
Setelah merasa yakin dengan perkataan Milly, ayahnya langsung pergi mengendarai motornya.
Bu Vania melambaikan tangan, menyuruh Milly mendekat ke sana.
Dengan langkah ragu, Milly menyusul ketempat bu Vania dan pak Adrian duduk.
"Saya akan pulang kerumah, bersama pak Dadang. Kamu pulanglah, bersama pak Adrian ke Villa kami. Bermalam lah di sana. Semua kebutuhan mu sudah saya siapkan. Besok pagi pak Dadang akan menjemput kesana dan mengantarkan pulang ke rumahmu.
Kamu pasti sudah tahu tujuan dari semua ini. Jadi lakukan dengan baik. Jangan mengecewakan saya. Apalagi berniat berkhianat pada saya.
Saya berharap setelah ini kamu bisa langsung hamil. Jadi kamu tidak perlu lagi bertemu dengan pak Adrian. Selanjutnya biarkan menjadi tanggung jawab saya."
Bu Vania menjelaskan panjang lebar apa yang harus Milly lakukan.
"Baik, Bu. Saya mengerti. Percayalah saya tidak akan mengkhianati Ibu."
Setelah berpamitan dan berpelukan dangan suaminya. Bu Vania langsung menuju mobil yang di kendarai pak Dadang saat menjemput Milly tadi.
Kemudian mobil itu langsung meninggalkan area parkiran mesjid.
Milly masih diam saja di tempat duduknya tadi. Dia tak tau harus bagaimana. Untuk sekedar bertanya saja, iya merasa sangat canggung.
"Apa mau di sini terus?" pak Adrian bertanya pada Milly.
Milly melihat sebentar ke arah pak Adrian.
Kenapa pak Adrian tidak langsung saja menyuruh nya naik ke mobil. Kenapa harus bertanya seperti itu dulu. Milly jadi bingung untuk menjawab nya. Mau melangkah duluan ke mobil rasanya juga canggung.
"Baik lah, kita berangkat sekarang!" kata pak Adrian lagi.
Milly mengikuti langkah pak Adrian menuju Mobil.
Milly baru mau membuka pintu mobil bagian belakang. Tapi Pak Adrian sudah lebih dulu membukakan pintu depan di samping kursi kemudi.
"Duduk di depan saja. Saya bukan sopir."
Milly mengangguk, lalu duduk di kursi depan. Pak Adrian menutup pintu mobil, lalu berjalan memutar menuju tempat kemudi.
***
Selama di perjalanan, Milly lebih banyak melihat ke luar jendela.
Pak Adrian mengarahkan mobilnya ke sebuah bangunan restoran.
"Turun lah, kita makan dulu sebentar. Tadi perut kamu berbunyi. Kamu pasti belum makan," tebak pak Adrian.
Milly merasa malu oleh perutnya. Entah mengapa perut nya tidak mau kompromi untuk tidak berbunyi saat lapar.
Milly berjalan di belakang pak Adrian.
__ADS_1
Setelah mendapatkan tempat duduk, mereka pun memesan makanan.
Selama makan, Milly lebih banyak diam. Hanya menjawab iya atau tidak, jika ditanya oleh pak Adrian.
Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan.
***
Hari sudah menjelang magrib saat Milly dan pak Adrian sampai di Villa.
Pemandangan di sekitar Villa sangat lah indah. Milly tersenyum menyaksikan mahakarya Allah yang begitu sempurna. Dia memejamkan mata menghirup aroma dedaunan yang basah karna baru saja di terpa hujan.
Pak Adrian yang mencuri pandang, merasa gemas melihat tingkah Milly.
"Cantik"
Tanpa sadar pak Adrian berucap seperti itu. Milly yang mendengar itu melihat ke arah Pak Adrian.
Pak Adrian pun gelagapan di pandang oleh Milly.
"Maksud saya, pemandangannya sangat cantik," kata pak Adrian lagi. Dia tidak ingin Milly tau, jika ia sedang memuji Milly.
Pak Adrian salah tingkah, saat mata indah Milly menatap nya.
