MILLY

MILLY
bab 33. aku tidak ...


__ADS_3

Vallen uring-uringan di kamarnya. Kemaren saat ia ke rumah Dean. Tante Santy, mamanya Dean menceritakan tentang Dean yang meminta izin untuk menikahi Milly.


Vallen sebenarnya tidak begitu kaget, karna ia sudah memperkirakan nya. Tapi tetap saja Vallen menjadi marah karna itu.


"Kalau Tante setuju, aku gimana dong, Tan. Bukannya Tante udah janji, untuk ngebujuk mas Dean. Sekarang kok jadi begini."


"Kamu tenang aja, Dean baru berusaha untuk mendapatkan cinta Milly, mereka belum punya hubungan apa-apa. Tante tidak yakin, Dean akan mendapatkan Milly. Jika itu terjadi, Dean sudah berjanji akan menerima kamu sebagai istrinya."


"Loh ... kok bisa gitu sih, Tan," ucap Vallen heran.


"Karna Dean itu udah dari lama mencintai Milly. Semenjak mereka sekolah. Tapi Milly tidak pernah mau menerima Dean. Tante hanya memberi Dean satu kesempatan, jika dia gagal, maka ia harus mengikuti kemauan tante."


Vallen sedikit kaget mendengar penjelasan tante Santy. Selama ini dia berfikir Dean pernah memiliki hubungan masa lalu dengan Milly. Melihat bagaimana Dean memperlakukan Milly pada malam itu.


"Tapi Tante, bagaimana kalau Milly mau? Apa lagi melihat mas Dean sekarang yang ganteng dan juga mapan," ucap Vallen cemas.


Mama Dean diam mendapat pertanyaan seperti itu dari Vallen. Apa pun bisa saja terjadi. Lalu apa yang akan dia katakan nantinya pada Vallen dan keluarga.


Terutama Sarah, sang sahabat, pasti Sarah akan marah dan memusuhinya. Bisa juga Sarah akan mempengaruhi teman-teman arisan lain untuk menjauhinya.


Jika itu terjadi sudah di pastikan, ia tidak akan punya teman lagi.


"Gimana, Tan? aku gak mau kehilangan mas Dean. Tante tau kan, aku tuh suka banget sama mas Dean."


"Iya, tante tau. Sepertinya sekarang kita harus cari cara, agar Milly tidak mau sama Dean."


"Iya juga sih, Tan. Tapi gimana caranya?"


Mama Dean dan Vallen tampak sedang berfikir. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di fikiran Vallen.


"Bagaimana kalau aku bilang aja sama Milly, bahwa aku ini calonnya mas Dean. Mungkin nanti dia akan mundur sendiri."


"Boleh juga, tapi kamu harus pandai-pandai. Jangan sampai Dean tau dan tambah marah sama kamu."


"Tante tenang saja, aku akan memikirkannya."


"Baiklah, tante selalu mendukung mu, semoga saja ide kita berhasil."


****


Sepulangnya dari rumah Dean, Vallen menceritakan semuanya pada sang mama.


Mamanya Vallen, menyuruh Vallen untuk langsung berbicara pada Milly.


"Buat dia percaya jika kamu adalan calon Dean, lalu tekan dia dengan cara mempermainkan emosinya, buat dia simpati pada mu, maka dia akan menjauhi Dean."


Itu yang di ajarkan mama Vallen padanya saat itu.


***


Tidak mau menunggu lama, pagi hari Vallen langsung menuju rumah Milly. Ia akan menjalankan misinya.


Dengan di antar sopir, Vallen ke rumah Milly menggunakan mobil.


Setiba di sana, Vallen tidak jadi turun, karna di sana ternyata ada Dean.


Vallen pun menelpon mamanya untuk meminta petunjuk apa yang harus dilakukan selanjutnya.


"Sekarang terus awasi mereka, ikuti kemana mereka pergi, nanti jika ada kesempatan, kamu harus secepatnya berbicara dengan wanita itu. Jangan sampai Dean mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu."


