MILLY

MILLY
98. honeymoon


__ADS_3

Sebelum pergi, Dean menemui mamanya dulu. Ia akan berpesan, seperti pesannya pada Milly tadi. Ia juga berpesan pada bik Rum, dan yang terakhir pada satpam rumah.


Jaga-jaga jika nanti keluarga Vallen ada yang datang.


Ternyata Dean pergi ke kantor polisi. Ia diminta datang untuk memberi keterangan juga. Di Sana Dean bertemu dengan mamanya Vallen. Ternyata ia juga sudah berada di kantor polisi.


Diluar dugaan Dean, mamanya Vallen diam saja. Ia hanya menatap Dean dengan tatapan penuh amarah.


Dean langsung menuju ruang interogasi. Dan ia cukup lama di situ. Karna Dean malas berurusan dengan mereka, Dean menyewa pengacara. Biarlah pengacaranya saja yang mengurusi masalah ini.


Selesai diintrogasi, Dean menyempatkan untuk menemui ayah mertuanya. Di Sana Dean menceritakan apa yang baru saja mereka alami. Terlihat sang ayah begitu sedih, bukan hanya tentang Milly yang dijahati Vallen. Tapi terlebih karna ia juga pernah menjahati anaknya sendiri. Penyesalan itu jelas nampak di mata ayah Milly.


Dean juga minta pendapat ayah Milly tentang rencananya yang akan memboyong Milly untuk tinggal di luar negri. Tanpa berpikir panjang ayah Milly langsung setuju dengan rencana Dean. Baginya yang terpenting untuk keselamatan Milly. Namun saat ditawari untuk ikut bersama mereka ayah Milly juga langsung menolak, dan Dean pun tidak memaksa. Seperti yang sudah dikatakannya pada Milly, Dean sudah punya rencana untuk kehidupan mertuanya itu.


***


"Ayo Mil, kita jalan sekarang," ajak Dean.


"Sebentar, aku mau pamit sama mama dulu."


"Ya sudah, aku tunggu di mobil ya."


Milly menganggukkan kepalanya, kemudian berlalu ke kamar ibu mertuanya.


"Milly, udah mau berangkat?"


"Udah, Ma. Milly sama Dean pamit dulu ya Ma."


"Iya, hati-hati, maaf ya mama gak bisa ikut. Titip salam saja sama ayah. Bilang ayah untuk main ke sini. Toh sekarang ini juga rumah beliau."


"Baik Ma. Nanti Milly sampaikan. Assalamualaikum, Ma," kata Milly sambil menyalami ibu mertuanya.


"Waalaikum salam."


Setelah berpamitan, Milly langsung menuju mobil Dean. Hari ini mereka akan menjemput ayah Milly. Beliau hari ini sudah bisa menghirup udara bebas. Masa tahanannya sudah habis.


Selama di perjalanan, Milly lebih banyak tersenyum. Hatinya senang, ayahnya sudah tidak lagi merasakan dinginnya jeruji besi.


Dean yang dari tadi memperhatikan istrinya, ikut merasa bahagia.


Hanya saja, masih ada satu hal yang mengganjal di hati Milly. Ia belum tau sang ayah akan pulang kemana. Ia pernah mengatakan itu pada Dean, tapi Dean hanya memintanya untuk tenang saja. Tidak perlu memikirkan itu.


Milly berpikir, jika sang ayah tidak akan mau diajak untuk tinggal bersama di rumah Dean. Lalu kemana sebenarnya Dean akan membawa ayahnya.


"Itu ayah," kata Milly. Saat mereka baru saja sampai di parkiran. Tampak ayahnya Milly juga baru keluar dari bangunan lapas.


"Oh iya, ayo," kata Dean. Ia memang tidak mengatakan pada ayahnya Milly akan menjemput.


"Ayah."


Ayah Milly berusaha mencari sumber suara yang memanggilnya. Dari jauh Milly melambaikan tangan agar sang ayah tau keberadaannya.


"Milly, Dean, kalian ada di sini. Mau ngapain?" tanya ayah Milly heran.


"Mau jemput Ayah. Ayo kita pulang," ajak Milly sambil mengambil alih membawa tas kecil yang tadi di tenteng ayahnya.


