
Dean mengikuti mobil itu. Dia tetap memberi jarak agar tidak terlalu dekat. Dia tidak ingin mereka curiga jika Dean sedang mengikuti mereka.
Mobil itu terus melaju dan berbelok ke sebuah rumah yang cukup besar. Mobil itu masuk setelah gerbang rumah di bukakan oleh penjaga nya. Gerbang itu cukup tinggi dan tertutup, tidak memungkinkan juga untuk mengintip.
Dean kembali pulang ke rumahnya. Tak ada informasi yang dia dapat untuk mengatasi rasa penasarannya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Dean duduk di samping mamanya. Di sofa ruang keluarga. Mamanya sedang menonton TV.
"Mama lihat belakangan ini kamu sangat sibuk. Ada masalah di kantor?" Mama Dean menanyai nya.
"Gak kok ma, kantor baik-baik aja. Gak ada yang perlu di khawatirkan. Dean akan memastikan perusahaan papa akan terus berkembang dan berjalan dengan baik," kata Dean.
Semenjak papanya meninggal memang Dean lah yang menjadi penerusnya. Ia harus meninggalkan pekerjaan lamanya di luar negri dan kembali ke tanah air.
Selain itu ia juga tidak tega membiarkan mamanya sendirian di rumah.
"Oh ya. Tadi katanya Mama mau bicara. Ada apa?"
"Begini loh Dean, Mama ini kan udah gak muda lagi. Mama gak tau kapan akan di panggil Allah. Mama takut gak bisa lihat kamu menikah." Mama Dean mulai berbicara.
"Pasti ini soal Vallen lagi." Dean sudah bisa menebak kemana arah bicara mamanya.
Mama Dean pun mengiyakan. Lalu menceritakan apa yang tadi di bicarakannya dengan mamanya Vallen.
"Dean gak bisa, Ma. Dean kan sudah sering bilang sama Mama, Dean itu gak suka sama Vallen. Lagi pula sekarang Dean sedang memperjuangkan cinta Dean. Dean baru aja bertemu dia lagi setelah sekian lama." Dean berkata berterus terang pada mamanya.
"Mencari pasangan itu tidak bisa asal-asalan. Kamu harus tau bibit, bebet dan bobot nya. Mama belum tau bagaimana wanita itu. Sedangkan Vallen, Mama sudah kenal dengannya, bahkan keluarganya."
"Mama kenal kok sama dia, dan Dean juga yakin Mama akan suka sama dia."
Dean mencoba meyakinkan mamanya.
"Siapa? lagi pula mana ada mama kenal sama teman perempuan mu. Kamu kan gak pernah bawa teman perempuan ke rumah."
"Nanti, kalau sudah waktunya Dean akan bawa dia ke sini ketemu Mama." Dean sengaja tidak menyebutkan nama Milly. Biarlah nanti jadi kejutan untuk mamanya.
"Baiklah. Tapi mama gak mau nunggu terlalu lama. Satu lagi, kamu tetap harus mempertimbangkan Vallen. Mama gak enak sama tante Laras. Takut nanti pertemanan mama rusak."
"Iya, maka nya Mama bantu do'a dong. Biar Dean bisa mendapatkan cinta Dean. Jangan Doain Vallen terus." Kata Dean pura pura cemberut.
Ada sedikit rasa lega di hati Dean setelah berbicara dengan mamanya. Dia berharap mamanya bisa mengerti itu. Dan tidak lagi menuntutnya untuk selalu bersama Vallen.
Sekarang Dean harus mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya pada Milly. Dia tidak ingin nanti Milly di miliki orang lain.
***
Waktu terus berjalan sebagai mana mestinya. Milly pun bekerja seperti biasa, meskipun di kantor bu Vania sering memanggilnya untuk menanyakan apakah sudah ada tanda tanda kehamilan yang dirasakan Milly.
__ADS_1
Padahal baru satu minggu semenjak pernikahan itu terjadi. Tidak ayal itu menjadi perhatian dan pertanyaan teman-teman nya.
Hubungan nya dengan Dean pun semakin dekat. Meski baru sebatas teman.
Driing ... dring ... dring ....
Ponsel di dalam tas Milly berbunyi saat dia bekerja. Tertera nama pemanggil yang tak lain adalah Wati. Tetangga kos sekalian orang yang di percaya Milly untuk menitipkan ibunya selama ia bekerja.
Milly langsung kefikiran ibunya. Tadi ibunya baik baik saja, saat satu jam lalu Milly pulang waktu istirahat kantor.
"Hallo Wati, ada apa? Apa ibu baik baik saja."
"Ibu baik baik aja, Mbak."
"Lalu ada apa kamu nelpon saya?"
"Ada yang datang ke rumah Mbak. Katanya ayah Mbak. Dia marah-marah sampe ngancem mau dobrak pintu. Katanya mau ketemu ibu Mbak."
"Astaghfirullah. Kamu bilang sama ayah saya. Saya akan pulang. Jangan biarkan dia masuk. Takutnya dia nyakiti ibu," kata Milly dan di iya kan oleh Wati.
Milly yakin ayahnya datang untuk menagih uang mahar kemaren. Milly memang sudah mentransfer uang pada ayahnya. Dengan nominal satu juta rupiah.
Ayahnya tidak terima dengan itu dan terus menghubungi Milly. Milly yang lelah menghadapi sikap ayahnya memilih memblokir nomor sang ayah.
