
"Sayang, buka pintunya. Kamu sudah salah paham. Ini sama sekali tidak seperti yang kamu bayangkan."
Pak Adrian terus mengetuk pintu dan membujuk bu Vania untuk membukakannya.
"Tidak ada salah paham, Mas. Kamu tidak perlu berbohong lagi untuk menutupi penghianatan mu. Akui saja, jika kamu benar-benar lelaki sejati." Bu Vania mencoba menantang pak Adrian. Ia berteriak dari dalam kamar.
"Kamu yang punya ide untuk semua ini, kenapa sekarang menyudutkan, Mas."
"Tapi, kamu sudah keluar dari kesepakatan kita." Bu Vania kembali berteriak dari dalam. Hatinya makin sakit mendengar jawaban suaminya.
"Jangan terlalu menyalahkan, Mas. Mas ini laki-laki normal. Tidak mungkin Mas tidak tertarik jika di berikan wanita seperti Milly."
Bu Vania tidak mau lagi menanggapi suaminya. Secara tidak langsung pak Adrian sudah mengakui perbuatannya. Dan itu benar-benar membuat bu Vanka kecewa.
Sampai malam hari bu Vania tetap tidak keluar. Lelah membujuk, pak Adrian memutuskan untuk menunggu di ruang keluarga.
Bu Vania merenungi apa yang terjadi saat ini. Ada penyesalan dalam hatinya karna sudah memilih jalan seperti ini. Tapi ia juga tidak terima begitu saja dengan sikap pak Adrian yang menghianatinya. Padahal ia melakukan itu untuk kebaikan rumah tangga merek.
Bu Vania akan mencari tau sejauh mana pak Adrian dan Milly menghianatinya.
Ia juga akan menemui Milly untuk meminta penjelasannya.
***
Pagi hari, bu Vania sudah siap untuk berangkat ke kantor. Ia membuka pintu, ternyata pak Adrian telah berdiri di sana menunggunya.
"Sayang, Mas minta maaf, Mas tidak bermaksud menghianatimu. Tapi setelah malam itu, Mas terus teringat Milly. Mas fikir itu wajar. Mas ini lelaki normal."
Bu Vania geleng-geleng kepala mendengar perlakuan pak Adrian. Ia fikir suaminya itu minta maaf karna sudah sadar dengan kesalahannya. Ternyata ia masih saja membela diri.
"Alasan kamu, Mas. Emang dasar saja kamu tidak setia. Kalau kamu setia pasti kamu tidak akan berhianat."
Bu Vania pergi meninggalkan pak Adrian. Kemudian pak Adrian mengejar dan menghalanginya.
"Dengarkan dulu. Mas belum selesai bicara."
"Tidak perlu, Mas. Semua sudah jelas. Tunggu saja, aku akan membuat perhitungan dengan Milly. Ia tidak bisa macam-macam. Aku akan mengingatkan kembali padanya, tentang surat perjanjian itu. Mungkin ia lupa, karna kesenangan berhianat bersama kamu."
__ADS_1
"Jangan salahkan Milly, ini kesalahan Mas. Jangan lakukan apa pun padanya, Mas berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
"Aku tidak peduli dan tidak percaya," ucap bu Vania. Ia kemudian pergi keluar. Di sana sopirnya sudah menunggu.
Pak Adrian menatap kepergian bu Vania. Ia takut bu Vania akan berbuat kekacauan. Ia pun segera menelpon Milly.
"Hall ...."
"Hallo Milly. Dengarkan apa yang akan saya katakan. Jangan beri tau siapa pun dimana ibumu dirawat. Siapa pun itu, termasuk Vania." Pak Adrian langsung saja bicara tanpa menunggu Milly menyelesaikan perkataannya.
"Ada apa, Mas? Apa terjadi sesuatu?" tanya Milly khawatir.
"Tidak ada, yang penting kamu harus ingat pesan saya tadi. Ya sudah saya matikan dulu."
"Tapi, Mas sa ...."
Tut ... tut ... tut
Milly ingin mengatakan jika bu Vania sudah tau alamat rumah sakit tempat ibunya dirawat sekarang. Tapi pak Adrian sudah terburu-buru mematikan telpon.