"Tidak usah, Nak. Biar ayah saja," kata ayah Milly menahan tas itu.


"Ayo Yah. Kita pulang sekarang." Kali ini Dean yang berbicara.


Ayah Milly terdiam, ia tampal berpikir sebentar. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan merepotkan siapa pun lagi, terutama anak dan menantunya. Di dalam, ia sudah berpikir untuk mencari pekerjaan. Apa pun akan ia kerjakan asalkan halal.


"Ayo, Yah," ajak Dean lagi.


"Begini, Nak. Sekarang kalian pulang dulu saja. Beri tau ayah dimana kalian tinggal. Nanti setelah urusan ayah selesai, ayah akan main ke sana," kata ayah Milly.


"Emangnya ayah mau kemana?" tanya Milly.


"Ada urusan sebentar. Mau menemui teman lama."


Ia tidak mungkin menceritakan bahwa ia akan mencari pekerjaan. Sudah pasti Dean dan Milly akan melarangnya.


"Nanti saja Yah. Sekarang kita pulang dulu. Ayah harus istirahat. Kan setelah ini ayah sudah punya banyak waktu untuk pergi kemana pun," jelas Dean.


Ayah Milly bingung harus bicara seperti apa untuk menolak. Dean terus saja mendesaknya untuk pulang. Jujur untuk pulang ke rumah mertua anaknya, ia tidak bisa.


"Tapi, Nak."


"Tapi apa Yah?"


"Ayah tidak mau merepotkan kalian. Maaf, bukan ayah ingin membuat malu kalian, tapi ayah ingin bekerja. Ayah akan mencari pekerjaan dulu, nanti setelah dapat pekerjaan. Ayah akan sering-sering main ke tempat kalian," kata ayah Milly menunduk.


"Ayah benar, tapi sekarang ayah ikut kami dulu. Setelah itu baru ayah bekerja."


Tak enak hati menolak Dean, ayahnya terpaksa mengiyakan. Ia ikut naik ke mobil.


Setelah berkendara beberapa lama, Dean berhenti di depan sebuah bangunan Ruko yang masih tutup.


"Dean, kenapa berhenti di sini?" tanya Milly heran.


"Ayo, kita turun dulu," ajak Dean.


Milly dan ayahnya ikut saja. Mereka sama-sama tidak tau. Dean sengaja belum memberi tau sang istri. Ia ingin memberi surprise pada istrinya itu.


Setelah semuanya turun, Dean mengajak mereka mendekat ke bangunan Ruko. Ruko itu dua lantai. Dan ternyata Dean mengambil kunci dari sakunya lalu meminta ayah mertuanya untuk membuka.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Ayah buka saja."


Saat pintu lantai satu ruko terbuka, Milly dan ayahnya terlihat kaget. Ternyata lantai bawah itu berisi peralatan-peralatan bengkel. Ayah Milly tidak asing dengan benda-benda itu, karna selama di lapas, ia dibekali dengan keterampilan itu. Bahkan berapa bulan terakhir ia ikut memberikan pelatihan pada napi lain.


"Dean, ini apa? Punya siapa ini?" tanya Milly.


Dean mendekati ayah Milly.


"Ini punya Ayah."


"Maksudnya?"


Dean menjelaskan pada Milly dan ayahnya bahwa bangunan ini sudah dibelinya. Ini dulunya juga bekas bengkel, tapi karna sang pemiliknya pindah. Makanya ia tak lagi menyewa di sini. Makanya Dean sengaja membelinya. Agar ayah Milly tidak perlu bekerja dengan orang lain.


Ayah Milly menangis, ia berterima kasih pada Dean dan Milly. Ia juga sujud syukur sambil menangis.


"Ayo, Yah. Kita ke atas," ajak Dean.ia menaiki tangga yang terletak disamping ruko.


Saat pintu terbuka, lagi-lagi Milly dan ayahnya dibuat melongo. Bangunan atas ternyata sudah di desain oleh Dean untuk tempat tinggal ayahnya. Di situ ada sebuah kamar kecil yang sudah lengkap dengan tempat tidur kecil dan sebuah lemari kecil juga.


