
"Hai Mas ... akhirnya kamu datang juga," bu Vania berkata sambil menghampiri pria itu.
"Iya. Tadi mas langsung berangkat, saat kamu telpon dan bilang di rumah sakit, mas takut kamu kenapa-kenapa. Apalagi setelah itu ponsel kamu mati."
"Batrai HP ku habis, Mas."
"Ya sudah, sekarang mas sudah ada di sini. Emangnya ada apa?"
"Loh Mil. Kamu di sini juga, kamu sakit? sakit apa?" tanya pak Adrian lagi. Setelah melihat ke arah Milly yang berbaring di ranjang rumah sakit.
Tadi pak Adrian tidak terlalu melihat wajah Milly, karna terhalang tubuh bu Vania.
"Gak mas, Milly gak sakit apa-apa, Milly ...."
Bu Vania menggantung ucapannya. Tiba-tiba saja keinginannya yang tadi menggebu-gebu ingin memberitahu kehamilan Milly pada suaminya. Kini menghilang begitu saja.
Ia tadi langsung menyuruh suaminya ke rumah sakit, saat dokter mengatakan bahwa Milly positif hamil.
Ada yang perih di hati bu Vania saat akan mengabarkan kehamilan Milly pada suaminya. Semestinya ia mengabarkan kehamilannya sendiri, bukan nya mengabarkan kehamilan Milly, yang notabene nya sekarang adalah madu dari bu Vania sendiri. Meski semua ini terjadi karna keinginannya.
Setelah menarik nafas panjang dan menenangkan hatinya sendiri. Bu Vania melanjutkan perkataannya.
"Milly hamil, Mas," kata bu Vania cepat.
"Hamil" pak Adrian mengulangi perkataan bu Vania. Sudut matanya melirik ke arah Milly.
"Iya, Mas, Milly sedang hamil anak kamu. Selamat ya, Mas, sebentar lagi kamu akan punya anak dan akan menjadi ayah," kata Bu Vania lagi.
Meski bibirnya berkata sambil tersenyum. Tapi di wajahnya terlihat raut kesedihan.
Dan itu di tangkap dengan jelas oleh pak Adrian.
Pak Adrian lalu memegang ke dua tangan sang istri.
"Bukan hanya anak mas, Sayang. Itu anak kamu juga, anak kita," kata pak Adrian.
Pak Adrian sengaja menekankan kata kita, sambil kembali melirik Milly. Ia ingin melihat ekspresi Milly. Tapi yang di lirik ternyata sedang melihat ke arah lain.
"Kita akan jadi orang tua untuk anak kita nanti. Bukankah ini yang kamu inginkan? lihatlah, Allah sudah mengabulkan keinginan mu, jadi kamu tidak perlu cemas lagi," kata pak Adrian menguatkan istrinya.
Bu Vania terharu dengan perkataan suaminya. Pak adrian melakukan ini semua benar-benar karna ingin memperjuangkan rumah tangga mereka. Bu vania berfikir semua berjalan sesuai dengan yang di inginkannya. Ia tidak tau saja apa yang terjadi di belakangnya.
"Terima kasih, Mas, kamu sudah mau berkorban untuk keluarga kita.
Setelah ini kamu tidak perlu berhubungan lagi dengan Milly. Tugas mu sudah selesai. Tidak perlu melakukan apa pun lagi. Kita tinggal menunggu anak ini lahir, setelah itu kamu bisa menceraikan Milly."
Bu Vania langsung memeluk suaminya setelah mengatakan itu. Sekarang hatinya sudah berubah senang kembali. Bayangan saat ibu mertuanya, akan membawakan calon istri untuk sang suami, tidak akan mengganggu fikirannya lagi.
Kemudian Bu Vania tersenyum ke arah Milly.
Dengan sedikit memaksa, Milly tetap membalas senyuman itu.
__ADS_1
Meski Milly sadar dan tau betul ini yang akan terjadi. Tetap saja hatinya terasa sakit mendengar pak Adrian mengatakan pada bu Vania bahwa mereka akan menjadi orang tua untuk anak yang di kandungnya.
"Bu ...."
"Ya Milly, apa kamu butuh sesuatu?"
"Tidak. Hanya saja, saya ingin pulang ke rumah."
"Tidak bisa Milly, kamu harus tinggal di sini dulu, sampai kondisi mu benar-benar pulih."
"Saya sudah merasa baikkan, Bu. Jadi saya istirahat di rumah saja."
"Saya tidak mau sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Saya sudah sangat mengharapkan anak itu. Jangan cemaskan biaya perawatan mu. Saya akan menanggung semuanya," tegas bu Vania.
"Bukan begitu, Bu, ibu saya hanya sendiri di rumah. Saya berjanji akan menjaga anak ini dengan baik. Ibu tidak perlu mencemaskan itu."
"Baik lah, saya akan bertanya dulu, sama dokter yang menangani mu tadi. Jika dia mengizinkan, kamu boleh pulang."
"Makasi, Bu," jawab Milly dan di balas dengan anggukan oleh bu Vania.
"Oh ya, Mas, aku minta tolong ya. Kamu jagain Milly dulu. Takut jika di tinggal sendiri, nanti gak ada yang bantu jika dia butuh seauatu."
"Gak usah, Bu, saya tidak apa-apa di tinggal sendirian," tolak Milly.
"Tidak apa-apa Mil, pak Adrian gak keberatan kok, saya cuma sebentar. Iya kan mas."
