
Dean berhenti sebentar, sebelum akhirnya berbalik, menengok ke arah sumber suara.
"Wati."
"Iya, Mas. Mas Dean mau ketemu Mbak Milly, ya?" Tanya Wati.
"Kok kamu masih di sini. Katanya udah gak kerja sama Milly lagi?"
Bukannya menjawab pertanyaan Wati. Dean malah balik bertanya padanya. Dean heran, karna hari itu Wati mengatakan tidak lagi bekerja pada Milly.
"Mmmm ... iya Mas. Saya gak tega ninggalin mbak Milly sendirian."
Wati tidak mungkin jujur mengatakan kalau ia di suruh oleh pak Adrian. Dia takut nantinya Dean akan bertanya-tanya yang lainnya.. Dan ia tidak mungkin menceritakannya dengan jujur.
"Mmm ya sudah, kalau begitu saya pergi dulu."
"Tapi, Mas Dean tidak jadi ketemu mbak Milly."
"Tidak usah, tadi saya hanya kebetulan lewat."
Dean pun pergi meninggalkan Wati. Sedangkan Wati yakin, Dean pasti ke sini karna ingin melihat Milly. Ia tadi sempat melihat Dean mau mengetuk pintu, tapi tak jadi di lakukannya.
***
Lama Dean duduk di dalam mobilnya, di parkiran Rumah Sakit. Ia memikirkan dirinya yang seolah di permainkan oleh nasip. Ia sudah kehilangan Milly dan sebentar lagi ia akan bertunangan dan menikah dengan Vallen. Apakah ia sanggup hidup bersama orang yang tidak di cintainya?
Dean menggelengkan kepala, jiwa dan raganya menolak itu. Ia sudah berkorban demi orang yang di cintainya. Sekarang ia harus mengorbankan dirinya lagi untuk hidup bersama Vallen. Apa pun alasannya, sekarang Dean tidak mau itu terjadi.
Merasa tidak mungkin berbicara secara langsung dengan mamanya. Dean memutuskan untuk menelpon seseorang.
Ia mengajak orang itu untuk bertemu.
Dean meninggalkan rumah sakit, menuju sebuah kafe, tempat ia janji bertemu dangan seseorang.
Saat memasuki kafe, Dean sedikit memutar memorinya. Di tempat ini, untuk pertama kalinya, ia bertemu lagi dengan Milly.
__ADS_1
Seseorang berdiri, melambaikan tangannya pada Dean. Dean pun berjalan ke sana.
"Hai, Bro. Ada apa? Kenapa tiba-tiba mengajak ketemuan?" Tanya Jeff, teman sekaligus orang kepercayaan Dean di kantor. Jika di kantor, jeff akan memanggil Dean dengan panggilan Bapak. Tapi di luar kantor mereka akan seperti teman biasa.
"Gua mau minta tolong sama, loe," ucap Dean dengan wajah serius.
"Minta tolong apa? Loe baik-baik aja kan, Bro?"
Jeff sedikit khawatir, melihat Dean yang terlihat serius dan kacau.
Dean pun menceritakan pada Jeff, apa yang sedang mengganggu fikirannya. Ia juga menceritakan hubungannya dengan Milly.
Jeff pun merasa kasihan pada temannya itu.
"Terus sekarang apa yang akan loe lakuin?" Tanya Jeff setelah mendengar cerita Dean.
Dean menjelaskan dengan rinci apa yang akan menjadi tugas Jeff. Jeff dengan senang hati menerimanya dan ia berjanji pada Dean akan melakukannya dengan baik.
Jeff akan mengambil alih, semua tugas Dean dalam menjalankan pekerjaan di kantor. Dean juga meminta Jeff untuk tutup mulut tentang keberadaannya pada siapa pun.
Dean sudah sampai di apartement yang dibeli oleh almarhum papanya. Kali ini ia benar-benar tidak akan kembali ke rumah dan melanjutkan pertunangannya dengan Vallen.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya untuk hidup bersama orang yang tidak di cintainya.
Semula Dean melakukannya karna ingin berbakti pada mamanya. Tapi itu sebelum ia bertemu dengan dokter gadungan yang di bayar oleh mamanya dan Vallen.
