MILLY

MILLY
bab 37. kedatangan Vallen


__ADS_3

Sore harinya, Dean sengaja pulang cepat, dia akan pergi ke tempat kerja Milly. Dia akan menjemput Milly.


Lama Dean menunggu, tapi Dia tidak melihat Milly di antara banyaknya karyawan yang keluar. Tidak berapa lama Dean melihat Rara keluar dari kantor. Dean pun menghampiri Rara.


"Maaf Mbak, Mbak ini temannya Milly kan?"


"Iya, Mas. Saya temannya Milly. Ada apa ya, Mas?" Tanya Rara.


"Saya mau tanya Mbak. Milly nya udah pulang atau masih di dalam ya, Mbak?"


"Panggil Rara aja, Mas. Milly kan hari ini gak masuk. Katanya sih masih kurang sehat. Milly gak ngasih tau Mas ya," ucap Rara.


"Mmmm ... mungkin karna sakit jadi gak sempat kasih tau," jawab Dean asal.


"Ya sudah, makasi ya Ra. Biar saya langsung ke rumahnya aja. Permisi ya, Rara."


Dean hendak pergi tapi Rara menghentikannya.


"Kenapa?"


"Maaf Mas. Mas ini pacarnya Milly atau bukan? Soalnya selama ini saya gak pernah melihat Milly dekat dengan laki-laki," tanya Rara kepo.


Dean hanya tersenyum mendengar perkataan Rara. Satu sisi dia senang, karna menjadi satu-satunya yang dekat dengan Milly.


"Ya udah Mas. Gak usah di jawab. Titip salam aja sama Milly, semoga cepat sembuh."


"Oke ... nanti saya sampaikan."


Setalah itu Dean langsung menuju rumah Milly. Di perjalanan dia mencoba menelpon Milly. Tapi tak ada sekalipun diangkat. Bermacam pertanyaan hadir di fikiran Dean.


***


"Assalamualaikum."


Dean mengucapkan salam saat tiba di depan pintu kos Milly.

__ADS_1


"Waalaikum salam," ucap Milly sambil membuka pintu.


Milly kaget karna Melihat Dean sudah berada di depannya. Milly ingin kembali menutup pintu, tapi ia masih memiliki adab pada tamu yang datang.


"Hai Mil, kamu sakit lagi ya. Tadi aku ke kantor mu. Kata teman mu kamu sakit."


"Iya," jawab Milly.


"Sekarang gimana keadaannya, udah minum obat atau belum. Atau kita ke Rumah Sakit aja ya. Biar kamu bisa berobat dengan baik."


"Maaf Dean. Sepertinya tidak perlu. Jika tidak ada hal penting aku mau istirahat dulu," ucap Milly yang membuat Dean merasa agak aneh. Milly seolah-olah ingin mengusirnya. Tapi denga cara halus.


"Mmmm ... ya sudah aku pulang dulu. Aku cuma ingin tau keadaanmu. Cepat sembuh ya, Mil," ucap Dean.


Dean memilih pergi karna melihat wajah Milly seperti tidak bersahabat. Apa lagi tadi Milly langsung masuk dan menutup pintu. Padahal Dean masih di berdiri di sana.


Seketika fikiran Dean menjadi kacau. Kenapa Milly tiba-tiba bersikap seperti itu padanya. Apakah dia marah karna kemaren Dean mengungkapkan cinta padanya. Atau karna tiba-tiba harus pulang sedangkan mereka belum selesai makan.


Dean memukul setir beberapa kali. Rasanya sekarang Dean tidak bisa berfikir jernih untuk menghadapi masalah yang sedang dihadapinya.


***


Mau bagaimana lagi, hatinya terlanjur sakit. Baru kemarin Dean menyatakan cinta padanya sekaligus melamarnya, walaupun belum secara resmi. Tapi apa? Tadi pagi ia mendapat kabar jika Dean akan menikah dengan wanita lain.


Milly melihat Dean, beberapa kali menoleh ke arah rumahnya. Sebelum akhirnya benar-benar hilang dari pandangan.


Milly luruh ke lantai tempat ia berdiri tadi. Ia duduk sambil memeluk kadua kakinya.


Tangisnya pecah juga meski sudah di tahan.


