
"Mas Dean," ucap Wati. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia pikir Dean benar-benar sudah pergi keluar negri.
Milly mendengar Wati menyebut nama Dean. Hanya saja ia tidak mau melihat kesana. Ia masih berpikir kalau itu mungkin hanya halusinasinya saja, karna ia sedang memikirkan Dean.
"Mbak Milly," kata Wati. Ia mendekati Milly yang masih melihat ke dinding. Entah apa yang dilihatnya di sana.
"Mbak, aku keluar sebentar, ya," kata Wati lagi.
Milly menganggukkan kepalanya. Ia pikir mungkin Wati ingin membeli sesuatu. Milly masih belum sadar jika ada orang yang datang.
Wati tersenyum pada Dean, ia juga mengacungkan jempolnya. Kemudian langsung keluar dan menutup pintu.
Dean berjalan ke arah Milly. Sedangkan Milly masih setia melihat ke dinding.
"Assalamualaikum Mil," ucap Dean. Ia sudah berdiri di samping ranjang Milly.
Deghh.
Suara itu.
Milly mendengar dengan jelas suara itu. Dengan hati-hati dan jantung deg-degan Milly menggerakkan tubuhnya. Ia ingin memastikan siapa yang datang.
"Waalaikum salam. Dean!" ucap Milly kaget.
"Hai Mil," ucap Dean lagi.
Milly membalasnya dengan anggukan kepala dan memaksa untuk sedikit tersenyum.
Sesaat setelahnya, suasana canggung terjadi di ruangan itu. Dean bingung harus memulai bicara dari mana. Begitu pun Milly, bahkan saat ini ia sangat deg-degan berduaan dengan Dean di ruangan ini.
Cukup lama, semenjak terakhir di rumah sakit dulu, mereka tidak pernah lagi bertemu. Dan sekarang bertemu lagi di rumah sakit yang sama.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Dean lagi.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Milly datar.
Setelah itu suasana kembali hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Mil."
"Mmmm."
"Kenapa jadi seperti ini?"
Setelah sekian lama diam, Dean memberanikan diri untuk menanyakannya.
"Maksudnya?" tanya Milly heran.
"Kamu pasti tau apa yang maksud?" kata Dean lagi.
"Tidak. Aku tidak tau."
Dean menarik kursi, kemudian duduk disamping ranjang Milly.
"Mmmmhh ... aku sudah tau semuanya."
"Lalu," kata Milly lagi, ia mencoba untuk setenang mungkin.
"Jangan berpura-pura, kalau kamu baik-baik saja. Kenapa tidak menceritakan dengan jujur? Apa aku benar-benar tidak ada artinya dalam hidupmu? Bahkan kamu membaginya dengan Wati. Tapi dengan ku? Bukankah sudah aku katakan, aku akan selalu ada untukmu. Tapi sepertinya kamu benar-benar tidak pernah menganggap aku ada."
Dean benar-benar meluapkan isi hatinya. Ia bahkan lupa kalau Milly tidak tau nomor ponselnya yang baru.
Sedangkan Milly tidak tau harus menjawab apa. Sudut matanya sudah mulai berair. Dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menahannya.
"Kamu pikir, semua akan baik-baik saja, setelah kamu melakukan hal konyol seperti itu. Kamu egois Mil, kamu hampir saja melenyapkan bayi yang bahkan belum sempat melihat dunia ini. Aku juga yakin, ibumu akan sangat sedih dan kecewa melihat putri kesayangannya seperti itu."
__ADS_1
Kali ini suara Dean sedikit tegas. Sehingga membuat pertahan Milly runtuh. Air mata yang dari tadi ditahannya, kini lolos begitu saja. Ia tidak marah pada Dean karna berkata seperti itu. Tapi ia menyesali dirinya sendiri. Semua yang dikatakan Dean itu benar adanya.
Bahkan sekarang ia teringat, balasan apa yang akan diterimanya nanti di hari pembalasan, jika kemarin ia benar-benar melakukannya. Dan itu membuat dada Milly terasa sesak.
Melihat Milly menangis sesenggukan, membuat Dean nelangsa. Ia berdiri dari duduknya lalu menyugar rambutnya.
