MILLY

MILLY
bab 47. pulang ke rumah.


__ADS_3

"Mama ... Mama ... Mama."


Vallen berteriak mencari mamanya, setelah ia sampai di rumah.


Ia harus mencari cara untuk balas dendam dan menyingkirkan Milly. Ia benar-benar malu, atas kejadian di rumah sakit tadi.


Sebenarnya, tadi Vallen ke rumah sakit, untuk memastikan apakah Dean ada di sana atau tidak. Masalahnya, semenjak kejadian, Dean mengetahui Milly sudah menikah, Dean tidak pernah pulang ke rumah. Bahkan mama Dean pun, tidak tau Dean ada di mana. Ponselnya pun tidak pernah aktiv.


"Iya ... kamu kenapa sih, teriak- teriak seperti itu?"


Mama Vallen datang dari dapur, kemudian duduk di ruang keluarga bersama Vallen.


Vallen pun menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.


"Lagian, kenapa sih? Harus pura-pura baik, pake datang kesana segala? Beginikan akibatnya."


"Kalau tau mau begini kejadianya, aku juga gak bakal ke sana, Ma. Aku tuh kesana, karna mau mastiin, Mas Dean ada di sana atau tidak."


"Emangnya, Dean belum pulang juga? Duh, udah kayak anak-anak aja si Dean ini, pake ngilang segala."


"Ihhh, Mama kok ngomong gitu sih. Aku kan cemas, Ma. Jangan sampai mas Dean pergi jauh, terus ninggalin aku."


"Ya, gak mungkinlah. Mana mungkin dia ninggalin mamanya sendirian. Mungkin dia lagi butuh waktu untuk menenangkan diri. Kamu tunggu aja yang sabar," ucap mamanya Vallen menenangkan anaknya.


"Ia, Ma. Semoga aja apa yang Mama bilang itu benar. Tapi aku masih kesal sama tuh perempuan, Ma. Padahal dia udah di usir warga. Aku fikir dia akan pergi jauh dan menderita. Ternyata ia masih di sini. Mama tau gak, di Rumah Sakit, mamanya di rawat di ruangan VIP lagi. Apa gak salah tu, Mah?"


"Masak sih, mungkin ada yang bayarin kali."


"Itu juga yang aku fikirin, Ma. Tadinya aku mikir mas Dean yang bayarin. Tapi kayaknya gak deh, Ma. Soalnya, tadi tuh ada pria yang datang ke sana, Mama tau gak, pria itu adalah orang yang sama, dengan yang nganterin Milly pagi-pagi itu, Mah," ucap Vallen berapi-api, sedangkan mamanya mendengarkan ucapan Vallen dengan serius.


"Tapi, kata mas Dean, pria itu, suami bosnya Milly," lanjut Vallen lagi.


"Masak sih?"


"Iya, Mah. Tanya aja sama tante Santy, kalau Mama gak percaya."


"Iya, mama percaya. Atau jangan-jangan ...."


"Jangan-jangan apa, Ma?"


"Dia kan bilang sudah menikah. Apa ... jangan-jangan ia menikah diam-diam dengan suami bosnya itu ya. Dia jadi istri simpanan."


"Sepertinya ia sih, Ma. Aku juga mikirnya begitu. Terus sekarang gimana?"

__ADS_1


"Kamu coba datangin, bosnya Milly itu, terus katakan semuanya."


"Iya, aku setuju, Ma. Nanti aku cari cara untuk bertemu dia."


Dddrrrr ... ddrrr ... ddrrr


Ponsel di dalam tas Vallen berbunyi. Ia langsung mengangkat setelah mengetahui siapa yang menelpon.


"Hallo."


".........."


" Oh ya. Baiklah Vallen langsung kesana"


"......."


"Oke."


Vallen tersenyum setelah mematikan telpon. Kemudian ia izin sama mamanya untuk pergi.


****


Pov Dean


Setelah Milly siuman. Dia bertanya apa yang di katakan oleh dokter, terlihat dia sangat ketakutan. Sepertinya ia memang sudah mengetahui tentang kehamilannya. Dan ia takut aku mengetahuinya.


Aku pulang kerumah, dengan perasaan kacau, orang yang sangat ku cintai, saat ini sedang hamil. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Milly?


Semalaman aku memikirkan tentangnya. Aku mencoba berfikir positif. Aku tau Milly orang baik, pergaulannya juga tidak bebas, karna Milly sibuk mengurus ibunya.


