MILLY

MILLY
bab 34. tolong mama, Nak.


__ADS_3

Dean melihat ponselnya. Ternyata panggilan itu dari sang mama.


"Hallo, Ma. Ada apa Ma? Kenapa menelpon Dean seperti itu."


"Dean ... kamu dimana, Nak?" Terdengar di seberang suara mama begitu lirih seperti menahan rasa sakit.


"Dean ada urusan sebentar, Ma. Mama kenapa?" tanya Dean khawatir.


"Mama sakit, Nak. Kamu pulang sekarang ya."


"Tapi Dean ada urusan Ma. Sebentar lagi Dean pulang kok. Mama sama bik Nah dulu ya."


"Dean tolong mama, Nak. Kamu harus pulang sekarang. Mama gak kuat, Nak."


Terdengar suara sang mama semakin lirih saja. Dean bertambah khawatir akan keadaan sang mama.


"Ya sudah. Dean pulang," ucap Dean pasrah. Lalu ia memutuskan panggilan telpon.


Dean melihat ke arah Milly. Tanpa di tanya Dean menjelaskan jika yang menelpon adalah mamanya.


"Maaf Mil, mama sakit. Aku harus pulang sekarang. Gak apa-apa kan."


"Gak apa-apa, kita pulang aja, takutnya tante Santy menunggu lama."


Dean dan Milly pun keluar dari restoran itu. Hidangan yang belum seberapa termakan, ditinggalkan begitu saja.


Sesampainya di parkiran, Milly menarik tangan Dean yang berjalan di depannya.


Dean pun berhenti dan menengok ke arah Milly.


"Ada apa, Mil?"


"Mmm ... aku pulang naik taxi online aja ya, biar kamu bisa cepat sampai di rumah," ucap Milly.


Dean tidak menjawab, dia langsung menggenggam tangan Milly. Lalu menuntunnya untuk menuju Mobil.


"Dean"


Dean tetap diam, dia membuka pintu mobil untuk Milly dan menyuruh Milly naik. Setelah itu Dean menutup pintu. Dean pun menyusul Milly naik ke mobil.


"Aku akan anterin kamu pulang dulu, setelah itu baru ke rumah."


"Itu akan memakan waktu."


"Aku yang ngajak kamu ke sini, aku juga yang bertanggung jawab untuk nganterin kamu pulang."


Dalam perjalan pulang ke rumah Milly, mereka lebih banyak diam. Milly tidak mau terlalu banyak bertanya, ia yakin Dean sangat khawatir, terlihat dari cara Dean yang mengendarai mobil dengan kecepatan lumayan tinggi.

__ADS_1


****


Setiba di rumah, Dean cepat menekan bell rumah. Bik Nah datang membukakan pintu, bik Nah terlihat seperti habis menangis.


"Assalamualaikum Bik Nah. Bagaimana keadaan mama, Bik?" tanya Dean sambil berjalan ke arah kamar mamanya. Sedangkan Bik Nah berjalan di belakang Dean.


"Aden langsung lihat aja ya, ke kamar nyonya, bik Nah sedih melihat kondisi nyonya.


Aden mau di bikinkan apa? Teh atau kopi."


"Gak usah, Bik. Tadi aku udah minum di luar. Mama dah makan belum, Bik?"


"Belum Den, katanya gak nafsu makan."


"Ya sudah, tolong bikinin bubur buat mama ya, Bik. Nanti tolong anterin ke kamar mama. Biar aku yang suapin mama."


"Siap Den. Kalau gitu bibik ke dapur dulu ya. Nanti kalau butuh apa-apa langsung panggil bibik aja."


Dean pun menganggukkan kepalanya, bik Nah pun berlalu ke dapur.


***


Baru saja Dean sampai di depan pintu kamar mamanya. Dean mendengar tangis sang mama yang begitu pilu di telinga.


Dean langsung masuk setelah membuka pintu. Dean sempat terpaku melihat kondisi mamanya yang begitu menyedihkan.


Membalut tubuhnya dengan selimut, mama Dean meringkuk di atas kasur. Tubuhnya bergetar karna menangis. Sedangkan tangannya terus memegangi kepala.


"Ma, Mama ini Dean Ma. Mama kenapa? Bilang sama Dean apa yang sakit," ucap Dean sambil memeluk sang mama.


Dean berusaha menenangkan sang mama. Tapi sang mama malah menolaknya dan sedikit menjauh dari Dean.


