MILLY

MILLY
bab 36. saya akan mempertahankan mu


__ADS_3

"Tidak perlu tau, dari mana saya mengetahuinya. Saya akan mengganggap itu tidak pernah terjadi, asalkan kamu berjanji tidak lagi berhubungan dengannya."


"Saya tidak bisa, dia telah banyak menolong saya. Untuk sekedar berteman saja apa salahnya? Lagi pula saya masih tau batasannya."


Milly terdiam sebentar sebelum melanjutkan ucapannya.


"Satu lagi andai saja waktu itu, dia tidak menolong saya. Mungkin saya tidak akan datang waktu pernikahan. Bahkan bisa saja saya saat ini hanya tinggal nama."


Milly berbicara sambil meneteskan air mata, tidak mudah baginya untuk membicarakan lagi peristiwa waktu itu.


Pak Adrian yang melihat Milly menangis, langsung menghapus air mata Milly.


"Jangan menangis, maaf waktu itu saya terlambat membantu mu."


Ternyata pak Adrian berfikir jika yang dimaksud Milly adalah waktu Dean menolong Milly dari ayahnya.


Milly pun kemudian menjelaskan apa yang dimaksudnya. Ia menceritakan kejadian saat ia hampir saja di begal.


Pak Adrian kaget mendengar pengakuan Milly. Ia menarik sang istri dalam pelukannya.


"Maaf ... maaf kan saya. Saya benar-benar menyesal. Saya tidak tau akan kejadian itu. Maaf jika membuat mu sedih karna kembali mengingatnya."


Milly masih Diam dalam pelukan pak Adrian. Ada rasa tenang saat ia berada di sana.


"Baiklah, saya tidak akan melarang mu berteman dengan nya, tapi saya tidak mau sampai kamu memiliki hubungan selain itu dengan nya."


Milly mengiyakan dalam hatinya.


"Bicaralah, agar saya tau, apa yang kamu inginkan. Saya melarang mu karna kamu adalah istri saya."


Milly pun melepaskan tubuhnya dari pelukan pak Adrian.


"Saya selalu ingat status dan batasan saya, saya hanya ingin Mas tidak terlalu mengekang saya, satu lagi, simpan saja ucapan cinta dan perhatian Mas. Jangan sampai nantinya, saya berat menerima perpisahan kita."


Pak Adrian kembali memeluk tubuh Milly, kali ini dia mencium pucuk kepala Milly.


"Jangan katakan itu lagi, saya akan mempertahankan mu."


Milly tak lagi menanggapi. Ia tidak tau harus percaya atau tidak. Biarlah di jalani saja, apa pun nantinya. Pasti itu yang terbaik.


"Apa kamu mau makan, saya tadi sudah meminta pak Toto untuk menyiapkan makanan untuk kita."


"Saya masih kenyang, apa kita sekarang bisa pulang, saya kepikiran ibu."


"Mmm ... kita pulang besok pagi ya, kamu bisa menelpon ibumu jika mencemaskannya."


"Bagaimana dengan bu Vania?"


"Vania ke rumah mamanya. Mamanya sakit, tadi saya yang antarkan ke sana."


"Saya juga harus bekerja besok pagi."


"Izin saja, lagi pula bukankah Vania memberimu cuti. Kenapa sudah bekerja?"


"Saya suntuk seharian di rumah."


"Ya sudah, sekarang kita makan, saya yakin kamu lapar. Tidak perlu berbohong, saya mendengar perut mu berbunyi, jangan biarkan anak kita kelaparan," ucap pak Adrian sambil tersenyum.

__ADS_1


Milly menjadi malu karna itu.


Pak Adrian menggandeng tangan Milly ke tempat meja makan.


Ternyata di atas meja makan, sudah terhidang bermacam jenis makanan. Ada makanan berkuah seperti soto, bakso dan yang lain nya. Terlihat juga makanan yang di goreng lengkap dengan sayuran dan buahnya juga.


Milly masih berdiri saja, saat pak Adrian sudah menarik kursi untuknya. Milly menatap heran pada pak Adrian.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka?"


"Kenapa makanannya banyak sekali? Apa kamu mengundang orang lain ke sini?"


"Tidak, saya sengaja memesan semua, biar kamu bisa makan banyak, makan apa saja yang kamu suka. Biar kamu dan calon anak kita sehat."


"Tapi tidak harus sebanyak ini, saya tidak akan sanggup makan semuanya sekarang?"


"Saya tau, kan bisa untuk besok pagi juga. Atau jaga-jaga seandainya nanti kamu lapar lagi."


"Baiklah, makasi banyak ya, Mas," ucap Milly tulus sambil tersenyum ke arah pak Adrian.


Pak Adrian yang tadi berdiri di samping Milly langaung mencium pucuk kepala Milly.


"Terus lah tersenyum seperti ini, karna saya sangat menyukainya," ucap pak Adrian.


Kemudian mereka makan bersama, sepanjang makan pak Adrian terus saja menambahkan makanan ke piring Milly. Entah karna lapar atau karna cuaca yang begitu dingin, Milly pun menurut saja, akhirnya ia berhenti saar merasakan perutnya benar-benar kenyang.


