
Bu Vania akhirnya pasrah dan membiarkan pak Adrian melakukan aksinya. Lagi pula ia tidak mau pak Adrian makin terpincut dengan Milly karna ia terus menghindar.
Mendapati tak ada lagi penolakan dari sang istri, pak Adrian makin berani meminta haknya. Sudah lama ia tidak mendapatkan itu dari sang istri.
Baru saja ia menuntun sang istri ke kasur, dari pintu kamar sang mertua menampakkan kepalanya.
"Nak, ayo makan dul--. Ahh, maaf-maaf, mama tidak tau. Lagi pula kenapa pintunya tidak di tutup," ucap mama bu Vania, ia langsung pergi dari sana.
Pak Adrian menutup mukanya dengan tangan, sedangkan bu Vania segera melepaskan dirinya dari pelukan sang suami. Ia tersenyum sambil mentertawakan kekecewakan suaminya. Lalu bergegas keluar menyusul sang mama.
"Ayo, Mas. Kita sarapan dulu." Bu Vania kembali menongolkan kepalanya
"Jangan lupa tutup pintunya," ucap bu Vania lagi, ia masih mentertawakan pak Adrian.
Meski kesal acaranya terganggu, pak Adrian sekarang sangat senang. Istrinya sudah kembali menerimanya dengan baik. Tak apa tadi gagal, toh nanti ia masih punya banyak waktu untuk bersama sang istri.
Pagi ini pak Adrian kembali bisa merasakan sarapan bersama sang istri tercinta. Sudah lama ia tidak merasakan itu, semenjak ia tidak dibolehkan tinggal bersama istrinya. Semenjak ia ketahuan menghianati sang istri.
"Mama senang, kalian bisa berbaikan lagi, mama minta ini yang terakhirnya kalian bermasalah. Mama hanya ingin kalian rukun selamanya. Sampai hanya maut yang memisahkan," kata mama bu Vania disela sarapannya.
"Aamiin, iya Ma. Saya berjanji tidak akan menyakiti Vania lagi," ucap pak Adrian tulus.
Hari ini pak Adrian benar-benar menghabiskan harinya bersama bu Vania. Ia bahkan sengaja tidak ke kantor hanya untuk bisa berdua dengan sang istri. Pak Adrian seperti mengganti waktunya yang hilang selama berapa bulan terakhir.
Pak Adrian dan bu Vania menghabiskan hari dengan menonton di bioskop, makan di luar sampai menemani bu Vania belanja.
"Makasi Mas. Hari ini aku senang banget, rasanya sudah lama kita tidak pernah melakukan ini semua," ucap bu Vania sambil bergelayut manja di tangan suaminya. Mereka baru saja sampai di rumah mereka, dan saat itu hari sudah malam.
"Mas, aku mau mandi dulu ya, kamu mau aku bikinin kopi atau tidak?" tawar bu Vania.
__ADS_1
"Gak usah Sayang, tadi kan sudah ngopi. Kamu lanjut mandi aja. Mas mau istirahat sebentar," ucap pak Adrian.
Bu Vania pun berlalu ke kamar dan langsung menuju kamar mandi setelah meletakkan barang belanjaannya.
Sedangkan pak Adrian memilih istirahat di ruang TV.
Pak Adrian mengambil ponselnya yang dari tadi jarang disentuhnya. Seketika pak Adrian kaget saat melihat banyak panggilan masuk dari Milly.
Pak Adrian tersadar, saking senangnya menghabiskan hari dengan bu Vania, ia bahkan melupakan Milly. Ia juga melupakan janjinya yang akan memesankan Milly makan.
Pak Adrian berdoa semoga Milly berinisiatif memesannya sendiri, karna di rumah tidak ada apa pun yang bisa di makan.
Pak Adrian cemas. Ia langsung menelpon Milly, tapi ponsel Milly tidak aktif. Berulang kali pak Adrian mencoba, tapi hasilnya tetap sama.
Rasa khawatir mulai melanda pak Adrian. Ia bahkan mondar-mandir di depan TV. Ia takut terjadi seauatu pada Milly. Apalagi mengingat kejadian kemaren.
Pak Adrian kalut, ia bingung harua bagaimana. Kalau pergi, ia takut bu Vania akan curiga dan marah lagi. Tapi jika hanya berdiam di sini, fikirannya tak tenang karna memikirkan Milly.