"Ma, ada apa? Ini Dean, Ma. Anak Mama" ucap Dean khawatir sekaligus bingung akan respon sang mama.


"Huhu ... huhu ... tidak ada yang sayang sama mama. Sakit pa, mama sudah gak kuat. jemput mama, ya, pa."


Mama Dean terus saja menangis sambil memegangi kepalanya, dia seolah mengadu pada sang suami yang telah meninggal dunia. Dean yang bingung langsung memanggil bik Nah.


Dengan langkah yang tergopoh-gopoh bik Nah datang dengan wajah khawatir.


"Ada apa Den? Apa terjadi sesuatu sama nyonya?"


"Bik, apa kondisi mama dari tadi seperti ini?"


"Iya Den, dari tadi nyonya menangis terus, kadang-kadang juga berteriak."


Dean berfikir apa yang harus di lakukannya untuk membantu sang mama.

__ADS_1


"Ma ... kita kerumah sakit ya. Biar mama di periksa sama dokter. Nanti mama akan di kasih obat, biar mama cepat sembuh," ucap Dean lembut.


"Gak mau ... mama takut ke Rumah Sakit," jawab sang mama di sela tangisnya.


"Kan ada Dean Ma, Dean akan menemani Mama, Dean sayang sama Mama." Dean membujuk sang mama dengan lembut.


"Tidak mau ... huhu."


"Itu satu-satunya cara agar mama bisa cepat sembuh. Mau beli obat di apotik, Dean takut salah-salah obat. Yang ada akan membahayakan mama."


"Panggilkan Dokter saja, biar mama berobat di rumah."


"Ya sudah. Dean mau telpon Dr. Hardy dulu, Dean akan minta untuk datang ke rumah."


"Tidak, mama tidak mau, dia orang yang sudah membunuh papa," ucap mama Dean.


Dr. Hardy adalah dokter yang menangani papa Dean, saat sakit sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.


Mama Dean yang sedih di tinggal suaminya, seringkali mengatakan jika Dr. Hardy sengaja membunuh. Padahal tuduhan itu sama sekali tidak benar.


"Ya sudah, Dean coba telpon teman Dean dulu. Mana tau ada kenalan dokter."


"Tidak usah. Telponkan Dr. Arisa saja. Cari saja namanya di ponsel mama."


Dean pun mengambil ponsel mamanya. Setelah menemukan nomor yang di cari, ia langsung menelpon dan meminta sang dokter datang kerumahnya. Sang dokter pun menyanggupinya.


Meski Dean tidak mengenal sang dokter tapi ia tidak berfikir untuk bertanya pada sang mama. Baginya, yang terpenting sang mama cepat di obati.


Ternyata tidak butuh waktu lama untuk sang dokter bisa sampai di rumah Dean.


Dr. Arisa yang di perkirakan seumuran dengan mama Dean itu, langsung memeriksa pasiennya.


Di luar perkiraan Dean, dokter itu menjelaskan sakit apa yang menimpa sang mama.


"Pasien sebenarnya tidak mengalami sakit yang serius di tubuhnya. Menurut pemeriksaan saya, pasien sedang mengalami tekanan, sehingga mengganggu fikirannya.


Otaknya tidak sanggup lagi menampung tekanan itu. Sehingga membuat kepalanya sangat sakit. Jika terus di biarkan bisa saja akan mengganggu kejiwaannya."


Rasanya Dean tidak percaya dengan apa yang di katakan sang dokter. Tapi dokter itu bisa menjelaskan dengan baik, sehingga akhirnya Dean percaya.


Sedangkan sang mama sudah di beri obat untuk meringankan sakit kepalanya. Sehingga sudah sedikit tenang.


"Apa mama harus di bawa kerumah sakit, Dok? Biar cepat mendapat penanganan."


Mama Dean langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda tidak setuju.


"Di rumah sakit nanti hanya akan mengobati sakit kepalanya saja. Tapi inti dari sakitnya pasian adalah fikirannya. Saya sarankan untuk Nak Dean mencoba bicara dari hati ke hati dengan sang mama. Turuti apa yang diinginkan mama. In sya Allah itu akan membantu penyembuhannya."

__ADS_1


Dean langsung menyanggupi perkataan Dr. Arisa.


Dr. Arisa pun meminta Dean untuk terus melaporkan perkembangan mamanya. Nanti ia akan selalu mengontrol kondisi mama Dean. Kemudian Dr. Arisa undur diri karna akan mengobati pasien lain.


__ADS_2