
"Kamu! jangan bilang kamu itu a ...."
Bu Vania tidak sanggup melanjutkan ucapanya.
"Ya, aku anak dari Hadinata Wicaksono. Dan kita bersaudara," ucap Dean.
"Tidak! Aku tidak punya saudara, aku juga tidak mengenal Hadinata Wicaksono."
Bu Vania berucap sambil menggelengkan kepalanya. Suaranya sedikit lebih keras. Sehingga memancing orang yang ada di sana untuk melihat ke arah mereka.
"Ini tidak benar. Kamu menipu ku," lanjut bu Vania. Kemudian bu Vania langsung berdiri dan pergi meninggalkan Dean.
Dean sengaja tidak mengejar. Ia tau, pasti kakaknya itu butuh waktu untuk mencerna ini semua. Pasti tidak akan mudah baginya untuk menerima semua ini.
Yang terpenting bagi Dean, ia sudah memberi tau. Soal sekarang bu Vania menerima atau tidak, itu adalah keputusannya. Nanti Dean akan mencari cara agar bu Vania mau menerima kenyataannya.
Dari dalam kafe, Dean melihat mobil bu Vania sudah meninggalkan tempat parkir.
Dean pun segera berdiri, membayar makanan mereka, lalu pergi juga dari sana.
Bu Vania kembali ke kantor dengan perasaan yang kacau. Masalah Milly saja belum selesai. Sekarang orang yang berhubungan dengan masa lalunya juga datang di hadapannya. Entah apa maksud Dean menemuinya. Ia belum bisa menebaknya.
Bu Vania mengalihkan semua pekerjaan pada sekretarisnya. Ia tidak punya semangat untuk melakukan apa pun. Ia memutuskan untuk pergi ke Villa. Karna kalau pulang ke rumah, ia malas bertemu pak Adrian. Bu Vania pun batal menemui Milly ke Rumah Sakit.
Bu Vania meminta sopirnya untuk pulang naik ojek online. Ia beralasan ada pertemuan dan akan menyetir sendiri.
Perjalanan ke Villa yang lumayan jauh, membuat bu Vania sedikit kewalahan. Sudah lama ia tidak menyetir sendiri untuk perjalan yang jauh.
Sore harinya bu Vania sudah sampai di Villa. Ia langsung merebahkan tubuhnya sofa. Mungkin karna kecapekan, ditambah udara Villa yang dingin, bu Vania ketiduran di sana.
***
Sudah berapa kali pak Adrian menelpon, tapi tak juga diangkat oleh bu Vania. Bahkan kali ini ponselnya tidak bisa lagi di hubungi.
"Memangnya Bapak tidak tau bu Vania pergi kemana?"
Pak Adrian bertanya pada sopirnya bu Vania melalui telpon.
"Tidak Pak. Tadi bu Vania hanya meminta saya pulang. Katanya bu Vania akan ada pertemuan jadi mau nyetir sendiri."
Pak Adrian langsung saja mematikan telpon. Ia mulai panik memikirkan istrinya yang belum juga pulang. Padahal hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Pak Adrian juga sudah mencari ke kantor.
"Bu Vania meninggalkan kantor siang tadi. Setelah itu bu Vania tidak kembali lagi ke sini."
__ADS_1
Itu yang dikatakan oleh satpam kantor istrinya.
Beberapa teman bu Vania juga sudah di hubungi, tapi mereka mengatakan kalau Vania tidak bersama mereka.
Di rumah mertuanya juga tidak ada. Entah kemana perginya sang istri.
Pak Adrian frustasi memikirkannya. Terlebih malam sudah semakin larut. Ia sangat khawatir dengan bu Vania.
Berbagai tempat yang memungkinkan di kunjungi istrinya sudah dicari oleh pak Adrian. Tapi hasilnya masih sama.
Tiba-tiba pak Adrian kefikiran untuk mencari ke rumah sakit. Mungkin saja bu Vania mencari tau tempat Milly dan melakukan sesuatu karna merasa dikhianati.
Pak Adrian pun bergegas pergi ke sana.
Tok ... tok ... tok
Milly dikejutkan oleh pintu ruangan yang diketok dari luar. Bisanya malam-malam tidak ada dokter atau pun perawat yang datang. Diliriknya Wati, ternyata Wati tidur dengan nyenyak. Milly pun memberanikan diri untuk membuka.
"Mil, apa tadi bu Vania ada ke sini?"
Pak Adrian langsung bertanya saat pintu dibuka. Ia langsung menyelonong masuk. Milly menangkap kepanikan di wajah pak Adrian.
"Tidak, ada apa sebenarnya? Tadi Mas juga melarang saya memberi tau bu Vania alamat rumah sakit ini."