Memasuki Villa, Milly di buat kagum dengan penataan ruangan di dalamnya. Kebanyakan ornamen-ornamen Villa terbuat dari kayu. Membuatnya semakin menyatu dengan alam di sekitar Villa.
Mendengar kata kamar membuat Milly sedikit gugup.
"Nanti saja, saya istirahat di sini saja," kata Milly. Lalu duduk di sofa yang ada di ruangan tengah.
"Atau kamu mau berkeliling, melihat-lihat ruangan lain," tawar Pak Adrian.
"Boleh"
"Ayo, ikuti saya."
Milly mengikuti pak Adrian dari belakang. Pak Adrian menjelaskan bagian-bagian ruangan Villa. Iya sudah seperti pemandu wisata yang sedang menjelaskan pada tamunya.
Langkah Milly berhenti ketika berada di ruangan dapur.
Dapur ini minalis dengan penataan yang sangat apik. Milly sangat suka. Ini cocok dengan seleranya.
"Apa kamu suka dengan dapurnya?" tanya pak Adrian, yang dari tadi memperhatikan Milly.
Milly menganggukkan kepalanya.
Pak Adrian berjalan ke sisi jendela dapur.
"Kesini lah, kamu akan akan makin suka, saat berdiri di sini."
__ADS_1
Milly mengikuti kata pak Adrian, Milly merasa tidak ada yang istimewa saat berdiri di sini. Kemudian pak Adrian membuka jendela.
Milly pun takjub dengan pemandangan yang ada di depan nya.
Meski hari mulai sedikit gelap. Milly masih bisa melihat, di sana gunung yang berdiri kokoh, ada juga sebuah air terjun yang sangat indah.
Milly di kejutkan dengan pak Adrian yang sudah berdiri di belakang nya. Seketika jantung Milly berdebar tidak karuan.
"Apa kamu suka memasak?"
Milly merasa tubuhnya sedikit panas. Posisi pak Adrian yang berdiri begitu dekat dengan Milly. Membuat Milly bisa merasakan hembusan nafas pak Adrian saat berbicara.
"Iya" Milly menjawab singkat sambil mencoba menenangkan getaran di dada nya.
"Besok pagi, kamu bisa memasak di sini. Kamu akan melihat pemandangan di depan, lebih indah dari sekarang. Saya yakin kamu akan betah memasak di sini."
Milly hanya mengangguk, bibirnya tak sanggup berbicara karna terlalu gugup. Ingin rasa nya ia pergi. Tapi kedua tangan Pak Adrian yang berpegangan di samping kanan dan kiri. Membuat Milly kesusahan bergerak.
Adzan Maghrib berkumandang.
Milly lega, karna ada alasan nya untuk pergi dari sini.
"Mmmm...sudah Adzan. Saya mau sholat magrib dulu."
Pak Adrian melepaskan pegangan tangan nya. Milly segera membalikkan badannya dengan tergesa-gesa. Di luar perkiraan Milly ternyata pak Adrian masih berdiri di situ. Sehingga tubuh Milly bertabrakan dengan pak Adrian.
Sesaat mereka terpaku. Mata mereka saling bertatapan. Milly menjadi salah tingkah mendapat tatapan dari pak Adrian. Kemudian dia langsung menundukkan kepalanya.
"Sholat lah di kamar, ada kamar mandi juga di sana. Kamu bisa melihat di lemari, di sana ada Mukena dan juga pakaian yang bisa kamu pakai."
"Terima kasih."
Milly terlihat ragu untuk melangkah ke kamar yang di tunjuk pak Adrian.
"Apa mau saya antar?"
"Gak ... gak usah, Pak. Saya bisa sendiri."
Milly bergegas pergi ke kamar dan menutup pintu kamar dengan cepat.
Dia menyandarkan tubuh di pintu. Untuk menetralkan detak jantungnya.
Ruangan kamar ternyata paling besar di antara ruangan-ruangan lain di Villa ini.
Di dalamnya ada satu tempat tidur berukuran besar, satu lemari pakaian, meja rias dan dua buah kursi lengkap dengan mejanya.
Kamar mandi di Villa ini ada dua. Satu di dekat ruang dapur. Satu lagi di dalam kamar.
Villa ini benar-benar seperti idaman Milly.
__ADS_1