keluar. Ia memaki-maki Dean dalam hatinya.


Sedangkan bu Vania juga tak kalah cemasnya. Ia takut terjadi sesuatu pada bayi Milly. Bayi yang sudah sangat di tunggunya. Bayi yang membuatnya harus berkorban uang dan juga perasaan. Entah apa yang akan terjadi pada pernikahannya, jika bayi itu tidak selamat.


"Maaf pak, kami akan membawa pasien ke ruangan operasi. Dokter sudah siap dan menunggu di sana," ucap seorang perawat menyadarkan Dean.


"Baiklah, tunggu sebentar," ucap Dean pada perawat itu.


"Mil, bertahanlah. Aku yakin kamu dan bayimu kuat. Aku berdoa semoga operasinya berjalan lancar. Memiliki mu atau tidak. Aku tetap mencintaimu sampai kapanpun," ucap Dean berbisik di telinga Milly.

__ADS_1


Setelah itu Dean mempersilahkan perawat dan beberapa petugas lainnya untuk membawa Milly ke ruang operasi.


__ADS_2