MILLY

MILLY
bab 86. masih sabar


__ADS_3

Milly tidak langsung menjawab. Lagi pula, ia juga tidak tau akan menjawab apa. Milly heran, kenapa mamanya Dean ingin dia tinggal di sini. Milly melirik Dean yang ternyata juga sama melihat padanya.


Sebenarnya Dean sudah memberi tau pada sang mama tentang keinginannya untuk menikahi Milly. Ia sudah menceritakan semuanya. Tidak sedikit pun ada yang ditambah atau pun dikurangi Dean.


Dean melakukan itu agar dikemudian hari tidak terjadi kesalahpahaman. Bersyukur sang mama menyerahkan semuanya pada Dean. Mamanya tidak akan melarang jika Dean sendiri sudah bisa berdamai dengan semua masa lalu Milly. Dan Dean sudah mengantongi restu sang mama.


Soal Milly, wanita itu belum secara gamblang mengiyakan permintaan Dean. Tapi ia juga tidak pernah menolaknya. Saat pertemuan tadi, Dean sengaja belum membahasnya. Ia ingin membuat Milly dan sang mama saling nyaman dulu. Setelah itu barulah ia membicarakan hal yang serius.


"Kali ini dengarkan mama ya, Dean. Mama sepertinya harus memaksa Milly untuk tinggal di sini. Di sini mama bisa temani Milly. Kamu juga akan bisa selalu pantau Milly. Dari pada badan kamu di sini, tapi pikiran di tempat lain. Mama cemas, Nak. Mama yakin Vallen dan mamanya tidak akan membiarkan kalian berbahagia," kata mama Dean meyakinkan Dean dan juga Milly.


***


Lama mama Dean memperhatikan nama penelpon yang tertera di layar ponselnya. Ia ragu untuk mengangkatnya. Sudah lama semenjak Dean menghilang, semenjak itu juga ia dikeluarkan dari grup arisan. Dimana di sana juga ada mamanya Vallen. Mama Vallen mempengaruhi teman-teman yang lain untuk membencinya. Sehingga berakhir dikeluarkan dari grup arisan.


Dan sekarang salah satu temannya dulu menelponnya. Bukan karna marah atau dendam karna dikeluarkan yang membuat mama Dean ragu untuk mengangkatnya. Hanya saja ia sedang mencoba menerka, angin apa yang membuat temannya itu menelpon.


"Hallo, Jeng Tiwi," sapa mamanya Dean. Ia akhirnya memutuskan untuk mengangkat telpon.


"Hallo, Jeng Santy. Saya, saya mau minta maaf Jeng, atas peristiwa dulu. Saya mengambil keputusan tanpa memastikan kebenarannya dulu."


"Tidak apa-apa Jeng. Saya sudah lama memaafkan, Jeng Tiwi. Lagi pula saya sudah melupakan semua itu," jawab mamanya Dean tanpa ragu sedikit pun.


Jujur saja, peristiwa itu tidak akan bisa dilupakannya begitu saja. Pasti akan selalu teringat. Bagaimana ia yang waktu itu menghadiri arisan di sebuah kafe, tempat yang sudah disepakati bersama. Ternyata ia tidak dipesankan tempat oleh anggota yang lain. Dan sedihnya mereka mengatakan bahwa mama Dean sudah dikeluarkan dari arisan. Mereka menyalahkannya karna telah membuat Vallen dan keluarganya malu.


Mama Dean kecewa, bahkan sempat sakit hati. Jika memang ia sudah dikeluarkan, kenapa masih mengundangnya untuk datang?


Kenapa harus membuatnya malu di hadapan banyak orang?


Semenjak itulah hubungan mama Dean dan semua teman arisannya putus.


"Makasi Jeng, sebenarnya saya mau minta maaf langsung sama Jeng Santy. Tapi sekarang saya lagi di luar kota. Selain itu ada hal penting yang ingin saya beri tau. Semoga apa yang sama sampaikan bisa membantu Jeng Santy. Anggap saja sebagai bentuk permintaan maaf dari saya."


Temannya itu mengatakan bahwa Vallen mengalami gangguan jiwa akibat Dean tidak mau menerimanya. Dan ia sudah di rawat di RSJ selama satu bulan. Tapi sekarang kondisinya sudah sedikit membaik, sehingga sudah bisa keluar dari sana.


Dan mamanya Vallen bercerita, ia akan membalaskan sakit hatinya pada Dean dan juga Milly. Ia tidak akan membiarkan Dean dan Milly bahagia. Ia akan membuat Dean dan Milly merasakan, apa yang dirasakan Vallen.


Oleh karna itulah teman mamanya Dean, memintanya untuk waspada.


***

__ADS_1


Dean mengepalkan tangannya setelah mendengarkan cerita sang mama. Ia sangat geram dengan tingkah Vallen dan mamanya.


Sedangkan Milly kaget sekaligus kasihan. Ia tidak menyangka akibatnya akan sejauh itu. Meski Vallen sering menyakitinya, tetap saja Milly tidak tega mendengar Vallen menjadi seperti itu.


