MILLY

MILLY
bab 50. belajar ngaji


__ADS_3

Pak Adrian kemudian mencium lembut bibir Milly, Milly pun merasakan jika pak Adrian sedang menginginkannya. Jelas terdengar dari suaranya yang berat. Dan hembusan nafasnya yang mulai tak beraturan. Pak Adrian menciumi Milly lebih dalam lagi. Tapi Milly segera melepaskannya.


"Kenapa?" Tanya pak Adrian heran.


"Maaf, Mas. Saya mau sholat. Udah sore, saya udah telat sholatnya."


"Ya sudah," ucap pak Adrian kecewa.


Milly belum langsung beranjak dari sana. Dia memperhatikan pak Adrian.


"Kenapa? Katanya mau sholat, tapi kok masih di sini."


"Mmmm ... itu."


"Itu apa?"


"Saya boleh bertanya sesuatu gak, Mas?" Tanya Milly ragu-ragu.


Pak Adrian pun menganggukkan kepalanya.


"Tapi Mas jangan marah ya?"


"Iya, kenapa sih? Jangan bikin saya penasaran."


"Udah berapa kali Mas bersama saya, tapi saya gak pernah sekali pun melihat Mas sholat," ucap Milly ragu-ragu.


Pak Adrian tidak langsung menjawab. Terlihat ia sedang berfikir.


"Maaf, Mas. Lupakan saja," kata Milly lagi. Ia berfikir mungkin pak Adrian tidak suka di tanya tentang itu.


Milly berdiri untuk pergi sholat.


"Kamu benar, saya memang sudah lama tidak sholat, dulu pernah, saat saya sekolah dan juga kuliah. Itu pun hanya ikut-ikutan teman, saat ada acara di kampus.


Milly kembali duduk, untuk mendengarkan cerita pak Adrian.


"Orang tua saya pun jarang sholat, sehingga tidak ada yang menyuruh saya untuk mengerjakannya. Setelah menikah pun, Saya melihat Vania juga jarang sholat, dia juga tidak pernah mengajak saya sholat. Jadi saya tidak pernah melakukannya. Saya pernah ingin sholat, tapi bacaannya banyak yang lupa."


Milly cukup kaget mendengar fakta itu. Ia merasa tidak percaya dengan yang di dengarnya. Tapi tidak mungkin juga pak Adrian berbohong.

__ADS_1


"Kenapa tidak di mulai lagi aja, Mas. Soal bu Vania tidak menyuruh, harusnya, Mas yang ngajakin dia. Mas itu imam sedangkan bu Vania itu makmumnya. Mas yang bertanggung jawab untuk dia. Tanggung jawab Mas, tidak hanya soal dunia, tapi juga sampai ke akhirat, Mas. Jangan sampai karna Mas lalai, Mas ikut menjerumuskan orang yang Mas cintai."


Pak Adrian terdiam, hatinya tersentil oleh ucapan Milly. Selama ini ia sibuk bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dunia sang istri. Tapi ia lupa tentang kehidupan akhirat. Dalam hatinya, ia makin bersyukur bisa di pertemukan dengan Milly.


"Kenapa kamu menanyakan itu pada saya, apa kamu peduli dengan saya? Padahal kamu sering menolak saat saya bilang akan mempertahankan mu? Apa itu artinya kamu setuju untuk menjadi istri saya selamanya?"


Milly merasa bingung untuk menjawab. Lagi-lagi ia terjebak oleh perkataannya sendiri. Entah kenapa pak Adrian sangat pandai melihat kesempatan.


"Lebih tepatnya, saya memikirkan tentang anak yang ada di kandungan saya."


"Maksud kamu?"


"Bagaimana cara Mas mendidiknya nanti untuk sholat, sedangkan Mas sendiri tidak melakukannya? Saya hanya tidak ingin meninggalkannya dengan Mas. Tapi hati saya tidak tenang karna memikirkan itu.


Hati-hati Milly dalam berbicara, bagaimana pun ia tidak mau membuat pak Adrian tersinggung.


Lama pak Adrian terdiam, ia memikirkan perkataan Milly. Memang seharusnya ia mulai memikirkan hal itu, apalagi dia akan menjadi seorang ayah. Di dalam hatinya, pak Adrian tidak henti-hentinya bersyukur, ia sangat beruntung bisa bertemu Milly. Ia juga berjanji pada dirinya, untuk kembali melaksanakan sholat dan mendalami ilmu agama.


"Apa kamu mau, mengajarkan saya, soalnya saya bingung untuk memulainya."


