
Di sini lah Milly sekarang, di depan gerbang sebuah rumah yang sama sekali tidak ingin di kunjungi Milly. Mau bagaimana lagi, dia harus menemui ayahnya sekarang. Sempat terfikir oleh Milly, apakah ayahnya mau mengabulkan keinginan nya?
Dengan sedikit ragu, Milly membuka pintu gerbang rumah, yang ternyata tidak di kunci. Milly langsung menuju pintu rumah dan mengetuk nya.
Tidak berapa lama, dari dalam rumah terdengar langkah kaki berjalan menuju pintu. Pintu pun di buka dari dalam. Kemudian keluarlah seorang wanita yang tak lain adalah ibu tiri Milly.
Wanita itu terlihat kaget melihat kedatangan Milly.
"Mau apa lagi kamu ke sini," ketus wanita bernama Lastri itu.
"Saya mau bertemu ayah, apa Tante bisa, tolong panggil kan ayah?" jawab Milly.
"Ada perlu apa kamu dengan suami saya? jangan bilang kamu dan ibumu yang sakit itu mau minta uang sama suami saya, kalian tidak ada hak untuk itu. Semua uang suami saya adalah hak saya," jelas tante Lastri dengan ber api api.
Milly yang mendengar itu sedikit tersulut emosi. Tapi sesaat kemudian dia bisa kembali mengontrol emosi nya.
"Maaf, Tante, Ibu saya memang sakit, tapi tidak pernah terfikir sekalipun oleh saya untuk meminta bantuan kepada ayah, kami tidak pernah membebankan apa pun kepada ayah.
Tante tentu tidak lupa kan, jika kalian lah yang membebankan hutang kalian ke pada ibu. Tante juga kan yang memberi tau, tempat tinggal kami pada rentenir itu. Benar-benar tidak tau malu," balas Milly.
"Jangan kurang ajar kamu, ya. Itu memang hutang ibumu. Jadi, kenapa kami harus membayar nya?" balas tante Lastri lagi.
"Jika benar itu hutang ibu, kenapa ibu tidak pernah menikmati uang nya? Itu hanya akal-akalan kalian saja, kalian benar-benar licik. Kalian tidak hanya mengkhianati ibu, tapi juga mendzolimi nya."
"Jaga ucapan mu, Milly, bagaimana pun juga saya ini sekarang sudah menjadi istri ayahmu. Jadi kamu harus menghormati saya. Lagi pula ayahmu sedang tidak di rumah. Jadi lebih baik sekarang kamu pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi ke sini," usir tante Lastri dengan marah nya.
Tak lama kemudian, terdengar suara motor memasuki halaman rumah. Ternyata ayah Milly baru pulang entah dari mana. Melihat kehadiran Milly, ayahnya bergegas menghampiri Milly.
"Kamu di sini,Mil. Ada perlu apa?"
"Mau apa lagi, ya mau minta uang lah, palingan juga di suruh sama mantan istri mas yang sakit itu," tante Lastri yang menjawab.
Walau kesal, Milly diam saja mendengar perkataan tante Lastri.
"Ayah tidak punya uang, Milly. Kamu kan bekerja, jadi kamu pasti memiliki penghasilan."
Tanpa memastikan dulu kebenarannya, ayah Milly langsung menganggap apa yang di katakan istri ke dua nya itu benar ada nya.
"Maaf Ayah, jika pun benar kami butuh uang, kami tidak akan pernah memintanya kepada ayah. Sudah cukup kami kecewa dengan semua yang ayah lakukan. Bukan nya mendapatkan uang, hanya tuduhan dan hinaan yang akan kami dapatkan."
"Sombong kamu, Milly. Mau jadi anak durhaka kamu," bentak ayah Milly.
"Lalu, mau apa kamu ke sini?" lanjut nya.
"Besok Milly mau menikah, Milly mau Ayah menjadi wali di pernikahan Milly besok."
"Nikah? Kamu mau menikah besok. Kenapa tidak minta izin dulu sama Ayah?"