Berapa kali Milly mencoba kembali menghubungi. Tapi tak diangkat oleh pak Adrian. Milly pun menjadi cemas memikirkan apa yang terjadi.
***
Setelah berfikir sebentar, bu Vania pun setuju. Mungkin ia bisa menggali informasi melalui Dean, karna ia tau Dean adalah teman dekat Milly.
Mereka pun memutuskan untuk makan di kafe pilihan Dean. Mereka makan sambil membicarakan banyak hal.
"Oh ya. Pak Dean gimana hubungannya sama Milly? Saya fikir bapak dan Milly sangat cocok."
Bu Vania berusaha memancing Dean. Tapi terlihat Dean terdiam mendengar pertanyaan bu Vania.
"Maaf, pak Dean tidak perlu menjawab. Saya minta maaf karna sudah menanyakan hal pribadi."
"Tidak apa-apa. Lagi pula itu hanya masa lalu."
"Maksudnya, mantan gitu. Saya lihat hubungan pak Dean dengannya cukup baik."
__ADS_1
"Bukan. Tapi sepertinya saya sudah harus melupakannya. Tidak baik rasanya mencintai istri orang."
Bu Vania cukup kaget mendengar pengakuan Dean. Ternyata Dean sudah tau kalau Milly sudah menikah. Tapi bu Vania belum tau, apakah Dean tau siapa suaminya Milly.
"Milly sudah punya suami? Kok saya tidak tau ya. Siapa suaminya? Kenapa saya tidak pernah ketemu? Saya fikir dia masih sendiri."
Bu Vania mencoba untuk setenang mungkin, meski hatinya deg-degan menunggu jawaban Dean.
"Saya awalnya juga gak tau. Sebelum Milly sendiri yang mengatakannya. Tapi sampai sekarang saya belum pernah bertemu dengan suaminya. Saya juga sudah tidak terlalu peduli tentang itu."
Bu Vania melihat kesedihan di wajah Dean saat menceritakan itu. Tapi sekarang ia lega, berarti Dean tidak tau jika yang dimaksud Milly adalah suaminya sendiri.
Tapi bu Vania heran, kenapa Milly mengakui ia sudah punya suami. Apa Milly benar-benar bermaksud untuk merebut pak Adrian darinya.
"Maaf pak Dean, gara-gara saya, bapak jadi kepikiran Milly."
"Tidak, saya bukan memikirkan Milly, tapi saya sedang memikirkan bu Vania," ucap Dean berterus terang. Sedangkan bu Vania menjadi bingung karna perkataan Dean. Dia sedikit salah tingkah, saat Dean terus menatapnya lekat.
"Mmmm ... kalau pak Dean sudah selesai makannya. Gimana kalau sekarang kita pergi dari sini. Saya harus balik ke kantor, karna masih banyak kerjaan," kata bu Vania, mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau Dean melihat kegugupannya.
Ternyata Dean sudah menangkap kegugupan itu. Ia tidak mau membuat bu Vania salah sangka. Lagi pula, ini saat yang tepat untuk Dean mengungkapkannya.
"Baiklah, tapi sebelum itu, adahal yang ingin saya tanyakan pada bu Vania. Itu pun jika bu Vania berkenan."
Bu Vania pun menganggukkan kepalanya.
"Mmm ... Apa Ibu tidak memikirkan sesuatu saat membaca nama lengkap saya?"
Bu Vania berfikir sejenak. Jujur saja saat ia membaca nama belakang Dean, ia mengingat papanya. Tapi ia mencoba mengesampingkan itu. Ia berfikir ada banyak nama yang sama di dunia ini. Mungkin itu hanya kebetulan saja.
Dean Adinata Wicakso.
Bu Vania mencoba mengucapkan nama Dean didalam hatinya.
Vania Nadira Wicaksono.
Itu adalah nama bu Vania. Tapi setelah papanya memilih pergi, ia tak lagi menggunakan nama Wicaksono. Ia sangat kecewa dengan lelaki itu.
__ADS_1
"Kamu ...." Bu Vania menggantung ucapannya. Lidahnya seolah kaku untuk melanjutkan ucapannya.