MILLY

MILLY
bab 7. aku sudah memaafkan mu


__ADS_3

"Dean"


Milly yang berada di gendongan Dean berguman dengan lirih. Bibir dan tubuh Milly menggigil kedinginan.


"Ya, ini aku, kamu sekarang sudah aman, kamu gak perlu takut lagi."


Dean membuka pintu mobilnya yang di belakang kursi kemudi. Kemudian masuk dan menduduk kan Milly di sana.


Melihat Milly yang menggigil kedinginan, Dean berinisiatif membuka mantel Milly, dan memakai kan jasnya yang tadi di letakkan di sandaran kursi kemudi.


Sesaat kemudian, mata Milly tertutup, dan tubuhnya terkulai ke arah Dean. Dengan cepat Dean meraih tubuh Milly dan memeluknya dengan erat. Raut kecemasan terlihat jelas di mata Dean.


"Dean"


Terdengar Milly kembali memanggilnya dengan lirih.


Entah apa yang mau di katakan Milly.


"Tenanglah, jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku akan membawa mu kerumah sakit. Semua akan baik baik saja," kata Dean yang masih memeluk Milly.


Cukup lama Dean memeluk Milly, hingga suara seseorang yang duduk di samping kursi kemudi menyadarkan nya.


"Mas Dean kan mau nganterin aku pulang. Kok sekarang mau ke rumah sakit sih. Emang nya Mas Dean kenal dengan wanita ini."


"Maaf ... maaf ... aku lupa jika tadi aku bersama mu. Tapi sekarang aku harus bawa Milly ke rumah sakit dulu. Takut dia kenapa-kenapa, setelah itu baru aku antar kamu pulang," jawab Dean.


"Tapi Mas ... "


"Aku mohon mengertilah. Milly ini teman lamaku, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan nya," potong Dean.


"Baik lah."


"Makasi ya, Vallen."


"Iya ... tapi pelukan nya udah kali, kalau pelukan terus kapan kerumah sakitnya," ketus perempuan bernama Vallen itu.


Tanpa menghiraukan perkataan Vallen. Dean pun berkata padanya, "Oh ya, Vallen, kamu bisa bawa motor kan?"


"Jangan bilang kamu menyuruhku membawa motor wanita ini, Mas. Aku gak mau, lagi pula hari masih hujan," jawab Vallen yang mengerti arah bicara Dean.


"Aku minta tolong, kamu kan gak bisa bawa mobil. Kalau aku yang bawa motor Milly, siapa yang mau bawa mobil?"


"Tapi aku takut, Mas, bagaimana jika aku mengalami hal serupa dengan tadi?"


"Aku akan mengikuti mu dari belakang, aku akan pastikan kamu aman. Lagi pula hujan sudah reda, kok. Jadi kamu tidak akan basah."


Dean mencoba meyakinkan Vallen.


Vallen pun setuju, jika bukan karna ingin mengambil perhatian Dean, maka ia tidak akan sudi melakukan nya.


"Makasi, Vallen, kamu baik sekali," puji Dean yang mampu membuat hati Vallen berbunga bunga.


Setelah Vallen turun dan menuju motor Milly, Dean bergegas memindahkan Milly ke kursi depan. Dean mendudukkan Milly dengan nyaman dan memasangkan sabuk pengaman.


Posisi Dean yang begitu dekat dengan Milly, membuat Dean bisa dengan jelas melihat wajah Milly yang sangat cantik. Meski wajah itu terlihat lesu dan mata indahnya sedang tertutup, tapi tak sedikit pun menyamarkan kecantikannya.


Dean merasakan getaran yang sangat kuat di jantungnya. Getaran yang tak pernah sekalipun ia rasa kan saat bersama wanita lain. Sesaat Dean terhipnotis, akan keindahan di depan nya.


Kakinya enggan beranjak, dia ingin berlama lama memandangi wajah orang yang telah dari lama di cintai nya itu.

__ADS_1


Tiiiinnnnnn ... tinnnnn ... tinnnnn


Suara klakson motor yang di bunyikan Vallen mengejutkan Dean. Dean bergegas menutup pintu dan berjalan memutari mobilnya menuju pintu tempat kemudi.


Dean mulai melajukan mobilnya, setelah mempersilahkan Vallen berkendara lebih dahulu.


Setelah sekitar lima belas menit perjalanan.


"Dean"


Milly kembali memanggil Dean. Suaranya terdengar begitu lirih.


Dean menengok dan ternyata Milly sudah membuka mata.


"Ya, ada apa, Mil? apa kamu mau sesuatu?"


Milly pun menggelengkan kepala nya.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat aja. Sebentar lagi, kita sampai di rumah sakit," kata Dean.


"Aku tidak mau ke rumah sakit, aku mau pulang aja. Ibu pasti sekarang cemas, karena aku belum juga pulang."


"Tapi kamu sedang tidak baik baik saja, Mil. Kita ke rumah sakit sebentar, setelah itu baru pulang. Aku takut kamu kenapa-napa."


"Aku baik-baik saja, aku tadi hanya ketakutan, dan juga kedinginan karna kelamaan kena hujan."


"Tapi kelihatan nya, kamu sedang tidak baik-baik saja, aku mencemaskan mu, Milly," jawab Dean.


"Aku bisa istirahat di rumah, aku sudah merasa lebih baik dari tadi. Aku mencemaskan ibu."


"Tapi Mil ...."


"Baik lah, tapi kamu harus janji, jika ada apa-apa, kamu cepat hubungi aku."


Milly pun mengangguk kan kepalanya.


"Aku tidak tau rumah kamu di mana?" kata Dean.