Tidak habis akal ayahnya meneror Milly memakai nomor ponsel sang istri. Milly pun kembali memblokir nya.
Ternyata ayahnya tidak berhenti sampai di situ. Sekarang dia langsung ke rumah Milly.
"Maaf, Pak saya mau lewat, saya sedang tergesa-gesa," kata Milly.
"Sepertinya kamu kangen dengan ciuman saya," kata pria itu tak terima di panggil bapak.
"Jangan bercanda, Pak. Ini kantor, emangnya Bapak mau nanti ada yang lihat dan ngadu sama bu Vania."
"Emang nya kita sedang berselingkuh, tidakkan. Kamu juga istri saya. Apa ada yang salah?"
"Istri siri, Pak. Itu pun karna ada kepentingan di dalamnya. Satu lagi, semuanya harus berjalan sesuai dengan yang di tentukan bu Vania," kata Milly menegaskan.
"Saya bisa mengatasinya."
"Terserah Bapak saja. Sekarang saya benar-benar harus pergi. Saya mohon minggirlah."
"Baiklah, tapi saya mau minta nomor telpon kamu," kata pak Adrian lagi.
Milly pun bisa pergi setelah memberi nomor telponnya pada pak Adrian.
Milly memacu kuda besinya dengan cepat.
Benar saja, ayahnya sudah menunggunya dengan kedua tangan di pinggang. Wajah ayahnya benar-benar tidak bersahabat. Tapi Milly memcoba untuk tetap tenang menghadapinya.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Datang juga kamu, cepat berikan uangnya. Kamu mau membohongi ayah ternyata."
Bukan nya menjawab salam, ayahnya langsung menengadahkan tangan meminta uang.
"Bukankah uangnya sudah saya kirim. Lalu uang apa lagi yang Ayah minta,"jawab Milly dengan tenang.
"Uang mahar yang kemaren. Bukan kah kamu sudah berjanji akan memberikannya pada ayah. Kenapa hanya mentransfer satu juta."
"Saya memang mengatakan akan memberi Ayah uang dan sudah mengirimnya. Saya tidak menjanjikan sejumlah berapa, tidak juga mengatakan akan memberikan semua uang itu pada Ayah."
Bugh ... bugh ... bugh
Ayah milly marah dan menendang pintu kos Milly. Milly gegas menarik ayahnya menjauh. Dia tidak mau ibunya sampai terganggu dan kefikiran jika mendengar kata-kata ayahnya.
Akhhh....
Ayahnya menarik kasar tangannya dari pegangan Milly.
"Pergilah, jangan membuat keributan di sini, lagi pula saya tidak akan memberikan apa pun ke pada aAyah. Uang nya sudah habis untuk membayar hutang Ayah. Harusnya Ayah malu, karna sudah membebankan hutang pada kami, dan sekarang mau meminta uang juga."
Meski sedikit keras, Milly berkata masih dengan tenang.
Ayah Milly tidak terima dengan itu. Ia harus mendapatkan uang dari Milly. Karna Anak buah juragan Tejo sudah menagih hutangnya. Kemaren saja ia sudah di buat babak belur oleh mereka.
"Penipu kamu. Sekarang kamu harus ikut dengan ayah. Kamu harus jadi anak yang tau balas budi. Ayah sudah membesarkan mu. Sekarang saatnya kamu yang berkorban untuk ayah."
Ayah Milly terus menarik tangan Milly ke motornya. Jika tidak ada uang maka ia akan menyerahkan Milly pada juragan Tejo. Ia tidak peduli dengan status Milly yang sudah menikah.
"Saya tidak akan pernah ikut dengan Ayah."
"Jangan membantah, jika tidak mau terjadi apa-apa sama kamu dan ibumu."
Ayah Milly terus saja menarik Milly. Tapi Milly terus juga melawan. Milly beberapa kali tersungkur hingga bibirnya berdarah terbentur jalan.
Ayahnya tidak mempedulikan itu. Meskipun Milly sudah memohon untuk di lepaskan.
Bayangan dirinya yang akan kembali di buat babak belur oleh anak buah juragan Tejo. Membuat nya buta akan keselamatan anaknya.
Hingga seseorang menarik Milly dan melepaskannya dari pegangan ayahnya. Kemudian ia menyembunyikan Milly di belakangnya.
"Lepaskan dia, jangan ikut campur, ini urusan keluarga. Kamu pasti tidak tau siapa saya,"
"Bapak Sapto," kata pria itu.
"Bapak orang tuanya Milly kan. Kenapa malah menyakitinya. Bukankah tugas seorang ayah melindungi anaknya," lanjut pria itu.
"Sudah saya bilang. Jangan ikut campur, dia harus ikut dengan saya. Lepaskan dia atau saya akan membuat perhitungan dengan mu," ancam ayah Milly.
"Silahkan saja. Tapi sebelum itu saya akan melaporkan Bapak ke polisi. Saya rasa rekaman ini sudah cukup sebagai bukti untuk menjebloskan Bapak ke penjara. Karna sudah melakukan tindakan kekerasan."
Mendengar kata penjara. Nyali ayah Milly langsung menciut. Kentara sekali jika dirinya ketakukan.
__ADS_1
"Kurang ajar. Lihat saja, saya pasti akan kembali lagi. Jangan salahkan saya jika saya akan berbuat nekat pada ibumu," ancam ayah Milly. Kemudian langsung pergi dengan motornya.