
Dean sudah siap untuk berangkat ke kantor bu Vania. Kali ini ia datang langsung ke sana untuk menyampaikan pesan papanya.
Saat sampai di kantor bu Vania, ia belum melihat mobilnya terparkir di sana. Saat di tanya pada karyawan, mereka mengatakan bu Vania belum datang. Dean pun memutuskan untuk menunggu di lobi kantor.
Sekitar setengah jam menunggu, bu Vania pun datang. Ia langsung menuju ruangannya. Dean yang melihat itu, bergegas mengikutinya.
"Assalamualaikum Bu Vania," ucap Dean saat bu Vania baru membuka pintu untuk masuk ke ruangannya.
Bu Vania melihat ke belakang, ia kaget saat Dean sudah berdiri di sana.
"Waalaikum salam," jawab bu Vania. Ia bergegas membuka pintu dan hendak menutupnya kembali. Tapi Dean langsung menahannya.
"Biarkan saya masuk, ada pesan dari papa yang harus saya sampaikan."
"Saya tidak mengenal papa kamu, jadi pergilah," ucap bu Vania lagi. Ia kembali mencoba mendorong pintu.
"Saya tidak akan pergi, ada pesan penting dari papa, yang akan saya sampaikan."
"Katakan pada papa kamu itu, kalau saya tidak mengenalnya. Jadi, jangan pernah datang dan mengganggu hidup saya."
Dean terdiam, dia memang belum sempat mengatakan kalau papanya sudah meninggal. Jadi wajar kalau bu Vania berkata seperti itu.
"Saya cuma minta waktu sebentar," ucap Dean memohon.
Bu Vania akhirnya membiarkan Dean masuk, karna sudah banyak karyawannya yang melihat perdebatan mereka. Bu Vania tidak mau pekerjaan karyawannya terganggu karna dirinya.
"Apa mau mu? Cepat katakan! saya tidak punya banyak waktu. Pekerjaan saya lebih penting dari pada membahas orang yang tidak saya kenal."
"Pertama, saya minta maaf atas nama pa ...."
"Jangan bertele-tela, saya tidak mengenal kalian, jadi tidak perlu minta maaf. Kalau tidak ada lagi, silahkan pergi dari sini, atau saya akan memanggil satpam untuk mengusirmu. Satu lagi, lebih baik batalkan saja kerja sama kita," ucap bu Vania memotong pembicaraan Dean.
Dean tidak mau membatalkan kerja sama. Ia harus profesional, membedakan urusan pribadi dengan pekerjaan.
"Pergilah, waktu mu sudah habis. Jangan datang lagi ke sini."
"Papa sudah meninggal," ucap Dean.
Bu Vania sangat kaget mendengarnya. Walaupun ia sudah lama menganggap papanya meninggal, tetep saja di lubuk hatinya yang terdalam ia sedih mendengar itu. Kenangan masa kecil yang sangat indah masih menyisakan sedikit cinta di hatinya.
Bohong kalau ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Tanpa di suruh air mata menetes di pipinya. Beruntung ia membelakangi Dean, jadi Dean tidak melihat ia menangis.
Meski begitu, Dean tau kalau bu Vania menangis, ia beberapa kali melihat tangan bu Vania bergerak ke arah matanya. Mungkin untuk menghapus air mata. Bahunya juga sedikit berguncang.
__ADS_1
Ada sedikit senang di hati Dean, itu artinya bu Vania masih peduli pada papa mereka.
"Saya bahkan sudah menggapnya meninggal, saat ia lebih memilih kamu dan perempuan itu. Jadi tidak ada bedanya, tidak perlu memberi tau saya."
Dean paham dengan perasaan bu Vania. Pasti akan sangat menyakitkan saat orang yang kita cintai lebih memilih pergi dengan orang lain. Karna itu juga yang Dean rasakan saat Milly lebih memilih orang lain dari pada dirinya.
"Saya minta maaf. Beri saya kesempatan untuk ...."
Bugh ... bugh ... bugh.
Karna saking seriusnya. Dean dan bu Vania tidak menyadari kalau pak Adrian masuk ke ruangan mereka.
Bugh ... bugh
Ini udah kedua kalinya pak Adrian memukul Dean. Dan kali ini Dean balas memukulnya.
"Berhenti!"
Dean langsung menghentikannya. Saat bu Vania membentak.
"Kamu ini kenapa sih Mas? Datang-datang langsung melakukan kekerasan. Sepertinya sekarang hobi mu bertambah menjadi pembuat kerusuhan," ucap bu Vania pada pak Adrian.
"Dan kamu, pergilah! Sebelum saya panggil satpam untuk mengusir mu," ucap bu Vania sambil menunjuk Dean.
Dean memilih pergi. Ia hanya mau bicara berdua dengan bu Vania. Dan sekarang ada pak Adrian juga di sana.
