
"Mas Adrian," ucap Milly.
"Ya, ini saya, ayo pergi dari sini," lanjut pak Adrian.
"Kemana?"
"Ikut saja, nanti kamu juga tau."
Di bantu pak Adrian Milly membereskan barang-barangnya yang tidak seberapa. Karna semua perabotan sudah di sediakan oleh yang punya kos.
Setelah menitipkan kunci pada pak RT, Milly dan pak Adrian pun pergi dari sana. Kepergian mereka di tatap oleh warga dengan tatapan yang beragam.
Sesampai di mobil, pak Adrian, memberikan Milly air minum. Kemudian ia melajukan mobilnya menuju suatu tempat. Sepanjang perjalan Milly hanya diam saja, pak Adrian hanya mencoba menguatkan Milly, tanpa memaksa Milly untuk berbicara. Ia ingin memberi ruang pada Milly, untuk menenangkan dirinya.
Mobil pak Adrian, berhenti di depan sebuah rumah minimalis satu lantai. Meski kecil rumah bercat putih itu terlihat indah dan bernuansa modern.
"Ayo turun," ajak pak Adrian.
Milly kemudian melihat ke arah rumah itu.
"Ini rumah siapa? kenapa Mas bawa saya ke sini?" Tanya Milly.
"Sekarang turun dulu, nanti kamu juga akan tau, ini rumah siapa?"
"Tapi saya mau ke rumah sakit, saya harus menjaga ibu."
"Iya, saya tau. Tidak mungkin kan kamu ke Rumah Sakit dalam kondisi seperti ini."
Milly memandang tubuhnya sendiri, bekas cairan tomat busuk yang tadi di lempar warga, membuat pakaiannya sangat kotor. Bahkan rambut dan wajahnya pun tidak luput dari cairan tomat busuk itu.
Milly pun menganggukkan kepalanya pertanda setuju. Apa yang di katakan pak Adrian itu benar adanya.
Pak Adrian, turun membukakan pintu untuk Milly. Kemudian ia menurunkan tas-tas pakaian Milly. Milly hanya mengekor di belakang pak Adrian.
Pak Adrian, membuka kunci rumah. Pintu pun terbuka, kemudian pak Adrian menyuruh Milly mengikutinya. Pak Adrian, masuk ke sebuah kamar yang lumayan luas, di dalamnya sudah lengkap dengan tempat tidur dan lemari pakaian.
"Kamu bisa ganti baju di sini. Kamar mandinya ada di situ. Jika mau istirahat, silahkan saja. Saya akan menunggu di luar," ucap pak Adrian.
"Tapi, Mas. Bagaimana kalau yang punya rumah, marah?"
"Tidak akan, kan kamu yang punya rumah."
"Maksud, Mas?" Tanya Milly heran.
__ADS_1
"Sudah, sekarang kamu bersih-bersih dulu. Nanti akan saya jelaskan. Saya gak tahan dengan bau kamu," ucap pak Adrian sambil tersenyum.
Milly memcium tubuhnya, yang memang berbau busuk. Ia segera mengambil baju ganti lalu masuk ke kamar mandi. Sedangkan pak Adrian pergi keluar kamar.
Milly mengguyur tubuhnya dengan air, bersamaan dengan itu, air matanya ikut luruh, ia mengingat nasibnya yang begitu menyedihkan. Setelah puas menangis dan merasa tubuhnya sudah bersih. Milly memakai pakaian dan keluar dari kamar mandi. Sekarang ia harus cepat ke Rumah Sakit.
"Ternyata kamu sudah siap."
Pak Adrian datang mengagetkan Milly, Ia sudah berdiri di belakang Milly.
Milly menganggukkan kepalanya.
"Ayo duduk," ucap pak Adrian, sambil menepuk tempat tidur di sampingnya.
"Saya mau ke Rumah Sakit," tolak Milly.
"Saya tau, saya akan mengantarkan mu. Tapi ada yang akan saya bicarakan dengan mu sebentar."
Milly pun duduk mengikuti kata pak Adrian. Kemudian pak Adrian memberikan sebuah kunci padanya.
"Apa ini, mas?"
"Ini kunci rumah."
"Karna ini rumah kamu."
Milly menatap heran pada pak Adrian.
