
Dean meninggalkan Milly yang melotot padanya. Sedangkan ia tertawa karna berhasil menjahili Milly. Sedangkan Wati hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Dean.
Dokter telah memeriksa Milly dan memastikan kondisi Milly sudah membaik. Hanya tinggal pemulihan saja. Milly juga di beri tahu kalau ia nantinya harus kontrol rutin.
Dean ikut menyimak dengan seksama penjelasan dokter itu. Ia ingin tau dan memastikan agar nantinya bisa membatu dan mengingatkan Milly.
Dean mendorong Milly ke mobil menggunakan kursi roda. Sedangkan Wati sudah menunggu di mobil.
Hati-Hati Dean mengendarai mobil. Perjalanan yang harusnya bisa di tempuh setengah jam dengan kecepatan normal. Kini di tempuh Dean dengan waktu lima puluh menit. Ia begitu takut membuat Milly kesakitan.
Sesampainya di tujuan Dean langsung memarkirkan mobil. Karna tidak ada kursi roda, Dean akhirnya menggendong Milly. Meski Milly protes, tapi Dean cuek saja.
"Hai Bro," sapa Jeff saat Dean sudah sampai di depan apartement.
"Lah, Loe ngapain di sini?" tanya Dean.
Tadi saat Dean mengatakan akan berangkat ke apartement, Jeff mengatakan orang yang punya apartement sudah menunggu di sana, untuk menyerahkan kunci. Jeff tidak mengatakan jika dia yang menunggu di sana.
Jeff sengaja memutuskan untuk mengantarkan kunci langsung, itu karna ia penasaran. Ia ingin memastikan jika Dean benar-benar tidak jadi ke luar negri. Kebetulan apartement itu milik sepupunya.
Jeff mengira Dean akan menempati sendiri apartement itu. Ternyata dugaannya salah. Ia merasa datang di waktu yang tidak tepat.
"Nganterin kunci. Ayo masuk," ajak Jeff. Ia membuka pintu.
"Kamarnya udah bisa langsung ditempati kok, masuk saja?" lanjut Jeff lagi. Dari raut wajah Milly, ia tau kalau Milly sedang sakit.
Dean langsung masuk setelah pintu kamar di bukakan oleh Jeff. Wati juga mengikuti langkah Dean. Sedangkan Jeff hanya berdiri saja di pintu.
"Bro, gue pergi dulu ya, mau ada urusan lagi. Ntar gue temui Loe lagi. Loe berhutang penjelasan sama gue," ucap Jeff.
Sebenarnya Jeff hanya tidak mau mengganggu Dean. Makanya ia minta izin untuk pergi.
"Tunggu dulu, Bro. Gue juga mau pergi. Sama turunnya," ucap Dean. Kebetulan apartement mereka terletak di lantai dua.
"Oke, gue tunggu di sana," jawab Jeff. Ia menunjuk sofa ruang tengah.
Dean menganggukkan kepalanya. Kemudian ia kembali mendekati Milly.
"Mil, aku pergi sebentar ya. Nanti aku balik lagi. Jika ada apa-apa, cepat kabari aku," kata Dean. Milly pun mengiyaknnya. Ia juga tidak menanyakan kemana Dean.
__ADS_1
Setelah mendapat jawaban dari Milly, Dean juga berpesan pada Wati untuk menjaga Milly, kemudian langsung pergi bersama Jeff.
****
"Ma ... Mama," teriak Vallen. Ia baru saja masuk ke dalam rumah.
"Bik, mana Mama," tanya Vallen pada ARTnya.
"Sepertinya di kamar, Non. Nyonya baru aj pulang."
Tanpa menunggu lama, ia langsung menuju kamar sang mama, ia langsung mendorong pintu, sehingga membuat sang mama kaget.
"Vallen, kok masuk kamar mama gak ketuk pintu dulu?"
"Maaf, Ma. Aku buru-buru. Lagian dari tadi aku udah panggil, tapi Mama gak dengar."
"Mmm ... ada apa? Kenapa kamu terlihat tegang seperti itu?"
"Tadi aku ketemu mas Dean, Ma. Aku ketemu dia saat di rumah sakit. Mama tau gak, dia sedang bersama perempuan itu."
Vallen sangat bersemangat menceritakan pada sang mama.
"Kamu ini, mama kirain ada apa. Biarin ajalah, mama sudah malas berurusan lagi sama mereka," ucap mama Vallen. Ia melanjutkan kembali aktivitasnya yang sedang membersihkan sisa make up di wajahnya.