"Mbak Milly, Mbak kenapa?" ucap Wati cemas. Milly lupa jika Wati dari tadi berada di kamar ibunya.


Milly masih saja menangis, Wati pun mencoba menenangkannya.


"Ada apa Mbak? Jika Mbak mau, Mbak bisa bercerita pada saya. Meski mungkin saya tidak bisa membantu, paling tidak setelah bercerita bisa meringankan fikiran Mbak."

__ADS_1


Milly langsung memeluk Wati. Dia memang dekat dengan Wati, tapi selama ini tidak pernah menceritakan masalah pribadi.


Setelah puas menangis di pelukan Wati, Milly pun melepas pelukannya. Ia mencoba menceritakan apa yang terjadi pada Wati. Ia ingin tau bagaimana pendapat Wati.


***


Tadi pagi, Milly di antar pak Adrian kerumahnya. Baru saja mobil pak Adrian pergi. Datang satu mobil lagi, lalu parkir di depan kos Milly.


"Hai Milly, apa kabar? Darimana? kok pulang pagi," tanya Vallen dengan wajah mencemooh.


"Hai juga Vallen, kabar baik. Kabar mu gimana?"


"Oh, kabar ku sangat baik. Ngomong-ngomong yang tadi itu pacar kamu atau siapa? Kok nganterin pulang, pagi-pagi? Tanya Vallen lagi. Sepertinya dia sangat kepo akan hal itu.


Milly hanya tersenyum, karna tidak mungkin juga ia jujur sama Vallen.


"Mmm ... kalau gak mau jawab, gak apa-apa juga sih. Itukan privasi kamu," ucap Vallen sambil tertawa kecil.


"Ya sudah, masuk dulu, biar saya bikin kan minum," ucap Milly berbasa-basi. Sebenarnya ia merasa kurang senang dengan kehadiran dan kata-kata Vallen. Mau bagaimana lagi, mau di usir juga gak enak.


"Gak usah, aku tadi kebetulan lewat, aku mau ke rumah mas Dean. Eh, lihat kamu turun dari mobil, jadi aku berinisiatif untuk nyamperin kamu. Apalagi aku tau kamu itu kan temannya mas Dean, jadi aku sekalian mau berbagi kabar bahagia, bahwa aku sama mas Dean akan menikah."


Milly kaget mendengar perkataan Vallen. Untuk memastikan jika dia tidak salah dengar Milly pun kembali bertanya sama Vallen.


"Iya, kamu gak salah dengar kok. Aku sama mas Dean akan menikah. Sebagai sahabat mas Dean, aku yakin kamu akan senang mendengar kabar ini," jawab Vallen meyakinkan Milly.


"Oh, gitu ya," tanggapan Milly tak bersemangat. Hatinya hancur mendapati kenyataan barusan.


"Iya ... kalau kamu gak percaya, ni lihat pesan dari tante Santy," ucap Vallen sambil memperlihatkan pesan di ponselnya.


[Vallen sayang, tante punya kabar gembira buat kamu. Dean mau menikah dengan kamu. Besok pagi kamu ke sini ya. Biar kita bisa bicarakan selanjutnya. Gak sabar rasanya menunggu hari itu tiba. Selamat ya sayang.]


Milly seolah tidak punya tenaga lagi setelah membaca pesan itu. Jika saja ia tidak berpeganga di dinding, mungkin tubuhnya sudah luruh di lantai teras.


"Ya sudah, aku pergi dulu ya. Gak enak membiarkan calon suami dan calon mertua menunggu lama. Tapi aku mau minta tolong sama kamu, mulai sekarang, kamu jangan terlalu dekat lagi sama mas Dean. Soalnya sekarang mas Dean itu sudah punya aku sebagai calon istrinya. Bye Mil," ucap Vallen sambil berlalu.

__ADS_1


Vallen pergi dengan hati senang. Ia puas melihat wajah Milly yang tidak suka dengan kabar yang ia ceritakan. Vallen yakin Milly pasti sakit hati dan tidak akan mau lagi bertemu Dean.


Rasanya pagi ini dewi fortuna berpihak padanya. Tidak hanya sukses membuat Milly terkejut. Ia juga mendapatkan sesuatu yang akan bermanfaat untuk melancarkan niatnya.


__ADS_2