MILLY

MILLY
bab.54 menyebar undangan


__ADS_3

Milly menangis, selepas pak Adrian pergi dari sana. Ia bersedih, ada rasa tak rela di hatinya, saat tau Dean akan bertunangan dengan Vallen. Belum lagi sikap pak Adrian yang selalu berbuat sesuka hati, membuat Milly kesal padanya.


Wati yang baru masuk, langsung menghampiri Milly. Milly pun langsung memeluk Milly.


"Ada apa Mbak? Mbak baik-baik aja kan?" Tanya Wati khawatir.


Milly memang sudah memikirkan untuk menceritakan apa yang terjadi pada Wati, mungkin saat ini lah waktu yang tepat untuk mengatakannya. Rasanya Milly butuh teman untuk mencurahkan isi hatinya. Apalagi ia sudah cukup lama mengenal Wati, ia yakin Wati bisa menjaga rahasianya.


Milly pun mulai menceritakan semuanya pada Wati, meski sudah mengira hal itu, tapi Wati cukup kaget mendengar cerita Milly. Ia tidak menyangka masalahnya akan serumit itu. Ia kasihan sekaligus sedih dengan nasip Milly.


"Sekarang kamu udah tau kan, Wat. Saya tidak tau sekarang kamu manilai saya seperti apa. Saya tidak akan marah. Tapi saya harap kamu bisa menyimpan rahasia ini dari siapa pun."


"Mbak Milly tenang saja, saya akan menjaga rahasia ini baik-baik. Saya juga tidak punya hak untuk menilai seseorang, Mbak. Bagi saya, Mbak Milly tetap lah orang baik, apalagi Mbak Milly melakukannya demi ibu," ucap Wati jujur.


"Makasi ya, Wat."


"Sama-sama, Mbak."


Benar saja, Milly sedikit lega, setelah bicara dengan Wati.


***


Vallen tersenyum , saat turun dari mobilnya. Dengan langkah cepat ia menuju pos satpam di kantor Dean.


"Maaf, Ibu yang waktu itu di usir pak Dean kan. Ibu tidak di bolehkan masuk ke dalam," ucap satpam yang waktu itu dipanggil Dean untuk mengusir Vallen.


Tanpa berkata-kata, Vallen langsung memberikan undangan pertunangannya dengan Dean pada satpam itu. Meski sedikit bingung satpam itu pun mengambilnya. Ia membuka undangan setelah disuruh Vallen.


Melihat ekspresi keterkejutan di wajah satpam itu, hati Vallen merasa puas.


"Bekerja yang baik, Pak. Saya bisa saja memecat Bapak jika bekerja tidak becus," ucap Vallen. Lalu ia meninggalkan satpam itu.


Vallen masuk ke dalam kantor Dean, lalu membagi-bagikan undangan pada para karyawan yang bekerja di sana.


Banyak karyawan yang sinis melihat gaya Vallen. Tapi mereka tetap harus pura-pura baik.


Saat melihat pintu ruangan Dean, Vallen tersenyum, lalu merapikan dandanannya sebentar.

__ADS_1


Tanpa mengetuk pintu, Vallen langsung masuk ke dalam ruangan. Di dalam, Dean sedang membahas pekerjaan dengan sekretarisnya.


Dengan senyum yang dibuat secantik mungkin, Vallen berjalan mendekati Dean. Tapi sepertinya, Dean tidak tertarik dengan kedatangan Vallen.


"Maaf, Pak. Lebih baik saya keluar dulu, nanti saya lanjutkan di ruangan saya saja. Kalau sudah selesai saya berikan pada Bapak. Sepertinya Bapak ada urusan yang lebin penting," ucap sekretaris Dean, karna Vallen mengkodenya untuk keluar.


"Tidak perlu, selesaikan sekarang saja. Soalnya setelah ini saya mau pergi. Jadi harus segera dikerjakan."


"Baik, Pak."


Sekretaris Dean itu kembali duduk di kursinya tadi. Kemudian ia tersenyum mengejek pada Vallen.


Vallen sakit hati melihat itu, apalagi Dean juga cuek padanya. Lama ia berdiri di samping meja Dean, tapi Dean tetap tidak berbicara padanya. Vallen pun memilih duduk di sofa yang ada di ruangan Dean. Sangking lamanya menunggu Dean, Vallen pun sampai ketiduran di sana.


*****


"Mbak ... Mbak, bangun Mbak. Saya mau membersihkan ruangan."


Vallen terbangun saat seorang OB membangunkannya.


