
Dengan semangat, Dean mengakhiri hari ini di kantor. Jika biasa rumah mama, adalah tujuannya saat pulang kerja. Hari ini dia punya tujuan lain yaitu ke rumah Milly.
Tidak jauh berbeda dengan Dean, Pak Adrian di tempat berbeda pun mempunyai tujuan yang sama dengan Dean.
Dean akan mampir dulu untuk membeli beberapa makanan untuk Milly. Sedangkan Pak Adrian harus ke Rumah Sakit dulu untuk mengambil obat yang juga untuk Milly.
Pak Adrian baru tiba di halaman kos Milly. Di sana sudah terparkir juga sebuah mobil berwarna hitam. Pak Adrian sudah tau itu mobil siapa karna sudah beberapa kali melihatnya.
Bergegas Pak Adrian menuju pintu kos Milly. Lagi-lagi hatinya panas mengetahui Dean sudah duluan ada di sana. Terlihat mereka sangat asyik berbicara.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Milly dan Dean yang ada di dalam serentak melihat ke sumber suara.
Milly merasa kaget karna tau pak Adrian datang ke rumahnya. Jangan sampai pak Adrian keceplosan berbicara.
Setelah di persilahkan masuk, pak Adrian pun langsung duduk di sofa tempat Dean dan Milly duduk.
Wueekk ... wueekk ... wueekk ....
Tiba-tiba saja perut Milly mual karna mencium bau parfume pak Adrian. Pada hal tadi ia baik-baik saja.
"Kamu kenapa, Mil?" Dua orang laki-laki yang ada di sana. Serentak mengucapkan kata yang sama. Kemudian mereka saling memandang keheranan.
"Gak apa-apa, perut ku sedikit mual," kata Milly.
"Mungkin kamu masuk angin. Kamu belum makan ya?" tanya pak Adrian.
"Sudah kok, tadi di bawain makanan sama Dean," jawab Milly.
Pak Adrian lantas melihat ke arah Dean. Dean yang tidak tau apa-apa tentang hubungan pak Adrian dengan Milly membalasnya dengan senyuman.
Milly terus saja menutupi hidungnya dengan tissue. Ekspresinya seperti orang mau muntah. Tapi di tahan oleh Milly.
Dean yang merasa aneh dengan itu lantas menanyai nya.
"Kamu kenapa Mil? kok nutupin hidung terus."
Pak Adrian pun langsung menatap ke arah Milly. Ingin tau jawaban Milly atas pertanyaan Dean tadi.
__ADS_1
"Gak tau nih, tiba-tiba aja aku mual, aku mencium bau ...."
Milly menggantung ucapannya. Mau jujur takut orangnya tersinggung. Tidak jujur itu membuatnya merasa tersiksa.
"Bau apa, Mil? bilang aja, biar nanti aku buang," kata Dean.
Perkataan Dean yang lembut pada Milly. Membuat Pak Adrian semakin murka. Maksud hati mau bicara berdua dengan Milly. Melepas rindu dengan pujaan hati. Yang ada malah hatinya di buat terbakar karna cemburu.
"Mmmm ... gak tau juga, seperti bau-bau Vanila gitu," jawab Milly ragu.
Sebenarnya ia tau itu bau parfume pak Adrian. Tapi ia tidak mau langsung mengatakannya. Takut pak Adrian tersinggung.
"Ini makanan nya gak ada yang rasa Vanila loh, Mil. Jadi gak mungkin bau vanila. Aku juga gak pake parfume yang ada bau Vanilanya. Kamu salah mungkin," jawab Dean lembut sambil menciumi bau tubuhnya sendiri.
Kemudian Dean melihat ke arah pak Adrian.
"Ya, saya memakai parfume aroma Vanila. Maaf jika parfume saya membuat mu mual. Saya ke sini cuma mau nganterin obat sama Vitamin kamu di suruh sama bu Vania. Baik lah saya permisi dulu. Assalamualaikum"
Pak Adrian langsung pergi meninggalkan rumah Milly. Dia sedikit tersinggung karna Ucapan Milly yang mual karena bau Parfumenya. Padahal kemarin-kemarin dia juga memakai parfume itu. Tapi Milly tidak pernah memprotesnya.
Tidak lama setelah pak Adrian pergi. Dean pun undur diri dari rumah Milly. Mamanya menelpon mengatakan jika beliau sedang sakit. Dan meminta Dean segera pulang ke rumah.