Bagian luarnya ada satu sofa panjang dan satu meja kecil. Ada TV kecil juga yang sudah terpasang di dinding. Ada dapur kecil yang sedah lengkap dengan alat masak minimalis. Sedangkan bagian belakangnya adalah kamar mandi.


Lagi-lagi ayah Milly berterima kasih dan menangis. Ia tidak menyangka Dean sudah menyiapkan itu semua untuk dirinya.


"Dean."


"Ya."


"Terima kasih," kata Milly sambil memegang tangan suaminya. Sedangkan matanya sudah berkaca-kaca.


"Mana bisa begitu, Mil. Aku sudah terlalu sering mendengar ucapan itu," kata Dean.


"Ishhh Dean. Aku serius," kata Milly cemberut.


Dean mengacak rambut Milly, ia gemas melihat istrinya cemberut.


"Kamu senang?"


Milly menganggukkan kepalanya.


"Kamu istriku, Mil. Aku akan melakukan apa pun untuk menyenangkan," kata Dean tersenyum.


Ayah Milly yang melihat itu ikut bahagia. Ia bersyukur anaknya mendapatkan seseorang pendamping yang begitu baik. Dan yang terpenting Dean juga sangat menyayangi Milly.


Hari itu dihabiskan oleh Dean dan ayah Milly untuk mencek dan menata berbagai keperluan bengkel. Rencananya ayah Milly akan mulai membuka bengkelnya besok. Sedangkan Milly memasak untuk mereka dilantai atas.


***


Sesuai dugaan Dean, Vallen tidak mendapat hukuman. Ia hanya disarankan untuk kembali di rawat di RSJ.


Tapi mamanya Vallen tidak mau. Ia hanya melakukan rawat jalan untuk anaknya itu.


Ayah Milly tidak ikut, ia memilih fokus pada bengkelnya. Apalagi sekarang bengkelnya sudah berjalan dengan baik. Pelanggannya juga sudah banyak.


Sedangkan mama Dean juga tak mau ikut. Ia merasa sayang jika harus meninggalkan rumah.


"Mungkin nanti, mama akan berubah pikiran, jika kalian sudah memberi mama cucu."


Begitulah jawab mama Dean waktu itu.


Dean dan Milly mengamini perkataan sang mama. Bagi mereka setiap harapan seseorang, apalagi orang tua. Akan mereka anggap sebagai doa.


Bu Vania dan Pak Adrian juga mendukung. Sekarang keluarga mereka juga semakin harmonis dan tentunya lebih agamais. Pak Adrian sering mengajak sang istri dan anaknya untuk datang ke pesantren. Sekedar untuk memberi bantuan maupun untuk mengikuti pengajian. Bahkan sekarang bu Vania juga sudah berhijab sesuai dengan keinginan hatinya sendiri.


Dan satu lagi yang menjadi kejutan untuk Milly adalah Wati. Dean ternyata memasukkan Wati bekerja di perusahaannya. Meski baru sebagai karyawan biasa. Selain itu, Dean juga memberikan pendidikan gratis untuk Wati. Ia melihat potensi dalam diri Wati. Makanya ia melakukan itu, agar Wati bisa bekerja di posisi yang lebih baik lagi.


Dean meminta Jeff mengatur semuanya. Karna setelah nanti ia pergi, maka Jeff yang akan ditugaskan untuk mengelola dan sebagai orang kepercayaan di perusahaan Dean.


Dean melakukan itu sebagai bentuk terima kasihnya pada Wati yang sudah sangat membantunya dan Milly.


Sebelum berangkat, Dean mengajak Milly dan sang mama untuk mengunjungi nenek dan keluarga mendiang papanya. Mereka bersilaturahmi dan juga sekalian pamit.


Setelah dari tempat neneknya. Dean dan Milly juga mengunjungi pusara ibu Milly dan papanya Dean.


***


"Sering-sering telpon dan Vidio Call mama," kata mama Dean. Matanya masih bengkak karna menangis dari semalam.


Sebenarnya hatinya sangat berat untuk berpisah dengan anal dan menantu. Apalagi ia sudah merasa dekat dengan Milly. Semenjak kehadirannya rumah terasa sangat berwarna. Tapi demi kebahagian dan keselamatan mereka, ia terpaksa melepasnya. Toh jika kangen, ia bisa terbang kapan saja.


