MILLY

MILLY
bab 94. aku bisa hilangin rasa sakitnya


__ADS_3

Esok harinya, Dean berencana akan mengurus surat-surat sebagai persyaratan pernikahan mereka. Milly tidak ikut, karna mamanya Dean ingin mengajaknya ke salon.


"Milly, nanti ikut mama ya. Kita ke salon langganan mama. Mama sudah pesan perawatan full untuk kamu," kata mama Dean, saat itu mereka sedang sarapan.


"Apa harus, Tante?" tanya Milly ragu.


"Harus dong, kamu memang sudah cantik dan bersih. Tapi kamu butuh itu, biar makin glowing saat acara nanti. Biar semua orang kagum dan jatuh hati dengan kecantikan kamu," jawab mama Dean bersemangat.


"Mama gimana, sih? Kok biar semua orang jatuh hati. Gak boleh gitu loh ma," protes Dean.


"Hist ... Dean, maksud mama bukan begitu. Dasar ya Dean. Siap-siap loh Mil, sepertinya Dean sangat posesif," kata mama Dean bercanda.


"Posesif itu harus, Ma. Itu tandanya Dean benar-benar sayang. Tapi kan posesif pada tempatnya, bukan semuanya akan diposesifin. Mama jangan nakut-nakutin Milly," timpal Dean lagi.


"Iya-iya. Kamu jadi mau ngurus surat-surat kan, Nak. Biar mama sama Milly diantar sopir saja."


"Ya sudah, gak apa-apa. Nanti kalau siapnya cepat, Dean jemput. Kamu pergi sama mama gak apa-apa kan?" tanya Dean sama Milly.


Milly menganggukkan kepalanya.


Dimeja makan, pagi itu terlihat sangat hangat. Mereka sarapan sambil membicarakan banyak hal. Sesekali bercanda juga.


Saat sedang asyik berbincang, terdengar suara ribut-ribut dari luar. Seseorang berteriak, sambil menggedor pintu.


"Biar Milly aja yang buka, Tante," kata Milly. Ia langsung berdiri untuk membukakan pintu. Tapi Dean menahan pergelangan tangannya.


"Aku saja, kamu sama mama tetap di sini" kata Dean.


Feeling Dean mengatakan ada sesuatu yang tak beres. Ia pun bergegas melangkah ke arah pintu. Baru saja pintu terbuka, ia sudah kesal mengetahui siapa yang datang membuat keributan. Ternyata tebakannya tadi benar.


"Dean, kurang ajar kamu ya. Bisa-bisanya kamu mempermalukan Vallen. Apa maksud kamu melaporkannya ke polisi kemaren? Kamu mencari masalah dengan saya," kata mama Vallen marah.


"Jika sudah selesai bicara pergilah. Urus saja anak Anda, pastikan dia tidak mengganggu kami lagi," kata Dean.


"Enak saja kamu ngusir saya. Kamu harus bertanggung jawab."


Ternyata kemaren pihak butik memang melaporkan Vallen ke polisi. Mereka tidak mau kejadian itu terjadi lagi di tempat mereka.


Ternyata waktu itu, Vallen datang bersama supirnya. Hanya saja sopirnya tidak membantu, karna takut dihakimi masa. Ia baru melapor ke mama Vallen saat Vallen dibawa ke kantor polisi.


Mama Vallen mendatangi kantor polisi. Meski tau pihak butik yang melapor, tapi ia marah karna Vallen seperti itu akibat ingin merusak mobil Dean. Jadi menurutnya, Dean lah penyebab semuanya.


Saat diperiksa polisi, Vallen yang memang mengalami gangguan mental tidak bisa menjawab dengan baik. Mamanya memberi kesaksian dan bukti jika Vallen baru saja keluar dari RSJ dan masih dalam perawatan.


Akhirnya polisi membebaskannya.


Makanya pagi ini mama Vallen datang untuk melabrak Dean.


Di dalam rumah, karna penasaran dengan kejadian di luar. Milly dan mama Dean menyusulnya.


Baru saja sampai di luar, mama Vallen langsung berlari dan menampar pipi Milly. Karna kejadiannya begitu cepat, Dean tidak sempat menghentikannya.


Dean langsung menghampiri Milly. Ia juga mencengkram tangan mamanya Vallen.


"Jeng Sarah. Apa-apaan ini? Kenapa Jeng Sarah menampar Milly?"