"Jangan lakukan itu lagi! aku tidak akan pernah memaafkan mu," kata Dean.
Kemudian Dean kembali duduk, dilihatnya Milly masih menangis. Dean merasa bersalah. Apa ia terlalu keras, sehingga membuat Milly menangis.
"Mil, aku minta maaf, kalau kata-kata ku tadi terlalu keras. Aku mencemaskan mu. Kamu tidak tau betapa takutnya aku saat malam itu," kata Dean lagi.
Sekarang Milly yakin, malam itu ia tidak bermimpi. Ternyata benar Dean yang menolongnya.Tapi kenapa Dean bisa tau ia ada di sana.
Milly tidak menjawab. Ia benar-benar tidak tau harus berkata apa. Yang dia bisa saat ini hanyalah menangis dan menangis.
Dean terus memperhatikan Milly, hatinya hancur menyaksikan itu. Iya yakin, semua ini sangat berat dan tidak mudah bagi Milly. Ia makin tidak tega jika harus meninggalkan Milly.
"Menangislah! lepaskan semua yang membebani mu. Setelah ini aku tidak akan membiarkan mu menangis lagi," kata Dean.
Benar saja, tangis Milly makin pecah, bahkan tangisannya terdengar pilu ditelinga Dean.
Tak sanggup lagi melihat Milly menangis, Dean menghampirinya. Ia mengeluarkan sapu tangan kecil dari kantong celananya, lalu menghapus air mata Milly.
"Sudah, aku sudah tak sanggup melihat mu menangis. Aku ingin melihat Milly ku yang dulu. Milly yang kuat dan juga tidak kenal putus asa," kata Dean.
Milly berusaha keras menenangkan dirinya. Setiap perkataan Dean terus saja membuat air matanya jatuh.
"Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Dean, saat Milly terus saja menatapnya.
"Apa kamu yang membawaku ke rumah sakit?" tanya Milly.
"Iya."
"Apanya yang kenapa, Mil?"
"Kenapa kamu masih peduli denganku? Kenapa kamu bisa tau kalau aku ada di sana? Siapa yang menyuruhmu? Harusnya kamu biarkan saja aku di sana, tidak perlu membantuku."
"Ya Allah Mil. Kamu menyesal. Ayo ulang lagi tingkah konyol mu itu. Aku akan mengantarkan mu lagi ke sana, lakukan sesuka hatimu, kali ini aku tidak akan peduli lagi, " kata Dean marah. Ia juga akan mengangkat tubuh Milly.
"Dean, hentikan!"
"Kenapa? bukannya itu yang kamu mau?"
"Tidak, aku hanya memastikan saja, kalau malam itu aku tidak bermimpi. Saat itu aku seperti mendengar mu. Tapi saat aku sadar, aku tidak menemukanmu."
"Benarkah kamu mendengar suaraku? Lalu kenapa masih ragu dan bertanya? Satu lagi, kamu pasti tau kenapa aku melakukan itu. Jangan pura-pura tidak tau. Atau kamu tidak yakin dengan perkataanku. Baiklah setelah ini aku akan membuatmu yakin. Bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Ahh Mil. Kamu itu bukan anak kecil lagi, yang segalanya harus dijelaskan."
Milly tidak menjawab. Benar yang dikatakan Dean, ia sangat tau mengapa Dean melakukan itu. Tapi Milly tidak habis pikir kenapa Dean masih mau membantunya. Padahal jelas-jelas dulu Milly sudah menyakiti hatinya.
"Aku mencintai mu."
Boom.
Milly terpaku, ia tidak percaya Dean mengatakan itu lagi.
"Kamu mau tau alasannya kan? Itulah alasannya. Aku mencintaimu Mil. Aku ingin memilikimu seutuhnya agar aku bisa selalu menjagamu."
"Kenapa Diam saja? Apa sekarang rasa penasaranmu sudah terobati?
"Entahlah. Jangan bicarakan itu lagi denganku. Buang saja itu jauh-jauh dari pikiranmu."
