
"Ka ... kamu. Sejak kapan kamu berdiri di sini?"
"Baru aja, Pak. Saya tadi mau memberikan pesanan Bapak, tapi Bapak udah duluan membuka pintu."
"Ya sudah, terima kasih."
Pak Adrian bernafas lega, karna Wati baru saja datang. Itu artinya Wati tidak mendengar apa yang tadi di bicarakannya dengan Milly.
Wati menatap kepergian pak Adrian. Dia merasa ada yang aneh. Tapi ia tidak berani bertanya pada Milly. Ia cukup tau diri dengan posisinya.
Di dalam kamar, Milly masih saja merasa sedih. Ia melihat makanan yang di bawa pak Adrian tadi, tidak sedikit pun hati Milly tergerak untuk membuka. Ia lebih memilih membarikan pada Wati.
***
Hampir seminggu istirahat di rumah, membuat Milly menjadi bosan. Apa lagi sekarang keadaannya sudah mulai membaik. Ia ingin kembali ke kantor untuk bekerja.
Tin ... tin ... tin.
Milly yang sedang siap-siap menghidupkan motornya, untuk berangkat bekerja. Di kejutkan oleh kedatangan Mobil Dean.
Dean meminta Milly ikut dengan mobilnya saja. Dia akan mengantarka Milly ke kantor. Sempat menolak, tapi akhirnya Milly ikut juga. Karna motornya tidak mau hidup. Mungkin karna sudah lama tidak di pakai.
Kemaren Milly memang memberi tau Dean, jika hari ini dia akan kembali bekerja. Tapi Milly tidak menyangka Dean akan menjemputnya.
Tidak butuh lama, mereka pun sampai di kantor Milly.
"Makasi Dean, harusnya kamu tidak perlu repot-repot mengantarkan ku. Bagaimana kalau kamu terlambat ke kantor?"
"Bukan kah sudah ku bilang, aku senang di repotkan oleh kamu. Lagi pula bagaimana kalau kamu tiba-tiba pusing saat mengendarai motor?"
"Mmmmm ... baik lah, terima kasih sudah mencemaskan ku. Sekarang aku mau masuk dulu."
"Dengan senang hati. O ya, Mil, nanti pulang nya aku jemput. Jangan pulang dulu, tunggu sampai aku datang," ucap Dean.
"Gak usah, aku-- ."
"Udah, turun gih, katanya mau masuk," kata Dean memotong ucapan Milly. Dia tidak memberi kesempatan Milly untuk berkata tidak mau.
"Kok ngusir sih," ucap Milly sambil memonyongkan bibir.
Itu membuat Dean gemas melihatnya.
"Kan kamunya mau kerja, atau mau ikut sama aku aja."
"Gak ah, aku turun ya, bye Dean."
Dean cepat turun membuka pintu mobil untuk Milly.
__ADS_1
Setelah Milly masuk kantor Dean pun langsung pergi dari sana.
Setiba di kantor, teman-teman Milly merasa senang melihat kedatangan Milly. Terutama Rara yang tidak henti-hentinya bercerita tentang apa aja yang terjdi di kantor selama Milly sakit.
Milly menjalani jam kerja dengan enjoy, jam istirahat siang Milly tidak pulang kerumah seperti biasanya. Karna tadi sudah menitipkan ibu pada Wati.
Hanya saja ia merasa pekerjaannya lebih ringan dari biasa. Ternyata bu Vania sengaja mengurangi pekerjaan Milly. Agar Milly tidak terlalu kecapekan.
Itu di katakan bu Vania, saat ia mengantarkan beberapa laporan ke ruangan bu Vania.
****
Akhirnya jam kerja selesai. Milly keluar dari kantor bersama dengan Rara. Rara menawarkan Milly untuk pulang bersama. Karna Rara tau Milly tidak membawa motor.
Milly baru aja akan menjawab tawaran Rara, letika ponsel di tasnya berdering.
Ternyata Dean yang menelpon. Dan mengatakan jika ia sudah menunggu Milly untuk pulang.
Milly memperhatikan sekitar. Benar saja mobil Dean sudah menunggu di sana. Terlihat juga Dean berdiri di luar mobil.
