
Mama Vallen terus saja, mondar mandir di ruangan keluarga. Di sana Vallen dan papanya juga sedang duduk. Risih melihat tingkah istrinya, papa Vallen pun menegur sang istri. Ia sudah tau kalu Dean menghilang. Tapi ia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.
"Sudah lah, Ma. Jangan mondar mandir terus. Papa pusing melihatnya."
Mama Vallen melotot mendengar perkataan suaminya.
"Mama heran, kenapa Papa bisa tenang seperti itu? Padahal kita sedang ada masalah serius."
"Terus Papa harus gimana? Apa Mama mau, papa ikut mondar mandir juga seperti Mama? Apa itu akan membuat Dean kmbali? Begitu maksud Mama?"
"Kenapa Papa bicara seperti itu? Harusnya Papa berfikir, apa yang akan terjadi besok, jika pas pertunangan Dean tidak ada? Orang-orang pasti akan mencemooh kita. Keluarga kita akan malu, Pa."
"Kan papa sudah bilang, batalkan saja pertunangannya. Tapi Mama masih aja ngotot."
"Papa," kata Vallen tak terima dengan perkataan papanya. Ia pun pergi ke kamar meninggalkan mama dan papanya.
"Sekarang Papa puas membuat Vallen sedih. Harusnya Papa membantu mencari solusi agar Dean kembali. Bukan terus-terusan menyuruh membatalkan acaranya. Orang tua seperti apa Papa ini? Kenapa tidak mau menyenangkan hati anaknya?"
Papa Vallen memilih pergi ke teras rumah. Ia malas berdebat dengan istrinya. Ia bukan tidak mau menyenangkan hati anaknya.
Tapi dari awal, ia sudah mengetahui jika Dean tidak menyukai Vallen. Ia ingin Vallen sadar akan itu. Tapi Vallen tidak mau mendengarnya. Di tambah lagi sikap istrinya yang terlalu mengikuti kemauan sang anak.
Sekarang apa yang ditakutkannya terjadi. Ia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Karna anak dan istrinya tidak mau mengikuti sarannya.
***
Vallen terus menangis dan mengamuk di kamar, kamar yang biasanya selalu rapi dan bersih, sekarang sudah berubah seperti kapal pecah. Harusnya malam ini Vallen berbahagia karna besok akan bertunangan dengan orang yang di cintainya.
Tapi sekarang semua itu terancam gagal. Jika malam ini Dean tidak juga pulang. Sudah dipastikan acaranya batal dilaksanakan. Ia pasti akan malu karenanya.
Ia pun makin benci pada Milly. Ia berfikir semua ini penyebabnya adalah Milly.
"Jangan menangis terus, nanti mata kamu bengkak. Tidak lucukan, nanti pas acara, mata kamu malah bengkak. Apa yang akan difikirkan orang-orang? Kamu harus yakin, besok Dean pasti akan kembali. Acaranya akan tetap terlaksana seperti keinginan mu. Sekarang tidurlah."
Meski tidak yakin dengan yang dikatakannya. Mama Vallen tetap berusaha menghibur anaknya. Ia sudah kewalahan menghadapi Vallen. Sedangkan suaminya seperti tidak peduli saja.
Setelah diyakinkan mamanya, akhirnya Vallen bisa tidur.
"Awas saja, jika besok acaranya batal dan terjadi sesuatu pada Vallen. Saya akan membuat perhitungan dengan mu."
Mama Vallen berkata dalam hatinya sambil mengusap rambut anak kesayangannya yang sudah tertidur.
Kemudian ia meminta pembantunya untuk membersihkan kamar Vallen.
***
Pagi hari, setelah Milly siap melap badan ibunya, suster masuk untuk memeriksa keadaan ibunya.
__ADS_1
Biasanya, bersama suster itu, ada juga dokter yang selalu menangani ibunya.
Tapi kali ini dokter itu tidak ikut.
Milly berfikir, mungkin Dokternya ada halangan.
"Maaf Mbak, tadi dokter berpesan agar ibu Mbak dipindah kan ke rumah sakit lain yang lebih bagus. Agar ibu Mbak cepat pulih."
Ternyata suster itu tidak memeriksa ibu Milly. Ia hanya menyampaikan pesan dari dokter.
"Maksudnya ibu saya dirujuk ke rumah sakit yang lebih baik, Sus? Ke rumah sakit mana, Sus?"
Suster itu terlihat sedikit kebingungan untuk menjawab.
"Suster,"
"Ahh ... iya. Kalau rumah sakitnya itu terserah Mbak saja."
Milly dan Wati saling berpandangan, mereka agak heran dengan yang dikatakan suster itu.
"Maksudnya gimana ya, Sus? Bukannya biasanya dokter akan mengatakan kemana harus dirujuk?"
"Saya kurang tau, Mbak. Saya hanya disuruh untuk menyampaikan itu."