Mungkin terjadi sesuatu yang buruk padanya, mungkin juga saat ini dia sedang terpuruk karna itu.


Pagi harinya aku kembali menemuinya di Rumah Sakit. Aku mengajaknya duduk di taman Rumah Sakit. Aku ingin dia jujur, karna aku akan menerima apapun keadaannya saat ini. Lama menunggu, dia hanya menangis. Sampai akhirnya aku tau bahwa sebenarnya ia juga mencintai ku. Aku makin yakin untuk memperjuangkannya. Aku akan bertanggung jawab untuk hidupnya. Aku berniat untuk menikahinya terlebih dahulu. Barulah setelah itu aku memberi tau Mama.


Tapi entah kenapa Milly tetap kekeh menolakku. Sampai akhirnya aku bertanya.


"Apakah kamu sudah menikah."


Dan anggukan kepalanya menjadi jawaban dari semuanya. Dia sempat menangis sambil memelukku. Aku yakin ada sesuatu hal, yang saat ini sedang terjadi padanya. Tapi aku tidak mau bertanya lebih dalam lagi. Karna aku takut akan kembali berharap.


***


Setelah kejadian itu, aku tidak pulang kerumah, aku ingin menenangkan fikiran dulu. Aku pergi ke sebuah apartemen, yang dulu, sebelum papa meninggal di beli oleh papa untuk seseorang. Aku diberi kepercayaan oleh papa, untuk memegang kuncinya, sebelum aku menemukan orang itu. Dan memberikan padanya. Mama pun tidak tau tentang apartemen ini.

__ADS_1


Ddrrrr ... ddrrr ... ddrrr


Malam hari, saat aku sedang merenung di balkon apartemen. Ponsel ku berbunyi.


"Hallo Wati, ada apa?"


"Maaf mas Dean. Aku mau bilang, mulai hari ini aku tidak lagi, bekerja dengan mbak Milly, jadi mas Dean gak usah kirim uang lagi untuk bayar aku."


"Baiklah."


"Ya sudah, Mas. Makasi ya, Mas. Kemarin udah beri aku pekerjaan."


"Mmmmmm"


Aku pun mematikan ponsel, tadi aku sempat berfikir, jika terjadi sesuatu pada Milly. Karna biasanya Wati akan menelpon untuk minta tolong.


Setelah itu, aku mengganti nomor telpon. Aku juga memutuskan untuk tidak datang ke kantor, semua urusan pekerjaan di urus oleh orang kepercayaan ku. Hanya dia satu-satunya orang yang tau nomor telpon baru ku. Itupun untuk membahas urusan pekerjaan.


Aku harus benar-benar menenangkan hati, sebelum pulang kerumah. Karna setelah ini, pasti mama akan memaksa ku untuk menikahi Vallen, orang yang tidak ku cintai.


***


Setelah seminggu berfikir dan menenangkan diri. Aku akhirnya, memutuskan pulang ke rumah. Mungkin aku akan mencoba menerima takdirku untuk menikah dengan pilihan mama. Anggap saja, sebagai bentuk bakti ku pada mama. Demi menyenangkan hati mama.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam. Nyonya ... Nyonya. Mas Dean pulang Nya."


Bik Nah berteriak memanggil mama. Terlihat sekali dia sangat gembira.


Tidak lama terlihat mama berlari keluar dari kamarnya. Mama langsung memelukku sambil menangis.


"Dean, kamu kemana saja sih, Nak. Kenapa kamu pergi tanpa memberi tau mama. Mama cemas, takut kamu kenapa-napa. Mama minta maaf ya, Nak. Jika mama ada salah. Kamu jangan pergi lagi ya."


Mama terus memeluk ku sambil menangis, ia juga meminta maaf, sehingga aku merasa bersalah padanya.


"Udah, Ma. Mama gak salah kok. Dean juga minta maaf, karna sudah ninggalin Mama dan buat Mama cemas."


"Tapi kamu janji ya, gak bakalan kayak gini lagi," ucap mama sambil melepas pelukannya.


"Iya, Ma, Dean janji."


Setelah itu, aku pergi ke kamar. Sedangkan mama pergi ke dapur, katanya mama mau memasak makanan kesukaan ku.

__ADS_1


Aku pun tersenyum melihat mama yang begitu bersemangat.


__ADS_2