MILLY

MILLY
79.I love u


__ADS_3

"Kenapa masih menatap ku?" tanya Milly pada Dean. Sejujurnya ia sangat gugup.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku?" jawab Dean.


"Mmmm ... aku sudah seperti tersangka sang sedang diintrogasi saja. Apa kamu akan membiarkan aku bergadang malam ini? Aku sudah sangat mengantuk," kata Milly.


Dean tau itu hanyalah alasan Milly saja. Ia yakin Milly sedang mengelak. Tapi ia tidak menahan Milly. Ia tau Milly butuh istirahat yang cukup.


"Ya sudah, tidurlah. Aku juga mengantuk," kata Dean. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya di kursi.


Sedangkan Milly masih belum bisa tidur, ia memperhatikan Dean yang sudah menutup matanya.


"Apa wajahku sangat tampan?"


Dean bertanya dengan kondisi mata yang masih tertutup. Sebenarnya ia belum tidur.


Milly kaget mendengar perkataan Dean. Ia menggelengkan kepalanya. Ternyata ia ketahuan. Milly tersenyum lalu memilih untuk menutup mata juga.


***


"Hallo, Ma."


"Hallo Sayang, gimana kabar kalian di sana? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya mamanya pak Adrian. Mereka sedang melakukan Vidio Call. Pak Adrian yang menelpon.


"Baik, Ma. Kabar Mama dan Papa gimana? Apa semuanya sehat?"


"Sehat, Nak. Papa dan mama harus sehat. Bulan depan kami akan pulang. Kami sudah tak sabar untuk menggendong cucu," kata mamanya pak Adrian antusias.


Pak Adria melihat ke arah istrinya. Ia tersenyum, Bu Vania sengaja tidak diperlihatkan di layar ponsel pak Adrian. Ia sedang menggendong bayi Milly, yang sekarang sudah jadi anak bu Vania dan pak Adrian.


"Adrian, kenapa dari tadi kamu senyum-senyum terus? Vania mana? Mama ingin bicara, mama ingin menyemangatinya, agar tidak takut saat nanti akan melahirkan."


Pak Adrian menggeser ponselnya ke arah bu Vania. Sehingga menampakkan gambar bu Vania yang sedang duduk di kasur sambil memangku seorang bayi.


"Surprise ...," ucap pak Adrian.


"Adrian! Vania! Ada apa ini, Nak?" tanya mamanya pak Adrian penasaran.


"Cucu mama," jawab pak Adrian. Ia mengambil bayi itu dari sang istri.


"Hah ... kalian tidak bercanda, kan?"


Setelah diyakinkan pak Adrian, akhirnya mamanya percaya dan langsung menangis, akhirnya ia memiliki cucu, bahkan lebih cepat dari perkiraan. Karna memang mereka memberi tahu kalau bayinya akan lahir satu bulan lagi. Tapi karna kejadian tak terduga yang dialami Milly, bayinya lahir lebih cepat.


Mama pak Adrian sangat antusias. Ia bahkan memutuskan untuk langsung mencari tiket pulang, hari itu juga.


Mama pak Adrian juga berterima kasih pada bu Vania. Ia sangat bahagia, apalagi saat tau sang cucu berjenis kelamin laki-laki. Bayi laki-laki itu yang akan menjadi penerus dan pewaris perusahaan keluarganya nanti.

__ADS_1


Bu Vania memeluk erat bayi itu, setelah mereka selesai melakukan Vidio call.


"Makasi, Nak. Kamu sudah hadir, menyelamatkan rumah tangga mama. Kamu kembali membawa kebahagian untuk keluarga besar kita. Mama berjanji akan menyayangimu setulus hati," ucap bu Vania. Kemudian ia mencium pipi bayi kecil itu dengan lembut.


Pak Adrian yang berada di samping bu Vania langsung memeluk istrinya itu. Ia menghapus air mata yang menetes di pipi mulus sang istri. Kemudian beralih menciumi buah hatinya.


Akhirnya ia bisa merasakan keluarga yang utuh, hadirnya anak di dalam keluarga kecilnya.


Meski begitu, di dalam lubuk hatinya, pak Adrian merasa sedih. Ia teringat pada Milly. Ia sudah terlanjur mencintai Milly. Tidak mudah melupakannya begitu saja.


Itu membuat pak Adrian sangat kacau.


Kemudian pak Adrian kembali menatap bayi kecil itu. Ia tersenyum. Milly sudah memberinya harta yang paling berharga. Ia berjanji akan menjaganya dengan baik dan mendidiknya seperti yang Milly inginkan dulu.


***


"Mbak mencari mas Dean?" tanya Wati.


Ia melihat Milly yang baru bangun seperti mencari sesuatu.