Vallen pun patuh dengan yang di katakan mamanya.

__ADS_1


Tidak berapa lama Mobil Dean, meninggalkan kos Milly. Vallen pun mengikuti mereka. Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah gedung kantor.


Karna merasa tidak ada kesempatan untuk berbicara dengan Milly. Mamanya Vallen, melalui sambungan telepon, menyuruh Vallen untuk pulang saja, dan nanti kembali saat jam kerja selesai.


***


Vallen akan pura-pura tidak sengaja melihat Milly, saat ia kebetulan lewat di depan kantor Milly. Ia akan menawarkan tumpangan, untuk Milly pulang. Ia akan pura-pura dekat karna pertemuan kemaren malam itu.


Tapi seperti tidak ada keberuntungan, lagi-lagi Vallen keduluan sama Dean. Tidak bisa dibayangkan lagi, bagaimana kesalnya Vallen. Tapi sang mama tetap menyuruhnya untuk mengikuti mereka.


Dengan hati yang penuh amarah, Vallen mengikuti mereka. Sampailah di mana Milly dan Dean berhenti.


Rasa iri tiba-tiba muncul di hati Vallen. Selama ini, ia selalu ingin mengajak Dean makan di tempat yang mewah dan romantis. Tapi Dean selalu menolak.


Tapi lihatlah, sekarang dia datang ke sini bersama Milly.


Vallen tetap mengikuti mereka ke dalam, dengan cara menyamar. Dia tidak mau ketahuan jika sedang memata-matai mereka.


Tiba di dalam, rasa iri Vallen bertambah tiga kali lipat. Ternyata Dean sudah memesankan tempat khusus, untuk makan berdua dengan Milly.


Ala-ala dinner saat orang-orang berkencan, yang sering di tonton Vallen di TV.


Meski penasaran, Vallen tidak mau mati konyol, karna jantungan mendengar apa yang akan mereka bicarakan.


Vallen pun memutuskan pulang kerumahnya. Ia melampiaskan kemarahannya pada apa saja yang ia temui di kamar.


***


"Loh ... loh ... apa-apaan ini. Vallen kamu kenapa? Berhenti lah berbuat konyol, kamu akan menghancurkan semuanya."


Mama Vallen masuk ke kamar Vallen, karna mendengar suara keributan dan barang-barang pecah.


"Ma ... Mama. Maaf, Ma, Vallen gak sengaja. Vallen lagi kesal sama Milly dan Mas Dean."


"Tapi gak gini juga caranya. Kamu akan merusak semua. Sekarang ceritakan pada mama apa yang terjadi."


Vallen pun menceritakan semuanya pada sang mama.


"Mungkin aja sekarang mas Dean sudah mengungkapkan isi hatinya pada Milly, mungkin juga Milly sudah menerimanya," ucap Vallen kesal.


"Salah kamu juga sih, kenapa harus pergi. Jadinya sekarang kita cuma bisa menerka-nerka."


"Kok, Mama nyalahin aku sih, mana kuat aku, Ma, menyaksikan mereka berdua. Sekarang aku harus gimana? Aku gak rela mas Dean menikah dengan Milly.


"Mmmmmmhhh"


Tampak mama Vallen menghirup nafas panjang. Dia harus memikirkan cara agar Dean tidak bisa menikah dengan Milly.


"Gimana, Ma. Jangan diam aja dong."


"Iya, ini mama juga lagi Mikir."


"Akhhhaaaa ...."


Mama Vallen berteriak karna mendapatkan ide.


"Ada apa? Kenapa Mama berteriak," ucap Vallen kaget karna teriakan mamanya.


"Mama punya ide untuk membuat mereka terpisah. Mama yakin ide mama tidak akan gagal."


"Ide apa?"

__ADS_1


Mama Vallen pun menceritakan ide nya. Sedangkan Vallen menganguk-anggukkan kepala pertanda setuju dengan sang mama.


