MILLY

MILLY
bab 73. bayi Milly


__ADS_3

"Tunggu dulu, pasien mau dibawa kemana?" tanya pak Adrian, saat patugas rumah sakit mendorong tempat tidur Milly keluar. Sedangkan tadi ia belum sempat masuk untuk melihat Milly. Karna Dean yang terlalu lama di dalam.


"Pasien akan dibawa ke ruang operasi pak. Operasi akan segera dilakukan," jawab petugas itu.


Pak Adrian pun membiarkan petugas itu melanjutkan pekerjaannya. Bu Vania dan Wati mengikuti mereka sampai ke depan ruangan operasi.


"Ehh kamu, ngapain aja kamu di dalam? Apa yang kamu lakukan pada Milly? Saya harap kamu tidak lupa kalau Milly itu istri saya. Jadi jangan seenaknya saja mendekati istri saya. Jangan mentang-mentang kamu adik Vania, kamu bebas melakukan apapun. Saya tidak peduli, mau kamu adik Vania atau siapa, jangan lagi dekati Milly," kata pak Adrian. Ia sengaja menahan Dean, karna kalau dekat bu Vania ia tidak mungkin berkata seperti itu.


"Ha ... haha ... ha."


Dean tertawa mencemooh pak Adrian. Ia bahkan sama sekali tidak gentar dengan ancaman suami kakaknya itu.


"Dengar pak Adrian yang tidak terhormat. Ternyata Anda sudah tau kalau saya ini adik istri Anda. Tapi itu tidak ada pengaruhnya untuk saya. Bahkan saya tidak bermimpi punya kakak ipar seperti Anda. Perlu anda tau, saya tidak takut dengan ancaman Anda. Berdoalah, agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Milly. Karna kalau itu terjadi. Saya tidak akan membiarkan Anda hidup tenang," kata Dean tepat di depan wajah pak Adrian. Bahkan Dean juga menunjuk Pak Adrian dengan telunjuknya.


Dean melangkah ingin meninggalkan pak Adrian. Baru sekali kakinya melangkah, Dean berbalik ke arah pak Adrian yang masih Diam.


"Dengar, Milly tidak pantas mendapatkan suami pengecut seperti Anda," ucap Dean lagi. Ia sengaja menekankan kata pengecut, sehingga emosi pak Adrian kembali terpancing.


Ia melayangkan tangannya ingin meninju Dean.


"Mas Adrian, jangan," teriak bu Vania dari kajauhan. Tadi saat mengetahui suaminya dan Dean tidak mengikutinya ke ruangan operasi, bu Vania memutuskan kembali ke tempat tadi. Ia takut pak Adrian dan Dean membuat keributan lagi.


Dan ternyata kecemasan bu Vania benar adanya. Beruntung ia datang di waktu yang cepat. Kalau tidak pasti akan terjadi lagi keributan.


"Mas, kamu kenapa lagi? Ini rumah sakit."


"Kamu tanya sama lelaki yang katanya adik kamu itu. Dia yang memulai duluan," jawab pak Adrian.


Bu Vania beralih menatap Dean, sedangkan Dean hanya tertawa mencemooh pak Adrian.


Dean akan melangkah meninggalkan mereka, tapi bu Vania menahan tangannya.


"Dean, Mbak tau kamu sangat mencemaskan Milly. Tapi Mbak mohon, tolong kendalikan dirimu. Milly sedang berjuang di dalam sana. Apa kamu akan terua bertengkar di sini," ucap bu Vania menenangkan Dean.


Pak Adrian kesal mendengar perkataan istrinya. Ia tidak terima istrinya yang seolah mendukung Dean.


"Apa operasinya sudah dilakukan?" tanya Dean. Ia mulai melunak mendengar perkataan bu Vania.


"Belum, mungkin sebentar lagi. Tapi Milly sudah di dalam," jawab bu Vania.

__ADS_1


Dean menganggukkan kepalanya. Lalu pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.


Bu Vania lalu mengajak pak Adrian mengikuti Dean ke ruangan operasi. Baru saja mereka sampai lampu depan ruangan operasi langsung menyala, pertanda operasi sudah di mulai.


Dean tertunduk di depan ruangan itu. Melihat kedatangan pak Adrian ia langsung berdiri. Ia malas melihat pak Adrian, hatinya akan semakin tidak baik-baik saja jika berdekatan dengan suami kakaknya itu.


"Wat, saya titip Milly, kabari saya jika operasinya sudah selesai. jika ada apa-apa cepat telpon saya, " kata Dean, lalu pergi dari sana.


"Iya, Mas," jawab Wati.


Bu Vania tidak bertanya atau pun menahan Dean. Ia membiarkan Dean pergi


Itu lebih baik, dari pada nanti mereka bertengkar lagi.


Bu Vania duduk di samping Wati. Ia ikut tegang menunggu Milly yang sedang di operasi. Ia terus berdoa agar bayi Milly selamat. Ia memikirkan nasib rumah tangganya yang sangat bergantung pada bayi itu.


Pak Adrian juga ikut duduk setelah di suruh bu Vania. Bu Vania kesal melihat pak Adrian yang dari tadi mondar mandir terus di depan pintu ruangan operasi.


Kalau boleh jujur, di lubuk hatinya yang terdalam, hatinya sakit, melihat suaminya begitu mencemaskan Milly.


Bu Vania mencoba untuk tidak terlalu mempedulikan itu. Ia hanya berharap bayi Milly cepat lahir dengan selamat.