Ayah Milly mulai panik, karna dia sudah menjanjikan akan menikah kan Milly dengan juragan Tejo. Karena dia tak sanggup membayar hutang judi. Dan menjadikan Milly sebagai jaminannya.
"Saya tidak perlu izin Ayah, saya hanya minta Ayah menjadi wali nikah. Meski saya sudah menganggap Ayah tiada, tapi kenyataan nya Ayah masih hidup," jawab Milly dengan hati kesal.
"Tapi Ayah harus tau, laki-laki seperti apa yang akan menikahi mu, jangan sampai kamu asal pilih. Ayah sudah mencarikan laki-laki yang cocok untuk menjadi suami mu. Hidup mu akan terjamin nanti nya," jelas ayah Milly.
Ia mencoba meyakin kan anak nya, agar mau menikah dengan juragan Tejo. Jika tidak, maka juragan Tejo akan marah dan menagih hutang judi nya. Dia pun tidak tau lagi, dimana bisa berhutang untuk membayar hutang itu.
Juragan Tejo pasti akan mempenjarakan nya. Sebelum itu, sudah di pastikan dia akan habis babak belur di hajar oleh anak buah juragan Tejo.
"Ayah tidak perlu repot-repot, biarkan saya sendiri menentukan hidup saya. Saya akan bertanggung jawab dengan keputusan saya. Ayah cukup hadir saja menjadi wali nikah. Setelah itu saya tidak akan mengganggu Ayah lagi."
Ayah Milly bingung bagaimana lagi dia membujuk agar anaknya mau menikah dengan pilihan nya.
"Berapa mahar yang akan di berikan pria itu, untuk menikahi mu?"
__ADS_1
Tiba-tiba saja terlintas di fikiran ayah Milly untuk menanyakan itu.
"Seratus lima puluh juta," jawab Milly.
Ya, bu vania memang akan memberi kan uang mahar sebesar yang di pinjam Milly. Jadi Milly tidak perlu berhutang padanya.
Ayah Milly yang mendengar itu langsung terkaget. Itu di luar perkiraan nya. Tante Lastri yang dari tadi hanya menyimak obrolan anak dan ayah itu pun seketika mulut nya ternganga.
Otak licik nya kembali bekerja. Di dalam hatinya, dia berniat akan menyuruh suaminya setuju untuk menjadi wali nikah Milly. Dan nanti dia akan meyakin kan suaminya untuk meminta uang mahar Milly sebagian.
Benar saja, jodoh kita adalah cerminan diri kita. Seperti hal nya tante Lastri. Ayah Milly pun memikirkan hal yang sama. Uang mahar Milly ternyata lebih besar dari hutang judi nya pada juragan Tejo.
Dengan dalih balas budi, karna sudah mau menjadi wali nikahnya Milly. Maka dia akan meminta uang mahar itu pada Milly. Sisa dari pembayaran pada juragan Tejo, bisa di gunakan nya lagi untuk mencoba peruntungan di tempat judi.
Benar-benar pasangan yang cocok.
Tanpa berbicara pun,mereka sudah punya pemikiran yang sama.
"Lebih baik sekarang kita bicara nya di dalam rumah aja. Iya kan, Mas?" ajak tante Lastri, sambil mengerlingkan mata pada suaminya, seperti mamberi kode.
"Ya sudah, kita bicara nya di dalam saja. Tidak enak jika di dengar tetangga," ayah Milly membenarkan kata istri nya.
"Tidak usah Yah, di sini saja, aku cuma memastikan apa Ayah bisa datang besok. Lagi pula hari sudah malam. Kasihan juga ibu kelamaan di tinggal."
"Jangan begitu Milly, kamu kan jarang jarang ke sini. Jadi masuk saja dulu, kita bisa bicarakan itu di dalam. Atau kita sekalian makan malam bersama," ajak tante Lastri yang tiba tiba saja bersikap baik.
"Tidak usah, lagi pula saya sudah makan sebelum ke sini tadi," jawab Milly berbohong.