"Baiklah, biarkan nanti saya yang menanyakan langsung pada dokter itu?"
Milly merasa semua tidak masuk akal. Ia yakin pasti ada yang tidak beres. Setelah suster itu pergi Milly mencoba menemui pihak rumah sakit. Tapi seperti dipersulit, Milly tidak bisa bertemu.
Sekarang Milly bingung harus membawa ibunya ke mana. Ini rumah sakit terbaik yang ada di kota ini. Jika harus mencari yang lebih bagus, itu harus ke kota lain yang lebih besar. Itu jaraknya juga sangat jauh. Dan Milly harus terlebih dahulu mengurusnya ke sana. Karna dari pihak rumah sakit tidak memberi surat rujukan.
Tok ... tok ... tok.
Seorang suster masuk ke dalam.
"Maaf, Mbak. Jika Administrasinya sudah selesai. Silahkan kosongkan ruangan ini. Karna ruangan akan di bersihkan, ada pasien lain yang akan menempati ruangan ini."
Sekarang Milly hanya bisa pasrah, sepertinya rumah sakit ini sudah tidak sabar untuk mengusirnya dari sini.
Milly segara menyelesaikan Administrasinya. Tidak butuh lama, suster tadi kembali datang untuk membantu melepaskan alat-alat yang terpasang di tubuh ibu Milly.
"Suster, saya mohon, kasih saya waktu sebentar. Saya tidak tau harus membawa ibu saya kemana? Saya takut terjadi apa-apa pada ibu saya. Saya akan menghubungi seseorang dulu untuk membantu saya."
Suster itu berfikir sebentar. Ia juga tidak tega sebenarnya. Ia hanya menjalankan tugas.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Nanti saya yang kena marah."
Sekarang Milly makin yakin, jika ada yang tidak beres sehingga ia dan ibunya diperlakukan seperti itu.
__ADS_1
Mau tidak mau, Milly harus menelpon pak Adrian untuk minta tolong. Milly sedikit cemas saat menelpon. Ia takut pak Adrian sedang bersama bu Vania.
"Hallo, Mil."
"Hallo, Mas."
"Iya, ada apa, Mil?"
"Maaf, Mas. Saya boleh minta tolong?"
"Iya, minta tolong apa? Katakan saja."
"Itu Mas. Mmm ...." Milly bingung harus memulai bicara dari mana.
"Milly ... kamu baik-baik aja kan?"
Milly pun akhirnya menceritakan semuanya. Pak Adrian meminta Milly untuk menunggu sebentar. Beruntung bu Vania sedang tidak ada di rumah.
Tidak butuh waktu lama pak Adrian tiba di rumah sakit. Ia memaksa bertemu dengan pihak rumah sakit, untuk menanyakan alasan mengapa ibu Milly harus di pindahkan. Jika tidak ia akan melaporkan rumah sakit karna telah menterlantarkan pasien.
Tidak seperti tadi, pak Adrian dengan mudah bisa menemui pihak rumah sakit. Pihak rumah sakit pun memberi alasan, banyak pasien yang mengeluh karna merasa terganggu dengan keributan yang sering terjadi di ruangan ibu Milly.
Jadi demi kenyamanan pasien lain, maka ibu Milly di minta untuk pindah.
***
Pak Adrian menelpon temannya yang juga seorang dokter. Ia meminta saran rumah sakit mana yang bagus untuk memindahkan ibu Milly.
Temannya itu menyarankan untuk membawa ke salah satu rumah sakit yang masih berada di kota itu. Meski rumah sakit itu tidak sebagus yang sekarang.
Tapi peralatan kesehatannya juga cukup.
Beruntung ia juga punya teman sesama dokter di tempat ibu Milly di rawat sekarang. Jadi ia bisa membantu untuk membuat rujukan.
Milly setuju saja. Ia tidak punya pilihan lain. Hatinya benar-benar hancur diperlakukan seperti itu.
"Sudah, jangan bersedih, ibumu akan baik-baik saja."
Pak Adrian memeluk Milly yang menangis. Ia tidak tega melihat Milly seperti itu. Cukup lama Milly menangis di pelukan pak Adrian.
Mereka sedang menunggu pihak rumah sakit yang sedang memindahkan ibu Milly ke ambulan.
"Makasi, Mas. Maaf merepotkan. Saya benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Makanya tadi saya menghubungi, Mas."
Pak Adrian menganggukkan kepalanya. Kemudian membelai rambut Milly. Sekarang mereka harus bersiap-siap untuk pergi. Karna ibu Milly sudah siap di atas ambulan.
Mobil pak Adrian mengiringi ambulan itu. Milly tidak ikut di ambulan, karna dilarang oleh pak Adrian. Disana sudah ada petugas dan juga Wati.
__ADS_1
Milly mengikut saja. Ia tidak enak hati sama pak Adrian, jika ia menolaknya.