"Tapi bu Vania sudah tau, Mas. Kemarin dia udah menelpon saya. Dan menanyakan kenapa saya tidak ada di rumah sakit? Makanya saya bilang di sini."
Pak Adrian menyugar rambutnya. Ia terlihat semakin panik.
Milly mencoba lebih dekat dengan pak Adrian.
"Ada apa, Mas? Saya yakin terjadi sesuatu. Semenjak Mas menelpon tadi pagi saya merasa ada yang tidak beres. Di tambah lagi sekarang Mas datang ke sini malam-malam dengan kondisi berantakan dan panik."
Pak Adrian diam saja, ia tidak tau harus menjelaskan dari mana. Ia tidak mau Milly jadi kefikiran.
"Apa bu Vania sudah tau, kalau Mas menghianatinya?" ucap Milly lagi.
Pak Adrian meraih tangan Milly.
"Kamu tenang saja, saya yang akan mengatasi ini semua. Jangan banyak fikiran. Kamu harus fokus pada calon anak kita dan ibumu."
Milly melepaskan tangannya dari genggaman pak Adrian. Pak Adrian menyuruhnya tenang. Sedangkan ia sendiri tidak bisa tenang.
"Terus kenapa Mas malam-malam datang ke sini mencari bu Vania. Emangnya bu Vania kemana?"
Karna terus didesak Milly, pak Adrian menceritakan semuanya.
__ADS_1
"Pasti bu Vania sekarang sangat marah. Ia pasti sangat kecewa dengan kita. Bapak harus mencari bu Vania secepatnya. Saya takut terjadi sesuatu padanya."
"Kamu tenang dulu, saya ke sini juga mencarinya. Entah kemana lagi saya harus mencari."
Tiba-tiba pak Adrian Kefikiran dengan Dean. Ia masih curiga kalau Dean mendekati istrinya karna ada makaud tertentu.
"Mil, saya mau minta alamat rumah teman kamu yang bernama Dean itu," ucap pak Adrian.
"Dean?" tanya Milly keheranan.
"Iya, kamu pasti tau alamatnya kan?"
"Tidak, saya belum pernah ke rumahnya. Kenapa Mas mencari Dean?"
"Tidak apa-apa, saya bisa mencarinya sendiri. Saya pergi dulu." Pak Adrian langsung pergi. Ia tidak menghiraukan Milly yang terus memanggilnya.
Milly memperhatikan tubuh pak Adrian yang makin menjauh. Ia kembali ke dalam, saat pak Adrian tidak terlihat lagi.
Bingung dengan apa yang terjadi. Milly mencoba menghubungi Dean. Ia ingin tau apa yang terjadi. Meski ragu, Milly akhirnya memberanikan diri untuk menelpon. Tapi sayang, ternyata nomornya tidak aktif.
Milly pun semakin tidak tenang memikirkannya. Berulang kali ia menelpon. Tapi hasilnya tetap sama. Untuk menelpon bu Vania Milly tidak berani.
****
Bu Vania terbangun saat hari sudah malam. Beruntung tadi ia ditemani bibik yang biasa mengurus Villa. Jadi ia tidak gelap-gelapan karn tadi tidak menghidupkan lampu.
Bu Vania mengecek ponselnya yang ternyata mati. Tanpa berniat untuk mencas, ia langsung ke dapur. Ternyata di kursi makan ada bibik yang ketiduran sambil duduk. Mungkin ia ketiduran karna menunggu bu Vania.
"Bik, bangun, kenapa tidur di sini."
"Maaf Non, bibik tadi mau pulang. Tapi gak tega ninggalin Non sendirian. Mau bangunin juga gak tega. Jadi bibik tunggu aja. Ehh ... malah ketiduran."
"Maaf ya, Bik. Gara-gara Vania Bibik sampai harus tidur di sini?"
"Gak apa-apa? Non Vania mau makan, bibik udah masak tadi."
"Gak usah Bik. Vania gak lapar, mungkin untuk besok pagi aja," ucap bu Vania.
Akhirnya makanan itu disimpan kembali ke kulkas. Bibik pun menginap di Villa karna tak tega meninggalkan bu Vania sendirian.
***
Pak Adrian tidak berhasil menemukan alamat rumah Dean. Ia hanya mendapat alamat perusahaan Dean. Karna tidak memungkinkan untuk ke sana malam hari. Ia memutuskan untuk ke sana esok pagi.
Esok paginya bu Vania sudah siap untuk kembali ke rumahnya. Ia bukanlah tipe orang yang menghindar dari masalah. Ia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri sebentar. Dan satu malam di Villa sudah cukup baginya.
__ADS_1