Milly tersenyum mendengar permintaan pak Adrian. Ia lega, tadinya ia berfikir pak Adrian akan marah, tapi ternyata tidak.


"Bapak bisa memulainya dengan mempelajari di buku-buku panduan sholat, atau bisa juga membacanya di internet. Saya juga akan membantu sebisa saya."


"Makasi, ya, Mil."


"Sama-sama, Mas. Ya sudah sekarang saya sholat dulu. Mas bisa memulainya jika sudah siap. Saya senang mas sudah punya niat untuk memperbaikinya," ucap Milly tulus.


Muachh


Pak Adrian mencium pipi Milly, kemudian ia langsung berdiri meninggalkan Milly. Milly pun di buat kaget oleh tingkah pak Adrian yang tiba-tiba.


***


Semenjak hari itu, pak Adrian benar-benar serius untuk belajar. Tidak tanggung-tanggung, untuk menyempurnakan niat dan usahanya, ia bahkan sampai mencari guru untuk mengajarinya. Setiap hari minggu, gurunya akan datang ke rumah untuk mengajar. Tidak hanya belajar sholat, ia juga mulai belajar mengaji dan ilmu-ilmu agama lain.


Milly sangat senang, saat mendengar pak Adrian bercerita padanya. Sedangkan bu Vania merasa heran dengan perubahan suaminya.


"Hai, Mas. Kamu siap belajar ngaji lagi, Mas?" Tanya bu Vania. Saat itu pak Adrian baru saja mengantarkan guru ngajinya ke luar.

__ADS_1


"Iya Sayang. Nanti kalau Mas dah lancar ngajinya, Mas ajarin kamu ya. Atau kamu mau belajar ngaji juga. Nanti Mas minta tolong cariin guru yang perempuan sama ustadz Farid."


"Nanti aja, Mas. Untuk sekedar sholat dan ngaji aku bisa kok Mas."


"Baik lah, mulai sekarang, Mas minta tolong sama kamu, kamu perbaiki sholatnya ya. Kalau bisa jangan di tinggal-tinggal. Kita sama-sama belajar," ucap pak Adrian.


Bu Vania merasa aneh, karna setelah bertahun-tahun menikah baru kali ini sang suami menyuruhnya sholat.


"Tapi kenapa Mas. Kok kamu tiba-tiba ingin belajar agama, kamu juga menyuruh aku sholat."


"Iya Sayang, soalnya sebentar lagi kan Mas mau jadi ayah, Mas mau belajar agama, supaya nanti bisa mengajarkan juga pada anak kita. Jadi Mas harus memulai dari diri Mas dulu. Agar bisa mencontohkan pada anak kita. Kata Milly gitu Sayang."


"Milly. Emangnya Mas ketemu sama Milly?" Tanya bu Vania heran.


Pak Adrian merutuki dirinya dalam hati. Bisa-bisanya ia keceplosan. Tapi ia mencoba menguasai dirinya, agar si istri tidak curiga.


"Milly, bukan, maksud Mas. Anak yang di kandung Milly."


Bu Vania menatap suaminya lekat. Rasanya tadi ia mendengar dengan jelas pak Adrian menyebut Milly. Tapi kenapa sekarang ia berkata lain.


"Kenapa melihat Mas seperti itu. Jangan bilang kamu curiga sama suami sendiri."


"Tapi beneran kan, Mas gak main-main di belakang aku?"


"Enggak, dari pada kamu cemberut, karna curiga. Bagaimana kalau kita pergi liburan? Udah lama loh kita gak liburan. Anggap aja kita pergi bulan madu."


Pak Adrian terpaksa mencari cara agar bu Vania tidak lagi curiga.


"Boleh, tapi yang dekat-dekat aja Mas. Soalnya besok aku harus ke kantor. Ada pertemuan dengan investor baru."


"Ya sudah, terserah kamu aja. Yang penting berdua sama kamu. Mas ngikut aja."


Bu Vania mulai melupakan kecurigaannya. Hatinya senang mendengar ucapan sang suami.


"Gimana kalau kita ke Villa aja, Mas. Soalnya udah lama aku gak ke sana. Aku kangen sama udara dan pemandangan di sana."


"Villa?"


"Iya, Villa. Kok kamu kaget gitu sih, Mas."

__ADS_1


"Bukan kaget sayang, aku tadi juga mikirnya ke situ. Eh ternyata kamu juga sama mikirnya. Benar-benar sehati ternyata kita."


Pak Adrian merangkul sang istri. Padahal ia cemas, karna pakaian Milly saat terakhir mereka ke sana masih ada di Villa. Jika Vania menemukannya. Bisa-bisa ia kembali curiga.


__ADS_2