***


Milly masih belum terlalu yakin, dengan apa yang di dengarnya. Sehingga ia diam saja, tidak tau mau menjawab apa.


"Gimana, Mil, aku cinta sama kamu," ucap Dean lagi.


"Mmmmm ... terus kenapa?" Karna bingung Milly menjawab asal saja.


"Kok kenapa sih, Mil?"


"Terus aku harus gimana?" jawab Milly lagi.


"Bilang apa kek, atau bilang kalau kamu juga cinta sama aku, gitu."


Dean gemas dengan tanggapan Milly. Padahal hatinya saat ini sangat deg-degan menunggu jawaban Milly. Tapi Milly malah begitu.


"Lah kok maksa sih, Dean."


Dean yang tadinya duduk, kemudian langsung berdiri, berjalan mendekat ke arah Milly. Dean tidak melepas genggaman tangan Milly. Kali ini Dean menggenggam satu lagi tangan Milly.


Milly ikut berdiri mengikuti Dean. Posisi mereka saling berhadapan. Tiba-tiba Dean berjongkok di hadapan Milly. Milly mundur satu langkah karna kaget.


Dean mengambil sesuatu dari dalam saku jas. Kemudian memperlihatkan kotak kecil itu kepada Milly.


Dean menatap lekat mata Milly,dengan tatapan tulus dan penuh cinta. Seketika Milly menjadi salah tingkah. Jujur saja, ini baru pertama kali Milly mendapat perlakuan seperti ini. Ini sangat indah di mata Milly. Seketika hati dan pipinya sama-sama menghangat.


Dean membuka kotak kecil itu. Terlihat sebuah cincin berlian dengan model simpel tapi terlihat sangat elegan.


Dean sengaja memilih nya, karna sangat sesuai dengan kepribadi Milly.


"Milly, aku mencintai mu, aku ingin kamu menjadi penyempurna hidupku, aku tidak ingin berpacaran. Aku ingin langsung menikah. Apakah kamu mau menikah dengan ku?"


Milly merasakan wajahnya seperti bersemu. Ada rasa senang sekaligus haru di hatinya. Tapi bagaimana lagi. Keadaan seolah tidak pernah berpihak padanya.


Bagaimana pun sekarang statusnya adalah seorang istri. Andai saja, iya tidak terikat dalam hubungan itu, mungkin ia akan mempertimbangkan permintaan Dean. Apalagi akhir-akhir ini ia merasa sangat nyaman dekat dengan Dean.


Dean yang menggenggam satu tangan Milly. Merasakan tangan Milly sekarang berubah begitu dingin.


"Bagaimana Mil, jika kamu mau, kamu bisa ambil cincin ini, aku belum memaksamu menikah dalam waktu dekat, tapi aku butuh kepastian dari mu. Aku tidak mau kehilangan mu lagi seperti dulu."


"Aku ... Dean, aku ... ." Lidah Milly seakan kaku untuk berbicara. Dia tidak mungkin menerima Dean, meskipun hatinya menginginkan. Tapi jika ia menolak, ia tidak tau akan memberi alasan apa.


Bukan takut akan di mintai alasan. Sebenarnya yang paling di takutkan Milly adalah Dean akan menjauh jika Milly menolaknya. Milly tidak mau itu terjadi. Terdengan egois, tapi memang itulah sekarang yang di rasakan Milly.


"Dean ... aku tidak ...."


Drrrrr ... drrrrr ... drrrrr


Suara ponsel Dean menghentikan Milly berbicara. Dean tidak mempedulikan ponselnya. Ia ingin cepat-cepat mendengar jawaban Milly.


"Gimana, Mil?"


"Maaf Dean, aku tidak ...."


Ponsel Dean kembali berdering, tapi sepertinya Dean tidak berminat untuk melihat siapa yang menelpon. Sampai tiga kali panggilan. Ternyata panggilan itu tetap tidak berhenti.


"Angkat saja dulu, siapa tau penting," ucap Milly.


Dean pun merogoh ponsel di saku celananya.

__ADS_1


__ADS_2