"Itu belum seberapa jika dibanding dengan sakit yang dirasakan Vallen. Gara-gara kamu juga anak saya dibawa ke kantor polisi. Kalian memperlakukannya seperti penjahat."


"Jeng Sarah tidak bisa menyalahkan mereka. Itu tidak akan terjadi jika Vallen tidak berulah. Sadar lah Jeng, harusnya Jeng fokus untuk kesembuhan Vallen. Bukan terus mendukungnya melakukan kejahatan."


"Eh ... Jeng Santy tidak perlu mengajari saya. Saya tidak butuh nasehat, saya hanya ingin memberi pelajaran pada wanita licik ini."

__ADS_1


"Cukup!" teriak Dean.


Seketika mama Vallen terdiam karna kaget dengan bentakan Dean.


Laki-laki itu masih berdiri di depan Milly. Satu tangannya masih memegang tangan wanita yang baru saja ditampar mama Vallen itu.


"Jangan menguji saya Tante. Saya masih menghormati Tante, karna Tante lebih tua dari saya. Jangan pancing saya untuk berbuat yang tidak-tidak. Dengan datang kesini sambil marah-marah saja Tante sudah keterlaluan. Tante juga menampar Milly, sekarang Tante juga mengatainya. Sudah cukup, Tante, mulai saat ini jangan pernah datang dan mengganggu kami lagi. Atau saya juga akan melaporkan Tante ke polisi. Tante lupa di sini ada CCTV. Itu sudah cukup untuk membuktikan kejahatan Tante."


Mama Vallen takut mendengar ancaman Dean. Tapi ia tidak mau terlihat lemah.


"Kamu pikir saya takut, saya juga bisa melaporkan kalian. Kamu dengar itu wanita licik," kata mama Vallen lagi sambil menunjuk Milly.


Dean memegang tangan mama Vallen. Ia sedikit memelintirnya, sehingga membuat mama Vallen merintih kesakitan.


"Saya kasih tau ya, Tante. Dia ini calon istri saya. Saya tidak terima siapa pun berkata atau berlaku buruk dengannya. Sudah saya katakan dengan baik, tapi Tante malah menantang saya."


Milly berusaha menenangkan Dean. Dia meminta Dean untuk melepaskan tangan mama Vallen.


"Tidak Mil. Sepertinya tante ini harus diberi sedikit pelajaran."


"Tidak usah sok peduli kamu. Dasar licik."


"Akhhh."


Dean kembali memelintir tangan mama Vallen.


"Katakan, Tante mau pergi sendiri. Atau dijemput polisi?"


Dean mengeluarkan ponselnya. Ia tidak main-main. Ia akan menelpon polisi. Ia sudah tidak punya kesabaran lagi untuk menghadapi Vallen atau pun mamanya.


Belum sempat mama Vallen menjawab, sebuah mobil masuk ke halaman rumah Dean. Semua orang melihat siapa yang datang. Mama Vallen ketakutan saat melihat mobil siapa yang baru saja terparkir.


Mama Vallen memejamkan matanya saat pintu mobil dibuka, ia tidak lagi melihat ke sana. Ia membelakangi mobil itu.


"Lepaskan," kata mama Vallen.


"Dean," kata Milly.


Milly penasaran siapa orang itu? Sedangkan Dean sudah kenal dengan orang itu. Ia cukup kaget melihat kedatanganya. Entah bagaimana ia bisa berada di sini sekarang.


"Itu papa Vallen," kata mama Dean berbisik pada Milly. Ia baru saja keluar dari dalam rumah. Tadi ia masuk sebentar ke dalam.


"Hallo."


"Hallo, maaf mengganggu. Saya hanya ingin memberi tahu. Jeng Sarah sedang di rumah saya. Dia datang membuat keributan dan menyerang calon menantu saya. Tolong jemput dia, atau anak saya akan kehilangan kesabarannya."


"Baiklah, kebetulan saya lagi di jalan akan ke kantor."


"Ok."


Benar saja, tidak butuh lama, setelah mama Dean menelpon, papanya Vallen datang. Mama Dean sengaja melakukan itu, karna hanya itu satu-satunya cara agar mamanya Vallen pergi.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


"Ada apa ini? Kenapa mama disini?" tanya papa Vallen. Ia melihat Dean yang sedang memegang tangan istrinya.


"Maaf, Pak. Sebelumnya saya sudah berulang kali memperingatkan dan meminta baik-baik pada istri Bapak untuk tidak mengganggu keluarga saya lagi. Tapi nyatanya istri Bapak menantang. Ia bahkan sudah lancang menampar calon istri saya," kata Dean.


