MILLY

MILLY
bab 89. harusnya aku yang berterima kasih


__ADS_3

Diatas sebuah tebing yang dibawahnya terhampar laut lepas yang begitu indah. Pantai dengan pasir putih yang bersih dan beberapa pepohonan kelapa yang bergoyang karna terpaan angin. Dengan latar suara ombak yang seolah berkejaran ke pantai, Dean masih setia berjongkok, menunggu jawaban dari sang pujaan hati.


Seolah ikut menanti jawaban dari Milly, suasana sekitar begitu syahdu dan tenang. Seolah berdiam ingin mendengar kata yang keluar dari mulut wanita yang sangat dicintai Dean itu.


Sekian lama menunggu, Milly belum juga bersuara. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kedua bahunya bergetar. Menandakan jika ia sedang menangis.


Dean berdiri, ia meletakkan bunga dan kotak kalung yang dipegangnya tadi di meja yang ada di sampingnya. Ia mencoba membuka telapak tangan Milly yang menutupi wajahnya. Benar saja wajahnya sudah basah oleh air mata.


Dean menghapus air mata Milly. Kemudian menatap lekat mata indah itu. Melihat Milly yang masih menangis. Dean langsung memeluknya. Tidak ada penolakan dari perempuan itu. Bahkan sekarang tangisnya makin pecah di pelukan Dean.


Dean membiarkan Milly menangis. Ia tidak memaksa, ia menunggu sampai Milly tenang. Meski begitu, Dean tetap merasa deg-degan, ia takut Milly berubah pikiran.


Setelah merasa Milly sudah tenang, Dean melepas pelukannya. Ia menuntun Milly untuk duduk di kursi, yang memang sudah disiapkan untuknya. Dean merapikan rambut Milly yang berantakan dan menutupi wajahnya. Ia juga menghapus sisa air mata yang masih menempel di pipi Milly. Setelah itu ia duduk di kursi satu lagi, posisi mereka berhadapan.


Dean kembali mengambil buket bunga dan memberikannya kepada Milly. Milly melihat pada Dean. Dean pun tersenyum pada Milly.


"Dean, aku--."


"Ambillah jika menurutmu, aku pantas untuk mu. Jangan tanyakan yang lainnya. Aku memilihmu, karna memang kamu yang pantas dan yang aku inginkan."


Seolah mengerti dengan apa yang akan dikatakan Milly. Dean langsung memotong perkataan dan meyakinkan Milly. Setelah itu, ia kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Milly.


Dean kembali mendekatkan bunga itu pada Milly. Tangan Milly terulur untuk meraihnya. sesaat kemudian bunga itu sudah pindah ke tangannya.


Dean lega dan kembali tersenyum.


"Makasi, Milly."


Milly membalasnya dengan sedikit senyuman.


Dean berdiri, lalu mengeluarkan kalung dari kotaknya tadi. Ia berjalan kebelakang Milly.


Ia menyibak rambut Milly, lalu mencondongkan kepalanya mendekati wajah Milly.


"Mil, maukah menikah dengan ku?"


Dean mengatakannya tepat di dekat telinga Milly. Tidak lama Milly menganggukkan kepalanya. Mendapat jawaban dari Milly, Dean langsung memasangkan kalung itu di leher Milly. Setelahnya ia bergegas duduk kembali. Ia menggenggam kedua tangan Milly.


"Makasi, Mil. Kamu membuat ku sangat senang," kata Dean.

__ADS_1


"Harusnya aku yang berterima kasih."


"Hai, jangan mulai. Tersenyumlah, setelah ini aku akan menepati janjiku untuk selalu menjaga mu. Kamu tidak perlu mencemaskan apa pun. Cukup dampingi dan sayangi aku dalam keadaan apa pun. Jadilah saksi dan temani aku dalam perjalanan meraih surganya Allah."


Dean mengecup punggung tangan Milly. Kemudian melirik pada Milly yang ternyata sedang tersenyum padanya. Senyuman yang begitu melelehkan hati Dean. Senyuman yang tidak pernah bosan untuk dilihat ataupun diingat saat berjauhan.


Tidak lama Dean memberi kode pada petugas kafe untuk mengantarkan makanan. Dean memang sengaja menyewa tempat ini khusus untuk nya dan Milly. Jadi pengunjung kafe yang lain tidak bisa masuk ke area sini.