"Iya, Ma."


"Kalian yang akur. Jika ada masalah kecil cepat dibicarakan. Saling jujur dan saling mengerti."


Dean dan Milly mengangguk, nasehat itu udah sangat sering diulang mamanya dari tadi.


"Pa, kami pamit," kata Dean menghampiri ayah Milly, ia juga ikut ke bandara.


"Iya Dean, kalian hati-hati. Ayah titip Milly, Nak. Rasanya ayah tak pantas mengatakan ini, tapi ayah mohon tolong jaga Milly, jangan sakiti dia. Dia sudah banyak menjalani hal sulit dalam hidupnya. Terutama karna ayah," kata ayah Milly dengan suara bergetar.


"Insyaallah Ayah. Dean berjanji. Ayah jangan berkata seperti itu lagi, Milly akan sedih mendengarnya," kata Dean. Setelah itu ia bersalaman dan memeluk ayah mertuanya itu.


"Ayah Milly pamit, Ayah jaga diri baik-baik. Jangan terlalu keras bekerja. Kalau bisa tolong kunjungi makam ibu. Milly akan merindukan Ayah," kata Milly dengan berderai air mata.


Ayah Milly hanya mengangguk-angguk. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Ia begitu sedih melepas kepergian sang anak. Apalagi selama di dalam ia berniat akan lebih dekat lagi dengan Milly. Ia ingin menebus semua kesalahannya. Tapi ternyata mereka malah harus berpisah. Tapi kembali lagi, semua demi kebaikan Milly.


Begitu banyak air mata melepas kepergian mereka. Sehingga membuat Milly juga tak bisa menahan air matanya. Bahkan sesampainya di atas pesawat, air mata Milly terus saja mengalir.

__ADS_1


"Mil, sudah Sayang. Kamu yang sabar ya. Ini demi kebaikan kita semua," kata Dean menenangkan sang istri. Ia terus menggenggam tangan sang istri.


Lelah menangis, Milly tertidur. Dean sedikit tenang melihatnya, paling tidak untuk sesaat Milly akan terbebas dari rasa sedihnya.


Dean membangunkan Milly saat pesawat akan lending.


"Udah sampai?" tanya Milly sambil menggosok matanya. Ia terlihat linglung.


"Udah mau landing," kata Dean tersenyum. Ia merasa lucu melihat Milly seperti itu. Apalagi tadi Milly sempat menguap juga.


Pesawat sudah landing dengan sempurna. Semua penumpang sudah turun. Dean dan Milly sudah di jemput oleh seseorang yang merupakan teman Dean. Di tempat dia juga Dean akan bekerja.


"Selamat datang Dean, Milly."


"Terima kasih Erik. Maaf sudah merepotkan."


"Seperti sama siapa saja. Oh iya, selamat ya atas pernikahan kalian," kata Erik lagi yang dijawab dengan kata terima kasih oleh Milly dan Dean.


"Ayo, kalian pasti capek. Saya akan antarkan kalian ke tempat tinggal kalian," kata Erik.


Sesuai permintaan Dean, ia mencarikan rumah untuk mereka tinggali.


Tidak berapa lama di perjalan, mereka tiba di sebuah rumah minimalis, tapi rumah itu sangat cantik dengan desain klasik. Dan itu sangat sesuai dengan selera Milly.


"Sorry Dean, Milly. Aku cuma bisa mengantar sebentar. Aku harus ke kantor lagi. Semoga kalian suka dengan rumahnya. Jika tidak nanti bisa kita cari lagi."


"Gak apa-apa Rik. Makasi udah mau direpotkan."


"Sama-sama. Jika butuh bantuan telpon saja."


"Oh, ya, satu lagi. Dean, kamu santai aja dulu. Kan kalian baru saja menikah. Jadi nikmati dulu hari-hari kalian di sini. Nanti baru kita bicara soal kerja. Aku punya hadiah kecil untuk kalian. Aku sudah menyimpannya di atas meja di dalam kamar kalian."


Dean terharu, ia berterima kasih pada temannya itu. Setelah Erik pergi, Dean mengajak Milly untuk melihat-lihat bagian rumah. Selesai berkeliling ia mengajak Milly untuk istirahat di kamar.