Selesai makan, pak Adrian melarang Milly untuk mencuci bekas makan mereka, karna besok ada bibik yang akan membereskan.


"Mau istirahat dimana?" Tanya pak Adrian saat mereka kembali ke ruangan tengah.


Kemudian pak Adrian ikut duduk si sofa bersama Milly. Milly menelpon Wati untuk menanyakan ibunya. Sedangkan pak Adrian asyik menonton TV.


Setelah ngobrol beberapa saat, Milly izin untuk sholat, pak Adrian menyuruh Milly sholat di kamar saja. Di sana ada mukena dan baju ganti untuk Milly juga.


Milly sedikit ragu untuk membuka lemari baju, bayangan baju-baju yang kekurangan bahan seperti waktu itu terbayang di fikiran Milly. Sehingga membuatnya ngeri sendiri.


Milly kembali menutup pintu lemari, biarlah malam ini dia tidur pakai baju yang di badan saja.


"Kenapa di tutup lagi, emangnya kamu tidak mau ganti baju."


Milly kaget, sehingga mukena yang di pegangnya terjatuh. Tiba-tiba pak Adrian sudah berdiri di belakangnya. Padahal tadi dia masih menonton.


"Mmmmm ... itu ..."


"Kamu takut pake baju seperti dulu. Jika kamu mau ada kok di dalam," ucap pak Adrian sambil mengedipkan matanya pada Milly.


Pipi Milly langsung merah karna malu. Ia hanya memggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan.


Pak Adrian menggeser tubuh Milly. Dia akan membuka pintu lemari, dengan cepat tangan Milly menahannya.


"Tidak usah, Mas. Saya pake baju ini saja. Lagi pula saya merasa kedinginan," ucap Milly mencari alasan agar terhindar dari baju itu.


"Tidak apa, biar nanti saya hangatkan," jawab pak Adrian lagi.


Kali ini Milly benar-benar malu, ia membuang muka saat pak Adrian mulai membuka lemari, kemudian mengambil baju yang ada di sana.


"Pakai lah, saya suka melihat mu memakai ini."

__ADS_1


Milly menggeleng sambil menutup matanya.


"Atau kamu mau saya bantu."


Dengan cepat Milly mengambil baju itu. Seketika ia merasa kesal, karna pak Adrian ternyata memberinya baju tidur berupa piama satin lengan panjang, berwarna merah maroon.


Milly melotot ke arah pak Adrian, sedangkan pak Adrian tertawa terbahak-bahak karna berhasil mengerjai Milly. Ia sangat gemas melihat reaksi Milly tadi.


Milly yang kesal, langsung menuju kamar mandi untuk mengganti baju, sekaligus berwudhu.


***


Selesai sholat, Milly melihat pak Adrian sedangmembaca buku, di sofa kamar.


Milly merasa heran, karna pak berapa kali ia bersama dengan pak Adrian, belum sekalipun ia melihat pak Adrian sholat.


Milly ingin bertanya sekarang, tapi ia belum berani, biarlah nanti ada saat nya.


Milly melipat mukenanya, kemudian meletakkan kembali ketempat semula.


Tanpa berbicara pada pak Adrian, Milly langsung merebahkan dirinya di atas kasur.


Tidak berapa lama, pak Adrian menyusul Milly.


"Apa yang akan Mas lakukan?" Tanya Milly saat pak Adrian mendekat.


"Saya hanya ingin mencium anak saya, apa tidak boleh?"


Milly yang terlanjur berfikir aneh-aneh, langsung menjadi malu.


"Boleh."


Setelah mencium perut Milly yang masih rata, pak Adrian kembali memeluk Milly.


Milly di buat deg-degan olehnya.


"Tidur lah, saya tidak akan macam-macam. Saya hanya ingin memeluk mu. Bukan karna saya tak ingin. Tapi saya memikirkan keadaanmu," ucap pak Adrian.


Milly membiarkan pak Adrian tidur sambil memeluknya. Tidak berapa lama, terdengar dengkuran halus dari mulut pria itu.


Cuaca yang dingin membuat Milly merasa sangat nyaman dalam pelukan pak Adrian. Ia pun akhirnya ikut terlelap.


***


Sepanjang malam Dean terus bolak balik memeriksa keadaan sang mama.


Ia memilih beristirahat di ruangan tamu, karna lebih dekat dengan kamar mamanya.


Tadi ia sudah mencoba bicara dengan mamanya. Mamanya menginginkan Dean, menikah dengan Vallen. Ketika Dean menolak, mamanya langsung menangis histeris.


Bagaimana pun Dean tidak tega. Jika dia mengikuti permintaan mamanya. Entah apa yang akan di katakan Dean pada Milly. Dean takut Milly akan kembali membencinya.


Meskipun Dean belum tau jawaban Milly, tapi sebenarnya, ia masih sangat ingin memperjuangkan Milly.


Tidak mau membohongi orang yang di cintainya. Besok Dean berencana untuk mengatakan sejujurnya pada Milly.


Untuk sementara ia akan mengiyakan permintaan mamanya. Dan akan terus mencari cara agar mamanya kembali mengerti dengan pilihannya.

__ADS_1


__ADS_2