"Begini, rumah ini, memang sudah saya persiapkan untuk kamu. Saya membelinya saat tau kamu hamil anak saya. Saya bermaksud memberikan rumah ini, setelah anak kita lahir. Rumah ini sebagai hadiah, karna kamu sudah mengandung dan melahirkan anak kita.
Tapi, setelah melihat kejadian tadi, saya berfikir lebih baik rumahnya saya berikan dari sekarang saja. Karna kamu sedang membutuhkannya."
"Tidak perlu, Mas. Ini berlebihan, saya bisa mencari kos di tempat lain. Ini sudah di luar perjanjian kita."
"Tidak, ini tidak berlebihan. Saya tidak ingin kamu menolaknya dengan alasan apa pun. Setelah ibumu sehat. Kamu bisa membawanya pulang ke sini."
"Tapi, Mas ...."
"Tidak ada tapi-tapi, anggap saja ini demi kebaikan anak yang ada di dalam perut mu."
Milly tidak lagi membantah, dia tidak akan menang berdebat dengan pak Adrian.
"Istirahatlah sebentar, nanti kita ke Rumah Sakit."
__ADS_1
"Tidak usah, saya ke Rumah Sakitnya sekarang saja. Saya sangat mengkhawatirkan ibu."
"Baiklah, saya tunggu di luar,"
Baru saja keluar, pak Adrian masuk lagi.
"Ada apa, Mas? Tanya Milly heran.
"Begini, saya belum memberi tau Vania tentang rumah ini. Jadi jangan sampai Vania mengetahuinya dulu. Biarkan nanti, saya sendiri yang bicara dengannya."
Milly mengangguk, bagaimana mungkin, tadi ia melupakan bu Vania.
***
Sesampai di Rumah Sakit, pak Adrian mengatakan akan ikut turun, melihat ibu Milly. Tapi Milly melarangnya. Ia tidak mau ada yang mengenali mereka, lalu mengadu pada bu Vania dan akan menjadi masalah lagi nantinya.
"Baiklah, jika itu mau mu, tapi jika ada perlu apa-apa, langsung telpon saya. Jangan telpon laki-laki itu," ucap pak Adrian.
Sesaat Milly kembali teringat pada Dean, bagaimana mungkin, Milly minta tolong padanya, setelah semua yang terjadi. Pak Adrian memang belum mengetahuinya.
"Kenapa diam?"
"Tidak apa-apa, saya hanya memikirkan ibu."
Milly hendak turun, kemudian pak Adrian menahan tangannya. Pak Adrian memberikan sebuah kartu ke telapak tangan Milly.
"Ini kartu ATM saya, di dalamnya ada sejumlah uang, kamu bisa menggunakannya untuk membayar Rumah Sakit dan keperluan sehari-hari mu."
"Tidak perlu, Mas. Saya masih punya uang untuk itu," bohong Milly, ia mengembalikan ATM itu.
"Saya hanya tidak ingin kamu minta bantuan pada orang lain, anggap saja ini uang nafkah dari saya, sebagai suamimu," ucap pak Adrian.
Milly akhirnya mengambil ATM itu setelah di paksa pak Adrian. Setelah menyimpannya. Milly langsung turun dari mobil dan berjalan ke ruangan ibunya di rawat.
sesampainya, di ruangan sang ibu, ternyata di sana sedang ada dokter yang memeriksa ibunya. Milly langsung menanyakan pada Wati apa yang terjadi pada ibunya.
"Tadi, ibu sempat siuman, Mbak. Saya telpon Mbak Milly. Tapi nomor Mbak gak aktiv. Tapi itu cuma sebentar, kemudian ibu pingsan lagi."
Milly memeriksa ponselnya. Ternyata ponselnya mati, kejadian tadi membuat Milly lupa memcas ponselnya.
Milly mendekat pada ibunya yang sedang di periksa dokter. Ada penyesalan di hatinya, tidak ada di dekat ibunya saat tadi ibunya siuman. Mungkin tadi ibunya mencarinya, fikir Milly.
Setelah selesai memeriksa, dokter itu, meminta Milly untuk mengikutinya ke ruangannya. Ada beberapa hal yang akan di bicarakannya dengan Milly mengenai kondisi sang ibu.
__ADS_1
Milly pun mengikuti dokter itu. Dengan saksama Milly mendengarkan penjelasan dokter. Sesekali Milly juga bertanya tentang hal yang tidak di ketahuinya.