"Jadi gimana, Yah?"
"Baik lah, ayah akan datang. Tapi kamu tidak bohongkan jika kamu akan di beri mahar segitu," ayah Milly kembali memastikan.
Milly hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Maaf Tante, besok kami cuma menikah siri saja. Jadi tidak mengundang orang. Cukup ayah saja yang hadir."
"Loh, kok nikah siri. Jangan-jangan kamu mau di jadikan istri ke dua, atau di jadikan simpanan saja, jangan bilang kamu jadi pelakor ya, Milly" lanjut tante Lastri seperti mengejek Milly.
Entah lupa atau memang sudah dasar nya tidak tau diri. Apa yang di katakan tante Lastri tadi sama saja dengan mangatai diri nya sendiri.
"Apa pun alasan nya, Tante tidak perlu tau. Satu hal yang pasti, apa yang Tante ucapkan tadi adalah gambaran dari diri Tante sendiri," balas Milly, yang seketika mampu membuat tante Lastri terdiam.
"Ya sudah, besok ayah akan datang. Sebutkan alamat nya."
"Besok saja Milly kirim lokasi nya. Sekarang Milly mau minta nomor telpon ayah."
Setelah mendapat nomor ayahnya. Milly pun memutuskan segera pergi.
Sebelum nya, dia berpesan agar tante Lastri tidak usah ikut dengan ayahnya besok.
Bukan apa-apa, Milly hanya takut tante Lastri akan menjadi masalah di kemudian hari. Milly sudah tau jika tante Lastri adalah orang yang sangat licik.
Meski kurang terima dengan perlakuan Milly, tapi mengingat uang mahar Milly yang banyak, dia menurut saja. Biarlah nanti suami nya yang meminta langsung pada Milly. Baru lah kemudian dia meminta uang itu pada suami nya.
***
Hujan baru saja turun, saat Milly mau meninggalkan rumah ayahnya. Untung saja iya selalu membawa mantel di jok motornya. Tidak ada sedikit pun, niatan ayah Milly untuk menahan anaknya karna hari hujan.
Jika biasa nya orang tua selalu mengkhawatirkan anaknya, berbeda dengan ayah yang satu ini. Tak ada terlihat raut cemas sedikit pun ketika anak gadisnya akan pulang sendirian.
Padahal hari sudah malam, di tambah juga hujan yang mulai turun dengan deras nya. Entah terbuat dari apa hati Ayahnya itu.
***
__ADS_1
Milly mulai melajukan motornya. Dia memacu motornya dengan sedikit lebih kencang. Hari yang sudah beranjak malam di tambah hujan yang deras. Membuat jalanan menjadi lengang.
Ada muncul sedikit rasa takut di hati Milly. Tapi dia berusaha untuk menepisnya. Makin lama jalanan terasa makin menakut kan. Apa lagi saat ini Milly memasuki jalanan yang tidak ada rumah rumah warga di pinggir nya.
Hanya ada satu atau dua motor yang lewat.
Jauh di belakang sana, Milly melihat di kaca spion, ada satu motor yang sedang berjalan. Milly merasa sedikit tenang, itu artinya akan ada teman yang searah dengan nya.
Motor itu makin mendekat dan mengurangi kecepatan nya. Motor itu seperti mengekori Milly. Milly selalu memantau nya lewat kaca spion. Motor itu masih mengikuti motor Milly.
Seketika timbul rasa takut di hati Milly. Jangan jangan mereka punya niat buruk sama Milly. Dia pun menambah kecepatan motor nya. Benar saja, seketika itu juga motor tadi pun ikut mempercepat laju motor nya.
Kemudian motor itu mendahului motor Milly. Dan tiba-tiba memotong di depan motor Milly. Milly yang seketika itu mengendarai motor, dengan kecepatan tinggi, langsung kaget dan tidak bisa mengendalikan motornya.
