
Milly tersenyum, baru saja dia memikirkan Dean, sekarang orangnya menelpon.
"Hallo, assalamualaikum."
"Waalaikum salam, Mil. Kenapa belum tidur?"
"Kan kamu nelpon."
"Pasti kamu nungguin aku, ya. Cepat banget angkat telponnya."
"Jangan geer Dean. Siapa juga yang nungguin kamu?"
"Ya deh, yang malu mengakui."
"Ihh Dean, kebiasaan. Ya sudah, kalau kamu nelpon hanya untuk menjahili aku. Aku matiin aja, ya."
"Hai ada yang sensitif, Nih. Jangan-jangan ngambek ya karna tadi aku gak izin. Duh, enak juga ya, ada yang posesifin," kata Dean.
"Matiin, ya."
"Ehhh, tunggu ... tunggu. Jangan galak-galak lah Mil. Ya sudah, aku serius nih. Aku cuma mau minta maaf karna tadi gak pamit. Trus kenapa belum tidur?" tanya Dean lembut.
"Gak apa-apa. Gak perlu minta maaf, lagi pula kan tadi dah kirim pesan. Sekarang kamu lagi dimana? Emangnya sibuk banget ya. Sampai selarut ini masih kerja."
Dean tersenyum, hanya karna menanyakan keberadaannya saja, Dean sudah senang. Sedikit perhatian Milly mampu membuat hatinya menghangat.
"Lumayan, aku masih di luar," kata Dean.
Setelah itu tak ada lagi jawaban dari Milly. Tiba-tiba saja ia bingung untuk berkata lagi.
"Kenapa? Kamu kangen, ya?"
"Isshh Dean, ngarep?"
"Biarin, ngarep sama calon istri sendiri."
Milly memejamkan matanya. Ia tersenyum mendengar kata calon istri.
"Diam lagi, pasti lagi tersipu," tebak Dean.
"Ya sudah, coba kamu buka jendela, lalu lihat kebawah," lanjut Dean.
Milly bergegas turun dari kasur, kemudian, ia membuka jendela. Benar saja, Dean sedang berdiri di halaman rumah. Ia melambaikan tangan pada Milly.
Milly lega setelah melihat Dean, jujur saja tadi ia cemas karna Dean belum juga pulang.
"Udah hilang kangennya, kan. Sekarang tutup lagi jendela, langsung tidur. Aku juga mau istirahat, soalnya capek banget. Besok pagi aku temui, oke."
"Iya," jawab Milly singkat.
__ADS_1
"Ya sudah, selamat malam calon istri. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Dean kembali melambaikan tangannya. Karna cahaya kamar Milly yang terang, Dean bisa melihat dengan jelas, saat pujaannya itu tersenyum padanya.
Dean baru pergi setelah memastikan Milly menutup jendelanya. Lampu kamarnya juga sudah berganti dengan lampu tidur. Terlihat dari cahaya dikamar yang tadi terang sekarang sudah redup.
Dean bergegas membersihkan diri, beruntung air di paviliun sudah hidup. Sepertinya sudah di perbaiki. Selesai mandi, Dean membaringkan tubuhnya di kasur. Seharian berkendara, membuat badannya terasa pegal.
Menyempatkan diri untuk memeriksa laporan yang dikirim Jeff, setelah itu Dean terlelap dalam tidur indahnya.
****
Setelah berkendara tak tentu arah, tanpa terasa ternyata pak Adrian sekarang sudah sampai di Villa. Dengan langkah gontai pak Adrian memasuki Villa. Tempat pertama yang di tuju nya adalah kamar. Ia ingin berbaring sejenak, semoga saja, saat terbangun, ia sudah bisa berpikir dengan jernih lagi.
Semakin pak Adrian mencoba menutup mata, bayangan Milly kembali menghantuinya. Bayangan saat mereka bersama di sini kembali hadir di pikiran pak Adrian. Bahkan setiap sudut Villa ini seperti menampilkan kejadian masa lalu.
"Akhkk, ini tidak bisa dibiarkan," teriak pak Adrian.
Bisa-bisa ia jadi gila jika terus di sini.
Tanpa mau berlama-lama lagi, pak Adrian kembali meninggalkan Villa. Penjaga Villa hanya bisa heran saat melihat pak Adrian seperti itu. Biasanya jika ke Villa, paling sebentar ia akan bermalam. Ini baru datang, sudah langsung pergi, wajahnya pun terlihat kacau.
"Hallo, Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam, pak Adrian."
"Ada, Pak Adrian. Silahkan jika mau ketemu. Tapi saya lagi di pesantren. Jika Pak Adrian mau, langsung ke sini saja. Nanti saya kirimkan alamatnya."
"Boleh, Ustadz. Tolong kirimkan alamatnya Ustadz. Saya langsung kesana."
"Baik, Pak Adrian."
"Baik, terima kasih, Ustadz."
"Sama-sama Pak Adrian."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Tidak lama setelah panggilan selesai, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel pak Adrian. Ternyata dari Ustadz Halil, ia mengirimkan alamat pondok pesantren, tempat ia mengajar.
Setelah berkendara selama kurang lebih satu jam, pak Adrian tiba di pondok pesantren itu. Ia merasakan suasana yang berbeda semenjak memasuki gerbang pesantren.
Sesampai di parkiran pesantren, pak Adrian kembali menghubungi ustadz Halil, ia mengabarkan jika sudah berada di pesantren. Tidak berapa lama Ustadz Halil muncul. Kemudian mengajak pak Adrian ke ruangannya.