Dean melepaskan pegangan tangannya, ia beralih ke dekat Milly dan mamanya.

__ADS_1


"Maaf, Nak Dean, Jeng Santy, saya tidak tau istri saya akan senekat ini. Saya akan membawanya pulang."


"Baik lah, Pak. Tapi saya minta tolong, pastikan anak dan istri Bapak tidak lagi mengganggu keluarga saya. Setelah ini, jika ada diantara mereka yang tersakiti oleh anak dan istri Bapak, mohon maaf, saya akan menempuh jalur hukum, saya punya banyak barang bukti untuk itu," kata Dean serius.


"Baik, Nak."


"Satu lagi, bilang pada anak dan istri Bapak, saya yang memilih Milly. Bahkan semenjak saya masih sekolah. Jika saya menikah dengannya, itu adalah murni karna saya mencintai dan menginginkannya.


Jadi tidak ada istilahnya Milly merebut saya dari anak Bapak. Karna dari awal saya memang tak punya rasa sedikitpun padanya. Saya harap dia bisa menerima itu agar bisa menjalani kehidupannya di masa datang. Cukup kejadian percobaan perusakan mobil kemaren yang terakhir. Saya harap penangkapan oleh polisi kemaren bisa menyadarkan Vallen."


"Polisi? Vallen?" tanya papa Vallen keheranan.


Sedangkan mama Vallen menutup mata sambil menggigit bibirnya.


Dean mengangguk. Setelah itu papa Vallen melihat pada sang istri. Namun sang istri berusaha menghindari tatapannya.


"Pulang!" bentak papa Vallen pada sang istri.


Papa Vallen langsung berbalik menuju mobilnya. Mama Vallen pun menyusul dengan cepat. Ia langsung naik ke atas mobil sang suami. Sangat jelas kemarahan terlihat di wajah papa Vallen. Bahkan ia pergi tanpa pamit.


Dari reaksi papa Vallen tadi, sepertinya ia tidak tahu soal Vallen yang dilaporkan ke kantor polisi.


"Mama masuk dulu. Kalian istirahatlah."


"Baik, Ma. Tapi sepertinya mama dan Milly besok saja ke salonnya. Biar besok Dean yang antar."


"Mama juga berfikir begitu. Mama mau sekalian kabarin teman mama dulu."


Setelah itu mama Dean langsung masuk ke dalam rumah. Sedangkan Dean meminta Milly untuk duduk di kursi teras.


"Apa masih sakit?"


"Tidak."


"Jangan bohong. Dari tadi kamu terus memegangnya."


"Hanya sedikit."


"Itu artinya masih sakit. Dikompres ya, biar sakitnya hilang," kata Dean sambil berdiri. Tapi Milly menahannya.


"Tidak perlu. Aku baik-baik saja," kata Milly sambil tersenyum.


"Yakin?"


Dean kembali mendudukkan tubuhnya di kursi.


"Iya."


"Tapi jika masih sakit, aku bisa hilangin sakitnya loh, Mil. Sungguh," kata Dean menggoda Milly.


Milly manyun, ia tau Dean hanya menggoda saja. Tapi tetap saja, ia tersipu karenanya.


"Bercanda, Mil. Aku sudah terlatih sabar loh. Sudah bertahun-tahun malah," kata Dean lagi sambil tersenyum, tapi setelah itu, wajahnya kembali berubah serius.


"Tapi untuk yang tadi, aku tidak bisa sabar lagi. Ini yang terakhir untuk siapa pun menyakiti mu. Sudah berapa kali mereka menamparmu. Tidak akan aku biarkan mereka melakukannya lagi."


Milly menggenggam tangan Dean yang diletakkan di atas meja. Ia berusaha menenangkan lelaki itu.


Dean melihat pada Milly, ia melihat wanita yang dicintainya itu tersenyum. Jujur saja hatinya langsung menghangat. Ia terus memandang wajah cantik itu. Kemudian Dean meletakkan telapak tangannya satu lagi, diatas tangan Milly. Sesaat kemudian mereka saling pandang dan tersenyum.


Dean menyandarkan badannya ke sandaran kursi. Tangannya masih di atas meja. Ia memejamkan matanya sebentar. Kemudian kembali membukanya. Ia menarik tangan Milly. Lalu menempelkan ke pipinya. Ia memandang mata indah Milly dengan sangat dalam.

__ADS_1


"Makasi, Milly."


__ADS_2