"Terus, kamu mau apa?"
"Kita harus bilang tante Santy. Kita tekan tante Santy, aku punya ide, aku akan paksa tante Santy untuk membawa Dean pada kita," ucap Vallen semangat.
Meski malas berurusan lagi dengan mantan temannya itu, karna paksaan Dean dan juga mau membalas sakit hatinya. Mama Vallen akhirnya mengikuti kemauan sang anak.
****
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," ucap seseorang dari dari dalam rumah. Langkahnya terdengar mendekati pintu. Tidak lama pintu pun terbuka. Sehingga memperlihatkan siapa yang datang.
"Vallen, Jeng Sarah."
"Hai Tan, apa kabar?" tanya Vallen. Ia meraih tangan mamanya Dean untuk bersalaman. Sedangkan mamanya Vallen diam saja. Ia tampat malas-malasan. Senyumnya pun terlihat di paksakan.
__ADS_1
"Baik," jawab mamanya Dean datar.
Kemudian mama Dean mempersilahkan mereka masuk. Bagaimana pun ia harus menghargai tamu yang datang.
Setelah lama tak bertemu karna bertengkar, dua orang yang dulu bersahabat itu sekarang kembali bermaaf-maafan. Mama Vallen melakukan itu karna terpaksa, demi mengikuti kemauan anaknya.
"Tante kangen gak sama mas Dean?" tanya Vallen, setelah tadi berbasa-basi.
"Kangen lah. Namanya juga anak sendiri," jawab mamanya Dean.
"Aku tau dimana mas Dean, Tante. Aku akan beritahu Tante dan ajak Tante ke sana sekarang. Tapi balasannya, Tante harus meyakinkan mas Dean lagi untuk mau menikah dengan aku. Tante pasti tidak mau kan, jika nantinya mas Dean menikah dengan Milly? Tante tidak lupakan, dia itu pelakor?" kata Vallen.
Mama Dean menghela napas panjang, cukup lama ia terdiam.
"Gimana Jeng, jika Jeng mau kita ke sana sekarang. Dan kita bisa kembali menjalin persahabatan seperti dulu lagi. Pasti selama ini Jeng kesepian kan. Saya juga akan memasukkan Jeng sebagai anggota arisan lagi," kata mama Vallen ikut meyakinkan mantan temannya itu.
"Maaf Jeng Sarah, Vallen, saya tidak bisa."
"Maksud Tante?"
"Maaf Vallen. Tante tidak mau memaksa Dean lagi."
"Memangnya Tante tidak mau ketemu dengan mas Dean. Tante rela mas Dean bersama pelakor itu," kali ini suara Vallen mulai meninggi. Ia tidak terima dengan penolakan yang dilakukan mamanya Dean. Itu diluar perkiraan dan rencananya. Ia pikir mama Dean akan dengan mudah mengikuti perkataannya. Ternyata Vallen salah, mama Dea malah terang-terangan menolak.
"Sabar, Vallen," ucap mamanya. Ia berusaha menenangkan Vallen yang sudah marah.
"Jeng Santy, emangnya Jeng Santy tidak kangen dengan Dean? Jangan sampai nantinya Jeng menyesal. Ini kesempatan Jeng untuk bertemu Dean. Kami sudah berbaik hati datang ke sini untuk memberi tau Jeng. Bahkan dengan kerendahan hati kami, kami melupakan dan memaafkan semua kesalahan Dean dulu. Orang lain, tidak akan mau melakukan itu. Bahkan bisa saja Dean sudah di laporkan ke kantor polisi," kata mamanya Vallen lagi.
Mama Vallen berusaha menekan mamanya Dean. Ia tidak mau rencana mereka gagal.
"Maaf Jeng, keputusan saya tetap sama. Saya tidak mau."
"Tolong Tante, Tante mau ya, bantuin Vallen Tante. Vallen sayang banget sama mas Dean," ucap Vallen. Ia memohon sambil berjongkok memegang tangan mama Vallen.
"Maaf Vallen, tante tetap gak mau."
"Tante! Tante harus mau. Kalau tidak, saya akan laporkan Tante dan mas Dean saat ini juga."
Vallen berdiri, ia yang tadinya memohon, tiba-tiba menjadi sangat marah. Ia kalap, sehingga ia mengangkat tangan ingin menampar mama Dean.
__ADS_1
"Berhenti!"
Tangan Vallen menggantung di udara. Ia dan mamanya langsung menoleh ke sumber suara. Mereka kaget saat melihat siapa yang berdiri di tangga menuju lantai dua rumah mama Dean.