__ADS_1
"Kenapa? Lagi pula aku tidak akan meminta pendapatmu. Selama ini kamu mau saja dipaksa menerima sesuatu, yang bahkan kamu sendiri tau itu akan menyakitimu. Lalu kenapa aku tidak boleh? Lagi pula, meski aku memaksamu, aku akan pastikan tidak akan menyakitimu. Kali ini jangan halangi aku lagi," kata Dean.
"Berhentilah! Aku tidak pantas untukmu."
"Katakan, siapa yang pantas untuk ku?"
"Dean, mengertilah! Masih banyak wanita baik diluar sana yang pantas untuk mu."
"Jangan mengajari tentang pantas atau tidak. Jika kamu sendiri tidak bisa memilih siapa yang pantas atau tidak."
"Dean, kenapa kamu menyudutkan aku? Aku punya alasan, kenapa aku melakukannya."
"Baiklah, lupakan saja. Aku juga tidak mau membahas masa lalu. Tapi jangan menghalangiku untuk bisa membahagiakanmu."
"Dasar tukang paksa."
"Aku masih bisa mendengarnya," ucap Dean.
Milly melotot, ia tidak menyangka kalau Dean masih bisa mendengarnya. Padahal tadi ia mengatakannya dengan suara kecil.
"Jangan menatapku seperti itu. Jangan juga mengatakan apa pun tentang aku. Tidak perlu memikirkan apapun. Sekarang fokuslah agar kamu cepat pulih," ucap Dean lagi.
Sudah cukup rasanya selama ini Dean mengalah. Sekarang ia tidak mau lagi. Penantiannya harus segera diakhirinya. Ia harus bisa memiliki Milly seutuhnya.
"Permisi."
Ternyata petugas rumah sakit yang datang mengantarkan makan untuk Milly.
Dengan sigap Dean mengambil makanan itu. Kemudian membawanya ke dekat Milly. Ia meninggikan tempat tidur Milly bagian kepala. Agar memudahkan Milly untuk makan.
"Ayo makan, biar aku yang suap kan, kata Dean. Ia sudah kembali duduk di samping Milly, sambil memegang nampan berisi makanan untuk Milly.
"Nanti saja, aku belum lapar."
"Buka mulut mu!"
"Dean, aku belum lapar."
"Aku tidak bertanya. Ayo buka mulutmu. Setelah ini kamu harus minum obat juga, kan."
"Aku bisa makan sendiri," kata Milly. Ia meminta nampan itu pada Dean.
"Ya Allah Mil. Kenapa jadi seperti anak kecil? Mau makan saja banyak alasan," kata Dean lagi, ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Lalu kembali menyodorkan sendok berisi makanan pada mulut Milly.
Milly tidak lagi menolak. Ia menerima suapan itu dari Dean. Bahkan Milly menghabiskannya dengan cepat. Sebenarnya perut Milly memang lapar.
Dean tersenyum melihat mangkok makanan Milly sudah kosong.
"Katanya tidak lapar, tapi bisa menghabiskan satu mangkok dengan mudah. Apalagi kalau lapar ya Mil?" tanya Dean menggoda Milly.
Milly tidak menjawab. Ia hanya cemberut dan memonyongkan bibirnya. Dan itu membuat Dean gemas.
"Hahaha ... haha ...."
Dean mentertawakan Milly. Sedangkan yang ditertawakan masih tetap cemberut. Setelah itu Dean juga membantu Milly untuk minum obat. Sebelumnya ia menanyakan dulu pada Milly obat apa saja yang harus diminum.
"Setelah ini istirahatlah. Kamu harus cepat pulih. Aku sudah tidak sabar," kata Dean lagi.
Milly mengerutkan keningnya mendengar perkataan Dean.
"Tidak sabar? Untuk apa?"
Dean menatap Milly kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Milly. Milly deg-degan dengan apa yang akan dilakukan Dean. Milly menutup matanya saat wajah Dean sudang sangat dekat dengannya.
Pikiran Milly sudah melayang jauh, ternyata Dean mendekatkan bibirnya ke telinga Milly. Ia membisikkan sesuatu yang langsung membuat mata Milly melotot. Ia tidak percaya Dean membisikkan itu padanya.
__ADS_1