Saat di kamar, Dean melihat sebuah amplop putih di atas kasur. Ia teringat akan perkataan Erik tadi. Mungkin ini kado yang dimaksudnya tadi.


Dean meminta Milly untuk membukanya.


"Kok disimpan lagi. Emangnya isinya apa?" tanya Dean saat Milly memasukkan kertasnya lagi.


Milly hanya menggeleng lalu memberikan amplop itu pada Dean.


"Paket honeymoon?"


Dean tersenyum setelah membaca itu, bisa-bisanya Erik kepikiran untuk memberinya kado itu. Sedangkan dia sendiri belum sempat memikirkan itu, karna menyelesaikan berbagai masalah sebelum mereka berangkat.


Dean berjalan ke arah Milly yang sedang berdiri di jendela. Ia sedang menikmati pemandangan diluar.


Dean langsung memeluk sang istri dari belakang.


"Ayo pergi honeymoon," bisik Dean di telinga Milly. Ia menyibak anak rambut Milly kebelakang telinganya. Ia menghirup aroma rambut Milly yang sudah menjadi candu baginya.


Dean memutar tubuh Milly menghadap padanya. Ia menempelkan dahinya pada dahi Milly.


"Makasi, Mil," ucap Dean lagi.


Bahkan rasa lelahnya, menguar begitu saja saat melihat wajah dan senyuman sang istri.


Milly memejamkan mata saat Dean makin mengikis jarak di wajah mereka.


Drett ... drett ... drett


Dean terhenti sebentar, ia mengabaikan panggilan itu, kemudian melanjutkan kegiatannya yang tadi yang tertunda.


Drett ... drett ... drett


Kali ini ponsel Milly yang berdering.


"Dean, biar aku lihat dulu. Sepertinya mama atau ayah yang menelpon. Kita belum memberi tahu mereka, jika kita sudah sampai.


Mereka pasti cemas," kata Milly.


Dean mengangguk, bagaimana bisa ia melupakan memberi kabar pada mamanya. Ini semua gara-gara Milly yang selalu mengganggu pikirannya.


Dean melepas pelukannya, kemudian mengacak-acak rambut Milly.


Ternyata benar, mamanya yang menelpon. Sepertinya mama menelpon Milly, karna Dean tak mengangkatnya.


****


Esok harinya Dean mengajak Milly untuk honeymoon ke suatu tempat yang begitu romantis. Dan itu adalah hadiah pernikahan mereka dari Erik.


"Apa kamu suka?" tanya Dean pada Milly. Mereka baru sampai di resort tepi pantai yang begitu menawan.


Milly mengangguk, tempat ini sungguh sangat menawan di matanya. Pemandangan lepas pantai dengan air laut yang begitu bersih dan terlihat berwarna biru. Sangat kontras dengan pasir pantai yang berwarna putih bersih.


"Dean, tempat ini begitu indah, ya. Apa mungkin ini serpihan surga yang Allah lempar ke bumi?" tanya Milly saking kagumnya dengan ke indahan tempat itu.


Dean tersenyum mendengar pertanyaan Milly. Saking kagumnya sang istri dengan keindahan tempat itu. Bahkan dari tadi ia tak hentinya memuji kekuasaan Allah.


Dean melingkarkan tangannya, memeluk sang istri dari belakang.


"Aku yakin juga begitu. Aku tambah yakin lagi, karna aku juga bisa melihat bidadari ada di sini," kata Dean.


Milly tersipu, padahal setiap hari Dean menggodanya dengan kata-kata indah seperti itu, tapi tetap saja Milly tak merasa bosan mendengarnya.


Dua hari lamanya Dean dan Milly di resort itu. Mereka menghabiskan hari dengan menikmati keindahan ciptaan Allah itu. Mereka juga mencicipi berbagai kuliner yang sebelumnya tak pernah mereka temukan.

__ADS_1


Esok harinya mereka akan kembali ke rumah. Erik memberi waktu lima hari sebelum Dean mulai bekerja. Agar Dean bisa mengajak Milly melihat-lihat dan mengenali sekitar tempat tinggalnya.


__ADS_2