Kemudian Milly pun memberi tahu Dean alamat rumahnya.


"Kalau boleh tahu, kamu tadi dari mana?" tanya Dean lagi.


"Aku habis dari rumah ayah," jawab Milly.


Dean pun tidak menanyai nya lagi. Karna dia merasa itu privasi Milly.


Mereka sudah memasuki daerah yang ramai. Banyak rumah-rumah warga di pinggir jalan, ada juga warung-warung makanan dan minuman yang memang masih buka sampai tengah malam.


Dean mensejajarkan mobilnya dengan motor yang di kendarai Vallen. Dia mengatakan jika mereka tidak jadi ke rumah sakit. Dan menyuruh Vallen mengikuti nya.


Dean kemudian berhenti di depan sebuah warung makanan. Dia ingin mengajak Milly untuk makan dulu, karena tadi Dean beberapa kali mendengar suara perut Milly yang kelaparan.


Tapi, lagi-lagi Milly menolaknya. Akhirnya Dean hanya memesan minuman panas saja, untuk di minum di jalan. Tak lupa juga membelikan untuk Vallen.


Mereka baru saja sampai di jalan depan kos Milly. Milly meminta Dean mengantarkan nya sampai di sini saja. Dia tidak mau nanti nya penghuni kos lain berfikir macam-macam karena melihat Milly pulang di antar laki-laki tengah malam.


"Baik lah, aku mengerti, kamu hati-hati ya. Sesampai di rumah, ganti pakaianmu, setelah itu istirahat. Satu lagi, jangan lupa makan. Tadi aku mendengar suara perut mu yang kelaparan," Dean mengingat kan Milly sambil tersenyum.


Milly yang mendengar itu menjadi malu. Pipi nya terasa menghangat.

__ADS_1


Untuk menyembunyikan rasa malu nya, Milly bermaksud segera turun dari mobil. Milly membuka pintu mobil, tapi kemudian kembali menutup nya.


"Ada apa?" Dean bertanya karna heran.


"Aku ... aku mau bilang makasi."


"Untuk"


"Karna tadi, kamu udah menolong aku. Aku tidak tau, entah apa yang akan terjadi, jika tadi kamu tidak datang."


Milly mengatakan dengan suara yang kecil. Air mata nya ikut jatuh tanpa di suruh.


Dean yang melihat Milly begitu rapuh, mencoba menggenggam tangan Milly.


"Tidak perlu berterima kasih, aku akan sangat menyesal jika tadi tidak bisa menolong mu.


Jangan terlalu di fikirkan, semua nya telah berlalu. Sekarang kamu istirahat lah. Biar lekas membaik," lanjut Dean.


Milly menganggukkan kepala nya pertanda setuju dengan ucapan Dean.


Milly melepaskan tangan nya dari pegangan Dean. Tapi dengan cepat Dean menggenggam nya lagi.


Milly sekilas melihat ke arah Dean kemudian kembali menundukkan kepala nya.


"Mil, aku ... aku mau minta maaf, jika dulu sudah membuat mu malu dan risih dengan perbuatan ku. Aku tidak berbohong tentang itu. Mungkin saja cara ku yang salah. Aku minta maaf ya, Mil."


Akhirnya Dean memberanikan diri mengungkap apa yang selama ini di pendam nya.


"Aku ... sudah memaafkan mu," jawab Milly yang masih setia dengan posisi menunduk nya.


"Tapi kenapa kamu tidak mau melihat ku," tanya Dean sedikit menggoda Milly.


Ada yang menghangat di sudut hati Dean saat ini. Rasa yang dulu ada, kembali terasa menggelora di hati Dean. Dan rasa itu semakin kuat Dean rasa kan. Tapi Dean tidak mau tergesa-gesa mengungkap kan nya.


Dia harus mencari cara dan waktu yang tepat. Kali ini, dia tidak mau kehilangan Milly lagi.


"Tidak apa apa," jawab Milly sambil melihat ke arah Dean.


Kentara sekali jika dia kikuk melakukan nya. Di tambah depan pipi nya yang sedikit memerah.


Dean merasa gemas melihat Milly seperti itu. Pengen rasa nya Dean tertawa, tapi urung di lakukan nya.


"Sekarang kita bisa berteman lagi kan," kata Dean dengan hati hati.


Milly hanya membalas dengan anggukan kepala sambil menarik tangan nya dari genggaman Dean.


Dean tidak lagi menahan tangan Milly. Melihat Milly mau membuka pintu, Dean bergegas turun dan berlari membukakan pintu untuk Milly.


"Aku pulang dulu, makasi udah bawain motor aku," Milly menghampiri Vallen dan berterima kasih pada nya. Vallen hanya diam saja, karna dari tadi dia menyaksikan apa yang terjadi antara Milly dan Dean di dalam mobil. Itu membuat nya sangat kesal dan marah.


"Hati hati ya, Mil, jaga diri mu, istirahat lah biar cepat sembuh."


Milly hanya membalas perkataan Dean dengan sedikit senyuman.


Vallen yang mendengar itu bergegas berjalan mamasuki mobil. Dia berjalan dengan kaki di hentak-hentak kan. Hatinya panas menyaksikan itu. Dean saja tidak pernah menunjuk kan perhatian kepada nya.


Milly mengendarai motor memasuki tempat kos. Setelah memarkir kan motornya. Dia pun segera memasuki rumah.


Dean yang telah memastikan Milly aman sampai di rumahnya, bergegas memasuki mobil. Sekarang ia harus mengantarkan Vallen pulang.

__ADS_1


__ADS_2