"Iya sayang, gak apa-apa," kata Pak Adrian pada Istrinya.
Bu Vania kemudian keluar untuk pergi menemui dokter. Setelah memastikan istrinya pergi, pak Adrian langsung menghampiri Milly.
"Jangan mulai lagi, kenapa memanggil saya bapak?"
"Apa yang akan dikatakan Bu Vania saat mendengar saya memanggi Bapak dengan kata Mas," jawab Milly.
"Dia sedang keluar, jadi tidak akan mendengarnya."
Milly memilih diam saja, dia malas berdebat.
"Kenapa diam saja?" Tanya pak Adrian lagi.
"Saya sedang tidak punya tenaga untuk berdebat," kata Milly lalu membuang pandangan ke arah lain.
"Baiklah. Saya minta maaf. Saya ingin memastikan kondisi mu," kata pak Adrian lagi.
"Saya baik-baik saja, tidak ada yang perlu di cemaskan. Saya akan menjaga anak Bapak dengan baik," kata milly. Ia masih tidak mau menatap wajah pak Adrian.
Pak Adrian yang melihat Milly seperti itu langsung mendaratkan ciuman di bibir Milly. Milly sangat kaget, karna tidak percaya, pak Adrian akan melakukan semua itu, di kondisi seperti ini.
Milly langsung menoleh ke arah pintu. Takut jika Bu Vania melihatnya.
Belum habis keterkejutan Milly karna pak Adrian menciumnya. Kali ini dia di buat kaget karna pak Adrian tiba-tiba saja mencium perut nya yang datar.
__ADS_1
Dengan sedikit keras Milly reflek mendorong kepala Adrian. Sehingga membuat tubuh pak Adrian sedikit menjauh darinya.
"Apa yang Bapak lakukan?" tanya Milly dengan sedikit keras.
"Tidak adil rasanya, hanya mencium ibunya. Saya tidak mau nanti anak saya cemburu, jadi saya menciumnya juga," jawab pak Adrian dengan tenang.
Milly ingin tertawa mendengar itu. Tapi ia gegas menutup Mulutnya dengan tangan. Milly tidak tau, apa pak Adrian melakukan itu karna modus atau benar-benar tidak tau.
"Jangan modus, dia belum bisa melihat dan mendengar, lagi pula setahu saya di usia ini dia masih berbentuk gumpalan darah."
Milly mengetahui itu saat dia menemani Rara periksa kandungan ke rumah sakit. Kebetulan saat itu suaminya Rara sedang di luar kota.
"Oh ya, saya tidak tau itu. Anggap saja itu bonus dan ucapan terima kasih saya. karna sudah mengandung anak saya," ucap pak Adrian tulus.
"Itu memang tugas saya," kata Milly lagi
Pintu di buka dari luar. Terlihat bu Vania berjalan ke arah mereka.
"Ada apa, Mas? apa Milly butuh sesuatu?" tanya bu Vania, melihat Pak Adrian yang tadinya duduk di kursi sekarang sudah berdiri di samping ranjang Milly.
"Tidak, Mas tadi cuma ngecek infusnya," jawab pak Adrian berbohong.
Milly lega mendengar jawaban pak Adrian, bu Vania juga tidak terlihat curiga.
Bu vania pun mengatakan apa yang di katakan dokter. Milly di perbolehkan pulang, dia harus banyak istirahat dan tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat.
Karna usia kandungannya yang masih sangat muda.
Bu Vania pun memberinya cuti sampai kondisi Milly kembali pulih.
"Saya akan memesankan taxi online untuk kamu pulang. Karna saya ada janji dengan seseorang untuk membicarakan perkembangan produk baru kita. Takut tidak terburu, jika harus mengantarkan kamu dulu. Kamu tidak apa-apa kan."
"Tidak apa-apa bu, saya akan naik taxi ke kantor setelah itu pulang naik motor saya."
"Tidak usah. Nanti motor sama tas kamu biar diantar sama satpam kantor. Saya juga sudah menyuruh Rara untuk menyerahkan tas mu padanya."
"Biar mas aja yang antar, Sayang. Kerjaan mas di kantor juga udah selesai."
"Gak usah Pak. Kebetulan teman saya ngabarin, dia mau kesini. Biar saya pulang sama dia aja."
Tadi saat bu Vania bicara. Ponsel di saku Milly berbunyi. Ternyata Dean yang kirim pesan. Dia ngajak Milly ketemu di kafe tempat pertama kali mereka bertemu lagi.
Milly mengatakan tidak bisa karna lagi di rumah sakit. Dean memaksa untuk datang, meski Milly mengatakan dia tidak apa-apa dan akan segera pulang.
Milly pun memberikan alamat rumah sakitnya.
Tadi Milly tidak berencana akan pulang bersama Dean. Tapi karna pak Adrian menawarkan untuk mengantar nya pulang. Milly terpaksa berbohong. Ia tak ingin membuat bu Vania kefikiran atau curiga.
Meski Milly harus mendapatkan tatapan tajam dari pak Adrian karna penolakan itu. Milly mencoba untuk cuek saja.
"Baiklah. Sekarang kamu tolong urus administrasinya dulu ya, Mas. Sekalian ambil obatnya," pinta bu Vania.
__ADS_1
Pak Adrian pun keluar untuk melakukan yang di minta istrinya.
Pintu di ketuk dari luar. Bu Vania yang membukakannya. Setelah pintu terbuka, untuk sesaat ke dua orang yang ada di sana sama-sama terdiam dan mematung di tempat.