Tadi, setelah Dean pergi meninggalkan Wati. Ia berjalan tergesa menuju parkiran. Di parkiran ia berpapasan dengan dokter yang waktu itu datang mengobati mamanya.
Dokter itu sedang duduk di kursi roda, di dorong oleh suaminya.
Dean pun menyapa dokter itu. Dean bertanya apa yang terjadi sehingga dokter itu pake kursi roda. Tapi Dean merasa aneh dengan reaksi sang dokter dan juga suaminya. Dokter itu terlihat gugup dan ketakutan.
"Maaf, mungkin Anda salah orang. Istri saya bukan dokter," kata suami dokter itu.
Sedangkan sang dokter gadungan hanya menunduk.
__ADS_1
Dean pun menjelaskan pada suami dokter itu. Setelah didesak oleh suaminya dan diancam oleh Dean. Akhirnya dokter itu pun mengakui perbuatannya. Ia di minta oleh Vallen dan mamanya Dean untuk berpura-pura jadi dokter. Dan semua yang disampaikan tentang penyakit mama Dean, sesuai dengan yang di katakan Vallen.
"Sekali lagi, saya minta maaf, waktu itu saya lagi butuh uang untuk berobat. Makanya saya mau melakukannya," ucap dokter gadungan itu. Ia ternyata tetangga Vallen.
"Maafkan istri saya ya, Mas. Saya tidak tau kalau istri saya melakukan itu."
Dean pun memaafkan dokter gadungan itu, karna tak tega juga melihatnya yang sedang sakit.
Setelah mengetahui itulah, Dean memilih untuk tidak lagi pulang ke rumahnya. Ia merasa di kecewakan oleh sang mama.
****
Dean sedang mempersiapkan segala dokumen-dokumen penting pekerjaan yang akan di kirimnya pada Jeff. Ia harus segera mengirimnya agar bisa secepatnya di pelajari oleh Jeff.
Setelah selesai, Dean menutup laptopnya. Ia pun menyimpannya di dalam laci nakas yang terletak di samping tempat tidur. Saat membukanya, ada satu benda di dalam laci nakas itu yang menarik perhatian Dean.
Dean pun mengambil barang yang berbentuk kotak itu. Dean berfikir mungkin ini milik almarhum papanya. Karna sebelum meninggal, papanya pernah beberapa kali singgah ke apartement itu.
Saat membukanya, Di dalam itu terdapat satu buah foto anak perempuan dan sebuah surat. Dean pun membaca surat itu. Ternyata itu benar punya papanya. Surat itu di buat oleh papanya untuk. Seseorang yang harus di cari oleh Dean.
Tapi ada satu hal yang menarik perhatian Dean. Berulang kali Dean membaca nama anak itu, membuat ia mengingat seseorang. Dean pun mencoba memperhatikan foto itu dengan lebih saksama.
Kemungkinan foto itu diambil saat anak itu berusia lima tahun. Dan sekarang pasti ia sudah dewasa. Dan akan sangat sulit mengenalinya hanya dari foto itu.
Dean pun mulai memikirkan bagaimana ia bisa menemukan anak yang ada di foto itu. Ia hanya berbekal nama dan foto itu sebagai petunjuknya.
Meski memiliki nama yang sama. Belum bisa dipastikan perempuan itu adalah orang yang sama dengan anak yang ada di foto itu. Bukankah sudah biasa di dunia ini orang memiliki nama yang sama.
Dean berfikir tidak ada salahnya ia mulai menyelidiki perempuan itu. Jika bukan, maka ia akan mencari cara lain. Tapi jika itu benar, sanggupkah ia menerima orang itu sebagai kakaknya.
Lalu bagaimana cara Dean meyakinkannya? Apakah perempuan itu akan percaya dan menerima apa yang akan di katakan Dean?
Kepala Dean pun mulai dipenuhi oleh banyak nya kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Dean pun semakin pusing memikirkan hidupnya yang rumit.
__ADS_1
Saat itu juga, Dean memutuskan menelpon Jeff. Mungkin Jeff bisa memberinya membantunya.