
Pak Adrian menutup pintu ruangan Milly, setelah Vallen dan orang-orang yang tadi berkumpul pergi. Di dekatinya Milly yang duduk di sofa ruangan itu. Pak Adrian pun duduk di sebelah Milly.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya pak Adrian.
Milly menganggukkan kepalanya, tanpa melihat ke arah pak Adrian.
"Siapa wanita itu, kenapa dia membuat keributan di sini?"
Milly tidak menjawab, sekarang ini ia hanya ingin sendiri, ia tidak punya keinginan untuk berbicara pada siapa pun.
Pak Adrian berdiri, lalu berpindah duduk menghadap Milly.
"Mil, kenapa diam saja? Siapa wanita tadi? Ada keperluan apa dia disini?" Tanya pak Adrian lagi.
"Boleh tinggalkan saya sendiri?" Ucap Milly.
"Kenapa? Apa saya mengganggu mu?"
"Saya lagi pengen sendiri, jadi tolong mengertilah."
"Tapi kenapa? Saya ingin bertemu kamu dan juga melihat kondisi ibumu."
"Entah siapa lagi yang akan datang ke sini. Jangan sampai kehadiran Mas di sini. Membuat masalah saya makin banyak," jelas Milly.
Pak Adrian paham kemana arah bicara Milly.
"Vania sedang keluar kota, tadi pagi berangkatnya. Jadi tidak mungkin dia ke sini."
"Tetap saja, Mas. Saya gak mau ambil resiko. Masalah saya sudah sangat banyak."
"Kamu tenang saja, saya jamin tidak akan terjadi apa-apa. Katakan! siapa wanita tadi?"
Milly diam, karna bingung untuk menjawabnya. Sedangkan pak Adrian, terus menatap Milly lekat. Menanti jawaban dari Milly.
"Dia yang membuat saya di usir dari kosan," ucap Milly.
"Oh ya, emangnya dia siapa? kenapa dia bisa berbuat seperti itu?"
Pak Adrian terus saja mendesak Milly untuk mengatakan wanita itu. Pak Adrian sangat penasaran dengan ceritanya.
"Namanya Vallen."
"Iya, tapi apa hubungannya dengan mu?"
"Katanya ... dia calon istrinya ... Dean."
__ADS_1
Akhirnya Milly mengatakan yang sebenarnya.
"Terus ..."
Milly tidak lagi menjawab. Menurutnya, ia tidak perlu menjelaskan semuanya pada pak Adrian.
"Baiklah, sekarang saya mengerti. Mereka berdua sangat cocok. Saya mendukungnya. Tapi, jika sampai dia buat masalah lagi sama kamu, saya akan buat perhitungan dengannya."
Milly menatap pak Adrian heran.
"Kenapa? Apa kamu marah, karna saya bilang mereka cocok? Atau itu yang membuat mu sedih?"
Milly menggelengkan kepalanya. Lalu kembali diam.
"Ya sudah, lupakan saja. Kenapa kamu tidak pernah pulang kerumah, kemarin saya ke sana tapi kamu tidak ada?"
"Saya tidak mungkin meninggalkan ibu sendirian."
"Kamu bisa minta tolong, sama perempuan yang biasa jagain ibumu kemarin. Kamu juga butuh istirahat. Lihatlah! kamu terlihat kurus dan berantakan," ucap pak Adrian jujur.
Milly mangakui kalau akhir-akhir ini dia tidak pernah lagi memperhatikan penampilannya.
"Dia sudah pulang, dia sudah tidak bekerja lagi sama saya?"
"Kenapa?"
Sekarang pak Adrian tau, jika Dean benar-benar peduli pada Milly. Dan dia juga paham, apa yang membuat wanita tadi marah pada Milly.
Meski begitu, ada rasa senang di hati pak Adrian, karna itu artinya Dean tidak akan mendekati Milly lagi.
"Ya sudah, sekarang kamu telpon dia lagi, minta dia untuk kembali bekerja."
"Tidak perlu, saya masih sanggup," ucap Milly.
"Berikan nomornya, biar saya yang telpon."
Lama pak Adrian menunggu, namun tak ada reaksi apa-apa dari Milly.