"Mas Dean sudah pulang dari tadi, katanya nanti mau ke sini lagi," lanjut Wati lagi, sebelum Milly menjawab pertanyaannya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Milly dan Wati serentak. Mereka menoleh berbarengan ke arah pintu.


Milly menggelengkan kepalanya. Dean betul, ia masih Dean yang dulu, bahkan masih sangat percaya diri seperti yang dulu Milly kenal.


"Tid--."


"Iya, tadi mbak Milly mencari Mas Dean?"


Degh.


Milly melotot pada Wati. Ia malu pada Dean, padahal tadi ia akan menjawab tidak, tapi Wati memotong ucapannya.


Lihatlah, sekarang Dean tersenyum jahil padanya.


"Makasi Wat, kamu sudah jujur. Saya tau kok kalau ada yang kangen, makanya saya cepat ke sini," kata Dean lagi. Ia kembali melirik Milly.


Sedangkan yang dilirik pura-pura tidak tau saja.


Wati minta izin pada Milly untuk pulang ke rumahnya, kebetulan sudah ada Dean di sana yang menemani Milly. Sebenarnya ia sengaja memberi waktu pada Dean dan Milly. Itu pun atas permintaan Dean.


Sebelum pulang, Dean menyuruh Wati untuk sarapan dulu. Ia sudah membelikannya. Tapi Wati menolak karna belum lapar, Dean pun meminta Wati untuk membawa pulang makanan itu.


"Mbak, Mas. Saya pulang dulu ya. Nanti saya ke sini lagi. Saya titip Mbak Milly ya, Mas. Jangan diapa-apain?" kata Wati pada Dean. Ia sengaja menggoda Milly. Dean pun menyanggupinya.

__ADS_1


"Sip, gak diapa-apain kok, tenang saja. Palingan nanti dicubit dikit aja. Kalau bandel," jawab Dean. Sehingga membuat Wati tertawa.


Sedangkan Milly cemberut. Ia merasa Wati sengaja bekerja sama dengan Dean untuk menggodanya.


***


"Dean, apa ini?" tanya Milly saat Dean memberikan kotak kecil padanya. Ia ragu untuk menerimanya.


"Untuk kamu,bukalah!" ucap Dean. Ia meletakkannya di telapak tangan Milly.


"Tapi kenapa?"


"Apa harus selalu ada alasannya?"


"Pasti. Tidak mungkin kamu memberinya tanpa ada alasan."


"Dulu aku membelinya untukmu. Selama ini aku masih menyimpannya. Sampai kapan pun ini akan jadi milikmu," ucap Dean. Ia mengambil kembali kotak itu lalu membukanya. Ia memperlihatkan isinya kepada Milly.


Seketika bayangan waktu dulu, saat Dean mengatakan perasaannya, kembali hadir di kepala Milly. Dan itu membuatnya meneteskan air mata.


Dean mengambil cincin itu, kemudian ia menggenggam tangan Milly. Ia akan menyematkan cincin itu di jari manis Milly.


"Kenapa, Mil?" tanya Dean, saat Milly menarik tangannya. Milly tidak menjawab, tapi air matanya terus menetes.


"Aku hanya memberikan yang seharusnya menjadi milikmu," ucap Dean lagi.


"Dean, aku gak mau," ucap Milly.


"Kenapa, beri aku alasannya?"


"Aku tidak pantas menerimanya."


"Hanya kamu yang pantas menerimanya. Aku tidak meminta pendapatmu tentang itu. Aku yang memutuskan," kata Dean lagi.


Dean tidak lagi berkompromi. Dia tidak akan menerima alasan apa pun lagi.


Ia kembali mencoba untuk menyematkan cincin itu, tapi Milly menahannya. Ia memegang tangan Dean.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut wanita yang sangat dicintai Dean itu. Hanya isakan yang dapat didengar oleh telinga Dean. Bahkan air mata sudah deras membasahi pipinya. Sedangkan tangannya masih memegang tangan Dean.


Hati Milly berkecamuk, rasa takut lebih mendominasinya. Ia tidak mau kecewa lagi. Ia sangat tau Dean mencintainya, bahkan semenjak sekolah dulu. Hanya saja, Milly masih trauma dan takut untuk memulai membuka hatinya lagi. Apalagi dengan kondisinya sekarang.


Tidak tahan lagi melihat Milly menangis, Dean langsung memeluk Milly. Ia memberi tempat untuk Milly meluapkan beban di hatinya.


"I love u you," ucap Dean lagi tepat di dekat telinga Milly.


Tanpa disadari Dean dan Milly, seseorang diluar sana memandang mereka dengan penuh amarah dan kebencian. Ia sangat tidak suka dengan pemandangan yang dilihatnya.

__ADS_1


__ADS_2