MILLY

MILLY
99. akhir yang bahagia


__ADS_3

Dua tahun sudah Dean dan Milly tinggal di luar negri. Mereka benar-benar menikmati masa pacaran setelah menikah. Mereka menggunakan waktu untuk makin mengenali karakter masing-masing. Mereka juga mempersiapkan diri jika saatnya nanti mereka memiliki anak.


Dean dan sang mama tidak mempermasalahkan itu, karna mereka paham, kondisi Milly yang mengharuskannya untuk menunda kehamilan. Mereka berencana akan melakukan program kehamilan setelah perayaan ulang tahun pernikahan ke tiga.


Tapi Allah berkehendak lain, saat usia pernikahan dua tahun lebih Milly dinyatakan hamil. Dean sempat khawatir, tapi setelah konsultasi dan periksa ke dokter. Ternyata dokter mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan. Kondisi tubuh Milly sudah sangat siap untuk itu.


"Alhamdulillah, terimakasih Milly, Dean, sebentar lagi mama akan jadi nenek," kata mama Dean saat mereka memberi tau saat vidio call. Mata wanita yang telah melahirkan Dean itu terus saja berkaca-kaca.


"Mama akan ke sana secepatnya. Mama akan menemani Milly di rumah, sewaktu kamu bekerja. Mama tidak akan menunggu sampai cucu mama lahir, baru ke sana. Mama akan berangkat sekarang saja."


Dean dan Milly hanya bisa tertawa melihat sang mama yang begitu antusias. Bahkan ia mulai berbicara banyak tentang larangan dan hal apa saja yang boleh Milly lakukan. Milly pun sangat senang mendapat perhatian seperti itu.


"Alhamdulillah, Nak. Sebentar lagi ayah akan jadi kakek. Kalian baik-baik di sana. Jaga calon cucu ayah. Ayah akan ke sana saat cucu ayah lahir. Sekarang ayah harus bekerja lebih baik lagi agar bisa membeli hadiah untuknya," kata ayah Milly saat Dean memberi tahu. Setelah mereka vidio call dengan mama Dean.


Benar saja, seminggu setelah itu, sang mama sudah sampai di luar negri. Ia ikut memboyong bik Rum ke sana. Katanya untuk bantu-bantu. Ia juga melarang Milly melakukan pekerjaan rumah.


Hari yang sudah ditunggu-tunggu pun datang.


Pagi itu Milly merasakan perutnya sakit yang luar biasa. Dean langsung membawanya ke rumah sakit.


Dean begitu panik dan cemas. Ia tak kuat melihat Milly yang kesakitan. Berulang kali ia meminta untuk operasi saja, karna sudah tak tega melihat istrinya itu. Tapi Milly kekeh untuk melahirkan normal, apalagi dokter mengatakan jika kondisi Milly memungkinkan untuk normal.


Sore harinya Dean baru bisa bernapas lega, saat mendengar tangisan yang sudah ditunggu-tunggunya terdengar. Tidak hanya satu, tapi dua. Mereka dikaruniai sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan.


Air mata Dean tumpah membasahi pipi Milly. Ia terus saja menangis menciumi pipi istrinya itu. Entah sudah kali ke berapanya ia mengucapkan kata terima kasih.


Dean menggendong bayi perempuan mereka dan mama Dean menggendong yang perempuan, mereka sudah selesai diadzani oleh Dean.


Esok harinya Milly sudah bisa pulang ke rumah.


Bayi mereka digendong oleh sang mama dan juga bik Rum.


Sedangkan Dean membantu Milly berjalan.


Saat masuk rumah, Milly begitu kaget, ternyata rumah sudah dihias dengan banyak balon, ada ucapan selamat datang juga untuk sepasang bayi mereka. Milly melirik Dean, ia heran, kapan Dean melakukan itu. Padahal ia begitu sibuk selama di rumah sakit.

__ADS_1


Milly kaget saat melihat ayahnya dan juga Jeff berjalan dari dalam rumah.


"Ayah," kata Milly tak percaya. Ia sudah duduk di sofa dibantu oleh Dean.