Pak Adrian diam sejenak. Bagaimana pun ia sudah berjanji untuk jujur pada bu Vania. Jadi mungkin sekarang lebih baik ia katakan saja yang sebenarnya. Ia berharap sang istri bisa mengerti.
"Sayang, kamu udah selesai mandinya. Sini, Mas mau bicara sesuatu sama kamu. Mas harap kamu bisa mengerti. Mas tidak mau membuat kamu kecewa lagi. Tapi situasi saat ini benar-benar membuat Mas takut."
Pak Adrian menceritakan apa yang menjadi fikirannya. Ia mencoba menjelaskan dengan baik, agar sang istri tidak salah faham.
"Ya sudah, sekarang kita ke sana saja. Biar Mas juga bisa tenang," ucap bu Vania.
Pak Adrian langsung memeluk bu Vania. Ia berterima kasih, karna sang istri bisa mengerti dirinya.
Sebenarnya ada rasa cemburu di hati bu Vania, saat pak Adrian begitu mencemaskan Milly. Meski sakit, tapi ia mencoba untuk berdamai dengan rasa itu. Itu dilakukannya semata untuk kebaikan rumah tangganya.
__ADS_1
Bu Vania cukup kaget saat tiba di rumah Milly. Ia tidak tau kalau Milly sudah pindah kontrakan. Tapi ia tidak yakin ini rumah kontrakan Milly. Rumah ini terlalu bagus jika hanya untuk sekedar mengontrak seorang diri.
"Sayang, Mas janji akan menjelaskannya nanti. Sekarang kita turun dan masuk dulu. Setelah itu akan Mas jelaskan semuanya," jawab pak Adrian, saat bu Vania menanyakan tentang rumah yang di tempati Milly.
Dengan terpaksa bu Vania mengikuti pak Adrian turun. Berulang kali pak Adrian memanggil Milly. Tapi tak ada jawabannya. Kondisi rumah juga gelap gulita. Tidak ada satupun lampu yang terlihat hidup.
Pak Adrian terpaksa menggunakan kunci yang dimilikinya. Meski ia harus mendapat tatapan yang tidak mengenakan dari sang istri. Tapi pak Adrian berusaha untuk mengabaikannya. Fikirannya benar-benar sudah panik dan takut.
Bu Vania mengikuti kemanapun langkah sang suami. Hatinya sakit saat melihat suaminya begitu paham tentang rumah ini. Tapi ia juga heran, tak ada tanda-tanda Milly di sini.
Semua ruangan sudah diperiksa, tapi mereka tak menemukan Milly. Pak Adrian kembali menelpon Milly tapi ponselnya masih tidak aktif.
"Gimana Mas. Millynya kemana?" tanya bu Vania.
"Milly gak ada di rumah. Ponselnya juga tidak aktif," jawab pak Adrian putus asa.
Ia merasa bersalah karna sudah mengabaikan Milly. Harusnya ia menemani Milly yang sedang terpuruk karna kehilangan ibunya. Milly hanya sendiri. Pasti ia sangat kesepian karna tidak ada yang menemaninya.
"Terus sekarang gimana, Mas? Kita harus mencari Milly kemana?" tanya bu Vania yang juga mulai cemas.
"Gak tau sayang, Mas juga bingung mau mencari kemana?"
"Apa kita lapor polisi saja, Mas?" usul bu Vania.
Pak Adrian menolak. Lagi pula Milly belum lama hilangnya. Tapi ia juga tidak tau mau mencari kemana.
Tiba-tiba pak Adrian teringat Wati, ia menelpon Wati dan menanyakan apakah Milly bersamanya. Ternyata Milly juga tak ada di sana. Wati juga tidak tau Milly kemana.
Pak Adrian dan bu Vania memutuskan mencari Milly. Mereka menyusuri jalanan kota berharap bertemu dengan sosok Milly. Tapi sayang sudah dua jam mereka berkeliling. Mereka tidak menemukan apa-apa.
__ADS_1
Pak Adrian dan bu Vania memutuskan kembali ke rumah Milly. Mereka berharap Milly sekarang sudah di rumah. Tapi sayang, saat mereka sampai, kondisi rumah masih sama. Milly belum juga ada di rumah. Sekarang mereka bingung harus mencari kemana. Apa lagi sekarang sudah tengah malam. Mereka makin takut terjadi sesuatu pada Milly.