Makanan yang dipesan Dean sudah terhidang. Dean sedikit berbincang dengan petugas kafe itu. Meski sedang berbincang, Dean masih sempat melirik Milly yang ternyata sedang memegang kalung yang melingkar di lehernya. Dean tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat mendapati Milly tersenyum memegang kalung pemberiannya itu.


"Cantik," kata Dean melihat pada Milly. Saat itu petugas kafe sudah pergi.


Milly menganggukkan kepala saat Dean mengatakan itu. Ia setuju dengan Dean, kalau kalung itu cantik, bahkan sangat cantik.


"Iya, cantik sekali," jawab Milly.


"Benar Mil, kamu cantik sekali," kata Dean lagi.


Milly tersipu, dia menunduk tak berani melihat ke arah Dean. Ia merasa gugup, apalagi Dean terus saja memperhatikannya.


Dean dan Milly makan ditemani dengan pemandangan pantai yang begitu indah. Karna mereka berada di tempat yang ketinggian, maka mereka bisa puas melihat pemandangan pantai dan laut dengan ombak yang begitu mempesona.


Puas menikmati makanan dan juga maha karya Allah yang luar biasa. Dean mengajak Milly untuk turun ke bawah. Mereka berjalan kaki menyusuri pantai. Sesekali Dean memercikkan air laut pada Milly. Sedangkan tangan satunya lagi selalu menggenggam tangan Milly.


Tidak berapa lama hujan turun, Dean dan Milly terpaksa berteduh, tapi Milly menyarankan agar mereka pergi saja dari sana, apalagi hari sudah beranjak sore.


***


"Apa kamu senang?" tanya Dean, saat mereka sudah diatas mobil.


Milly mengangguk sambil tersenyum.


"Terus lah seperti itu, aku menyukainya," kata Dean.


Di bawah rintik hujan, Dean melajukan mobil. Sesekali ia mengikuti nyanyian cinta yang sengaja diputarnya di mobil.


Sedangkan Milly hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Dean. Ia serasa melihat Dean beberapa tahun yang lalu, saat mereka masih SMP.


Dijalan, mereka juga menyempatkan untuk berhenti sebentar di mesjid untuk Sholat. Sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan.

__ADS_1


Keduanya begitu khusuk dalam sholat. Meski pun mereka sholat ditempat terpisah, tapi untuk doa, mereka mendoakan hal yang sama.


Berterima kasih pada sang pencipta dan memohon restu untuk cinta yang sedang dan akan selamanya mereka jaga.


Setelahnya, mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang. Dean sempat mengajak Milly untuk menonton dan berbelanja, tapi Milly menolaknya. Rencananya Dean akan tetap singgah untuk mengajak Milly berbelanja, tapi ternyata Milly malah ketiduran. Sepertinya ia kecapekan. Mau tak mau Dean membatalkannya.


Dean memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia melajukan mobil dengan santai. Sesekali ia melirik Milly yang ketiduran. Ia memastikan, Milly tidur dengan posisi yang nyaman.


Dean sampai di rumah, saat hari sudah malam. Karna Milly masih tertidur Dean berencana menggendongnya. Tapi baru saja Dean akan menggendong, Milly tiba-tiba terbangun.


"Apa sudah sampai?"


"Sudah, enak banget tidurnya. Capek atau karna mimpi aku?"


"Ngarep banget sih, Dean."


"Ngarep sama calon istri sendiri boleh aja, kan."


Milly tidak menjawab. Ia memonyongkan bibirnya. Sehingga membuat Dean tertawa melihatnya.


Setelah itu, mereka masuk setelah bik Nah membuka kan pintu.


"Makasi Mil, selamat malam," bisik Dean saat Milly akan menaiki tangga menuju kamar. Sedangkan Dean langsung pergi ke paviliun.


Mungkin malam ini kedua orang yang sedang berbahagia itu, akan kesulitan tidur. Atau mereka akan tidur dengan nyenyak karna bahagia.


***


Dreet ... drett


"Hallo."


"......"


"Ada apa?"


"...."


"Menikah? Bulan depan?"

__ADS_1


__ADS_2