"Selamat ya, Nak," kata ayah Milly.


Milly meraih tangan sang ayah untuk disalaminya.


"Ayah kapan datang, kok bisa."


Bukannya menjawab selamat dari sang ayah. Milly malah bertanya lagi. Ia masih kaget dengan semuanya.


"Kemaren malam, ayah sama nak Jeff," jawab ayah Milly melihat ke arah Jeff.


"Makasi ya, Pak Jeff udah bantuin ayah."


"Sama-sama Bu Milly. Jangan panggil Pak. Saya tetap bawahan pak Dean," kata Jeff tertawa sambil menyenggol pundak Dean.


"Bisa aja, Lo."


Milly dan Dean saling pandang. Kemudian Jeff bertepuk tangan.


Milly melebarkan matanya, melihat siapa yang baru saja berjalan dari dalam rumah. Seorang perempuan yang berpenampilan modis tapi sopan. Ia juga terlihat anggun. Cukup lama Milly memperhatikan.


"Wati!"


Dean dan Milly serentak berucap.


"Hai Mbak Milly, Pak Dean. Selamat ya," kata Wati sambil menyalami mereka.


"Wati, aku pangling loh. Masyaallah, kamu kok gak bilang akan ke sini."


"Nanya juga surprise, Bu," jawab Jeff.


"Gak, gak, ini pasti ada sesuatu. Gak mungkin kan Wati minta ikut. Pasti Loe yang ajak. Gue yakin ini ada apa-apanya," kata Dean.

__ADS_1


Jeff hanya menyeringai, sedangkan Milly belum mengerti dengan perkataan Dean. Tapi setelah melihat Wati yang tersipu dan merunduk ia mulai bisa menebak.


"Jangan bilang--."


Jeff tidak menjawab, tapi ia memberikan sesuatu pada Dean.


Tawa Dean pecah. Bahkan tawanya membuat bayi perempuan mereka terbangun. Beruntung cuma sebentar, ia kembali tertidur lagi.


"Akhirnya, jomblo abadi laku juga," canda Dean.


"Beneran, Wat. Ya Allah, aku sangat bahagia mendengarnya."


Jadilah hari itu mereka merayakan atas kelahiran bayi kembar Milly, dan juga merayakan Jeff dan Wati yang akan menikah.


Semua orang bersuka cita. Bersyukur atas segala kenikmatan yang sudah Allah berikan.


Badai sudah berlalu, dan mereka sudah berhasil bertahan dan bangkit dari rasa sakit yang ditinggalkan badai itu. Dan sekarang mereka sedang menikmati hasilnya.


Tapi selama masih ada nafas di badan, badai lain pasti akan ada lagi. Belajarlah dari badai sebelumnya, saling berpegang tangan dan tetap percaya pada pertolongan Allah. Insyaallah, sebesar apa pun badai yang akan datang, kita akan berhasil melaluinya.


***


Pov Milly


Terima kasih ya Allah, Engkau mempertemukan aku dengan Dean. Pria yang begitu baik, baik, dan juga baik. Aku tak akan banyak memujinya, karna Engkau sudah melihat sendiri betapa baiknya suamiku itu.


Terima kasih atas kepercayaanMu, menitipkan sepasang bayi kembar untuk aku dan Dean. Mereka adalah anak ke dua dan ke tigaku.


Anak pertamaku selalu ada dalam doaku. Aku tak pernah melupakannya. Dean yang mengajarkanku, untuk selalu berdoa untuk anak pertama ku itu. Rahasia ini akan kami simpan rapi-rapi, demi kebaikan mereka semua.


Tentang masa laluku, aku tak pernah menyesalinya, aku mengambil pelajaran dari semua itu. Aku punya alasan melakukannya. Aku akan selalu meminta pada Allah dengan doa, agar Allah mengampuni dosaku.


Untuk hari depan, aku akan berusaha melakukan tugasku sebagi hamba yang taat pada Allahnya. Selanjutnya biarlah Allah yang bekerja dengan caranya.


Terima Kasih ya Allah. Terima kasih suamiku. Aku mencintaimu, Dean.

__ADS_1


__ADS_2