Alhasil Milly pun terjatuh. Milly melihat motor yang memotong tadi pun berhenti. Satu orang yang duduk di belakang, terlihat berjalan ke arah Milly. Sedangkan satu orang lagi tetap berada di motornya. Jarak orang itu semakin dekat dengan Milly.
Milly menjadi takut, dan bibirnya tidak berhenti berdoa. Semoga saja mereka bukan orang jahat.
Orang itu sudah di dekat Milly. Kemudian mengeluarkan sebuah pisau dan menodongkan nya pada Milly.
Milly semakin takut dan berharap ada orang lain yang lewat dan bisa membantu nya. Tapi ternyata harapan Milly hanya sia-sia.
Tanpa berkata apa-apa orang itu mendorong Milly, dan berusaha mengambil motor Milly. Milly hanya pasrah, karna orang itu terus saja menodongkan pisau pada nya.
Ketika orang itu mau membawa motor Milly. Teman nya tadi berteriak,
"Periksa juga bawaan nya bro, ambil yang ada harga nya."
Seketika orang itu kembali turun dari motor Milly. Dia Melihat ke arah Milly, menyadari Milly tidak membawa barang, orang itu langsung meminta Milly menyerahkan HP dan dompetnya. Milly berusaha berdiri dan ingin berlari untuk mempertahan kan HP dan dompetnya. Tapi dengan cepat pria tadi memegang tangan Milly dan kembali menodongkan pisaunya ke arah Milly.
Milly berusaha sekuat tenaga mempertahankan HP dan dompet nya. Tapi sayang tenaga orang itu lebih kuat sehingga Milly kembali jatuh oleh dorongan nya.
"Tolong ... tolong ... tolong," Milly berusaha berteriak minta tolong. Meski ia tau tidak akan ada orang yang mendengarnya.
"Wah ... ternyata perempuan bos," teriak orang itu kepada temannya yang menunggu di motor tadi. Temannya itu kemudian memutar motor menuju ke tempat Milly. Kemudian membuka paksa helm yang di pake Milly.
"Wow ... ternyata cantik juga bro."
"Ini mah, cantik banget bos."
Pria yang di panggil bos itu berjongkok mendekat ke arah Milly dan berusaha memegang dagu Milly. Milly pun menepis dengan keras tangan pria itu.
"Galak juga ternyata, untung cantik, kalau tidak sudah saya habisi kamu," kata si bos tadi.
Pria itu kembali mencoba memegang pipi Milly, Milly kembali menepis tangannya, kemudian berdiri dari tempat nya terjatuh tadi. Tapi sayang pria itu menarik kaki Milly, Milly pun kembali terjatuh.
Pria itu kembali mendekat dan mencengkram kedua pipi Milly.
"Jangan coba-coba melawan, jika kamu mau selamat. Kita hanya bermain-main sebentar, jadi menurut lah," ancam pria itu.
Kini Milly benar-benar ketakutan, tubuhnya menggigil karna takut, di tambah dingin nya air hujan yang dari tadi sudah membasahi tubuh dan juga kepala Milly, karna helmnya sudah di buka paksa pria itu.
Milly mencoba memberontak tapi tenaga pria itu lebih kuat dari nya. Milly memejamkan mata ketika pria itu mau meraih tubuh nya.
"Akhhhhhh ...."
Milly berteriak kesakitan ketika tubuh pria tadi menimpanya. Kemudian tubuh pria itu seperti di tarik paksa dari tubuh Milly.
Milly membuka mata, ketika mendengar suara orang yang saling pukul. Antara kaget sekaligus senang, Milly melihat pria yang di kenal nya sedang melawan dua orang tadi. Setelah melalui pertarungan yang tak sepadan, dua orang tadi pun kalah dan babak belur.
Mereka pun kabur memakai motor mereka dan meninggalkan motor Milly. Pria itu bermaksud mengejar kedua orang tadi, kemudian dia urung melakukan nya. Dan memilih bergegas menghampiri Milly.
Tanpa mengatakan apa-apa pria itu langsung menggendong Milly ke mobilnya, yang terparkir tidak jauh dari situ.
__ADS_1