Milly merebahkan tubuhnya di ranjang. Meski tidak merasa Mual lagi. Tapi kepalanya masih terasa pusing.
Ia mengambil ponselnya lalu berselancar di dunia maya untuk mengurangi rasa jenuhnya. Bosan dengan itu. Ia membuka galeri foto, tak sengaja ia melihat foto pak Adrian yang kemarin di ambilnya.
Milly tersenyum melihat wajah ganteng pak Adrian yang tertidur dengan pulas. Kemudian timbul rasa bersalah di hati Milly, karna peristiwa tadi. Ingin dia menelpon untuk meminta maaf. Tapi ia takut nanti ketahuan sama bu Vania.
Di tengah kebingunganya. Ponsel Milly berbunyi, ternyata pak Adrian yang menelpon.
Tanpa menunggu lama. Milly langsung mengangkatnya.
"Hallo, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Tumben cepat ngangkatnya, kamu lagi nungguin telpon saya ya," ucap pak Adrian menggoda Milly.
"Jangan terlalu percaya diri. Itu tidak benar. Ya sudah biar saya matikan lagi telponnya," ucap Milly.
"Ehh ... ehhh ... jangan dong. Ibu hamil itu di larang ngambekan?"
"Kenapa? Lagi pula siapa yang ngambek," bantah Milly.
__ADS_1
"Entar anak kita jadi ngambekan pula loh," ucap pak Adrian. Hati Milly sedikit bergetar mendengar pak Adrian bilang anak kita. Ia sangat senang mendengarnya.
"Milly ... kok diam aja, kamu baik-baik aja kan?"
"Ya, saya baik-baik saja. Ngomong-ngomong Bapak kenapa nelpon saya. Emangnya Bapak gak takut bu Vania tau."
"Jangan buat saya kesal terus bisa gak sih, Mil. Kenapa manggil Bapak lagi. Vania ada acara pertemuan dengan rekan kerjanya. Jadi belum pulang kerumah."
"Pantesan, kalau ada bu Vania mana berani" jawab Milly.
"Jangan mencemooh saya, saya nelpon mau tanya keadaan kamu. Tadi saya ke sana malah kamu usir, kamu takut saya ganggu acara kamu ya. Lagian ada hubungan apa laki-laki itu sama kamu? Kenapa selalu datang ke rumah mu?"
"Saya baik-baik saja. Kan saya udah bilang, dia itu teman saya, namanya Dean, Mas. Kan kamu dah pernah kenalan sama dia."
"Terserah lah, nama nya siapa. Yang pasti saya tidak suka sama dia."
"Ya, jangan sampai suka, Mas. Nanti apa kata orang," ucap Milly.
"Wah ... wah ... wah ....kamu pikir saya apaan. Kamu masih meragukan saya. Untung aja hanya di telpon. Coba kalau lagi dekat. Tidak akan saya ampuni kamu," ucap pak Adrian.
"Bercanda, Mas. Lagian Mas seperti anak ABG aja. Pake acara cemburu segala."
"Emangnya cuma anak ABG yang boleh cemburuan. Yang benar tu ya, suami atau istri yang cemburu, baru halal. Kalau masih pacaran mah gak usah terlalu cemburuan."
"Mmmmm ... saya mau istirahat dulu?" ucap Milly.
"Ya sudah, tapi kamu harus ingat ucapan saya tadi."
"Jangan egois, Mas. Jangan terlalu menganggap pernikahan ini seperti pernikahan pada umumnya."
"Kenapa tidak? tidak ada yang salah dengan pernikahan ini. Pernikahan ini sah, saya mencintai mu, makanya nya saya cemburu," ucap pak Adrian.
"Ahh ... sudahlah, saya istirahat dulu, bicara dengan Mas, hanya akan membuat saya tambah pusing."
"Maaf, saya tidak bermaksud membuat mu tambah pusing. Saya hanya mencoba meyakinkan mu, tentang perasaan saya pada mu. Sekarang istirahatlah!"
"Ya, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Saya mencintaimu, Mil," ucap pak Adrian.
Tapi sayang, Milly sudah terlebih dahulu mematikan telponnya. Sehingga ia tidak mendengar ucapa n cinta pak Adrian.
__ADS_1