Jujur saja, Dean sependapat dengan sang mama. Hanya saja, ia perlu mendengarkan pendapat Milly. Selain keselamatan, Dean juga memperhatikan kenyamanan Milly.


"Dean setuju dengan Mama. Hanya saja, Dean harus mendengarkan pendapat Milly dulu. Karna Dean ingin Milly merasa nyaman dimana pun ia tinggal."


Setelah mengatakan itu, Dean melihat Milly. Tapi setelah menunggu beberapa lama, belum juga ada tanggapan yang keluar dari mulut Milly. Dan Dean sangat memahami itu, pasti Milly butuh waktu untuk berpikir.


"Baiklah, tapi sebaiknya pertimbangkan usulan mama tadi. Mama hanya tidak mau ada yang menyakiti kalian."


Milly merasa terharu dengan penuturan mamanya Dean. Hanya saja, ia masih ragu untuk memutuskan.


***


Dean mengantarkan Milly pulang. Meski begitu, bukan berarti ia akan lepas pengawasan. Ia bahkan berniat untuk menyewa apartemen di dekat apartemen Milly. Agar ia bisa selalu memantau Milly. Bahkan mamanya sudah menyepakati itu. Itu dilakukan Dean, sampai Milly bisa menentukan keputusannya.


Di pertengahan jalan, ponsel Milly berbunyi. Ternyata itu panggilan telpon dari Wati.


"Siapa yang telpon?"


"Wati."


"Hallo, Wat."


"Hallo, Mbak. Mbak Milly ada dimana?"


"Nih lagi di jalan, mau pulang. Ada apa? Kenapa suara mu seperti itu?"


"Hati-hati, Mbak. Soalnya tadi aku mau membeli sesuatu. Pas udah di bawah, aku lihat mamanya Vallen, Mbak."


"Mamanya Vallen?"


Milly langsung menatap Dean. Dan disaat bersamaan Dean juga menoleh karna mendengar nama Vallen.


Milly menggelengkan kepalanya kepada Dean. Lalu kembali berbicara dengan Wati.


"Kamu yakin? Mungkin kamu salah lihat."

__ADS_1


"Aku yakin, Mbak. Tapi aku gak tau tujuan dia di sini untuk apa? Aku cuma mau bilang, Mbak jaga-jaga aja. Jangan sampai Mbak ketemu sama dia."


"Baiklah, Wat. Makasi udah kabarin saya. Kamu juga hati-hati. Bentar lagi saya sampai."


"Baik, Mbak."


Tut.


"Ada apa?" tanya Dean setelah Milly selesai menelpon.


Milly pun menceritakan apa yang dikatakan Wati tadi.


Dean meminggirkan mobilnya. Kebetulan di pinggir situ ada taman bermain. Dean mengajak Milly turun sebentar. Lalu mereka duduk di sebuah kursi panjang yang ada di taman itu. Dean meminta Milly untuk mempertimbangkan permintaan mamanya tadi. Ia yakin mamanya Vallen sedang berusaha mencari keberadaan Milly.


"Bagaimana, Mil?"


"Sepertinya aku di apartemen aja deh Dean. Insyaallah aku bisa jaga diri kok. Lagi pula ada Wati juga. Aku gak enak, kalau harus tinggal di rumah kamu."


"Kenapa? Kamu gak suka sama mama?"


"Bukan gitu? Aku cuma gak enak aja. Lagi pula sampai kapan aku akan sembunyi terus? Aku juga harus lanjutin hidup aku. Setelah ini aku juga harus bekerja. Gak mungkin selamanya aku akan seperti ini."


"Kenapa kamu sangat ingin bekerja, Mil?"


"Pertanyaan macam apa ini, Dean. Kamu pasti tau kenapa aku ingin bekerja?"


Bukannya menjawab Milly malah balik bertanya pada Dean.


"Uang. Baiklah, pasti itu alasan mu. Kan aku dah bilang, Mil, kamu tidak perlu memikirkan apapun, semuanya menjadi tanggung jawab ku. Jadi aku mohon, kamu setuju dengan usulan mama."


Milly bingung, meski pun sudah berulang kali Dean mengatakan itu, tetap saja ia merasa sungkan. Apalagi sekarang ia belum menjadi siapa-siapa bagi Dean. Tidak ada kewajiban Dean untuk bertanggung jawab pada hidupnya.


Apalagi harus tinggal di rumah Dean. Ia takut dan merasa tidak enak hati dengan mama Dean jika harus menumpang di sana.


Dean tersenyum setelah Milly mengatakan apa yang membuatnya ragu.


"Ya sudah, kita nikah sekarang aja," kata Dean menggoda Milly.


"Jangan aneh-aneh, Dean. Jangan mulai lagi," kata Milly cemberut.

__ADS_1


"Belum mulai kok, Mil. Masih sabar," kata Dean. Ia tersenyum jahil menggoda Milly.


Setelah itu ia tertawa saat melihat mata Milly yang melotot padanya.


__ADS_2