"Ehh ... kamu ngapain pegang-pegang saya. Mas lihat nih karyawan kamu. Sudah berani pegang-pegang calon istri kamu."


"Maaf Mbak, saya bukan bermaksud megang Mbak. Saya dari tadi udah manggil-manggil. Tapi Mbak nya gak mau bangun, makanya saya goyangin tangan Mbak."


"Alasan, bilang saja kamu memanfaatkan kesempatan. Awas saja, saya akan aduin kamu sama mas Dean. Saya pastikan kamu akan di pecat."


OB itu hanya tersenyum mendengar perkataan Vallen. Ia tidak melakukan apapun yang di tuduhkan Vallen. Jadi ia tidak perlu takut. Apalagi di ruangan ini juga ada CCTV. Dan ia yakin, jika atasannya, adalah orang yang bijak dalam mengambil keputusan


Vallen yang kesal pun langsung keluar ruangan. Saat ia berpapasan dengan para karyawan yang akan keluar kantor, mereka menutup mulut seperti menahan tawa. Kebetulan sekarang jam pulang kantor.


Vallen yang memang sudah marah, semakin marah melihat itu. Tapi ia juga penasaran dengan apa yang terjadi.


Di lobi kantor, Valllen bertemu lagi dengan sekretaris Dean.


"Haha ... haha ... Wah, Mbak habis di apain sama pak Dean? Eh, tapi gak mungkin juga pak Dean yang lakuin. Kan pak Dean udah pulang dari tadi. Atau di dalam mimpi kali ya, Mbak," ucap sekretaris itu, yang diiringi tawa beberapa karyawan lain.


Vallen ingin membalas, tapi ia takut juga. Karna ia hanya sendirian. Vallen lebih memilih pergi. Tapi sialnya, tadi ia sudah menyuruh supirnya pulang, karna berharap akan pulang bareng Dean.

__ADS_1


Sekarang ia terpaksa harus memesan taxi online untuk pulang.


"Ups ... calon tunangan pak Dean kok nunggu taxi sih. Oh iya, kan ditinggal pulang sama pak Dean," ucap sekretaris Dean, saat lewat dengan mobilnya di depan Vallen.


Tanpa menunggu jawaban, ia langsung tancap gas, meninggalkan Vallen.


Setelah sampai di rumah, Vallen langsung menuju kamarnya, ia melihat tampilannya di cermin. Ia pun merutuki dirinya sendiri. karna marah pada OB tadi, ia sampai lupa memperhatikan penampilannya yang acak-acakan.


Dia juga merutuki Dean yang tega meninggalkannya. Sesaat kemudian Vallen teringat informasi yang tadi didapatnya di Rumah Sakit. Ia pun langsung menemui mamanya. Dan menceritakan semuanya.


****


Dean baru sampai di rumah. Di ruangan tengah sang mama terlihat baru saja selesai menelpon. Dean pun menghampiri mamanya.


"Hai Dean, baru pulang kerja ya, Nak?"


"Iya, Ma," jawab Dean singkat.


"Oh ya, Dean, Mama senang deh akhirnya kamu dan Vallen sebentar lagi akan tunangan. Persiapannya udah hampir selesai. Undangan juga udah di sebar. Tadi Vallen udah ke kantor kamu juga kan? ngantar undangan."


Dean pun menganggukkan kepalanya.


"Vallen juga mengundang teman perempuan kamu itu. Tadi ia juga udah mengantarkan undangannya."


"Teman? Maksud Mama, Milly."


"Iya."


Dean langsung pergi meninggalkan mamanya. Ia menuju mobil, sesaat kemudian ia sudah meninggalkan rumah. Ia kesal pada Vallen yang melakukan apa pun sesuka hatinya. Entah apa yang di fikirkan Milly saat ini, Dean ingin menjelaskan pada Milly jika ia melakukan itu karna terpaksa.


Mobil Dean melaju cukup cepat, ia harus segera sampai di rumah sakit, untuk menjelaskan pada Milly.


Sesampai di rumah sakit, Dean bergegas menuju ruangan ibu Milly di rawat. Ia sempat hampir menabrak seseorang karna tergesa-gesa.


Saat akan mengetuk pintu, Dean berhenti dan urung melakukannya. Ia tersadar, Milly sudah ada yang punya. Jadi ia tidak perlu menjelaskan apa pun lagi. Toh, itu tidak akan ada pengaruhnya untuk Milly.


Dean pun melangkah mundur.

__ADS_1


"Mas Dean," panggil seseorang, saat Dean akan berbalik meninggalkan tempat itu.


__ADS_2