"Apa kabar Pak Adrian? Sudah lama kita tidak ketemu. Angin apa yang membuat Pak Adrian mau jauh-jauh datang ke sini?" tanya ustadz Halil membuka percakapan.
__ADS_1
Pak Adrian menceritakan permasalahan yang sedang dialaminya. Pak Adrian akhirnya memutuskan untuk menemui ustadz Halil, karna merasa ustadz yang dulu sebagai guru ngajinya itu bisa memberinya solusi. Dan ia juga percaya, ustadz Halil bisa menjaga rahasianya.
Ustadz Halil mendengarkan dengan saksama cerita pak Adrian, lebih tepatnya curahan hati pak Adrian. Ustadz Halil tidak bertanya atau pun menyela, beliau membiarkan pak Adrian mengeluarkan isi hatinya.
"Jadi begitu Ustadz. Saya mohon pencerahan Ustadz tentang masalah saya ini," kata pak Adrian, mengakhiri ceritanya.
"Begini Pak Adrian, mungkin saya tidak akan berbicara tentang masalah yang telah pak Adrian lalui dahulu. Biarlah itu menjadi urusan Allah. Semua telah terjadi, tidak akan ada yang bisa mengubahnya.
Tentang Pak Adrian yang belum bisa melepas dan masih berharap bisa memiliki mbak Milly. Saya punya pemaham seperti ini.
Poligami itu memang dibolehkan. Tapi harus Pak Adrian tau, sesuatu yang dibolehkan itu, jika mudaratnya lebih banyak dari kebaikannya, lebih baik jangan.
Coba Pak Adrian pikirkan, apakah akan banyak yang berbahagia, atau akan lebih banyak yang menderita? Pak Adrian lebih tau itu. Jangan sampai Pak Adrian menjadi dzolim, karna sesuatu yang harusnya masih bisa dihindarkan.
Pada kasus Pak Adrian saat ini. Sudah jelas perempuan itu tidak mau. Terbukti dia akan menikah dengan orang lain. Tentu Pak Adrian tidak boleh memaksanya. Lepaskan dengan ikhlas. Insyaallah hati Bapak akan lega.
Sekarang yang bisa Bapak lakukan adalah, dekatkan kembali diri kepada Allah. Jangan biarkan syetan bertepuk tangan karna melihat keserakahan kita.
Pulang lah, minta maaflah dengan tulus pada bu Vania. Mulailah hidup sebagaimana dulu Bapak berjanji saat ijab kabul dilakukan. Rangkul mereka yang sekarang bersama dengan Bapak. Ajak mereka untuk sama-sama mendekatkan diri pada Allah.
Bukankah, tujuan dari pernikahan Bapak dan Bu Vania untuk meraih surganya? Raihlah surga itu bersama-sama. Bentengi diri agar selalu pada jalan yang sudah ditentukan. Insyaallah, setelah itu Pak Adrian dan keluarga akan menemukan kehidupan baru yang lebih baik lagi.
Dan kunci dari semua itu adalah kesungguhan dan juga keikhlasan."
Tanpa terasa, pak Adrian meneteskan air mata mendengar penjelasan ustadz Halil.
Benar saja, sekarang hati pak Adrian sudah sedikit lega. Bersyukur ia mendatangi orang yang tepat.
Tadinya pak Adrian sempat berpikir untuk menemui Milly. Ia berkeinginan untuk memaksa Milly membatalkan pernikahannya.
Setelah itu ustadz Halil mengajak pak Adrian berkeliling di pesantren. Beliau mengajak pak Adrian melihat santri laki-laki yang sedang belajar mengaji.
Saat melihat itu, pak Adrian teringat pada Axelle. Ia teringat akan permintaan Milly dahulu. Dan sekarang ia punya gambaran untuk masa depan Axelle nanti. Ia tersenyum membayangkan Axelle dimasa depan nanti.
"Berbahagialah Milly. Insyaallah saya akan mengikhlaskan mu. Saya akan memenuhi janji saya sebagai bentuk rasa cinta saya pada mu. Saya dan Vania akan bersama-sama menjaga Axelle."
Pak Adrian mengatakan itu dalam hatinya. Matanya masih saja melihat pada santri pria yang sedang mengaji itu.
***
Pak Adrian akan kembali pulang, ia sudah tidak sabar untuk bertemu Axelle dan bu Vania. Tapi karna waktu sholat Magrib sudah mau masuk, ustadz Halil menyarankan pak Adrian untuk sholat dulu sebelum pulang.
Pak Adrian melaksanakan sholat dengan khusuk. Bahkan saat berdoa, setelah sholat selesai, air mata pak Adrian tak berhenti menetes.
Pak Adrian pamit dan berterima kasih pada ustadz Halil. Pak Adrian juga berniat untuk membawa anak dan istrinya untuk berkunjung ke sini. Sebelum pulang, pak Adrian juga menitipkan amplop untuk bisa sedikit membantu keperluan pesantren.
Saat ini hati pak Adrian benar-benar jauh lebih baik dari tadi. Di jalan, pak Adrian membeli sesuatu untuk sang istri. Ia sudah membayangkan ekspresi sang istri saat menerimanya.
***
__ADS_1
Sesuai janjinya kemaren, pagi-pagi sekali Dean sudah datang menemui Milly. Ia akan mengatakan sesuatu pada Milly. Semalaman ia sudah memikirkan kata-kata yang pas untuk menyampaikannya. Dean tau ini adalah yang sangat sensitif bagi Milly.