Setelah itu bayi Milly akan menjadi miliknya. Ia juga akan meminta pak Adrian menceraikan Milly. Karna pak Adrian sudah menyetujuinya. Setelah itu ia tidak memerlukan Milly lagi.


***


Ya Allah, sang pemilik kehidupan. Biarkan bayi Milly lahir dengan selamat. Agar Milly bisa melajutkan hidupnya bersama buah hatinya. Karna hamba yakin, bayi itu nantinya yang akan menjadi penghibur Milly.


Ya Allah, besok hamba akan pergi jauh, hamba menitipkan Milly pada Engkau. Tolong lindungi Milly ya Allah. Jangan biarkan hal-hal buruk menimpanya lagi. Agar hampa bisa meninggalkannya dengan tenang.


Biarkan Milly bahagia dengan pilihannya sekarang, hamba mengiklaskannya, asalkan dia bahagia.


Ammiin ... amin ya rabbal alamin."


Seorang laki-laki begitu khusuk berdoa di musholla rumah sakit. Ia bersujud dan meminta pada sang pemilik kehidupan. Mengiba agar sang pemilik kehidupan, memberi kehidupan yang baik untuk sesorang yang dicintainya. Seseorang yang nanti akan ditinggalkannya.


Sedih, jangan ditanya betapa sedihnya Dean. Dia harus meninggalkan Milly dengen kondisi Milly yang sedang tidak baik-baik saja.


Bertahan disini, itu harusnya menjadi pilihan terbaik, tapi ia sadar Milly sudah milik orang. Ia tidak mau memutus hubungan suci pernikahan orang lain. Mungkin akan berbeda jika Milly sendiri yang memintanya.

__ADS_1


Dean merasa waktu begitu lambat berjalan. Ia terus memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia bertahan di musholla agar ia bisa terus berdoa untuk Milly. Saat ini, musholla adalah tempat terbaik bagi Dean untuk menenangkan hatinya.


***


"Mas, kenapa operasinya sangat lama? Apa bayi itu akan selamat. Aku sangat takut jika terjadi sesuatu pada bayi itu. Aku sudah berkorban banyak. Jangan sampai pengorbanan ku terbuang sia-sia. Kalau tau akhirnya akan begini, dulu aku tidak akan meminta bantuan Milly," kata bu Vania pada suaminya.


Wati yang duduk di sebelah bu Vania dapat dengan jelas mendengar bu Vania berbicara. Ia menegur bu Vania yang menurutnya seperti tidak punya empati pada Milly.


"Tolong Bu, berhenti lah bicara omong kosong. Omongan Anda seperti orang tidak punya hati. Anda hanya memikirkan sesuatu yang menguntungkan Anda. Bahkan anda lupa kalau sekarang Milly sedang bertaruh nyawa di dalam," ucap Wati. Entah dapat keberanian dari mana ia berbicara seperti itu.


Satu yang disadari Wati. Ia muak mendengar dari tadi bu Vania tidak berhenti mengoceh. Ia hanya mencemaskan bayi Milly dan uangnya yang sudah dikorbankannya. Tanpa sedikitpun mengingat pengorbanan Milly.


"Ehh kamu, saya tidak tau siapa kamu. Kamu tidak tau apa-apa. Jangan sok berkomentar. Kalau kamu tidak tau yang sebenarnya. Jika kamu berada di posisi saya. Kamu pasti akan berkata seperti itu juga."


"Sayang, sudah! Jangan dilanjutkan, kita berdoa saja. Semoga semuanya baik-baik saja," kata pak Adrian menenangkan sang istri.


Wati geleng-geleng kepala melihat bu Vania dan pak Adrian. Wati bahkan tidak percaya pak Adrian tidak menegur istrinya. Ia hanya menenangkan saja.


Wati pun berdiri, ia pindah tempat duduk, menjauhi bu Vania dan pak Adrian. Lama bertahan di sana, hanya akan membuatnya semakin muak mendengar perkataan bu Vania.


***


"Hallo Wat, apa operasinya sudah selesai?"


"Belum Mas, tapi sepertinya bayinya sudah lahir," jawab Wati. Ia langsung menelpon Dean, saat mendengar tangisan bayi dari dalam ruangan operasi Milly.


"Syukurlah. Bagaimana dengan Milly, apa dia baik-baik saja?"


"Saya belum tau Mas. Kita tunggu sampai operasinya selesai dulu."


"Baiklah, terima kasih. Sebentar lagi saya kesana. Tolong terus kabari saya, jika ada sesuatu," kata Dean.


Setelah panggilan selesai. Dean langsung melaksanakan sholat sunat. Itu bentuk syukur Dean, karna Allah sudah mengabulkan doanya. Bayi Milly sudah lahir dengan selamat.


Ia kembali berdoa, semoga setelah ini ia akan mendengar kabar baik lagi tentang Milly.


***


"Mas, itu suara bayi, bayinya sudah lahir Mas. Aku sudah tidak sabar," ucap bu Vania gembira. Ia bahkan berdiri dari duduknya, lalu mendekati pintu ruangan operasi.

__ADS_1


Wati yang melihat itu memandangnya tidak suka. Bukannya Wati tidak senang bayi Milly sudah lahir. Tapi ia muak melihat respon bu Vania yang berlebihan. Sedangkan ia seperti tidak mencemaskan Milly sedikitpun.


Mendapat pandanga tidak enak dari Wati, bu Vania langsung mengalihkan pandangan. Ia cuek saja. Yang penting bayi Milly sudah lahir. Itu sudah membuatnya senang.


__ADS_2