Emosi pak Adrian yang belum reda, bertambah bergejolak mendengar perkataan Dean. Ia ingin membalas Dean, tapi Dean terlanjur keluar dari ruangan, jika ia bertengkar di luar, sudah pasti akan memancing perhatian karyawan lain.
Dengan terpaksa ia kembali ke dalam ruangan.
"Kenapa kamu lakukan ini? Apa kamu ingin balas dendam pada, Mas?" tanya pak Adrian, saat sudah berada di dalam ruangan.
Sebenarnya, saat ini bu Vania sangat ingin menceritakan semuanya pada sang suami. Ia ingin menangis di pelukan suaminya untuk meringankan bebannya. Tapi penghianatan yang dilakukan sang suami membuatnya, enggan untuk bercerita.
"Jangan menyamakan orang lain dengan dirimu, Mas. Mau apa kamu ke sini? Kenapa tidak mendatangi istri muda mu itu?"
"Mas kesini ingin meminta maaf pada mu. Tapi ternyata Mas mendapati mu sedang berduaan dengan laki-laki itu lagi."
"Ceraikan Milly! setelah itu aku akan memaafkan mu. Masalah Dean kamu tidak perlu khawatir, kami tidak sedang bermain hati. Jadi berhentilah menduga-duga!" ucap bu Vania tegas.
"Aku pasti akan menceraikannya."
"Oh, ya. Kapan?"
__ADS_1
"Nanti, Mas akan cari waktu yang tepat."
"Kenapa? Apa bedanya sekarang atau nanti? Atau karna kamu masih ingin bebas berhubunganan dengannya. Munafik kamu, Mas."
Bu Vania kembali meraih tasnya yang tadi sudah diletakkannya di meja. Ia memilih ke luar dari sana. Karna ia yakin pak Adrian tidak akan pergi meski sudah di usir.
Pak Adrian mengikuti mobil bu Vania yang sudah meninggalkan parkiran kantor. Ia mengikuti dari belakang.
Perasaannya mulai tidak enak. Saat tau jalan yang dilalui sang istri adalah jalan menuju rumah sakit tempat ibu Milly dirawat.
Pak Adrian mencoba untuk mendahului mobil bu Vania, ia mencoba menghentikan mobil itu. Tapi jalanan yang rame membuat pak Adrian kesusahan untuk melakukannya.
Pak Adrian juga mencoba menghubungi sang istri, tapi bukannya diangkat, sekarang ponselnya dimatikan.
Pak Adrian makin kacau saat mobil bu Vania benar-benar memasuki area rumah sakit. Ia bahkan sudah turun dari mobil dan berjalan menuju ke dalam gedung rumah sakit.
Pak Adrian kesal, karna ia kesulitan untuk parkir, karna pengunjung rumah sakit yang rame. Sedangkan bu Vania datang bersama sopirnya. Jadi ia tidak perlu pusing untuk parkir.
Saat masuk ke dalam rumah sakit, ia tidak menemukan sosok istri di sana. Dengan berlari, pak Adrian langsung menuju ruangan Milly.
Benar saja, ternyata bu Vania sudah ada di sana. Ia tampak berdiri dihadapan Milly.
Dengan nafas yang ngos-ngosan pak Adrian mendekati istrinya.
"Sayang, kamu ngapain ke sini, ayo kita pulang. Jangan buat keributan di sini," ucap pak Adrian sambil menggandeng sang istri. Ia bermaksud mengajak istrinya pergi dari sana.
"Lepas!" teriak bu Vania. Sambil menjauh dari sang suami.
Milly kaget mendengar itu, ia yakin telah terjadi sesuatu, karna selama ini ia tidak pernah mendengar bu Vania seperti itu.
Sebenarnya bu Vania juga baru tiba di sana. Tadi ia harus bertanya dulu di ruang informasi, dimana ruanga ibu Milly dirawat.
"Kenapa Mas? Kenapa kamu sangat ketakutan melihat aku di sini? Emangnya aku tidak boleh membesuk ibu Milly?" tanya bu Vania pura-pura.
Pak Adrian gelagapan menjawab pertanyaan bu Vania, ternyata istrinya sedang berpura-pura. Padahal ia sangat yakin, kalau bu Vania datang karna hal lain.
"Kenapa diam saja? kamu juga Mil, saya dari tadi menelpon, tapi tidak kamu angkat. Kenapa? Saya lihat kamu juga ketakutan. Apa ada yang kamu sembunyikan dibelakang saya?"
"Tidak, sa ... saya."
"Cukup! Da ...."
"Mbak Milly, lihat ibu Mbak!" teriak Wati yang berada di samping ibu Milly.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana langsung memandang ke ibu Milly.
"Ibu! apa yang terjadi dengan ibu, Wat? Kenapa ibu seperti ini?" ucap Milly khawatir dan ketakutan.