Dean melambaikan tangan ke arah Milly.
"Maaf, Ra. Aku gak bisa pulang sama kamu."
"Lalu, mau pulang pake apa?" tanya Rara.
Kemudian Rara beralih menatap Milly. Raut wajahnya seolah bertanya pada Milly.
"Teman aku, Ra. Dia mau nganterin aku pulang."
Rara senyum-senyum pada Milly.
"Kanapa senyum-senyum?"
"Gak apa-apa, cepat sana, jangan sampai dia menunggu lama. Ntar ada yang embat loh."
Rara berucap sambil sedikit mendorong Milly. Bukan apa-apa Rara berasa senang saat ada yang menjemput Milly. Karna selama ini ia tidak pernah melihat Milly dekat dengan laki-laki.
"Tapi ingat, kamu berhutang cerita sama aku," ucap Rara lagi. Ia berbicara dengan sedikit berteriak. Karna sudah berjalan meninggalkan Milly.
Milly langsung menemui Dean. Setelah berbincang sebentar Milly dan Dean naik ke mobil. Lalu meninggalkan area kantor.
Milly heran karna mobil Dean tidak mengarah ke kosnya. Dean mengatakan akan mengajak Milly sebentar ke suatu tempat.
Dean memberhentikan mobilnya di depan sebuah restoran yang lumayan besar, dari tampilannya, bisa di lihat jika ini restoran yang mahal.
Setelah memarkirkan mobilnya. Dean langsung turun untuk membukakan pintu untuk Milly.
__ADS_1
"Kita mau ngapain ke sini?"
"Udah turun dulu, ini kan restoran. Berarti kita mau makan," jawab Dean.
"Iya, tau. Tapi aku tadi udah makan, lagi pula kenapa harus makan di sini. Di tempat lain aja, rasanya juga enak dan harganya lebih murah."
"Kamu tenang aja. Kan aku yang ajak, jadi aku yang traktir."
"Tapi sayang uangnya, kan."
Dean tertawa mendengar jawaban Milly, sebenarnya harga makanan di tempat ini menurut Dean termasuk murah. Jangankan makanannya, restorannya pun sanggup Dean beli.
Akhirnya setelah di yakinkan Dean, Milly pun mau turun. Milly kaget, ternyata Dean sudah memesan tempat untuk mereka.
Dean mengajak Milly ke bagian rooftop restoran. Di sana sudah ada satu buah meja dan dua buah kursi yang di hias dengan cantik. Ada juga bunya mawar merah dan lilin yang menambah hiasan meja. Makanan dan Minuman pun sudah tertata di atasnya.
"Silahkan duduk, Mil."
Dean menarik kursi dan mempersilahkan Milly duduk.
"Ini kamu yang pesan."
"Mmmm ... tapi jika kamu tidak suka makanannya, biar aku pesankan lagi."
"Tidak usah, aku suka kok," ucap Milly canggung. Entah kenapa dari tadi Dean terus menatapnya. Itu membuat Milly sedikit kikuk.
"Ya sudah, kalau suka, langsung di makan aja, nanti makanannya keburu dingin."
Milly dan Dean pun makan sambil menikmati suasana sore, yang begitu indah di kota.
Karna merasa canggung, Milly kurang hati-hati makannya, sehingga membuatnya tersedak.
Milly bermaksud mengambil air minum, ternyata Dean juga bermaksud sama. Sehingga tangan Milly memegang tangan Dean yang sudah lebih dulu memegang gelas.
"Ini, makannya pelan-pelan, Mil," ucap Dean.
Milly pun menerima gelas, lalu meminumnya airnya. Ia makin merasa canggung, apa lagi Dean terus memperhatikannya sambil tersenyum.
Milly meletakkan gelas, kemudian Milly kaget, karna Dean menggenggam tangannya di atas Meja.
Lama Dean memperhatikan Milly, sekarang hati Milly menjadi deg-degan.
"Mil, sebenarnya aku ...."
Dean menjeda ucapannya, kemudian ia menatap Milly lebih dekat.
"Aku mencintai mu, Milly."
__ADS_1