"Jangan egois, Mil. Kamu juga harus memikirkan keadaan anak yang sekarang kamu kandung. Lagi pula, jika kamu kelelahan dan jatuh sakit. Siapa nantinya yang akan menjaga ibumu? Jangan membantah, telpon dia atau biarkan saya yang menelpon."
"Tapi ...."
"Tapi kenapa?"
Pak Adrian memandang heran pada Milly.
__ADS_1
"Apa kamu memikirkan bayarannya? Uang yang ada di ATM itu masih cukup untuk membayarnya. Atau jangan bilang kamu belum pernah menggunakan ATM itu."
Milly diam, karna memang dia belum pernah menggunakan uang di ATM itu, selain belum butuh, ia juga tidak tau nomor PIN nya. Mungkin pak Adrian lupa memberi taunya.
"Berarti benarkan, kamu belum menggunakannya. Itu uang untuk nafkah kamu, sebagai istri saya. Itu hak kamu," ucap pak Adrian.
Dalam hatinya Milly membantah, bagaimana bisa ia menerima haknya. Sedangkan ia tidak melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Tapi Milly tidak mau mengatakan pada pak Adrian. Ia takut pak Adrian salah paham. Dan nantinya, dia sendiri yang akan terperangkap oleh perkataannya.
"Saya tidak tau nomor PIN nya," ucap Milly.
Pak Adrian menepuk jidatnya, bagaimana bisa ia memberikan ATM, tapi lupa memberi tau nomor PINnya.
"Maaf ... maaf, saya benar-benar lupa. Tapi kamu kan bisa memintanya pada saya. Apa susahnya sih, Mil," ucap pak Adrian sambil mencubit hidung Milly.
Kemudian pak Adrian mencatatkan nomor PINnya untuk Milly.
"Sekarang telpon dia, suruh dia kesini sekarang juga. Biar kamu bisa istirahat di rumah."
Milly akhirnya menelpon Wati. Wati pun mengiyakannya. Namun Milly menolak untuk pulang, ia tidak ingin meninggalkan ibunya. Tapi pak Adrian lagi-lagi memaksanya, pak Adrian beralasan, agar Milly bisa beristirahat dengan baik dan nantinya Wati akan mengabarkan keadaan ibunya.
****
Sekitar tiga puluh menitan, Wati datang. Pak Adrian, langsung mengatakan tugas Wati, ia langsung membayar Wati dengan uangnya sendiri, tidak menggunakan uang di ATM yang diberikannya pada Milly.
Sebenarnya Wati agak bingung, kemarin Dean yang membayarnya. Sekarang malah pak Adrian yang membayar. Apalagi, ia sudah mendengar dari tetangga, tentang Milly yang hamil dan di usir dari kosannya.
Tapi Wati memilih untuk tidak menanyakannya. Apalagi uang yang di berikan pak Adrian untuk membayarnya cukup banyak. Ia tidak perlu cemas lagi soal keuangannya. Tugasnya hanya menjaga ibu Milly, lain dari itu, bukan urusannya.
"Wat, aku titip ibu ya, Wat. Jika ada apa-apa langsung telpon aku, ya."
"Iya, Mbak. Mbak gak usah cemas, saya pasti akan jagain ibu."
"Makasi ya, Wat. Aku fikir kamu gak akan mau lagi bantu aku, pasti kamu udah dengar kan, tentang aku."
"Udah, Mbak. Tapi aku percaya, Mbak Milly pasti punya alasan untuk itu. Karna aku tau, Mbak Milly orang baik," ucap Wati jujur.
"Sekali lagi, makasi ya, Wat. Kamu udah seperti keluarga buat aku. Nanti jika aku sudah siap, aku akan ceritakan semuanya," ucap Milly sambil memeluk Wati.
"Iya, Mbak. Gak usah di pikirin. Mbak Milly harus kuat dan sabar."
Setelah itu, Milly menghampiri ibunya.
"Ibu, Milly tinggal sebentar ya. Nanti Milly balik lagi. Ibu harus semangat untuk sembuh. Milly sayang ibu, nanti pas Milly datang, ibu udah harus bangun."
__ADS_1
Meski ibunya dalam keadaan koma, Milly yakin, ibunya masih bisa mendengarkannya.
Setelah berpamitan dengan ibunya dan Wati, Milly dan pak Adrian langsung meninggalkan ruangan itu.